Demikianlah sang waktu berjalan menapaki kodratnya. Ia tidak pernah menengok lagi ke belakang, mengantarkan kedepan dan terus kedepannya lagi. Tidak peduli seperti apa warna perasaan yang membuncah, menggelegak. Karena semua warna, baik itu benci, cinta, angkara murka, akan aus oleh sang waktu. Dialah yang kemudian menjadi sangat perkasa, atau paling perkasa, karena apa pun dan siapa pun bisa dikalahkannya. Ketika segala sesuatu tidak abadi, segala sesuatu berubah, dialah yang kemudian paling abadi, perubahan itulah keabadian.

-Bala Sanggrama Part 1:1-

Prolog:

Setahun setelah terbitnya “Sandyakala Rajawangsa”, Langit Kresna Hariadi kembali menyapa penggemarnya dengan kelanjutan kisah kerajaan Singasari. Cerita dimulai ketika Wirota Wiragati melakukan ‘njajah desa milang kori’ ke Barat. Keputusannya untuk meninggalkan kerajaan yang begitu dicintainya bukan tanpa alasan. Disatu sisi, ia akan dianggap Bala Sanggrama yang tidak tahu diri karena “minggat” disaat yang tidak tepat. Disisi lain, jika ia tetap bertahan ia tidak akan kuat. Ia tidak mampu menghianati Raja yang begitu dihormatinya. Maka, atas dasar kecamuk yang bersarang didadanya, ia memilih untuk meninggalkan Singasari.

Baca juga: Serial Majapahit “Sendyakala Rajawangsa”: Episode Baru dari Kutukan Mata Rantai Tali Wangke

Serangan Mabuk Bunga Kecubung Vs Pertolongan Paksi Cataka

Anak panah itu melesat tinggi, kekuatan yang melontarkannya tak berasal dari ayunan bilah gendewa, tetapi kekuatan nyawa sekarat menjelang datangnya kematian itulah yang mendorong mengantarkannya. Anak panah itu terbang membumbung tinggi mengagetkan seekor cataka yang sedang memperhatikan kekacauan yang terjadi di bawah sana. Cataka itu bergegas meliuk karena jika tidak, dadanya akan teterjang.

-Bala Sanggrama Part 49: 276-

Jika pada seri pertama Langit Kresna mengenalkan pembaca pada mata rantai dendam masa lalu, pada seri kedua ini sang penulis mulai meniupkan ‘ruh’ pertumpahan darah. Bisa dibilang kalau seri pertama prolog, maka seri kedua ini adalah klimaksnya. Pada novel setebal 638 halaman ini, Langit Kresna menawarkan perang kolosal antara kerajaan Kediri dan Singasari. Pada seri ini juga, sentuhan magis semakin kental terasa. Nuansa ilmu gaib dan kejawen mewarnai disetiap sisinya. Bagi para keturunan jawa tulen yang masih menyatu dengan kebudayaan kejawen akan merasa dekat dan membaur dalam setiap penggambaran kisahnya. Sedangkan bagi para kaum milenial yang mungkin asing dengan setiap sentuhan magis, maka akan merasa diajak berpetualang menyusuri alam nenek moyangnya.

Pada bagian klimaks ini pembaca akan diajak berfikir ‘kubu’ mana yang paling kuat dan akhirnya menang. Kediri dengan serangan mabuk bunga kecubungnya, atau Singasari dengan pertolongan Paksi Catakanya. Seperti judulnya yang mengusung “Bala Sanggrama”, kisah perjuangan kerajaan Singasari melawan Kediri ini memang dihujani oleh tetesan darah kesetiaan para Bala Sanggrama-nya. Kesetiaan ini pun yang juga pada akhirnya memanggil Wirota Wiragati untuk kembali mengabdi pada Rajanya.

Kisah Cinta Raja, Permaisuri dan Bala Sanggrama

“Kenapa saya?” tanya pemuda itu. “Kenapa harus saya?”

“Karena kau takdirnya”

-Bala Sanggrama Part 36: 213-

Serial Majapahit kedua ini juga tidak luput dari kisah asmara. Jika seri pertama masih terlihat abu-abu, pada seri kedua ini sudah mulai terurai jalan takdirnya. Diwarnai dengan tetesan darah, tangis dan pengorbanan, jiwa-jiwa berjarak yang saling merindukan seakan bersatu demi kelangsungan hidup kerajaan. Dengan penuh peluh, Langit Kresna mencoba menguras hati pembaca untuk turut menerima setiap takdir yang sudah tergaris. Baik menyesakkan ataupun membahagiakan.

Epilog:

Bala Sanggrama, seri kedua dari Serial Majapahit yang wajib dibaca oleh para penggemar Langit Kresna. Kalau seri pertama adalah prolog, maka seri kedua ini adalah gerbang menuju klimaks. Siapapun yang membaca Sandyakala Rajawangsa tanpa Bala Sanggrama, maka akan terasa seperti teh tanpa gula, hambar dan kurang percikan. Selamat membaca! Selamat datang di gerbang klimaks!