Judul : Aroma Karsa
Penulis : Dee Lestari
Penyunting : Dhewiberta
Penerbit : Penerbit Bentang
Edisi : Cetakan Pertama, Maret 2018
Format : Paperback, xiv + 710 halaman

“Rampok itu perempuan ayu.” (hal.290)

Legenda Puspa Karsa sudah mendarah daging ke tiga generasi Prayagung; Janirah, Raras, dan Tanaya Suma. Bunga yang dipercaya bisa mengubah dunia sesuai keinginan pemiliknya ini menimbulkan obsesi mendalam pada Janirah, yang merupakan anak abdi dalem rendahan Keraton Yogyakarta. Dia merintis usaha produk kecantikan yang diberi nama Kemara, yang hampir ambruk saat dipegang anak lelakinya, tetapi berhasil bangkit dan mencapai kesuksesan lebih besar saat diambil alih cucunya, Raras. Raras pulalah yang mewarisi obsesi neneknya untuk menemukan Puspa Karsa. Bunga yang hanya akan membuka dirinya pada orang yang dipilihnya.

Setelah gerbang mengenai asal-usul Kemara dan Raras Prayagung dibuka, kisah ini melipir ke TPA Bantar Gerbang yang beraroma ragam sampah dan pembusukan. Jati Wesi, pemuda dua puluh enam tahun yang konon dibuang ke sana, tinggal bersama Nurdin Suroso yang busuk, menjalankan rupa-rupa pekerjaan yang pada akhirnya harus dikuras ke kantong ayah angkatnya tersebut. Salah satu pekerjaan yang paling dinikmatinya adalah bersama Khalil Batarfi, meracik parfum tiruan di toko Attarwalla. Jati memiliki bakat yang berbeda, dia sangat peka dan bisa mengidentifikasi bau. Pemuda itu bisa mendeskripsikan bau, menguarkan unsur-unsurnya, komposisinya, bahkan menyusun kembali tiruannya. Hingga suatu kejadian mendorong Jati masuk ke kerajaan Prayagung, dia terpaksa bekerja untuk Raras, dan berhadapan dengan Suma yang memiliki bakat yang sama dengannya, tetapi disikapi dengan berbeda.

Selanjutnya, pembaca diajak untuk mengenal lebih jauh dan lebih dalam mengenai karakter-karakter yang ada beserta interaksinya. Banyak karakter yang bermunculan akan menyempurnakan jalinan kisah ini, menjadi sebuah ramuan petualangan, kisah keluarga, cinta, dengan sentuhan realisme magis yang merupakan saripati kisah ini. Ada Arya Jayadi, pacar sekaligus sahabat Suma, yang sejak awal Suma masih merasakan permusuhan pada Jati, sudah memahami pentingnya peran pemuda berhidung tikus itu. Ada Anung yang linglung, tetapi menyimpan rahasia misteri yang menuntun Jati menemukan asal-usulnya. Bahkan karakter minor semacam Imas yang pernah dibantu Jati menemukan mayat suaminya, Sarip si sipir penjara, Wijah pelayan keluarga Prayagung, dan Fendi pengacara Raras, digambarkan secara bulat sehingga pembaca bisa menangkap benar peran dan sifat mereka. Kejadian demi kejadian tersusun apik, mulai dari perkenalan, masuknya Jati, perencanaan, sampai ekspedisi pencarian Puspa Karsa. Segenap indera kita, terutama melalui hidung Jati, diajak menjelajah gemerlap Kemara, wangi Grasse yang merupakan surga pembuat parfum, sakralnya olfaktorium, mengintip penggalian situs sejarah Majapahit, dan angkernya legenda gaib di Gunung Lawu.

Saya sendiri tidak asing dengan tulisan Dee, meski sebelumnya baru mencecap kumpulan cerita pendeknya. Praktis, buku ini merupakan novel pertama Dee yang saya baca. Melihat banyak respon positif dari pembaca versi digital, saya tak ragu untuk mereguk novel tebal ini, dengan keyakinan bahwa karya ini akan saya sukai. Keyakinan saya ternyata tak salah, dengan bab-bab pendek yang tak membuat kehabisan napas, untaian kalimat yang mengalir, serta balutan misteri yang mengundang penasaran, membuat buku ini sangat mudah terlahap dalam waktu relatif singkat. Satu masalah yang sering saya temui pada novel tebal adalah pengulangan pada beberapa detail yang mengganggu, tidak saya temukan di sini.

Sesungguhnya, banyak sekali unsur yang bisa dikupas di buku ini. Satu hal yang menarik saya adalah berupa-rupa karakter wanita yang ada, serta kekuatan yang disimpannya. Dari keluarga Prayagung sendiri sudah jelas menampilkan generasi perempuan yang ambisius dan cerdas, atau bisa dikatakan licik. Tanaya Suma yang, meski bukan darah daging Raras, juga menyimpan potensi kuat, yang ditekan oleh sesuatu, tetapi akhirnya berhasil dikuak oleh Jati. Inti dari kisah ini, Puspa Karsa sendiri, beserta kekuatan di sekitarnya pun akan memiliki kaitan erat dengan potensi perempuan secara umum.

Dari segi misteri, Aroma Karsa tidak menyimpan sendiri misteri-misterinya untuk dibuka sekaligus di akhir layaknya novel detektif pada umumnya. Misteri di novel ini ibarat sebuah rumah besar dengan ruangan yang berlapis-lapis. Saat penulis membukakan pintu, pembaca akan langsung mendapatkan beragam jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang menggantung di pintu yang tertutup sebelumnya, tanpa harus memberi penjelasan. Namun, pertanyaan belum semuanya terjawab, dan saat akan muncul pertanyaan baru, pintu kedua dibuka, menampilkan beberapa jawaban dan pertanyaan sekaligus. Banyak petunjuk diberikan secara terbuka sehingga pembaca bisa menebak lebih awal dari sang karakter, tetapi sama sekali tidak mengurangi unsur kejutan saat ada fakta baru yang dimunculkan. Sampai pada akhirnya kisah ini ditutup, Dee masih menyisakan sebuah misteri yang bisa memerlukan atau tidak memerlukan jawaban. Saya pribadi sangat puas dengan akhir dari buku ini yang sangat pas dan elegan. Tidak terlalu terbuka, tetapi juga tidak terlalu misterius. Dee sendiri mengatakan tidak menutup kemungkinan adanya kisah lain di semesta Aroma Karsa ini, kalaupun tidak ada, tidak akan ada masalah berarti, dan saya setuju.

Di tengah kesempurnaan kisah, susunan, sampul, dan tata letak buku, saya cukup terganggu dengan adanya beberapa kesalahan ketik. Untungnya, sudah ada daftar revisi yang akan dilakukan pada edisi berikutnya, termasuk penjelasan mengenai beberapa hal kecil yang belum ada. Revisi ini hadir berkat proses tak biasa dalam kehadiran novel ini, yaitu penyuguhan melalui dua penerbit dengan dua media yang berbeda, cetak dan digital.

5/5 bintang saya sematkan untuk segenap aroma yang memperkaya lembar demi lembar buku ini, riset yang sangat rapi, dan bangunan utuh kisah kehidupan yang menghanyutkan.

(Teks: https://bacaanbzee.wordpress.com/)