Mengabadikan momen lewat bidikan kamera menjadi hal yang sangat lumrah pada era digital sekarang ini. Setiap hari, ratusan bahkan ribuan foto diambil di seluruh dunia. Bisa dibilang foto menjadi salah satu kebutuhan masyarakat sebagai “kenangan” akan suatu kejadian atau peristiwa. Orang akan berlomba-lomba membidik sudut terbaik dari setiap foto yang mereka abadikan. Lalu, bagaimana kegiatan fotografi ini bermula?

Sejarah mencatat beberapa nama-nama penting yang berkontribusi besar terhadap perkembangan fotografi hingga era moderen sekarang ini. Dimulai pada 1000 M, Al-Haitsam atau Alhazen berhasil melakukan penemuan besar sekaligus pencetus ide awal pembuatan kamera. Melalui eksperimen “ruang gelap”, Al-Haitsam menggunakan kotak yang tidak tembus cahaya, kemudian di tengahnya diberi lubang kecil. Sisi yang berlawanan dengan lubang berbeda dengan sisi kotak lainnya. Sisi ini berupa papan kaca yang berkilau atau tirai dari kain yang tertutup setengah transparan. Saat lubang diarahkan  ke satu objek pandang mana pun, misalnya lilin, cahaya itu akan melewati lubang dan tetap pada bentuknya semula sehingga terbentuklah gambar dari objek yang terlihat pada tirai tersebut. Al-Haitsam menemukan ruang gelap tanpa menggunakan papan sensitif. Eksperimen ini selanjutnya diberi nama kamera obscura.

Kamera obscura kemudian dikembangkan oleh ilmuwan lainnya dan mulai digunakan untuk mendokumentasikan peristiwa-peristiwa penting, salah satunya adalah Perang Dunia I. Penyempurnaan fungsi pada kamera obscura terus dilakukan, misalnya lewat eksperimen Thomas Wedgwood pada 1800. Wedgwood merekam gambar positif dari citra yang telah melalui lensa pada kamera obscura, tetapi hasilnya sangat mengecewakan. Kemudian, ia membuat gambar-gambar negatif pada kulit atau kertas puth yang dilapisi komponen peran dan menggunakan cahaya matahari sebagai penyinaran.

Pada 1824 lewat berbagai penyempurnaan yang dilakukan oleh para ilmuwan, Joseph Niephore Niepce, seorang litograf, berhasil membuat sebuah gambar permanen yang saat ini disebut dengan foto. Pembuatan foto pertama ini melalui proses yang disebut Heliogravure, prosesnya menggunakan jesnis aspal bitumen of Judea sebagai bahan kimia dasar. Pada Agustus 1827, Niepce berjumpa dengan Louis Daguerre, pelukis asal Prancis yang memiliki banyak talenta, dan mereka bekerja sama untuk menghasilkan foto melalui penggunaan kamera.

Pada 7 Januari 1839, sepeninggal Niepce, Daguerre mengumumkan hasil penelitiannya kepada Akademi Ilmu Pengetahuan Prancis. Hasilnya adalah foto-foto permanen yang disebut Daguerretype, yang tak dapat diperbanyak atau reprint. Ketika itu, Daguerre telah memiliki studio foto komersial sendiri, dan Daguerretype tertua yang masih ada hingga saat ini diciptakannya pada 1837. Berkat Daguerretype, Louis Daguerre dijuluki sebagai Bapak Fotografi Dunia.

Proses penyempurnaan dari Daguerretype terus dilakukan oleh ilmuwan dari berbagai negara. Hingga kemudian, pada Januari 1850, ahli kimia asal Inggris, Robert Bingham mengenalkan penggunaan Collodion sebagai emulsi foto yang ketika itu populer dengan nama WET_PLATE fotografi. Melewati berbagai proses pengembangan, penggunaan rol film mulai dikenal pada Juni 1888. George Eastman, seorang ilmuwan asal Amerika, menciptakan revolusi fotografi dunia. Ia menjual produk hasil penelitiannya pada 1877 dengan nama KODAK, berupa sebuah kamera boks kecil dan ringan yang telah diisi rol film dengan bahan kimia perak bromide untuk 100 hasil jepretan.

Ditemukannya ide pembuatan kamera menjadi cikal bakal terciptanya peradaban dunia yang sangat modern. Masih banyak lagi kisah penemuan-penemuan hebat dari ilmuwan Muslim yang sangat berguna hingga saat ini. Karya-karya hebat ilmuwan Muslim lainnya dapat ditemukan dalam buku terbaru terbitan Bentang Kids, 12 Ilmuwan Muslim yang Terkenal di Dunia. Buku ini sudah tersedia di toko-toko buku seluruh Indonesia, dan juga bisa didapatkan via mizanstore.com. Informasi menarik seputar buku-buku lainnya bisa ditemukan di Instagram @bentangkids atau melalui fan page Bentang Kids. Yuk, membaca dan berpetualang bersama!

 

Sumber :

e-journal.uajy.ac.id

Sumber gambar :

http://www.ottawacancer.ca