Judul: Aroma Karsa
Penulis: Dee Lestari
Penerbit: Bentang Pustaka
Jumlah Halaman: 724 halaman
Cetakan: Maret, 2018
ISBN: 9786022914631
Harga: 125.000
Rating: 4.7/5
 
Blurb:

 

Dari sebuah lontar kuno, Raras Prayagung mengetahui bahwa Puspa Karsa yang dikenalnya sebagai dongeng, ternyata tanaman sungguhan yang tersembunyi di tempat rahasia.
Obsesi Raras memburu Puspa Karsa, bunga sakti yang konon mampu mengendalikan kehendak dan cuma bisa diidentifikasi melalui aroma, mempertemukannya dengan Jati Wesi.
Jati memiliki penciuman luar biasa. Di TPA Bantar Gebang, tempatnya tumbuh besar, ia dijuluki si Hidung Tikus. Dari berbagai pekerjaan yang dilakoninya untuk bertahan hidup, satu yang paling Jati banggakan, yakni meracik parfum.
Kemampuan Jati memikat Raras. Bukan hanya mempekerjakan Jati di perusahaannya, Raras ikut mengundang Jati masuk ke dalam kehidupan pribadinya. Bertemulah Jati dengan Tanaya Suma, anak tunggal Raras, yang memiliki kemampuan serupa dengannya.
Semakin jauh Jati terlibat dengan keluarga Prayagung dan Puspa Karsa, semakin banyak misteri yang ia  temukan, tentang dirinya dan masa lalu yang tak pernah ia tahu
***

 

Sesuai judulnya, Aroma Karsa mengangkat indra penciuman manusia sebagai pesona utama. Meski dikatakan bahwa indra penciuman manusia masih kalah dengan hewan, namun ada pengecualian terhadap Jati Wesi. Bahkan lelaki itu dijuluki sebagai "Si Hidung Tikus" di tempat tinggalnya di Bantar Gebang. Untuk menyambung hidupnya, ia punya banyak pekerjaan, satu yang berhubungan dengan sampah, satu lagi tanaman, dan yang lainnya berhubungan dengan parfum. Ia bekerja di toko parfum Attarwalla milik Khalil Batarfi, bertugas untuk mereplikasi aroma dari wewangian kelas dunia. Khalil Batarfi bagi Jati Wesi adalah bapak yang ia harapkan namun tak bisa dimilikinya, sebab, selama ini ia hanya memiliki Nurdin Suroso, orang kuat di TPA yang mengklaim paling mengenai asal usul Jati yang dibuang sedari bayi dan hadir sebagai penyelamat hidup Jati, dan Anung Linglung, seorang yang dipercayainya sebagai bapak, yang tengah mendekam di penjara karena telah membunuh istrinya sendiri.
 
 

 

Mereplika parfum membawanya kepada permasalahan yang membuatnya berurusan dengan Raras Prayagung yang tidak terima parfum lokal produksi Kemara, perusahaan besar miliknya, dipalsukan oleh Attarwalla. Mengetahui kemampuan indra penciuman Jati, Raras tidak mau menyia-nyiakannya begitu saja, maka ia meminta Jati bekerja untuknya alih-alih mendekam di penjara. Hingga akhirnya Jati bertemu dengan Tanaya Suma, anak perempuan Raras yang tidak suka dengan keberadaannya dan terus berupaya mengibarkan bendera perang, yang ternyata juga memiliki indikasi kemampuan penciuman yang sama dengan Jati. Lambat laun Jati paham, ia ditampung untuk dimaksudkan menjadi salah satu tim ekspedisi untuk memenuhi hasrat seorang Raras Prayagung untuk membuktikan keabsahan dongeng Eyangnya, Junirah Prayagung, yang telah almarhum. Dongeng tentang Puspa Karsa, bunga yang aromanya mampu mengikat siapa saja. Yang Jati tidak sangka, perjalanannya menghidu aroma Puspa Karsa sejalan dengan perjalanannya membaui serpihan aroma masa lalu untuk menemukan siapa sebenarnya seorang Jati Wesi. 
Kemana saja saya selama ini? Baru membaca karya seorang Dee Lestari yang santer dibicarakan di mana-mana. Temanya unik sekali, olfaktori, reseptor indra penciuman, yang sudah pasti sangat memengaruhi kehidupan manusia. Bau enak, orang pasti mendekat, bau busuk, orang pasti bubar. Bau yang aneh, mungkin membuat penasaran, seperti yang dilakukan Jati Wesi yang terus mengidentifikasi bebauan yang selama ini dihidunya, membuatnya mampu menjadi salah satu perfumer dengan passion dan bakat yang patut diperhitungkan meski ia hanya tamatan SMA. Saya sangat mengapresiasi keapikan Dee Lestari dalam memadukan kompleksitas aroma dan menuturkannya dalam paragraf-paragraf cantik agar pembaca mengetahui dan dapat membayangkan seperti apa aroma tersebut, kemudian juga histori Jawa kuno, yang berhubungan dengan Kerajaan Majapahit, demit di Gunung Lawu, raja-raja jaman dahulu, tempat tersembunyi di hutan sebuah wilayah layaknya Wakanda (Black Panther) di tanah Afrika yang menyimpan harta karun yang jika diketahui mungkinakan diburu oleh seluruh manusia di dunia untuk tujuan masing-masing, juga arkeologi khususnya epigrafi dan segala macamnya yang juga menjadi unsur berpengaruh dalam cerita ini. Riset sudah tidak usah dipertanyakan, karena Dee Lestari memuat potongan-potongan informasi untuk Aroma Karsa melalui obrolannya dengan beberapa ahli (mulai dari sampah, sejarah, wewangian) yang dinyatakan dalam Ucapan Terima Kasih-nya.
 
Cerita dibagi dalam tiga babak: perkenalan Jati Wesi dan segala kerumitan hidupnya sebagai "anak hilang" di tengah-tengah gunungan sampah Bantar Gebang dan orang-orang di sekitar hidupnya, fase ketika ia diperkenalkan kepada orang baru, Raras Prayagung dan Tanaya Suma, yang juga membuatnya mampu terbungkus kulit baru, seakan-akan menjadi salah satu keluarga Prayagung meski dalam hatinya ia tetap orang TPA, sekaligus juga persiapannya di dunia produksi parfum dan masa pra-ekspedisi, yang terakhir adalah di mana kesemua tokoh yang berkepentingan tengah melakukan perburuan mencari Puspa Karsa yang dipenuhi oleh berbagai kejutan besar yang mampu mengarahkan pembaca untuk menemukan kunci-kunci yang berserakan demi membuka kotak misteri Puspa Karsa.
 
"Aroma adalah ketertarikanku sejak lama. Aku percaya pada kekuatan indra penciuman atas keputusan kita atas apa yang kita rasa, atas hidup mati kita. Ndilalah, penciuman juga indra yang paling sulit dipahami."
 
Apakah saya sudah menyebutkan bahwa buku ini sangat menarik, sampai-sampai dengan halaman sebanyak 700 halaman ini tidak mampu saya lepas dari mata meski sudah jam 3 pagi? Tiap lembarannya membawa saya untuk terus mencari dan mencari potongan puzzle yang selama ini membuat saya bertanya-tanya siapa sebenarnya Jati Wesi? Adakah Puspa Karsa itu nyata? Apa pengaruhnya? Dan siapa sebenarnya nama-nama yang terus menerus disebut Anung Linglung yang demensia? Saya mendapatkan semua jawabannya dan dapat tersenyum puas manakala cerita bergulir tetap dalam tempo yang pas, tidak makin cepat ataupun makin lambat menuju akhir cerita, membuat semangat saya dari mulai lembar awal hingga lembar akhir cerita rasanya tidak pernah mengendur.
 
Jalinan kata yang dibentuk oleh Dee Lestari sangat indah, bahkan adegan-adegan yang biasanya membuat pembaca belum cukup umur jengah kala membacanya, mungkin akan menangkapnya dengan nuansa yang berbeda, saking pilihan kata yang diambil memang benar-benar puitis. Untuk karakter-karakternya saya bisa bilang tidak semuanya dapat dinilai baik, karena kembali lagi tiap manusia punya sisi gelapnya tersendiri. Meskipun Jati Wesi orangnya tidak macam-macam, beberapa kali saya agak risi melihat lelaki itu tanpa sungkan menyuarakan pendapatnya yang bisa jadi menyinggung orang lain. Tanaya Suma yang cerdas namun penyakit hatinya membuat langkah yang diambilnya untuk menghadapi yang dianggapnya lawan tidak lagi mencerminkan kecerdasannya. Raras Prayagung yang telah memiliki hampir semua yang manusia lain ingin miliki namun masih terlena akan obsesi yang menghantuinya sejak dahulu. Seluruh tokohnya cukup kuat, beberapa punya tujuan tersendiri, punya obsesi yang ingin dipenuhi yang dapat membawa mereka menuju hal baik ataupun sebaliknya. 
 
Akhir yang dipilih juga tidak mencerminkan kebahagiaan maupun kesedihan, namun lebih terbuka kepada kemungkinan-kemungkinan selanjutnya yang saya harap (atau memang telah direncanakan tetapi saya tidak tahu) akan ada kelanjutannya. Adegan favorit saya sendiri adalah ketika saya diajak untuk mengetahui Jati Wesi serta pengalaman tim ekspedisi Puspa Karsa di pedalaman hutan yang ternyata sempat terjadi juga 26 tahun silam. Akhir kata, saya dengan senang hati menyatakan bahwa saya mendapatkan impresi yang luar biasa baik dari Aroma Karsa, dan mungkin juga akan menjadi penggemar baru Dee Lestari dengan karya beliau yang mendahului maupun di masa mendatang. 
 
"Dunia ini sesungguhnya dunia aroma. Penciuman adalah jendela pertama manusia mengenal dunia. Manusia lebih mudah dipengaruhi oleh yang tidak terlihat."
 

(Teks: