Mengapa Kita Harus Turn Off the Digital Life and Go Offline Instead?

Semakin maju teknologi, semakin mudah kita mengakses informasi dengan cara digital. Ya, tidak bisa dimungkiri digital life membantu kita mendapatkan informasi lebih cepat. Informasi atau berita bisa tayang dalam waktu hitungan detik. Bahkan, memviralkan sesuatu cukup dengan memfoto, mem-posting ke media sosial, seluruh Indonesia sampai dunia pun bisa tahu.

Digital life memang mempermudah kita dalam beraktivitas. Namun, sadarkah kamu bahwa digital life membuat ruang lingkup kita semakin terasa fana? Digital life menjauhkan yang dekat, tapi mendekatkan yang jauh. Pada case LDR atau komunikasi jarak jauh memang sangat membantu, sih. Namun, apakah itu juga berlaku pada lingkungan sekitar kita? Sekarang orang lebih memilih asyik dengan gadget-nya daripada berbicara dengan orang di sekitarnya. Minimal say hello atau berdiskusi hal-hal yang bermanfaat.

Lebih lucu lagi, jika kita menemukan teman yang duduk berjajar, tetapi mereka lebih memilih berbicara melalui chat online?

Itulah salah satu dampak ketika digital life masuk ke kehidupan kita. Tidak salah, kok, itu wajar. Hanya, sudahkah kita menggunakan digital life secara baik dan benar?

Untuk generasi muda, keterkaitan melalui media sosial dan platform lainnya, ada harga mahal yang harus dibayar: waktu dan produktivitas kita.

Dalam buku Dear Tomorrow yang diterbitkan oleh Bentang Pustaka, Maudy menjelaskan bahwa dirinya sering menahan diri memegang telepon dalam waktu yang sangat lama. Dan, selama 2 menit saat memegang gadget, dirinya akan mempertanyakan makna kehidupan.

Ia sendiri tidak dapat membayangkan waktu yang hilang karena gadget dan media sosial. Saat bangun pagi hari, tangannya secara otomatis menjangkau untuk menelusuri kehidupan dan pembaruan orang lain. Dorongan otomatis yang sama datang dalam serangan sepanjang hari, sampai hampir terasa seperti gatal di bawah sadar.

Digital Life Sering Membuat Kita Menginginkan Hal yang Nggak Penting?

Disadari atau tidak, kita selalu punya banyak keinginan yang sebenarnya tidaklah penting. Melihat gaya hidup orang lain di media sosial misalnya, secara tidak langsung akan memengaruhi psikologi seseorang. Kalau kamu bisa kontrol diri, sih, nggak masalah, tapi kalau jadi apa-apa pengin dan selalu ingin mengikuti tren, itu yang bahaya.

Merasa Dekat dengan Banyak Orang, tetapi Sebenarnya Tidak!

Karena informasi dan koneksi yang cepat, gadget membuat setiap orang merasa lebih mudah untuk saling mengenal. Sebenarnya ini hal yang sangat positif. Namun, karena gadget identik dengan dunia maya, semakin banyak kita tahu, justru semakin banyak hal yang kita tidak tahu.

Bahkan, untuk memastikan apakah informasi itu benar atau tidak. Kesimpulan yang kita ambil belum tentu sesuai dengan kenyataan yang ada. Misalnya postingan dari teman yang diunggah, ya kita jadi tahu dia sedang apa dan sibuk apa. Padahal, belum tentu, lho, yang dia share itu benar-benar kegiatan dia sehari-hari.

 

Tanpa Media Sosial Jadi Nggak Update Informasi?

Nggak juga, kok. Ada banyak kanal informasi lain yang bisa memberikan informasi terkini untuk kamu. Bukan berarti harus berhenti sepenuhnya, tidak. Kamu hanya perlu memilah kapan harus menggunakan media sosial dan kapan harus sadar bahwa kamu hidup di lingkunganmu sekarang.

Informasi bisa kamu dapatkan dari televisi atau situs web berita yang akurat. Cara ini akan menjauhkanmu dari berita-berita hoaks di dunia maya. Kamu juga bisa banget berkunjung ke toko buku. Nah, di sana gudangnya ilmu. Tinggal cari, deh, bacaan yang ingin kamu baca. Yang pasti, info lebih akurat dan jelas memberikan manfaat bagimu.

Tenang, hilang dari peradaban digital bukan berarti kamu hilang dari pergaulan, kok. Sesekali buka boleh, tapi jangan sampai kecanduan. Nanti, kamu bakal tahu rasanya bagaimana hidup sesungguhnya, lebih damai dan tidak menambah pikiran.

Satu lagi, waktu yang kamu pakai akan jauh lebih produktif. Kalau sebelumnya setiap jam hanya kamu pakai untuk stalking dan baca komen netizen, sekarang kamu bisa menggunakan waktu dengan membaca atau melakukan hal-hal bermanfaat lainnya. (novia intan)

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *