Markesot namanya, ia mempunyai hobi berdongeng dan bercerita. Datang kepadanya empat puluh orang ke tempat yang disebut Patangpuluhan, lalu tidur di atas tikar di langgar. Ketika Markesot  memulai dongeng-dongengnya, satu per satu orang dari empat puluh orang tersebut beranjak tidur, ngorok, dan lainnya. Markesot tetap melanjutkan dongengnya dan terus mengoceh bak orang gila tidak tahu adat. Padahal, ia tahu orang-orang yang mendengarkannya tertidur lelap. Dan, seharusnya keempat puluh orang itu tahu bahwa inti sari dari dongeng justru ada di akhir dongeng itu sendiri.

Lingkaran di Patangpuluhan bisa disebut dengan Universitas Patangpuluhan. Mahasiswa-mahasiswa di sana datang dari berbagai latar belakang dan nasib. Mereka tidak datang karena disuruh, tetapi karena panggilan hati untuk dekat dengan Markesot. Tidak lain dan tidak bukan, mahasiswa-mahasiswa di  Universitas Patangpuluhan itu merasa senang, tenteram, adem dengan Markesot.

Sebenarnya Markesot adalah manusia biasa. Ia lama tertarik dengan bidang-bidang teknik dan teknologi seperti mesin, listrik, atau otomotif. Namun, jika dibandingkan dengan mahasiswa-mahasiswa Patangpuluhan, jelas Markesot bukan apa-apa. Dia tidak menjadi ahli teknik, tidak menjadi sarjana atau insinyur, tidak bekerja di pabrik atau jadi pimpinan pabrik, juga tidak memiliki hak paten terhadap penemuan-penemuan tertentu.

Walaupun datang dari berbagai penjuru negeri, mahasiswa mahasiswa ini telah jelas jabatannya, nasibnya, pekerjaannya. Berbanding terbalik dengan Markesot yang kerap dipandang sebelah mata. Dari perawakannya saja, Markesot lebih cocok dikenal sebagai makelar atau buruh pasar ketimbang pendongeng dan membuat pikiran bisa berpikir, hati menjadi riang.

Markesot juga menjadi pejalan rohani, Markesot terus mencoba beristikamah. Ia juga berwirid sebagaimana umumnya. Hanya karena ia tidak memiliki klub, komunitas, jamaah zikir sehingga eksistensinya—sebagaimana ia memahami dunia teknik—pun minim dan tidak dikenal sebagai siapa-siapa.

Meski begitu, mahasiswa-mahasiswa Patangpuluhan tidak pernah menganggapnya sebagai guru. Markesot dengan mahasiswa-mahasiswa bukanlah seperti guru dengan murid, atau kiai dengan santrinya. Mereka melingkar duduk bersama hanya untuk mendapatkan ketenteraman jiwa yang tidak mereka dapatkan di daerah asal, pekerjaan, kuliah, atau lingkungan mereka. Dongeng-dongeng Markesot bak sihir yang membuat mahasiswa Universitas Patangpuluhan kembali berpikir tentang posisi mereka di dunia ini.

Markesot memang betul-betul manusia biasa. Sejak kecil ia memang gemar mendongeng. Teman-temannya dengan seksama mendengarkan cerita-ceritanya. Wak Amad, kiai kampungnya memahami ini dan membiarkan Markesot terus mengoceh tanpa henti. Wak Amad tidak pernah menegurnya, walaupun Markesot termasuk anak yang kerap bolos mengaji. Markesot akan muncul kembali setelah teman-temannya keluar dan bermain kembali.

Segala kisah yang diuraikan oleh Markesot tidak kurang pasti  memuat kisah-kisah suri teladan, kemuliaan manusia, contoh daya juang, keindahan silaturahmi, dan masih banyak lagi. Dongeng dianggapnya tidak kalah dari pelajaran-pelajaran normatif di sekolah yang didapat. Namun, segalanya berubah seiring perkembangan zaman, dongeng-dongeng dianggap tidak ilmiah. Ketika dewasa, Markesot menjelaskan bahwa direndahkannya dongeng merupakan salah satu cara memisahkan bangsa kita dari sejarahnya. Kemegahan sejarah tidak diceritakan kembali sehingga muncul rasa-rasa pesimis dengan bangsa sendiri.

Namun, siapa pula yang mendengarkan Markesot? Dan, siapa pula yang percaya dengan dongeng-dongengnya? Markesot tidak pernah berpikir positif dan visioner, lalu mengapa teman-temannya banyak yang betah dengannya?

Kisah-kisah Markesot merupakan cerminan diri seseorang yang mengetahui kapasitas dirinya dan cairnya manusia berkomunikasi dengan manusia-manusia lain. Contoh kisah yang tidak menyombongkan diri serta tidak menempelkan cap ini-itu dengan dirinya sendiri. Dari Markesot pula kita tahu bahwa penting kiranya menghargai orang lain tanpa melihat latar belakang, jabatan, dan gelarnya. Bisa jadi, Markesot-Markesot lain hidup di dalam diri kita, atau dalam diri orang lain di sekitar kita yang tetap bisa rendah hati meskipun tahu dan mengerti banyak hal.

Kisah-kisah Markesot bisa didapatkan di buku Anak Asuh Bernama Indonesia. Dapatkan buku-buku Emha Ainun Nadjib lainnya di sini.