Beberapa waktu yang lalu (Kamis, 31 Mei 2018), tim dari Bentang Pustaka berkesempatan untuk berbincang-bincang dengan Mahfud Ikhwan, penulis novel Kambing dan Hujan. Novel ini termasuk dalam jajaran novel sastra best seller yang diterbitkan oleh Bentang Pustaka pada 2015. Bahkan, akibat tingginya animo penggemar Mif dan Fauzia, Bentang Pustaka pada akhirnya mencetak ulang novel roman ini pada 2018. Nah, kira-kira tema apa ya yang diambil oleh Mahfud Ikhwan dalam menciptakan novel Kambing dan Hujan?

Kisah cinta beda agama mungkin sudah dianggap familier di kalangan penikmat novel Indonesia. Namun, lain halnya dengan kisah cinta seagama yang tak sepenuhnya sama. Kambing dan Hujan mengisahkan tentang Mif, sesosok laki-laki dari keluarga Islam modern yang mencintai Fauzia, seorang perempuan dari keluarga Islam tradisional. Perbedaan cara beribadah dan waktu hari raya serupa jembatan putus yang memisahkan keduanya, termasuk rencana pernikahan mereka. Hubungan Mif dan Fauzia akhirnya menjelma menjadi sebuah tegangan antara hasrat dan norma agama. Ketika cinta harus diperjuangkan melintasi jarak kultural yang rasanya hampir mustahil mereka lalui, Mif dan Fauzia justru menemukan sekelumit rahasia yang selama ini dikubur oleh ribuan prasangka. Rahasia itu akhirnya membawa mereka pada dua pilihan: percaya akan kekuatan cinta atau menyerah pada perbedaan yang memisahkan mereka.

Sahabat Bentang mungkin bertanya-tanya apa yang mendasari Mahfud Ikhwan dalam memilih tema ini. Sebuah tema yang selalu saja dianggap isu sensitif di negara kita. Lantas, bagaimana sebuah isu yang begitu sensitif justru pada akhirnya mampu menjuarai Sayembara Menulis Novel DKJ 2014? Lebih dari hal tersebut, bagaimana bisa pada akhirnya novel ini justru menarik perhatian penikmat novel di Indonesia?

“Apa yang salah dari sebuah perbedaan? Itu yang sebenarnya ingin saya sampaikan kepada pembaca. Saya lahir dan tumbuh di antara dua golongan tersebut. Saya ikut merasakan bagaimana tegangan-tegangan yang muncul di antara keharmonisan yang ada. Lebaran berbeda hari, tersentil. Tarawih beda rakaat, tersentil. Saya ingin menyuguhkan kepada pembaca sebuah kisah yang mungkin belum pernah tersampaikan. Syukur-syukur kalau pembaca dapat mengambil pesan dan pembelajaran yang terselip di dalamnya. Jawaban tersebut meluncur dengan mulusnya dari sang penulis ketika tim dari Bentang Pustaka menanyakan terkait alasan Mahfud mengambil tema agama dalam novel keduanya itu.

Secara lebih lanjut, Mahfud tidak memungkiri bahwa beberapa hal yang tertulis dalam novelnya diambil dari pengalaman-pengalaman pribadi di sekitarnya. Bahkan secara gamblang, Mahfud menuliskan pesan pada lembar keempat dalam bukunya:

“Untuk para orang tua, orang-orang tua, dan orang-orang yang ceritanya aku curi dan kacaukan .

Lantas, pertanyaan lain tiba-tiba menyeruak, apa maksud dari kalimat “ceritanya aku curi dan kacaukan”? Sepersekian menit setelah Mahfud mengungkapkan bahwa bukunya beberapa diambil dari pengalaman pribadi, ia tidak memungkiri bahwa memang kisah-kisah di sekitarnya juga menambah khasanah inspirasi. Pun ia tak mengingkari bahwa di dalamnya telah ia bubuhkan bumbu-bumbu imajinasi. Pada akhirnya, Kambing dan Hujan bukan hanya menjadi sebuah kisah roman. Dengan berbagai racikan bumbu, novel Kambing dan Hujan, akhirnya tumbuh menjadi kisah sejarah bernilai sastrawi tinggi yang diracik dari sebuah dokumentasi sosial yang sangat berharga.

Nah, kira-kira sekaya apa, ya, nilai-nilai yang terkandung dalam kisah Kambing dan Hujan? Atau, serumit apa rahasia yang harus diurai oleh Mif dan Fauzia? Bagaimana keputusan akhir dari mereka berdua? Percaya akan kekuatan cinta atau menyerah pada perbedaan yang memisahkan mereka? Nah, kalau Sahabat Bentang penasaran, jangan lupa temukan jawabannya dalam novel Kambing dan Hujan, selamat membaca!