Penciuman adalah jendela pertama manusia mengenal dunia. Manusia lebih mudah dipengaruhi oleh yang tidak terlihat.” (Halaman 153)

 

Jati Wesi tumbuh besar di antara gunungan sampah Bantar Gebang. Tanaya Sumatumbuh besar dengan gejala hiperosmia—berhubungan dengan bau yang berefek secara berlebihan bagi tubuh. Mereka terhubung oleh sebuah kisah bernama ‘Puspa Karsa’ yang dulu diyakini sebagai dongeng oleh Raras Prayagung. Jati, si peracik parfum jenius, yang oleh sebab yang tidak bisa dijelaskan di sini, dibimbing oleh Raras untuk menemukan tanaman rahasia dan misterius tersebut, melalui kemampuannya membaui sesuatu di atas rata-rata manusia biasa.

Bukan cuma wujudnya yang menjadi teka-teki, pula dipercaya bahwa tidak ada yang bisa mendeteksi aroma Puspa Karsa, terkecuali orang-orang pilihan. Puspa Karsa adalah tanaman yang punya kehendak dan bisa mengendalikan kehendak. Kehendak Puspa Karsa jualah yang menentukan siapa yang bisa membauinya. (Halaman 10)

Perjalanan mencari Puspa Karsa sudah dimulai sejak bertahun-tahun lalu. Raras Prayagung memulai ekspedisi pertamanya 26 tahun yang lalu, dan kini Jati Wesi diarahkan untuk melanjutkan ekspedisi yang tertunda puluhan tahun itu. Masalahnya ternyata tidak sesederhana itu. Jati Si Hidung Tikus ternyata punya obsesi yang berbeda dengan Raras. Jati ingin meracik kembali Puspa Ananta, seri parfum keluaran Kemara, perusahaan yang dibangun keluarga Prayagung sekaligus parfum andalan buatan Suma—yang juga memiliki kemampuan yang serupa dengan Jati. Tak main-main, obsesi Jati membawanya ingin membaui secara detil sang ibu dari Puspa Ananta. Hal tersebut membuat Suma sangat membenci Jati.

Di samping itu, pencarian tanaman misterius membawa Jati bertemu dengan misteri lainnya yang berhubungan dengan masa lalunya. Sebuah misteri besar yang mungkin akan mengubah segalanya. Apakah Jati berhasil mendapatkan Puspa Karsa? Bagaimana dengan kebencian Suma akan Jati? Apa hubungan sebuah kerajaan besar yang pernah berjaya pada masa lalu dengan tanaman misterius tersebut?

*

Porsi pertama akan mengubah nasibmu.

Porsi kedua akan mengubah nasib keturunanmu.

Porsi ketiga akan mengubah dunia sebagaimana keinginanmu.”

Sepertinya sudah lama sekali saya tidak membaca karya Dee Lestari. Secara jujur, saya sudah membaca semua karya Dee yang diterbitkan dalam bentuk buku—kecuali seri Supernova. Lalu, Aroma Karsa lahir. Saya tidak punya ekspektasi apa-apa saat mulai membaca buku ini, mengingat buku ini ‘berdiri sendiri’ awalnya dan sudah lama saya tidak menyelami karya Dee.

Sepanjang membaca buku setebal 710 halaman ini, ada satu kata yang melekat dalam kepala saya: Obsesi. Hampir semua tokoh dalam novel ini memiliki obsesi yang terlalu berlebihan terhadap sesuatu—dan buat saya itu menakutkan. Kamu akan melihat sisi lain dari Jati yang bisa membuatmu kagum sekaligus bergidik. Atau berkenalan dengan Suma yang karena gangguan yang dideritanya sejak kecil, orang-orang harus mandi bersama soda kue dulu sebelum bertemu dengannya. Atau bertemu dengan Raras Prayagung, yang memiliki kharisma tertentu meski dengan  keterbatasannya.

Melalui hidung Jati dan Suma, saya seperti bisa membayangkan seperti apa bau yang dihidu oleh mereka. Bahkan sesuatu yang baunya tidak tertangkap oleh hidung manusia normal, kau bisa ‘mencium’nya dalam buku ini.

Aroma itu bagai pertemuan yang dilakukan diam-diam antara susu, garam, kecut jeruk, asap, kaldu, dan biji kapas. Samar dan rahasia, sekaligus khas dan memikat. (Halaman 400)

Buku ini menyajikan kisah misteri sejak awal. Mengajakmu bertualang. Memberimu banyak bau untuk kauhidu. Bau masa lalu yang sejak awal hingga akhir selalu kaucium. Aroma petualangan, sejarah, mitos, epigrafi, keluarga, persahabatan, obsesi, juga asmara. Saya selalu salut dengan penulis yang serius dengan apa yang ia kerjakan. Dee salah satu yang selalu membuat saya kagum dengan riset-riset yang ia lakukan demi karyanya. Aroma Karsa membawa banyak pengetahuan baru untuk saya, khususnya segala hal yang berkaitan dengan olfaktori—berhubungan dengan indra penciuman.

Bagi saya, ada bagian yang terasa seperti terburu-buru untuk diselesaikan—dan itu membuat sedikit syebaaaallll. Hahaha. Kalau kata teman saya, rasanya seperti ‘Bertahun-tahun pedekate, tapi jadiannya cuma sebentar’. Terlalu tanggung. Dan, oh, itu endingnya! Buat saya itu pas, seru. Hanya mungkin, bagi sebagian pembaca, Dee lagi-lagi menggantung dan membuat rasa penasaran sampai di ubun-ubun. Hahaha.

Nah, sudah cukup penasaran? Ada yang bilang buku ini mirip dengan Perfume: The Story of a Murderer-nya Patrick Süskind, tapi enggak ah. Monggo, kalau mau dibuktikan sendiri. Jangan lupa bagi pengalaman membacamu dengan saya, ya. Siapa tahu kita jod … ah, sudahlah. Selamat membaui Aroma Karsa!

Apa pun yang dunia manusia tuliskan tentang Puspa Karsa, sungguh, kalian tidak tahu apa-apa.”

**

Judul buku: AROMA KARSA | Penulis: Dee Lestari | Penyunting: Dhewiberta | Penata Aksara: Anik & Petrus Sonny | Perancang Sampul: Fahmi Ilmansyah | Penerbit: Bentang Pustaka | Tahun terbit: 2018 | Jumlah halaman: 710 halaman | ISBN: 978-602-291-463-1

 

(Teks: https://perpustakaandhila.wordpress.com/2018/04/20/resensi-buku-aroma-karsa-membaui-masa-lalu/)