Hampir semua orang pernah terjebak di situasi yang sangat tidak menyenangkan. Contohnya, kemacetan pada jam pulang kerja. Rush hour atau jam sibuk adalah hal yang tidak bisa dihindari, terutama bagi orang-orang yang pulang kerja pada sore hari. Coba kita ingat-ingat lagi mengapa pada jam-jam tersebut banyak sekali orang berlomba-lomba membunyikan klakson, menyalip dari kanan-kiri hingga tak jarang beberapa rela mempertaruhkan nyawa dengan melanggar rambu-rambu lalu lintas agar cepat sampai ke rumah? Capek dan lapar adalah jawabannya. Kita semua ingin cepat sampai rumah, beristirahat dan menyantap hidangan lezat yang telah tersedia di rumah bersama si kecil dan keluarga.

Lalu, situasi tidak menyenangkan lainnya yang kadang terjadi adalah ketika kita menjemput anak dari sekolah. Hanya karena kita terlambat beberapa menit saja ia marah-marah, merajuk, bahkan mengancam tidak mau sekolah lagi pada keesokan harinya. Ya, alasannya lagi-lagi sama. Ia lelah setelah belajar seharian dan ingin cepat sampai rumah untuk beristirahat dan makan. Dua situasi yang sama-sama tidak menyenangkan tersebut mempunyai penyebab yang sama. Yaitu, marah dan kesal karena lapar dan ingin cepat sampai rumah. Bisa jadi jika kita marah-marah karena lapar dan lelah kita sedang berada atau mengalami kondisi yang disebut sebagai “hangry”. Wah, apa itu? Apakah sama dengan hungry? Namun, kenapa pakai huruf a bukan u? Nah, yuk kita kenal lebih dekat dengan kondisi hangry bersama Bentang Kids!

Siapa pun orangnya, entah masuk dalam kategori tua, muda, remaja, sabar, cerewet, pendiam, atau justru pemarah sekalipun pasti pernah mengalami kondisi “hangry”. Hangry adalah kondisi saat emosi kita menjadi labil dan mudah marah yang disebabkan oleh rasa lapar. Tidak perlu khawatir, karena seorang pakar perilaku nafsu makan, sekaligus profesor psikologi dari Reed College, Paul Currie, menjelaskan bahwa kecenderungan tersebut sebagai mekanisme pertahanan diri pada seluruh manusia dan itu normal. “Ketika lapar, organisme dapat mengabaikan sinyal tersebut. Namun, mereka tidak bisa bertahan hidup lebih lama," katanya dikutip dari The Huffington Post. Perilaku agresif, bahkan emosi yang labil lantas menjadi respons tubuh dalam menanggapi rasa lapar. Keduanya sering kali muncul bersamaan dengan stres atau kecemasan berlebih yang kadang kala berimbas pada tindakan agresif seperti marah, mengumpat, bahkan melakukan sesuatu di luar kesadaran.

Rendahnya kadar gula darah akan dianggap sebagai “ancaman” oleh otak. Apalagi, untuk bisa melakukan tugasnya dengan optimal, otak sangat membutuhkan glukosa. Tidak heran, jika rasa lapar kerap berdampak pada kurangnya konsentrasi hingga produktivitas. Satu dampak yang paling kentara, yakni kurangnya kontrol pada gejala amarah. Pada akhirnya, “serangan" lapar akan memicu pelepasan hormon serotonin (hormon stres), yang mengakibatkan kita sulit mengontrol emosi dan rasa marah. Nah, sebenarnya masih banyak alasan mengapa kita harus makan selain untuk bertahan hidup. Yuk, kenalkan si kecil dengan pengetahuan-pengetahuan baru seperti buku Mengapa Kita Harus Makan? dari Bentang Kids 

Buku ini sudah tersedia di toko buku loh Moms-Dads ;)

 

Diolah dari berbagai sumber.

Sumber gambar : www.unsplash.com