Yang darurat aurat bukan hanya orang, tokoh, atau figur. Juga fakta peristiwa, substansi kejadian, hakikat peta masalahnya, dan lapisan-lapisan fakta samar di belakangnya.

—Emha Ainun Nadjib

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), aurat diartikan sebagai ‘bagian tubuh yang tidak boleh terlihat orang lain’ atau ‘kemaluan’. Hari ini kita mengenal aurat sebagai suatu kewajiban yang harus dilaksanakan. Dalam ajaran agama, jika aurat tidak ditutup dan dilihat orang lain, akan menjadi suatu dosa bagi yang tidak menjaga auratnya dan yang melihat aurat dengan sengaja.

Pada zaman sekarang kampanye untuk menutup aurat semakin gencar. Ulama-ulama, ustaz-ustaz, hingga pemuda-pemudi terus menyerukan pentingnya menutup aurat. Kampanye ini semakin mendapat angin segar jika dihubungkan dengan kasus-kasus sexual harassment akhir-akhir ini. Karena secara logika, sexual harassment bisa dikurangi dengan cara menutup aurat dan memperbaiki akhlak.

Akan tetapi, jika diperluas maknanya, “aurat” juga bisa diartikan sebagai ‘sesuatu yang ditutup-tutupi’. Yang dimaksud dengan “sesuatu yang ditutup-tutupi” adalah kebobrokan-kebobrokan, kebodohan-kebodohan, dan kesalahan-kesalahan yang sengaja ditutupi banyak manusia karena tidak ingin dilihat banyak orang. Fakta-fakta yang ada disembunyikan dengan baik dengan melakukan pencitraan-pencitraan untuk menjaga gengsi, harkat dan martabat dirinya, keluarganya, atau kelompoknya.

Inisiatif pencitraan ini membuat benteng psikologi dan martabat yang cukup kuat untuk menanggung bahwa perlakuan-perlakuan yang telah dilakukan sebenarnya bertentangan dengan fakta yang ada. Dengan begitu, walaupun sadar, manusia masih bisa berinisiatif dan justru bisa lebih kreatif dalam memanipulasi fakta hingga sejarah yang ada.

Kegiatan semacam ini dengan bangganya diturunkan kepada anak, cucu, cicit, hingga turunan-turunan manusia-manusia yang hidup pada masa kini hingga masa depan. Kemunafikan-kemunafikan, dan segala fakta yang telah dimanipulasi diwariskan kepada penerus bangsa hingga terjadi perkelahian antaranak bangsa. Mereka meributkan kebenaran menurut versi mereka masing-masing. Padahal, menurut Cak Nun, dalam tulisannya yang berjudul Darurat Aurat (2), kebenaran yang mereka maksud adalah kebenaran jadi-jadian yang direkayasa dan dicuciotakkan ke pikiran mereka.

Lebih jauh lagi, kemunafikan dan kebenaran yang dimaksud lebih dari sekadar peristiwa atau wejangan yang diberikan dan ada di dalam benak tiap individu. Namun, kemunafikan ini telah bertransformasi menjadi visi, misi, ideologi, landasan pemikiran, peraturan-peraturan, undang-undang, surat keputusan, dan lain sebagainya. Belum cukup sampai di situ, elemen-elemen tadi masih diberdayakan ke dalam buku-buku yang disebar ke lembaga dan institusi pendidikan, informasi di media cetak, viral di media sosial, dan terus melebar hingga ke warung-warung kopi, burjo-burjo, pangkalan ojek, dan pos-pos ronda.

Hingga kita menyadari bahwa aurat-aurat umat manusia bak buah simalakama. Butuh waktu lama bagi manusia untuk bisa berani mengakui, memahami, dan mengikhlaskan kebenaran. Jika kita mengungkap kebenaran, menurut Cak Nun, kita berdosa karena telah membuka aurat. Namun, jika sampai menutup mata dan berpindah ke dimensi lain, kebenaran tetap kita aurati maka keluarga, turunan, masyarakat, bangsa kita akan buta tanpa tuntunan.

Dan, jika kita tetap tidak jujur terhadap kebenaran lalu datang waktu yang telah ditentukan, apakah keluarga kita yang masih hidup dan mempunyai banyak waktu di dunia sanggup menjawab siapa kita sebenarnya? Apa yang kita lakukan sebelum-sebelumnya? Karena kebenaran akan terus teraurat sedangkan bangsa kita lebih mantap memilih untuk menyangga ketidaktahuan ketimbang pengetahuan.

Baca tulisan-tulisan harian Cak Nun sepanjang 2016 yang mengajak kita untuk kembali memahami nilai-nilai dan mendidik cara berpikir lainnya dalam buku Anak Asuh Bernama Indonesia dan buku-buku lainnya di sini.