Ada guguran sayap capung pada tiap jejak kakimu di laut pasir, Kekasih, sampai tak kuasa lagi aku terbang menggapaimu ….



*****



Membaca karya terbaru Sujiwo Tejo yakni Talijiwo pun takkan afdal jika rangkaian esai yang disampaikan itu selalu mampu membuka pikiran para pembacanya mengenai apa yang mungkin sejatinya mereka ketahui, tetapi tak dapat mereka kuasai.



Dalam hal ini telah banyak kegelisahan dari dalam diri seorang seniman sekaligus budayawan tersebut terhadap beberapa konsep dan falsafah kehidupan yang semakin lama terkikis. Bahkan, hingga bergeser pada jalur yang mungkin kurang benar, walaupun persoalan tersebut mayoritas tampak dipandang dengan cukup remeh.



Seperti persoalan tentang budaya bertanya dalam perjalanan, lalu salah kaprahnya istilah “arus balik”, hingga mengenai konsep pemaknaan jargon “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” yang menurut pria kelahiran Jember, Jawa Timur tersebut salah tafsir.



Walaupun disampaikan secara kocak dan nyeleneh, tulisan-tulisan yang dikaryakan oleh Sujiwo Tejo pun tampak lebih ringan dibaca, tak seperti model esai pada umumnya. Justru ketika membacanya malah terasa seperti berada di warung kopi dengan segala suasana dan aspek-aspek “meminum kopi”-nya, ditambah dengan keberadaan Simbah (sapaan Sujiwo Tejo) sebagai penutur paling dihormati di sana. Dilengkapi dengan sajak-sajak puitisnya, buku ini tidak lagi hanya sekadar memberi tahu kita, tetapi jauh lebih menegur kita sebagai makhluk sosial agar lebih peka terhadap manusia lainnya.



Termasuk dalam buku ini yang tentunya membicarakan serba-serbi kehidupan manusia yang mungkin terasa lelah jika dibayangkan, tetapi tetap semangat untuk dijalani. Sementara itu, mengenai hubungannya dengan masyarakat lain yang secara tak langsung juga akan mendapati berbagai tingkah laku dan pola kehidupannya yang kadang kala berada di luar jalur sebagaimana yang telah disepakati sebagai norma atau asas kemanusiaan.



Walaupun menggunakan cara yang unik dan khas, tetapi kepiawaian Sujiwo Tejo dalam buku Talijiwo ini tak perlu diragukan lagi. Pengalamannya sebagai dalang senior pun mampu menghidupkan para karakter di dalamnya dengan segala perangkat kehidupan yang dimiliki, baik secara materi maupun sifat-sifat manusiawinya.



Selain itu, karya-karya Sujiwo Tejo juga tetap dalam koridor sebagai kumpulan esai yang cukup menggelitik dan satir. Sebut saja Sastro dan Jendro yang dalam buku ini menjadi pasangan kekasih, dikisahkan paham segala hal, lebih tepatnya selalu meneliti berbagai kehidupan yang dilaluinya—meski secara spontan.



Pada akhirnya, buku Talijiwo kemudian tak hanya mengumbar secara spontan bagaimana teknik berpikir ala Sujiwo Tejo seorang, tetapi juga ikut merefleksikan sebagian pemikiran banyak manusia lainnya—yang mungkin saja tertutupi oleh berbagai problematika kehidupan dan sandiwara tanpa skrip sebagai manusia sehingga sering banyak lupanya.



 



Eka Arief Setyawan.