"Bagi saya, parfum bagaikan asap rokok. Semakin orang tak peka menyemprotkan minyak wangi banyak-banyak, semakin jengkel orang-orang seperti saya," ujar Wendy Helfenbaum dalam tulisannya. Ia mengalami hiperosmia atau meningkatnya kepekaan pada indra penciuman. Hiperosmia tidak berkaitan secara langsung dengan masalah psikologis atau syaraf, tapi merupakan reaksi terhadap berbagai jenis bau yang biasanya tidak bisa dihidu oleh kebanyakan orang. Wendy pernah satu lift dengan seorang wanita karier dengan aroma parfum menyengat. Tenggorokan Wendy seketika meregang. Walaupun berada jauh dari sang wanita karier, Wendy merasa seperti sedang menelan bulat-bulat aroma bunga. Kepala Wendy berdenyut, gelombang mual menyergapnya. Wendy juga pernah berada dalam sebuah acara pesta keluarga dan tiba-tiba seorang wanita—yang sepertinya menyemprotkan seisi botol parfumnya—duduk di sampingnya. Wendy meminta pelayan memintanya wanita itu pindah secara halus. Saat hal itu ternyata, sang wanita menatap Wendy kebingungan seolah-olah berkata, "Siapa? Aku? Memakai terlalu banyak parfum? Aku bahkan tak menciumnya."

Lantas, apakah penderita hiperosmia sensitif hanya terhadap parfum? Tentu saja tidak. Segala bau-bauan pasti tercium secara masif sampai-sampai mereka merasakan sesak. Bagi yang tidak kuat, mual bahkan muntah-muntah. Biasanya, toleransi mereka akan sudah diambang batas saat memasuki tempat makan, studio bioskop, atau tempat yang begitu ramai. Beberapa orang bahkan tahu kehadiran seseorang dari baunya tanpa melihat dulu siapa seseorang itu. Hiperosmia juga membuat mereka yang menderitanya meminta atasan mereka untuk membatasi pemakaian produk di tempat kerja—terutama jika lingkungannya terbuka. Bagaimanapun, mereka dapat mengendus apa saja sepanjang hari. Akan tidak nyaman dan kurang fokus ketika mereka bertemu dengan aroma-aroma menyengat. Lebih jauh, sensitivitas terhadap bau ini mungkin bisa dimanfaatkan untuk meracik minyak asiri dalam industri parfum. Barangkali kepekaan mereka akan menghasilkan sebentuk aroma yang pas dan disukai banyak orang. Dua kalimat sebelum ini sebenarnya hanya imajinasi hasil dari cerita yang baru saja kunikmati—sebuah buku berjudul "Aroma Karsa".

Judul : Aroma Karsa
Pengarang : Dee Lestari
Penerbit: Bentang Pustaka

Tahun : 2018
Dibaca : 11 April 2018
Rating : ★★★★★
 
"Sebelum 'di mana', kamu harus temukan 'siapa'. Ke hidung orang yang tepat, Puspa Karsa akan menampakkan diri." (hlm. 4)


Pesan tersebut menjadi ucapan terakhir Eyang Putri Janirah Prayagung kepada sang cucu, Raras Prayagung. Sebelum berpulang, sang nenek memang kerap mendongengkan beragam kisah memikat baik fiksi maupun fakta. Dari segenap kisah yang Janirah sampaikan pada, Puspa Karsa menjadi yang paling memukau bagi Raras. Batas tipis antara fiksi dan fakta sepertinya lebur kala Puspa Karsa disebut. Raras bahkan masih ragu saat Janirah dengan tegas menyatakan bahwa Puspa Karsa bukan dongeng. Sedari itu, Puspa Karsa terpatri rekat pada benak Raras. Pasti ada alasan kenapa eyang putrinya mendongengkan kisah tanaman itu sebelum sakratulmaut. Pasti ada alasan kenapa eyang putrinya memberikan sebuah kunci yang tergenggam di atas perut sebelum kepergiannya. Raras yang kemudian meneruskan perusahaan sang nenek—Kemara—bertekad untuk menganggap serius petuah sang nenek; mencari Puspa Karsa. Berhasilkah ia?

Jati Wesi si Hidung Tikus. Julukan itu sudah melekat padanya sejak ia menemukan mayat Aan yang kabarnya tak pulang berhari-hari ke bedengnya. Istri Aan, Imas, sudah melaporkan kehilangan Aan ke polisi tapi hasilnya nihil. Berbekal potongan keterangan tentang hari-hari terakhir Aan yang didapatinya dari Imas, Jati memutuskan menyelediki wilayah terakhir di area TPA Bantar Gebang, Bekasi. Ia mengambil cuti dari beberapa tempat kerjanya yang salah satunya adalah gerai parfum isi ulang demi menyusuri petak demi petak bukit sampah. Pada hari ketujuh, Jati menancapkan pasak kayu di satu titik di satu bukit sampah dan meminta beberapa rekannya untuk menggali. Jasad ditemukan, yang kemudian dikonfirmasi Imas adalah mayat suaminya. Sejak saat itu, Jati Wesi dikenal sebagai pemuda dengan indra penciuman yang tajam seperti tikus. Kepekaannya itu bahkan membuat komandan kepolisian setempat menawarkan Jati posisi detektif yang langsung ditolak. Kepekaan hidungnya pulalah yang membuat Raras Prayagung merekrut Jati Wesi.

***


Tidak butuh waktu lama untuk melahap habis "Aroma Karsa". kurang dari 48 jam dan aku sudah menamatkan kisah Raras Prayagung dan Jati Wesi. Buku ini adalah novel kedua Dee Lestari yang kubaca setelah "Perahu Kertas". Aku juga sudah membaca "Filosofi Kopi". Namun, "Perahu Kertas" kubaca saat masih SMA yang sama sekali tidak kuingat sepenggal cerita pun. Yang kuingat dari "Filosofi Kopi" pun hanya satu cerpen berjudul "Rico de Coro"; ceritanya tentang seekor kecoak yang mencintai penghuni rumah yang ditinggalinya. Cuma itu. Setelahnya, memoriku menyimpan nol data perihal gaya penceritaan Dee dalam karya-karyanya. Pada buku ini, aku sungguh berdecak kagum. Diksi mengalun indah bagai untaian musik yang didendangkan Bruno Major. Alurnya yang lekas juga membuatku terus saja membalikkan halaman. Masih segar dalam ingatan ketika malam pertama berkenalan dengan buku ini, aku sudah menghabiskan 229 halaman. Keesokan harinya, pikiranku tidak bisa lepas dari kelanjutan kisah Puspa Karsa. Aku tergila-gila oleh aromanya.

Pendeskripsian tentang bau-bauanlah yang membuatku menganga lebar. Dee begitu elok merangkainya. Aku yakin baru buku ini yang membuatku terpukau atas gambaran indra penciuman; macam-macam aroma dari bunga-bungaan sampai senyawa-senyawa kimia bisa tersaji dengan baik. Aku bahkan sampai bisa membayangkan menghidunya—walaupun sebagian aroma tidak bisa kurasakan secara nyata. Dari Penulis pada akhir buku Dee menyatakan, "Dalam dunia menulis, saya menyadari betapa timpangnya penggambaran dari indra penciuman dibandingkan deskripsi dari jendela lain, semisal visual, pendengaran, dan pengecapan. Aroma memang tidak mudah diungkapkan. Itu pula yang membuat jendela penciuman begitu primitif, instingtif, sekaligus sukar diuraikan secara serebral. […] Dengan tujuan mengeksplorasi kekuatan itulah saya menulis 'Aroma Karsa'." Sepertinya apa yang Dee inginkan terjadi pada buku ini terijabah, setidaknya padaku.

Sekurang-kurangnya, ada tiga pendalaman isi yang kucatat. Pertama, pendalaman tentang TPA Bantang Gebang yang merupakan latar masa kecil hingga dewasa Jati Wesi. Kedua, pendalaman macam-macam aroma yang tercecer hampir dalam setiap bab pada buku ini. Ketiga, latar Gunung Lawu beserta aspek mistis dan unsur legenda yang melingkupinya. Ketiganya begitu tuntas dijabarkan Dee. Dikutip dari Radar Semarang, "Dalam menjahit fakta-fakta ilmiah menjadi fiksi, selama 9 bulan tersebut Dee melakukan berbagai riset soal bau seperti meracik parfum di Nose Who Knows di Singapura, afiliasi dari Cinquieme Sens Prancis, dan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantar Gebang. Hingga ke Gunung Lawu untuk riset jalur tengah dan mistis, serta memperkaya materi soal Majapahit, dan lainnya." Usahanya untuk melakukan riset tersebut terbayar lunas. Dee bahkan mengisi kekosongan teka-teki yang tak teruraikan dari Gunung Lawu dengan fiksi buatannya seperti desa tersembunyi Dwarapala dan Wong Banaspati. Seolah-olah apa yang digambarkan Dee benar adanya.

Melalui "Aroma Karsa", pembaca juga diajak mengetahui perilaku penderita hipersomia. Jati Wesi si Hidung Tikus sudah terlatih sejak kecil untuk bisa bertahan tanpa merasakan dampak berlebihan seperti yang mungkin terjadi pada orang-orang dengan tingkat menghidu tinggi. Jati yang sudah terbiasa pada bergunung-gunung sampah yang baunya menyesakkan membuatnya bisa menguraikan aroma-aroma yang tersaji di sana. Jati bahkan mahir menemukan aroma-aroma yang enak dihidu dalam ratusan aroma-aroma busuk lain. Sayangnya, penderita hipersomia yang sehari-harinya tidak menghirup aroma yang menyengat akan terlampau sensitif bila ada aroma menyengat lain yang tercium olehnya. Wendy Helfenbaum mungkin hanya jengkel jika menghirup aroma menusuk, tapi beberapa yang lain mungkin akan muntah-muntah dan harus diberi obat untuk mengurangi sensitivitas indra penciumannya. Seperti yang menimpa Tanaya Suma.


Kau tahu, tiada komentar negatif dari ulasan buku ini sebagaimana tiada hal mengecewakan yang kurasakan selama membaca buku ini. Kisah romansa, petualangan, pencarian jati diri, fantasi, detektif, mitologi—kesemuanya cocok untuk melabeli buku ini. Di satu sisi, buku ini terkesan begitu kompleks dan memusingkan. Di sisi lain, buku ini begitu candu dan bikin pembaca betah berada di dalam semestanya. Ada salam dari Bang Sarip: Jangan kasih kendor! Oh, dan sebagai pemungkas, ada satu pesan dari Empu Smarakandi sebagai berikut.

"Tan wěnang kinawruhan ng katrsnān, wěnang rinasan ri manah juga." (hlm. 614)

(Teks: http://www.bibliough.com/2018/04/aroma-karsa.html)