Prolog:

“Hening berubah menjadi senyap yang sangat kental. Ketika Sri Kertanegara tak mengucapkan apa pun, bahkan sesederhana batuk sekalipun tidak ada yang berani melakukan. Ketika beban sedang demikian berat disangga, Sri Kertanegara sangat butuh penyaluran, tetapi tak mungkin baginya mengumbar sumpah serapah.”

-Sandyakala Rajawangsa Part 14: 146-

Banjir darah sudah siap menyergap Singasari. Keris Empu Gandring sudah tegak berdiri. Diawali dengan kecurigaan yang terpendam dalam benak mahapatih Raganata dan segenap pasukannya, kesetiaan kerajaan Kediri terhadap Singasari pun diuji. Sayangnya, sekali dendam, tetaplah dendam. Kesetiaan berbalut luka lama memang fana, maka terhitung sejak kewibawaan Kebo Mudarang di “lucuti” di pendapa Singasari, perjalanan menuju Sandyakala Rajawangsa pun dimulai.

Ia adalah Langit Kresna Hariadi, sang penulis tunggal dari karya-karya fenomenal tentang sejarah Nusantara. Setelah sukses dengan Serial Gajah Mada yang mulai terbit pada tahun 2004, delapan tahun setelahnya yaitu tahun 2012, ia kembali mengukir rekam jejak sejarah bangsa melalui Serial Majapahit berjudul “Sandyakala Rajawangsa”. Kental dengan sentuhan magis khas Nusantara, Langit Kresna seakan ingin mengajak pembaca untuk kembali berkencan dengan kisah-kisah Sejarah yang sarat akan budaya dan kekayaan nilai moral.

Keris Empu Gandring dan Pintu Mata Rantai

“Persoalannya, apa yang bisa dilakukan kalau peristiwa itu berada di ranah takdir? Telah berada di salah satu pintu yang harus dilewati manakala kehidupan berakhir, pintu mata rantai karma, antara sebab dan akibat.”

-Sandyakala Rajawangsa Part 41: 386-

Sebelum menuju pada kisah sejarah Majapahit yang merupakan kerajaan terbesar di Nusantara, Langit Kresna lebih dulu memperkenalkan pembaca pada dendam dan luka lama kerajaan Kediri. Kisah ini semakin pelik ketika si keris “tali wangke” kembali hadir dan merasuki jiwa Kertanegara. Mata rantai yang seharusnya sudah terputus, tiba-tiba kembali terikat dan terpatri pada jiwa sang Raja Singasari. Mahapatih, Banyak Wide dan segenap keluarga raja takut bukan kepalang. Berkali-kali mencoba untuk mencegah sang Raja, sayangnya, “ruh” Empu Gandring sudah terlanjur mendarah daging pada Kertanegara. Lantas, cerita semakin diperumit ketika Kertanegara berusaha mewariskan “ruh” tali wangke-nya.

Antara Cinta dan Kesetian seorang Bala Sanggrama

 “Bahwa cinta itu hakikatnya tak selalu memiliki. Ketika hamba melihat, cinta hamba akan menjadi penggangu dan hanya mementingkan diri sendiri. Maka yang demikian itu sama artinya hamba lebih mencintai diri sendiri”

-Sandyakala Rajawangsa Part 67: 609-

Tidak hanya berhenti pada dendam masa lampau, Sandyakala Rajawangsa juga hadir menyapa pembaca dengan potongan kisah percintaan antara anak raja, pewaris tahta, dan pasukan Bala Sanggrama. Antara perasaan cinta, sayang, hormat dan sakit hati berbaur dan melebur menjadi satu dalam bumi Singasari. Sebuah pengorbanan, penantian, kesetian dan penghianatan juga tak luput mewarnai kisah perjalanan cinta sang pewaris tahta kerajaan.

Epilog:

Kalau biasanya kisah sejarah selalu ditulis monoton dalam bentuk narasi yang begitu-begitu saja, pada Seri Sandyakala Rajawangsa setebal 624 halaman ini, Langit Kresna mencoba untuk menyuguhkan kisah sejarah dengan bumbu fiksi yang menarik untuk dibaca. Dendam masa lalu, kutukan mata rantai, perebutan tahta, serta kisah cinta yang penuh warna mampu memberikan angin segar bagi penikmat sejarah yang rindu akan kisah kolosal Nusantara. Selamat membaca!

Baca juga: Serial Majapahit "Bala Sanggrama": Serangan Mabuk Bunga Kecubung Vs Pertolongan Paksi Cataka