“Apa yang membuat sebuah naskah ditolak oleh penerbit?”

Pertanyaan semacam itu sering saya dapatkan saat mengisi workshop kepenulisan. Pada dasarnya, ada banyak alasan yang membuat naskah tersebut akhirnya tidak bisa diterbitkan. Faktor yang paling sering terjadi karena tema naskah yang dikirim tidak sesuai dengan apa yang tengah dicari oleh penerbit. Namun, sebelum masuk pada tataran tema, sebenarnya ada beberapa kesalahan teknis yang dilakukan oleh pengirim naskah kategori nonfiksi dan sangat sering saya jumpai. Saya merangkumnya dalam empat poin berikut ini.

  1. Tidak mengetahui definisi dari kategori nonfiksi

Jangan terkejut membaca subjudul di atas. Hingga saat ini, masih banyak pengirim naskah yang menyematkan kategori naskah di subjek surelnya dengan kata “nonfiksi”, tetapi ketika dibaca ternyata berupa kumpulan cerpen atau novel. Setelah saya amati beberapa lama, biasanya penulis yang salah mengisi kategori tersebut memberikan penjelasan bahwa cerpen/novelnya terinspirasi dari kisah nyata. Cerita tersebut kemudian dibumbui dengan berbagai macam konflik rekaan supaya lebih hidup.

Lalu, apa sih, yang dimaksud dengan kategori nonfiksi itu? Secara ringkas, nonfiksi adalah karya yang ditulis berdasarkan kejadian nyata dan bersifat informatif. Dalam proses penulisannya, karya nonfiksi dibuat sesuai dengan data riil sehingga bisa dipertanggungjawabkan isinya.

Nah, pada lini nonfiksi Bentang Pustaka, tema-tema yang sampai saat ini masih terus kami cari adalah analisis bisnis (misalnya Creator.Inc, Hellomotion Couple Goals, Gen M), memoar atau biografi (seperti Hijrah Bang Tato, Rudy, Hoegeng), self development dengan format illustrated book (seperti Happiness Is Homemade), dan parenting (seperti Jatuh Hati pada Montessori, Real Mom Real Journey).

  1. Tidak menyertakan outline atau sinopsis

Mengingat banyaknya naskah yang masuk ke meja redaksi setiap hari, editor umumnya tidak membaca satu per satu naskah dari awal sampai akhir. Biasanya kami melakukan seleksi awal dengan membaca sinopsis dan outline. Jadi, jika naskah tersebut tidak menyertakan ringkasan isi dan outline, bisa dipastikan setelah membaca 2—5 halaman pertama dan editor belum menemukan poin yang menarik, naskah tersebut akan langsung masuk ke daftar tolak.

Bagi seleksi naskah nonfiksi, outline atau kerangka tulisan memegang peranan yang sangat penting. Format outline yang bagus adalah menyertakan daftar isi secara lengkap dan memberikan penjelasan secara detail pada setiap babnya. Hal apa yang akan diulas dalam bab tersebut, meliputi subbab apa saja dan total jumlah halaman pada setiap babnya. Semakin detail semakin bagus. Bisa jadi, setelah membaca outline dan tertarik, editor akan langsung menghubungi Anda meski belum sepenuhnya selesai membaca naskah tersebut.

  1. CV yang tidak memiliki kaitan dengan tema naskah

Setelah outline, hal kedua yang biasa dicek oleh editor adalah CV penulis. Tidak bisa dimungkiri bahwa khusus untuk buku kategori nonfiksi, kredibilitas penulis adalah harga mati. Kredibilitas di sini maksudnya adalah menunjukkan background yang sesuai dengan tema yang digarap. Misalnya untuk buku kesehatan, tentu lebih disukai jika penulis berprofesi sebagai dokter atau pernah menempuh pendidikan ilmu kesehatan. Atau bagi penulis yang mengirimkan naskah memoar atau biografi tokoh, pada CV tersebut bisa menunjukkan pengalaman menuliskan profil atau karya-karya feature yang pernah dipublikasikan. Jadi sebenarnya, tidak perlu mencantumkan asal sekolah dasar dan menengah ataupun mencatat lomba-lomba yang diikuti, tetapi tidak memiliki keterkaitan dengan tema.

  1. Mengirimkan naskah skripsi/tesis/disertasi dalam format asli

Pada dasarnya, menginginkan skripsi atau tesis yang sudah dikerjakan dengan sangat serius untuk diterbitkan dalam bentuk buku adalah hal yang sangat bagus. Namun, karena Bentang Pustaka memang belum menerbitkan buku akademik, kami biasanya langsung menolaknya. Terlebih lagi segmen pembaca kami umumnya lebih menyukai buku-buku yang dikemas dengan isu populer. Untuk itu, jika skripsi atau tesis Anda memiliki tema yang sedang hangat diperbincangkan oleh khalayak, coba kemas dulu karya tulis Anda dalam format buku populer. Jika perlu, tulis ulang supaya bahasanya lebih mudah diserap oleh pembaca umum. Contoh buku yang merupakan hasil penelitian disertasi dan dikemas populer untuk menjangkau pembaca yang lebih luas adalah Al-Quran Bukan Kitab Teror.

Jadi, selain memastikan akurasi data naskah dan temanya sesuai dengan karakter penerbit, empat hal teknis di atas juga perlu diperhatikan. Meskipun terlihat sederhana, hal-hal kecil seperti penyertaan outline atau CV yang sesuai, bisa jadi akan memberikan kontribusi diterimanya naskah Anda.

 

Salam,

Nurjannah Intan

Editor Nonfiksi