Menulis kisah fiksi tidak akan lepas dari fakta-fakta di dalam dunia nyata. Meski tidak mirip atau sesuai dengan kisah nyata, tetapi tetap saja banyak unsur-unsur keduniawian masuk ke dalam kisah. Untuk itu diperlukan riset dalam menuliskannya. Karena sejatinya, di dalam sebuah cerita terdapat banyak unsur yang tidak bisa lepas dari kehidupan. Katakan saja, tokoh, seabsurd apapun ketika diimajinasikan akan merujuk kepada bentuk dalam kehidupan nyata. Tak hanya tokoh saja, setting, latar, dan peristiwa pun turut berdiri di antara yang nyata dan maya. Pada 2018, Dee Lestari kembali hadir dengan karya terbarunya yang berjudul Dee Lestari. Kehadirannya kali ini sedikit berbeda, pasalnya Dee membawa sebuah kisah baru yang sangat jarang diulas dalam sebuah kisah fiksi, aroma. Baginya, aroma merupakan indra yang paling pertama muncul sekaligus indra terkuat dalam menciptakan imajinasi. Tak tanggung-tanggung, Dee Lesatri membutuhkan setidaknya satu tahun untuk melakukan riset dan menyusunnya ke dalam cerita yang terangkum dalam 700 halaman Dee Lestari. Bagi Dee Lestari, dalam melakukan riset tidak dibutuhkan ritual khusus, karena sejatinya riset lebih ke penggalian informasi dan pengumpulan data untuk membangun cerita. Dee Lestari pun mengakui bila selama melakukan riset ini, ia membuat sebuah jadwal khusus agar bisa membagi waktu antara keluarga, pekerjaan, menulis dan melaukan riset.    



"Riset yang sifatnya membaca atau mencari referensi saya lakukan dalam keseharian menulis, paling yang butuh ke luar kota saja yang butuh jadwal khusus," Dalam melakukan riset yang mengharuskan ke luar kota, Dee juga mengaku ia mengumpulkan berbagai gambar dari berbagai sudut untuk mendapatkan gambaran dan deskripsi yang sesuai dengan setting di dalam Dee Lestari.        



Jati Wesi terlahir dengan kemampuan hipersomia, di mana ia dapat mencium aroma dengan sangat detail. Tidak seperti manusia umumnya yang hanya dapat membedakan sepuluh ribu jenis bau, orang seperti Jati Wesi dapat mencium hingga jutaan jenis. Akibat dari kemampuannya ini, ia mendapat julukan Si Hidung Tikus oleh orang-orang sekitarnya karena telah berhasil memecahkan misteri pembunuhan yang ada di tempat tinggalnya, Bantar Gebang. Selain itu, Jati juga bekerja di sebuah toko peracik parfum refill, Attarwala. Di sana ia mengimitasi segala merk dan jenis parfum, tetapi naas, suatu hari tempatnya bekerja dibekuk oleh polisi karena telah meniru salah satu parfum milik perusahaan besar yang dikelola oleh Raras Prayagung. Jati dan kawan-kawannya di Attarwala terancam masuk ke hotel rodeo.



Namun, Raras yang mengetahui kemampuan Jati menawarkan sebuah jalan keluar. Jati ditawari untuk bekerja dan membantu Raras dalam mencari apa yang selama ini hanya diyakini sebagai mitos. Sebuah aroma langka yang dapat mengubah dunia, Puspa Karsa. Penasaran dengan bagaimana Dee Lestari menggabungkan hasil risetnya, dan bagaimana Jati bisa menemukan apa yang selama ini hanya dianggap sebagai mitos?



Yuk, simak dalam Dee Lestari yang akan terbit pada akhir maret nanti!