Sejak dulu, media tak hanya digunakan sebagai alat untuk menyampaikan kabar kepada khalayak. Pengaruhnya yang cukup tinggi mampu menciptakan fungsi hingga bercabang-cabang, mulai dari aspek ekonomi, sosial, stabilitas negara, hingga ideologi dan juga agama. Bahkan, sejarah mencatat bahwa agama dan media telah berdiri bersama dan saling mengusung label satu sama lain, salah satunya ialah media Islam.

Selain menjadi “corong” bagi umat dalam menerima informasi, media yang mengusung “agama” sebagai bagian dari ideologinya pun mampu menjaring pembaca secara khusus sesuai ketertarikan yang diinginkan. Bahkan, media Islam di Indonesia khususnya, memiliki berbagai ideologi dan pandangan berbeda-beda walaupun masih di bawah payung Islam sehingga produk yang mereka “jual”, yakni produk jurnalistik pun cenderung berbeda teknik maupun kontennya.

Beberapa media lokal Indonesia seperti Sabili, Republika, hingga Tempo, juga media negeri tetangga, yaitu Harakah dan Malaysiakini pun kemudian menjadi objek atas penelitian seorang peneliti berkebangsaan Amerika Serikat, yakni Janet Steele. Janet Steele yang merupakan Associate Professor of Journalism di George Washington University, dan Director Institute for Public Diplomacy and Global Communication pun telah meneliti secara khusus mengenai perkembangan antara media, jurnalistik, serta Islam hingga hampir 20 tahun terakhir. Pengalaman akademiknya sebagai peraih gelar Ph.D. dalam bidang sejarah dari Johns Hopkins University juga sangat meminati topik-topik, terutama tentang bagaimana budaya dikomunikasikan lewat media massa.

Penelitian tersebut setidaknya juga berhasil memecahkan stigma akan pemikiran mengenai jurnalisme dan Islam yang sebelumnya sering terfokus pada negara-negara Arab. Padahal, di Asia Tenggara sendiri juga terdapat dua negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, yaitu Indonesia dan Malaysia. Berbagai sendi kehidupannya tentu sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai Islam. Tak terkecuali pada praktik media yang dijalankan. Di kedua negara tersebut, sebuah pemberitaan tidak hanya diusung berdasarkan prinsip melawan kekuasaan yang sewenang-wenang, tetapi juga adanya tanggung jawab moral terhadap Tuhan.

Penelitian yang kemudian dikemas dalam bentuk buku setebal 304 halaman ini merangkum semua atas apa yang dilakukan oleh Janet Steele selama hampir 20 tahun terakhir, mengenai praktik pelaporan profesional para jurnalis Muslim di lima kantor berita terkemuka di Indonesia dan Malaysia. Hasilnya, kelima media pun berhasil dibuka pandangan dan tujuan dasar atas pendiriannya. Seperti Republika misalnya, yang menjadikan masyarakat Muslim sebagai segmen pembaca utama; lalu Tempo, majalah berita progresif mengusung pluralisme; kemudian Sabili, majalah fenomenal yang mempekerjakan jurnalisnya karena kemampuan mereka dalam dakwah atau propaganda Islam; Harakah, tempat para wartawannya yang berafilisiasi dengan partai politik Islam; hingga Malaysiakini, media independen yang justru mengambil peran istimewa sebagai oposisi dengan pemerintah Negeri Jiran tersebut.

Semua dibahas secara lengkap di buku yang baru saja terbit ini. Selain mengenai motivasi atas pendirian media di bawah payung Islam yang justru memiliki tujuan beragam, juga membahas mengenai strategi mereka dalam mengembangkan sumber daya Islam dengan memanfaatkan media sebagai alatnya, hingga kata “Kosmopolitan” (merupakan pemikiran yang jauh berlayar ke berbagai aspek dengan tanpa meninggalkan ajaran Islam yang harfiah dan tak bisa dikompromikan) yang dibedah secara mendalam.

Janet Steele sendiri juga kerap berkunjung ke Asia Tenggara untuk memberi kuliah dengan beragam topik, dari peran pers dalam masyarakat demokratis hingga kursus mengenai jurnalisme naratif. Buku sebelumnya yang ia tulis berjudul Wars Within: The Story of Tempo, an Independent Magazine in Soeharto’s Indonesia yang berfokus pada majalah Tempo dan hubungannya dengan politik dan budaya pada masa Orde Baru.