Beberapa waktu terakhir, metode KonMari mulai marak di Indonesia, tepatnya setelah penulis favorit saya—Dee Lestari—mengulas buku The Life-Changing Magic of Tidying Up di blog pribadinya. Buku tersebut adalah buku pertama Marie Kondo yang berisi mengenai filosofi, konsep, dan cara berbenah yang pasti akan mengubah hidup seseorang. Buku ini kemudian diterjemahkan serta diterbitkan oleh Penerbit Bentang Pustaka, Yogyakarta. Menurut Dee Lestari, seperti yang tertulis di sampul buku, “bukan sekadar bicara tentang membuang atau menata barang, buku ini bahkan bisa mengubah hidup Anda”.

Pada situs books review Goodreads, buku The Life-Changing Magic of Tidying Up Marie Kondo ada pada posisi teratas dibanding yang lain dengan jumlah 20.429 review (dan masih bertambah). Berbagai macam buku minimalist living lain hanya memiliki ratusan review dan masih jauh di bawah Marie Kondo. Padahal dari segi jumlah karya, ada Peter Walsh yang telah menerbitkan lebih dari 20 buku. Walsh sudah mulai menulis buku sejak Marie Kondo berusia 2 tahun (sekitar 1987). Lalu, mengapa justru Marie Kondo yang populer?

Saya mengenal metode KonMari dari suami yang pada waktu itu mendapatkan tugas mempresentasikan isi buku Marie Kondo pada sebuah acara bedah buku di kantornya. Saya pun berkesempatan membaca buku tersebut, terkesima, dan akhirnya mempraktikkan metodenya hingga menerapkan KonMari ini dalam kehidupan saya. That’s so greatly changed my life!

Seperti apakah metode KonMari ini?

Metode KonMari mengajarkan dua konsep utama, yaitu decluttering dan organizing. Decluttering adalah upaya mengurangi barang. Pada konsep decluttering, hal utama yang perlu dilakukan kali pertama adalah mengubah mindset, membuat ideal lifestyle, dan menyusun jadwal berbenah. Disarankan untuk membuat jadwal tidak lebih dari 6 bulan, idealnya 3 bulan disesuaikan dengan kondisi rumah.

Kemudian, jika sudah memulai proses berbenah, kita fokus pada barang yang kita simpan dan “spark joy”, mengucapkan terima kasih pada barang yang dipensiunkan. Lakukan runut per kategori, bukan per lokasi (sebagaimana umumnya orang-orang melakukannya). Kategori ini berurutan dimulai dari clothes, books, papers, komono, dan sentimental items. Baru kemudian kita fokus pada penataan (organizing).

Saya membandingkan KonMari dengan beberapa model decluttering (berbenah) lainnya dan saya merasa bahwa metode ini paling cocok dan lengkap. Sejak saya menerapkan metode KonMari dalam hal berbenah, ternyata efeknya tidak hanya tampak pada fisik rumah yang rapi, tetapi KonMari ini juga mampu mengubah cara pandang, sikap, dan bahkan kehidupan saya.

Tidak hanya sampai di sana, inner child[1] yang menjadi momok pun bisa tuntas seiring saya menuntaskan proses berbenah. Jadi, benar apa yang dikatakan oleh Marie Kondo bahwa kita baru memulai hidup yang sebenar-benarnya setelah kita berbenah total. Karena efek tersebut, saya dan suami kemudian bersepakat membuat Komunitas KonMari Indonesia. Kami merasa masyarakat Indonesia perlu mengenal metode ini agar mereka bisa merasakan dampak positifnya. Ada tujuh bab dalam buku ini, saya berbagi kisah mengenai proses metode KonMari yang mampu mengubah hidup saya. Semoga bermanfaat!

 

Salam

Khoirun Nikmah

Pendiri Komunitas Gemar Rapi (dulunya bernama Komunitas Konmari Indonesia)

 

Catatan: Pada Bulan Oktober ini, Bentang Pustaka turut memeriahkan Bulan Bahasa dengan menyelenggarakan Festival Buku Bentang di mizanstore.com. Semua buku Bentang akan mendapatkan diskon sebesar 25%, termasuk buku The Life Changing Magic of Tidying Up dan KonMari Mengubah Hidupku. Dapatkan promo menarik ini pada tanggal 10 Oktober hingga 12 Oktober. Kunjungi mizanstore.com di sini.

 

 


[1] Inner child: bagian dalam diri seseorang yang merupakan hasil dari pengalaman masa kecilnya. Inner child merupakan salah satu bagian dari alam bawah sadar manusia.