Buat Bapak

Aku bisa menyingkat ceritanya, tetapi tak berniat melakukannya. 
Ini kali pertama, akhirnya aku berair mata ... karenamu. 
Bukan ketika tarikan napas terakhirmu mengembus persis di depan tatapanku. 
Tidak juga karena aku tak sanggup melanjutkan kisah ini tanpamu. 

Akan tetapi, serpihan-serpihan kenangan kecil berhamburan begitu tak kutemukan udara mengembus dari pernapasanmu, ketika nadi kian melemah pada pergelangan tanganmu. 

Lalu, ada bayangan sephia yang menjadi film di kepalaku. Tentang engkau yang masih remaja berjalan tegap melintasi tegalan kebun keluarga kita yang telah tua. Ketika itu engkau tentu sosok yang berbeda. Engkau tinggi bercita-cita, tetapi tentang masa depan engkau tak tahu apa-apa. 
Maka, takdirlah yang berpilin-pilin. Seperti kumpulan bintang muda yang meledakkan supernova, menciptakan macam-macam sejarah melalui kelahiran-kelahiran baru.

Darimu, wahai Anak Muda masa lalu, lahir sejarah baru. Termasuk aku.

Lalu, apa yang kupahami sebagai kebenaran, pemahaman, keyakinan, runtuh pada hari sejarahmu runtuh.

Engkau yang banyak disalahpahami, bahkan oleh anak-anakmu sendiri, mungkin masih menyimpan cerita-cerita nan tersembunyi.

Entah doa siapa, amalan nenek moyang yang mana, sehingga orang-orang datang berlomba-lomba menghadiahimu empati. Ketika engkau sudah tak ada lagi.
Aku sedikit tahu kebaikan melibatkan namamu, tetapi aku benar-benar tidak tahu mengapa orang-orang begitu mudah memaafkanmu. Adakah keberuntungan hidup melebihi itu?

Aku bisikkan lirih ke telingamu, ketika napasmu tinggal satu-satu. “Jika Bapak sudah hendak pergi, jangan ragu. Kami telah mengikhlaskanmu. Mengunci segala yang baik tentangmu dan melupakan apa yang dianggap buruk darimu. Lalu, kami akan mengirim doa tak terputus untukmu.”

***

Satu Tahun Berlalu

Bapak, tentu Bapak tidak mengingat dia. Sahabat masa kecilku yang seperti anak-anak dusun lain, beberapa kali menginap di rumah kecil keluarga kita. Rumah dinas pinjaman ketika Ibuk menjadi kepala sekolah di SD dusun itu. Rumah yang sering dalam ketiadaanmu.
Nama dia Parmono, aku memanggilnya Kang Momo.
Bapak hanya tahu satu dua temanku. Itu pun dengan cara yang lucu. Cara yang membuat mereka tak mengidolakanmu.
Di antara satu dua nama itu, Kang Momo tak masuk ingatanmu.

Mbah Prapto, ayah Kang Momo, pernah bercerita kepadaku, semasa muda dulu, ia bersahabat denganmu. Bertualang ke tempat-tempat jauh untuk memenuhi kehausan spiritualitasmu.
Entah, masa itu setelah atau sebelum Bapak Ibuk bertemu. Aku tak menanyakannya.
Kang Momo seorang marinir yang tengah melanjutkan takdirnya di Timur Tengah. Menjadi bagian dari Garuda, pasukan perdamaian PBB.

Semalam, dia mengirimiku sebuah foto. Aku tahu dia akan melakukannya tapi tak menyangka akan secepat itu. Dua bulan setelah bertugas dipegunungan beku Lebanon, dia mengenakan kain Ihram, menyungging senyum terbaik, dan binar mata bahagia. Binar yang tak pernah kusaksikan sebelumnya. Entah sejak kapan dia telah di Mekkah, menuntaskan kerinduan Muslim sedunia, sowan ke rumah Tuhannya.
Pada detik itu, aku segera teringat perjalananku, setahun lalu.

Titik waktu paling menenangkan dalam hidupku. Sewaktu hari-hari begitu sempurna. Ketika dunia seolah tak memperoleh tempatnya.
Penyesalan terdalamku, selama 12 hari di Kota Suci, aku mengingat Bapak sedikit sekali. Aku mendoakanmu, mengumrohkanmu, menyebut namamu, tapi aku tidak menangis. Sedangkan aku percaya, pada doa, tak lagi menjuntai tirai antara manusia dan Penciptanya, ketika air mata tumpah pada lafaznya.

Maka mulai hari ini, Pak, aku akan menulis seluruh isi buku ini dalam perbincangan denganmu.
Aku akan bercanda denganmu, menatap bangga kepadamu, mengecup keningmu, memberikan bahuku, berbagi keikhlasan kepadamu, mencintaimu, berairmata pada doa untukmu.

Semua hal yang tidak pernah terkatakan, ketika kita masih ada dalam hirupan udara yang sama, berpijak pada bumi serupa.
Bapak tahu aku selalu percaya tanda-tanda. Malam tadi, aku meyakini, Allah menyapaku lagi. Memintaku memulai cerita ini. Menyuruhku menemanimu, dalam keabadianmu yang sepi.

Semoga setiap kata menjadi doa abadi. Menemanimu, meringankan bebanmu, menurunkan ridho Tuhanmu, seperti harapanku, agar Allah memeluk syahadatmu.