“Aroma Karsa bagi saya adalah cerita yang benar-benar menjadi sebuah pengalaman baru. Bukan hanya kepada pembacanya, tapi juga kepada penulisnya. Saya merasa tertantang mengerjakan seluruh aspek riset pada Aroma Karsa,” kata Dee Lestari.
tirto.id - Dee Lestari kembali menghadirkan tema baru, menyentuh dunia asing yang masih jarang dibicarakan lewat buku teranyarnya, Aroma Karsa. Novel ini mendedah ranah aroma serta indera penciuman manusia. Satu hal yang Dee gunakan sebagai perangkat untuk membahas perkara-perkara yang lebih kompleks lainnya: jati diri, esensi keluarga, hingga masa lalu.

Adalah Jati Wesi dan Tanaya Suma, dua orang yang dipertemukan oleh ambisi dan obsesi Raras Prayagung memburu Puspa Karsa, bunga sakti yang konon mampu mengendalikan kehendak dan hanya bisa diidentifikasi melalui aroma.

Suma adalah salah satu anak terpilih yang memiliki penciuman luar biasa. Jati juga mempunyai kemampuan serupa, hanya saja ia tidak hidup di rumah mewah dan bukan pula pengusaha parfum berkelas sebagaimana Suma. Laki-laki yang dijuluki si hidung tikus ini tumbuh besar di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantar Gebang.

Dari sebuah lontar kuno, Raras Prayagung mengetahui bahwa Puspa Karsa yang dikenalnya sebagai dongeng, ternyata tanaman sungguhan yang tersembunyi di tempat rahasia. Satu tanaman yang akan diburunya seumur hidup. 

Perburuan itu juga yang membawa penulis Aroma Karsa Dee Lestari turut berpetualang melalui sejumlah risetnya. 


Ranah Riset Aroma Karsa

Dewi "Dee" Lestari dikenal sebagai penulis karya fiksi-fantasi Indonesia populer bertajuk Supernova. Dee memulai kariernya sebagai penulis melalui Supernova: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh yang diterbitkannya 20 Januari 2001 silam.

Saga Supernova dari Dee berlanjut menjadi Akar (2002), Petir (2004), Partikel (2012), dan Gelombang (2014). Pada tahun ke-15 berkarya sebagai penulis, Dee memutuskan untuk merilis buku terakhir penutup Supernova pada 26 Februari 2016 yang berjudulIntelijensi Embun Pagi.

Berdasarkan wawancara eksklusif Tirto dengan Dee “Babak Berikutnya akan Fokus Pada Peretas Puncak”, Dee menyampaikan bahwa ia butuh waktu minimal 6 bulan untuk merilis buku baru.

“Dalam waktu dekat, baru akan menulis manuskrip baru. Keluarnya belum tahu kapan, karena biasanya saya butuh waktu 6 bulan hingga setahun untuk rilis buku, termasuk produksi,” ujar Dee kepada Tirto pada Januari 2017.

Hingga kemudian kejutan itu hadir di bulan November 2017 lalu. Dee mengumumkan di akun instagramnya bahwa buku barunya segera lahir. 

“9 bulan dirahasiakan, calon jabang buku itu akhirnya terbongkar,” tulis Dee. 

Kabar baik selanjutnya hadir di awal tahun ini. Aroma Karsa versi digital telah mulai terbit tanggal 18 Januari 2018. Sementara itu, versi cetaknya telah terbit bulan Maret 2018 lalu. 

Berdasarkan keterangan Dee Lestari di laman pribadinya, ia juga berencana mempublikasikan secara digital proses riset pengerjaan novel terakhirnya. Satu buku yang ia beri judul Aroma Karsa: Di Balik Tirai.

Rencana publikasi proses riset Aroma Karsa ini merupakan bentuk pengungkapan Dee perihal betapa pentingnya penelitian dalam proses menulis cerita fiksi. Menurut Dee sendiri, riset merupakan bagian yang selalu ada di hampir semua karyanya. Namun, baru pada Aroma Karsa, ia mencoba mendokumentasikan prosesnya sebaik mungkin.

“Hasilnya di luar dugaan. Niat sederhana yang tadinya hanya sekadar dokumentasi untuk konsumsi pribadi, akhirnya menjadi materi edukasi bagi pembaca tentang proses kreatif yang dilalui penulis untuk melahirkan karya,” tutur Dee.

Dee menyatakan bahwa riset Aroma Karsa adalah riset paling intensif sejauh ini. Riset Aroma Karsa ini ia mulai dari mengikuti kursus meracik parfum, terjun meninjau langsung di gunungan-gunungan sampah TPA Bantar Gebang, mendaki Gunung Lawu, bertandang ke Mustika Ratu, sampai dengan melibatkan sejumlah dosen UI dalam mempelajari Bahasa Jawa kuno dan sejarah Majapahit.

“Riset Aroma Karsa dimulai pada November 2016, ketika aku ikutan sebuah kursus meracik parfum. Lalu aku berpindah riset ke dunia satunya lagi: Tempat Pembuangan Akhir di Bantar Gebang. Di situ aku meriset dan melihat sendiri kehidupan para pemulung, termasuk ragam bau di sana. TPA Bantar Gebang adalah kanvas (setting tempat) utama, karena tokoh utama tumbuh di sana. Sebagai penulisnya, aku harus tahu apa dan bagaimana karakter utamaku si Jati Wesi,” kata Dee Lestari di acaraGathering Aroma Karsa, di Institut Français d'Indonésie Yogyakarta, Minggu (22/4/2018).

Beberapa penulis menyatakan, ketika masuk dalam ranah fiksi, penulis bisa mengarang apa saja. Alih-alih sepaham, Dee bersikeras menjadikan fiksinya senyata mungkin dengan riset-riset mendalam. Dee butuh 1,5 tahun untuk menulis dan meriset Aroma Karsa. 

“Saya pernah membaca sebuah ungkapan: Fiksi yang berhasil ketika dibaca akan terasa seperti nonfiksi, dan nonfiksi yang berhasil ketika dibaca akan terasa seperti fiksi. Saya sepenuhnya sepakat,” tulis Dee.

Dee kemudian menjabarkan, ketika cerita fiktif bisa terasa riil, artinya cerita itu bukan hanya asyik tapi juga berhasil melenturkan batas antara fiksi dan fakta. Ketika tulisan nonfiksi terasa menghanyutkan, artinya tulisan itu bukan hanya enak dibaca dan informatif tapi juga berhasil melenturkan batas antara fiksi dan fakta. 

Tidak berarti data dalam tulisan faktual perlu dimanipulasi demi terasa dramatis, dan tidak berarti sebuah fiksi perlu dijejali data biar terasa nyata. Benang merah antara kedua keberhasilan itu adalah kecermatan dan kelihaian teknik menulis.

“Menjahit fakta dan fiksi adalah seni tersendiri. Bagi saya pribadi, hal itu adalah tolak ukur keberhasilan sebuah fiksi. Seberapa besar kadar fakta bisa dijahit ke dalam fiksi bisa meningkatkan besar kadar believability dari cerita tersebut. Intinya, segala sesuatu dalam fiksi itu harus masuk dalam logika cerita,” lanjut Dee.

Terkait riset dalam menulis sebuah novel, Dee menekankan bahwa proses ini adalah salah satu hal utama untuk membuat cerita yang meyakinkan. Dengan riset juga, segala hal-hal “asing” dalam sebuah fiksi mampu membuat pembacanya kaya informasi sekaligus bertanya-tanya apakah semua itu nyata atau fiksi belaka. 

“Ada beberapa hal yang tidak mungkin saya tulis jika saya tidak alami langsung,” lanjutnya.

Dee menuturkan begitu banyak hal teknis dalam Aroma Karsa yang membuatnya sebagai penulis jadi ikut berkembang, tahu, dan jadi belajar banyak. Banyak hal baru yang menurutnya tidak mungkin ia jumpai tanpa riset langsung.

“Contohnya saat menjumpai para pemulung sampah di TPA Bantar Gebang. Ternyata pemulung itu punya proses adaptasi juga di tempat kerjanya. Adaptasi ini berlangsung kurang lebih selama satu minggu, mereka muntah-muntah dahulu, adaptasi dulu, untuk kemudian mampu bekerja seperti biasa,” jelasnya.

Aroma Karsa memang lahir di ranah-ranah yang jarang dibicarakan, mulai dari TPA Bantar Gebang, perusahaan parfum, Gunung Lawu, sampai dengan ranah arkeolog dan para ahli tanaman. Di area-area seperti itulah, cerita Aroma Karsa diwujudkan.

“Aroma Karsa bagi saya adalah cerita yang benar-benar menjadi sebuah pengalaman baru. Bukan hanya kepada pembacanya, tapi juga kepada penulisnya. Saya merasa tertantang mengerjakan seluruh aspek riset pada Aroma Karsa,” kata Dee Lestari.
 
(Teks: Yulaika Ramadhani). Tulisan ini sebelumnya telah diunggah lebih dulu dalam tirto.id