Dalam keseharian, pastinya kita akan memerlukan banyak sekali pikiran dan perilaku positif agar hidup kita selalu berarti. Betul bukan? Namun, tak semua orang memiliki sifat berpikir positif sejak lahir. Demikian juga dengan anak-anak kita. Yes, karena itu kita sudah bisa mendidik anak kita untuk bisa selalu berpikir dan bertindak positif sejak sekarang.

Seperti halnya cara orang Denmark dalam mendidik anak-anak mereka, seperti yang ada dalam buku The Danish Way of Parenting. Disebutkan kalau mereka lebih memilih kalimat yang tepat untuk membuat perubahan persepsi. Apa yang dianggap negatif bisa diubah menjadi positif karena pemilihan kalimat dan kata-kata yang tepat. Kita juga bisa melakukannya lo. 

Berikut adalah beberapa cara yang bisa kita lakukan di rumah untuk mendidik anak positif dengan perilaku dan bahasa suportif.

 

1. Selalu berkata positif
Mendidik anak positif bisa kita mulai dari mencoba untuk mengganti kalimat. Misalnya, “Adik, ayo cepat! Ini sudah siang, jalan pasti macet. Nanti kita terlambat!” dengan kalimat yang lebih positif dan suportif, seperti, “Yuk, Dik, lebih cepat siap-siapnya biar nanti kita berangkat jalanan masih lancar.

Jadi Adik bisa lebih cepat sampai sekolah. Bisa main dulu sama teman-teman.” Atau, mengganti kalimat “Adik, jangan lari-lari! Nanti jatuh!” dengan “Hati-hati ya, Dik, kalau lari.” Mungkin awalnya memang sulit, terutama bila kita terbiasa dengan kata “tidak boleh", "jangan”, dan sebagainya. Namun, jika kita lakukan secara konsisten, pasti bisa. Setelah itu dijamin, anak-anak
akan berperilaku berbeda karena mereka selalu diberi semangat dan suport dengan kalimat yang
positif.

 

2. Selalu fokus pada keberhasilan
Sikap dan pikiran positif tidak akan berfokus pada kegagalan, melainkan pada keberhasilan meskipun hanya kecil. Jadi, jika keluarga Anda belum punya ritual berkumpul dan berbincang mengenai hal positif setiap hari, maka sekaranglah waktu yang tepat untuk memulainya.

Misalnya, pujilah si kecil yang hari ini tidak membuat bajunya berantakan saat mengambil. Atau, sudah membantu membersihkan meja makan, dan seterusnya. Temukan setiap hal kecil yang berhasil dicapai oleh si kecil, dan juga anggota keluarga lain, dan bahaslah bersama. Dengan lebih berfokus pada apa yang sudah dicapai akan membuat si kecil semakin bersemangat untuk melakukan hal positif yang lain lagi, dan lebih banyak.

 

3. Jangan abaikan kegagalan
Meskipun kita selalu berfokus pada keberhasilan, namun jangan sampai mengabaikan kegagalan juga. Diskusikan hal ini antara ayah dan ibu agar bisa mendidik anak dan mengubah kekurangan menjadi kelebihan, kegagalan menjadi pelajaran untuk keberhasilan nantinya. Misalnya, si kecil kurang bisa bergaul dan pendiam, maka orang tua harus menemukan hal yang bisa menjadikan kelemahan ini menjadi kelebihannya, karena sifat pendiam sebenarnya bukanlah kelemahan.

Kasus lain misalnya, gagal berangkat liburan. Maka gantilah acara liburan ke luar kota tersebut dengan berkemah di halaman belakang. Jelaskan bahwa Anda mengerti akan perasaannya yang kecewa karena gagal liburan ke luar kota, dan tambahkan, 

"Tapi kita juga bisa lo, berkemah di rumah. Kita coba bikin tenda di halaman belakang yuk! Nanti kita juga bakar jagung"

 

4. Ajarkan cara bersyukur
Ada kalanya rasa negatif muncul karena kita kurang bersyukur. Jika kita mampu bersyukur atas semua yang sudah kita miliki dan capai—apa pun bentuknya—tentulah rasa negatif tak akan pernah timbul. Jadi, salah satu cara memunculkan sikap dan perilaku positif adalah dengan mendidik anak untuk selalu bersyukur atas apa pun yang sudah dicapai. Cobalah cara berikut. Setiap hari ajak si kecil untuk merenung, dan menyebutkan 3 hal yang membuat hatinya senang pada hari itu. Apa saja; tidak terjebak macet, makanan enak, bisa bermain dengan bebas, atau kakek-nenek datang pun bisa menjadi hal yang menyenangkan buat anak-anak.

Setelah menemukan 3 hal tersebut, kemudian ajaklah si kecil berdoa. Ucapkan rasa syukur dan terima kasih pada Tuhan. Lambat laun ia pun akan semakin peka dan akan lebih bereaksi terhadap hal-hal baik yang terjadi padanya, dibanding kegagalannya.

 

5. Menjadi Contoh
Nah, yang terakhir ini justru menjadi yang terpenting. Kalau kita ingin mendukung dan mendidik anak menjadi pribadi yang selalu memiliki sikap dan pikiran positif, ingin agar ia selalu semangat, tentunya harus dimulai dari diri kita sendiri dulu. Bukankah orang tua selalu menjadi role model bagi anak-anaknya?

 

Jadi, yuk, sebelum mendidik anak agar berperilaku dan bersikap positif dengan bahasa suportif, kita harus introspeksi dulu. Apakah kita sudah menerapkan sikap positif ini sehari-hari? Apakah kita masih sering marah-marah? Apakah kalau marah, kita masih berteriak-teriak? Apakah kita masih mudah cemas?

 

Nah, selamat mendidik anak untuk selalu berpikir positif dengan bahasa yang suportif ya!

 

 

Sumber foto : www.unsplash.com