Judul : Aroma Karsa

Penulis : Dee Lestari

Penerbit : Bentang Pustaka

Cetakan : Pertama, Maret 2018

Tebal : 696 Halaman

ISBN : 978-602-291-463-1

“Aroma susah dijelaskan. Dan, kamu ingin penjelasanmu dimengerti. Sebaik mungkin. Benar begitu kan? Kamu bukan cuma peracik parfum terbaik, tapi bisa jadi pengulas parfum terbaik.” – Hal 439

BLURB



Dari sebuah lontar kuno, Raras Prayagung mengetahui bahwa Puspa Karsa yang dikenalnya sebagai dongeng, ternyata tanaman sungguhan yang tersembunyi di tempat rahasia.

Obsesi Raras memburu Puspa Karsa, bunga sakti yang konon mampu mengendalikan kehendak dan cuma bisa diidentifikasi melalui aroma, mempertemukannya dengan Jati Wesi.

Jati memiliki penciuman luar biasa. Di TPA Bantar Gebang, tempatnya tumbuh besar, ia dijuluki si Hidung Tikus. Dari berbagai pekerjaan yang dilakoninya untuk bertahan hidup, satu yang paling Jati banggakan, yakni meracik parfum.

Kemampuan Jati memikat Raras. Bukan hanya mempekerjakan Jati di perusahaannya, Raras ikut mengundang Jati masuk ke dalam kehidupan pribadinya. Bertemulah Jati dengan Tanaya Suma, anak tunggal Raras, yang memiliki kemampuan serupa dengannya.

Semakin jauh Jati terlibat dengan keluarga Prayagung dan Puspa Karsa, semakin banyak misteri yang ia temukan, tentang dirinya dan masa lalu yang tak pernah ia tahu.

Jujur, dari awal novel ini mau terbit, ekspektasiku udah tinggi aja nih. Ya mengingat memang novel Maksur ini gak pernah gagal di mata aku. Terlebih, setelah Supernova tamat kayanya hampa gitu. Gak ada yang dinanti lagi dari Maksur. Eh ternyata, Aroma Karsa terbit dan langsung gak sabar deh pengen menyelam.
Kesan pertama aku sama novel ini, covernya cantik, pikiran aku langsung dibawa ke alam antah berantah saat liat covernya, imajinasi aku menjadi liar setelah baca blurb yang menyebutkan bahwa Jati Wesi memiliki penciuman yang luar biasa. Penasaran gak sih gimana indera penciuman divisualilasikan dalam bentuk kata? 

“Kalau wewangian bisa berbicara, suaraku pasti sudah habis menyapa mereka satu demi satu.” – Hal 267

Baca blurbnya itu, aku sempet keinget sama Drakor yang judulnya Sensory Couple. Di sana, bau itu punya bentuknya. Nah, pas aku bayangin Jati Wesi aku dikit-dikit ambil gambaran dari sana deh supaya gampang. 

Ternyata Maksur memvisualisasikan bau dalam bentuk kata itu begitu detail. Bahkan beberapa lengkap tertulis dengan rumus kimianya lho. Aku ga heran untuk hal satu ini sih, pengetahuan Maksur mengenai Science patut d apresiasi.

Lalu sempat berpikir apa rasanya menjadi Jati yang dapat membaui segala hal, bahkan hingga memprediksi hujan hanya dari baunya?

Lalu, kita bahas mengenai tulisan di dalamnya. Diksi khas Maksur langsung menyapa pada awal cerita. Hal ini bikin aku gak bisa berhenti untuk sekedar melamun, semacam tidak memiliki rem ini bukunya. Selain itu, aura misterius sudah dikenalkan sedari awal. Inilah yang membuat aku terus penasaran dan rasanya sayang untuk dilewatkan meski hanya sebentar.

Segala hal digambarkan begitu baik oleh Maksur. Makanya novelnya jadi tebel banget, karena diawal cerita dibuat begitu perlahan dan pengenalan penuh untuk tokoh-tokohnya. Untuk aku pribadi, biasanya jika terlalu banyak pengenalan diawal akan merasa bosan saat baca, tapi entahlah bahasanya Maksur enak jadi gak berasa bosan meski dengan pengenalan yang begitu panjang.

“Hanya kepada orang pilihannya, ia menebarkan wangi. Hanya melalui izin penjaganya, ia menampakkan diri.” – Hal 423

Di novel ini aku bisa bilang ada 3 tokoh yang mempengaruhi terbangunnya cerita. Mereka inilah yang menjadi tiang utama cerita ini menjadi kokoh dengan ambisinya masing-masing. Secara tersirat, aku bisa melihat ada kesamaan porsi ambisi yang ada dalam diri mereka masing-masing.

Jati Wesi – Si Hidung Tikus. Sosoknya sendiri, ia begitu gigih dan pantang takut. Selalu penasaran dan ini membuatnya berpikir kritis. Dia bekerja di toko parfum isi ulang alias racikan. Tapi kemampuannya jangan dipertanyakan, ia bahkan membuat Lab ala Jati di tempat kerjanya.

Tanaya Suma – anak dari Raras Prayagung yg memiliki sifat ambisius. Saking ambisiusnya, ia jadi menanam setiap curiga dalam hal yg baru. Seperti saat bertemu Jati pertama kali. Menjadi orang yg bertanggung jawab dalam terciptanya parfum di Kemara yg terkemuka ini, jangan ragukan keahliannya. Ia pun memiliki penciuman yg baik. Meski harus ketergantungan terhadap salah satu obat.

Raras Prayagung – Pemilik dari Kemara. Sifat ambisius Suma turun dari dirinya. Ia begitu berambisi mampi menemukan Puspa Karsa, yg bahkan tumbuhannya pun masih sekedar mitos. Ia bersikukuh bahwa itu nyata, sesuai dengan wasiat Janirah Prayagung, neneknya.

Di samping 3 tokoh utama itu, ada tokoh samping yang keberadaannya tidak bisa dipandang sebelah mata. Aku pun sempat terkecoh karena ku kira mereka muncul hanya sebagai bumbu. Nyatanya, semua bagaikan potongan puzzle. Jadi, fokuslah kalian dalam membaca ini ya.

Aku jatuh cinta berkali-kali dengan novel ini. Baru melirik covernya aja, aku langsung terbawa lagi ke dalam aura saat membacanya. Detail setiap isinya betul-betul penulis perhatikan. Aku bilang, risetnya yg sekian lama berhasil. Apalagi dalam menjabarkan jenis bau-bauan dalam bentuk kata.  Saat baca, aku jadi ikut membaui apa aja yg ada di sekitar. Mencoba, seberapa tajam penciumanku. 

Aku bisa bilang, ini novel menggabungkan antara scifi dan fantasi. Di mana, beberapa penuturan di dalamnya memang berdasarkan riset nyata atau data yg sebenarnya. Tentang mitologi yang disajikan pun, aku merasa tidak terlalu berlebihan atau terlalu mengada-ngada. Mungkin jika disandingkan dengan novel David Gibbins, yang biasanya mengangkat mitologi. Maksur pun ternyata begitu baik dalam bercerita tentang mitos.

Aku belum pernah membaca novel perfume. Jika sebagian pembaca mengaitkan antara kedua novel ini. Tapi aku bisa pastikan, novel ini mengangkat hal yg berbeda. Fantasi, scifi, mitologi, keluarga dan cinta semuanya diracik menjadi satu aroma yg pas. 

Satu hal yang mungkin membuat hatiku sedikit mengganjal adalah endingnya. Ah aku benci kenapa Maksur selalu membuat ending yang seperti ini. Membuat perasaan pembaca terkatung-katung. Aku membutuhkan jawaban pasti atas segala hal.

(Teks: Viadravia)