Pada era modern seperti sekarang ini, umat beragama tidaklah sulit untuk mendapatkan siraman rohani. Bentuknya bisa bermacam-macam: khotbah, ceramah, tausiah, atau bahkan pengajian-pengajian yang dapat disaksikan melalui berbagai media sosial. Keadaan seperti ini tidak seperti zaman dahulu, ketika kita ingin menghadiri suatu acara pengajian atau ceramah, normalnya kita berangkat ke tempat acara dilangsungkan. Namun sekarang, dengan perangkat gawai dengan koneksi internet atau hanya duduk di depan televisi, kita bisa “menghadiri” acara-acara tanpa perlu mengeluarkan ongkos dan tenaga. Lebih mudahnya lagi, kita bisa menentukan topik apa yang akan kita saksikan, melalui YouTube.

Salah satu dari siraman rohani yang paling mudah ditemukan adalah tausiah. Tausiah adalah istilah umum untuk siar atau biasa disebut dakwah dalam Islam. Tausiah secara praktik bisa dibilang yang paling cair dan lebih informal jika dibandingkan dengan khotbah atau tablig. Tausiah juga bisa diartikan sebagai ceramah keagamaan yang berisi nilai-nilai atau pesan-pesan dalam kebenaran dan kesabaran. Seperti yang termaktub dalam Surah Al-‘Ashr: “tawaashoubil haq, wa tawashau bil shabr,” yang berarti  ‘Dan menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.’

Berbagai siraman rohani dengan mudah cepat tersebar dan viral dengan satu kali klik, “bagikan” atau share yang difasilitasi oleh berbagai macam media sosial sehingga banyak siraman rohani yang berseliweran di lini masa. Kolom komentar dipenuhi dengan nasihat-nasihat, peringatan-peringatan, larangan-larangan yang menjemukan setiap harinya sehingga kolom komentar tampak seperti gudang nasihat dan ajakan.

Kebiasaan ini berdampak kepada pengguna media sosial di kehidupan dunia maya maupun dunia realita. Mereka terbentuk untuk terus memberi nasihat, tetapi bebal untuk menerima nasihat dari orang lain. Padahal dalam ayat yang telah disebutkan, para ulama mengartikan tawashau sebagai saling menasihati, saling mengingatkan, saling berpesan. “Saling” berarti pesan ini disampaikan dua arah, bukan hanya satu arah.

Terlebih, pesan yang disampaikan adalah al-haq‘alhaqqu min Robbika: ‘kebenaran yang datang dari Allah’. Sementara itu, tugas manusia adalah menyampaikan pesan kebenaran Allah, bukan kebenarannya yang dimodifikasi dengan subjektivitasnya sendiri. Apalagi memolarisasi bahwa yang menyampaikan pesan tersebut sebagai figur yang alim, paling tahu, baik, dan saleh. Sementara itu, yang menerima pesan seakan-akan sebagai manusia yang lugu, bodoh, awam, paling berdosa, dan tidak tahu apa-apa.

Akan tetapi, kenyataan-kenyataan itu terjadi pada era teknologi seperti sekarang ini. Manusia berbondong-bondong meminta nasihat-nasihat, pendapat-pendapat yang bahkan tidak terlalu penting. Begitu juga dengan manusia yang berbondong-bondong memberikan nasihat yang terkadang tidak pada tempat dan porsinya. Keadaan seperti ini membuka kesempatan untuk membuka industri tausiah karena produksinya yang begitu masif dan mobilitasnya yang begitu tinggi.

Seperti apa yang ditulis Cak Nun dalam tulisannya berjudul “Industri Tausiah” dalam bukunya yang berjudul Kiai Hologram. Perbincangan Cak Nun dengan anaknya mengungkapkan sadar adanya suatu realita yang begitu dekat dengan kita, tetapi tidak pernah kita sadari.

Paling jauh aku hanya menjawab pertanyaan atau memenuhi permintaan. Sementara suasana yang berlangsung sekarang ini banyak orang selalu gatal untuk menasihati dan kebanyakan orang maniak untuk selalu minta motivasi, pencerahan, seolah-olah sudah habis bahan-bahan yang berasal dari Allah dan Rasulullah sampai akhirnya mobilitasnya menjadi industri.

Kini, setiap orang seperti gatal untuk terus mengomentari atau menasihati setiap apa yang dilakukan manusia lain. Tidak peduli apakah perbuatan itu benar atau salah, lurus atau menyimpang, mulut atau jari manusia-manusia modern selalu gatal untuk berkomentar. Maka, makna kata tawashau yang berarti ‘saling’ tidak lagi bisa dipakai selama keadaan ini terus-menerus terjadi.

Dengan keadaan seperti tersebut di atas, tidak akan banyak nuansa sejuk dan kerendahan hati yang khas apabila kita tidak dapat merujuk pada “saling berpesan” atau “saling mengingatkan”. Seharusnya dengan “saling mengingatkan” sesama manusia bisa sama-sama menyadari kesalahan sehingga dirinya tidak bebal terhadap peringatan atau nasihat, sekalipun itu benar. Muara dari tawaashoubil haq, wa tawashau bil shabr adalah introspeksi diri sendiri terhadap segala perbuatan yang telah dilakukan.

Dapatkan tulisan-tulisan menggugah kesadaran dari Cak Nun lainnya di buku Kiai Hologram, hanya di sini.