Manusia yang mengimani adannya Tuhan dan mengikrarkan diri sebagai manusia yang beragama membutuhkan yang namannya sebuah keyakinan. Keyakinan yang tertanam dalam akan menimbulkan rasa cinta. Begitu juga dengan keluarga Tjinta, Tasaro GK dalam bukunya. Buku ini menceritakan perjalanan meyakini, mengimani agama dan meneladani Nabi Muhammad saw.

Setiap orang memiliki cara sendiri untuk memperkuat aqidah. Sama halnya dengan bab keluarga Tjinta, Tasaro GK bisa mengimani dan meyakini memerlukan cerita panjang. Bahkan, meragukan dan terlalu banyak bertanya justru dapat mempertajam keimanan.

  1. Bertanya Mempertajam Tauhid

Manusia lahir tidak membawa apa-apa. Manusia lahir dengan tangan kosong dan tidak mengetahui apa-apa. Oleh karena Tuhan menciptakan akal agar manusia dapat berfikir dan mempelajari isi dunia ini dengan baik dan benar. Salah satu cara mencari pengetahuan dengan bertanya, seperti yang di ulas dalam paragraf awal bab 2 keluarga Tjinta, Tasaro GK.

Di bab keluarga Tjinta, Tasaro GK bertanya terkait dengan pelajaran agama itu bukan sesuatu yang salah. Karena Ibrahim  memiliki kebulatan tauhid juga diawali dengan menanyakan apa yang mereka tidak tahu. Bertanya menjadikan apa yang tidak tahu menjadi tahu. Dalam kasus lain, terlalu banyak bertanya secara berlebihan juga tidak baik. Satu sisi, bertanya secara berlebihan justru akan menyusahkan kita.

Sebagai contoh, kita ingin menyembelih sapi sebagai qurban. Dalam ajaran islam dijelaskan syarat qurban bisa menggunakan hewan sapi. Karena terlalu banyak bertanya, warna sapi, jenis sapi, usia sapi, berat sapi dan lain-lain. akhirnya menuntut untuk mencari sapi yang sempurna dan ternyata itu sulit ditemukan.

  1. Mengenal Rosul Dengan Cara Mencoba Segala Jalan

Mencintai Rosulullah tidak semua orang bisa merasakannya hingga merasuk. Bab keluarga Tjinta, Tasaro GK juga menceritakan hal yang sama. Belajar menyelami dan mencintai Rosululllah tidak akan pernah habis dibuatnya. Karena rasa cinta yang tumbuh dari hati,  mendorong untuk mencari tahu sosoknya. Mulai dari mendengar cerita, membaca buku, hingga pergi melintasi jarak sekalipun.

  1. Belajar Ilmu Agama Dari Kecil

Pentingnya ilmu agama di berikan sejak kecil ternyata tidak hanya membekali anak ilmu sejak dini. Namun mengenalkan rasa cinta pada anak-anak kepada sesama dan kepada Rosul-rosulnya. Wajar jika ada beberapa anak kecil yang memiliki rasa kecintaan Rosul. Seperti di keluarga Tjinta, Tasaro GK  juga terdapat cerita anak kecil yang jatuh hati kepada Nabi.

4.Seberapa Penting Mempelajari Agama?

Orang yang memiliki keyakinan, dalam hal ini keyakinan islam tentu mempercayai dan menyembah Allah. Hanya saja, tidak semua orang bertanya secara detail seberapa penting mempelajari Agama. Ada orang yang meyakini adannya Tuhan, namun enggan mencari ilmu Agama. Hasilnya cuek dan masa bodoh dengan issu yang terjadi di lingkungan.

Bab keluarga Tjinta, Tasaro GK mempelajari ilmu agama dan memperkuat ketahuhidan mengajak untuk memahami issu yang terjadi di luar. Banyak di luar sana yang mencari jati diri keyakinannya. Dengan cara mengetahui agama, setidaknya dapat menjawab pertanyaan bagi mereka yang butuh jawaban yang benar. Ada manfaat lain mengetahui agama dengan baik, yaitu tidak mudah terpancing dan tidak mudah diprofokasi.

 

Itulah empat manfaat yang perlu di garisbawahi dalam bab keluarga Tjinta, Tasaro GK. Meskipun ini sebuah novel fiksi, pelajaran yang disampaikan dan pesan moral untuk pembaca sangat positif. permasalahan yang disampaikan pun akrab dengan kehidupan sehari-hari.

Penasaran dengan keluarga Tjinta Tasaro GK? Atau hanya ingin sekadar belajar banyak hal dari mereka? Anda bisa membaca buku Patah Hati di Tanah Suci karya Tasaro GK terbitan Bentang Pustaka untuk tahu kisah-kisah napak tilas sejarah nabi Muhammad saw. Subhanallah, semoga kita senantiasa menjadi insan yang dapat mengambil hikmah dari kisah-kisah zaman Nabi dan bahkan bisa mengunjungi tanah kelahiran nabi.

Dapatkan karya terbaru Tasaro GK dan kartu ucapan eksklusif penulis beserta tanda tangan. Klik di sini.