Saya tidak tahu harus mulai menulis review dari mana.

OK, jadi .....

***
Puspa Karsa adalah sebuah bunga langka. Sangkin langkanya, bunga ini hanya menjadi hiasan dalam dongeng semata. Konon Puspa Karsa memiliki kecantikan yang tiada tara, dan yang utama adalah ranumnya yang membuat haru makhluk manapun yang membauinya. Jarang sekali ada orang yang mengetahui tentang dongeng Puspa Karsa, apalagi memercayainya sebagai vegetasi yang nyata di dunia.

Adalah seorang perempuan pintar dan ambisius bernama Raras Prayagung yang mengetahui  tentang keberadaan bunga itu. Janirah, neneknya, yang memberikan pengetahuan itu lewat dongeng-dongengnya. Suatu waktu ia meyakinkan cucunya itu untuk mendapatkan wujud sebenarnya Puspa Karsa.

Jati dan Suma dipertemukan demi mewujudkan cita-cita Raras dan Janirah. Suma sama sekali tidak menyukai Jati dan terus menerus menentangnya. Sementara Jati malah sebaliknya, meski menghindar ia membuat satu formula demi membuat Suma terkesan. Jati dan Suma, mereka tidak tahu apapun kecuali kesamaan indra penciuman yang tajam. Padahal, kesamaan mereka lebih dalam dari yang mereka tahu. Ada benang takdir yang harus mereka jalani seumur hidup.

Pada akhirnya pencarian Puspa Karsa di Gunung Lawu dibuka kembali. Ekspedisi itu kembali mengulang jalan dan cerita yang sama. Yang membuatnya berbeda di pencarian kali ini adalah adanya Jati dan Suma. Takdir dan kebersamaan mereka yang membuat Puspa Karsa melompat ingin terbebas dari penjaranya.

***
Ini kali kedua saya membaca buku Dee Lestari setelah "Perahu Kertas". Jujur, saya sengaja melewatkan beberapa novel Dee yang best sellers, meskipun banyak yang memberi rating baik. Saya memang mudah sekali terintimidasi dengan cerita yang katanya absurd dan berat. Dan syukurlah saya tidak terintimidasi dengan Aroma Karsa.

Menakjubkan. Bagus. Wajib baca sampai habis. Itu yang saya bilang kepada suami di saat membaca buku ini. Menakjubkan karena tidak sampai dua hari saya berhasil menamatkannya. Padahal, saya mengulik "Aroma Karsa" sambil momong dua anak bayi lho. Saya akui kalau yang satu ini memang sangat page-turner!

Novel ini merupakan perpaduan antara fantasi, sejarah, sains, misteri, dan sebutkan kategori lain yang kalian bisa pikirkan. Ingin saya tepuk tangan atas usaha Dee dengan risetnya. Meskipun ide awal cerita adalah fantasi, banyak penopang yang membuat alur dan karakternya sangat kuat. Saya tidak menemukan plot hole. Ya mungkin karena Mbak Dee sudah melakukan riset dengan sungguh-sungguh.

Tokoh. Saya paling suka dengan Sarip! Well, dialah pemecah tawa saat misteri dalam cerita ini sedang di puncak. Kepolosan sifatnya dan logat Betawinya yang pas membuat saya geleng-geleng. Bang Sarip, tetap semangat! Tetap sahabatan ya Bang sama Anung Linglung. Kalian kombinasi yang OK! Kalo kata Bang Sarip: "Jangan kasih kendor!" (hal. 346)

Oh ya, ada satu tokoh bernama Pak Ganjar yang sepertinya bertugas menjawa vila di Karanganyar. Nama Ganjar yang berasal dari Karanganyar sepertinya mengingatkan Saya pada seorang yang berpengaruh di Jawa Tengah. Hehe.

Soal Puspa Karsa. Entah benar atau tidak, saya percaya dengan keberadaan tanaman dan binatang langka di dunia ini. Mereka ada namun tersembunyi di tempat-tempat yang jarang atau bahkan belum ditembus manusia. Keberadaan mereka adalah bentuk keseimbangan alam, biarkan saja di tempat asalnya.

Soal asmara, saya setuju dengan ucapan Pak Anung: "Tan wenang kinawruhan ng katrsnan, wenang rinasan ri manah juga."  / "Asmara. Tidak bisa dipahami, cuma bisa dirasakan akibatnya." (Hal. 442)
Siapapun yang kasmaran, harus memahami dan siap menanggung kosekuensinya.

Akhirnya, Saya tidak bisa memberikan apapun lagi kecuali 5 bintang. Mbak Dee, Terima kasih telah menulis dongeng ini.

Profil buku:
Judul: Aroma Karsa
Pengarang: Dee Lestari
Penyunting: Dhewiberta
Tebal: 710 halaman
Penerbit: Bentang Pustaka, Maret 2018

(Teks: Fadhilatul)