“Kambing dan Hujan” Melenggang ke Layar Lebar

 

IMG_20160526_125908

”Kita dulu mengira bapak-bapak kita adalah dua musuh bebuyutan yang tak terdamaikan. Ternyata, mereka dua sahabat karib, bahkan memanggil dengan panggilan “saudara”. Bukannya itu justru sangat menggembirakan?” Kambing dan Hujan hlm. 152

Itulah sepenggal percakapan Mif dan Fauzia, yang kiranya telah lama mereka nantikan. Mif, begitu panggilan akrab dari Miftahul Abrar, adalah seorang yang lahir dan tumbuh dalam tradisi Islam modern. Ia jatuh cinta pada Fauzia, putri cantik dari pemuka agama Islam tradisional. Tetapi, seagama tidak membuat hubungan mereka baik-baik saja. Perbedaan tradisi, tata cara, dan waktu beribadah, membuat kedua orangtua mereka membangun tembok penghalang untuk keduanya bersatu. Saat Mif dan Fauzia hampir putus perjuangan, mereka justru menemukan rahasia besar yang mengejutkan.

Kambing dan Hujan, novel roman besutan Mahfud Ikhwan, yang juga pemenang pertama sayembara menulis Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2014 ini bersiap melenggang ke layar lebar. Beberapa waktu lalu, Alex Sihar, ketua komite film DKJ resmi ‘meminang’ cerita Kambing dan Hujan untuk diangkat ke layar lebar.

“Biasanya, orang menulis cerita tentang perbedaan, ending-nya perbedaan itu harus menjadi sama. Kalau cerita Kambing dan Hujan tidak, tidak memaksa. Karena perbedaan itu adalah hal yang wajar,” jelas Alex saat ditanya alasan memilih cerita Kambing dan Hujan.

Rencana pembuatan film Kambing dan Hujan sendiri menambah daftar panjang buku terbitan Bentang Pustaka yang diangkat ke layar lebar. Tercatat, Kambing dan Hujan adalah buku ke-23 terbitan Bentang Pustaka yang naik sebagai film.

“Semakin banyaknya buku terbitan Bentang Pustaka yang difilmkan, maka hal ini juga bisa menjadi langkah Bentang untuk membuat konten yang ada di dalam buku menjadi banyak bentuk,” kata Imam Risdiyanto, pemimpin redaksi Bentang Pustaka. “Dengan begitu, buku juga punya kesempatan untuk diketahui khalayak luas, sehingga diharapkan juga bisa meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia,” imbuhnya.

Fitria Farisa

Setelah Setahun Rilis, “Filosofi Kopi The Movie” Sabet Gelar Movie of The Year di ICA

IMG_20160531_101853

“Kalau ada orang yang bisa bikin kopi terenak di Indonesia, itu pasti gue,” ucap Ben mantap.

Kalimat tersebut lekat pada diri Chico Jerikho sejak dirinya sukses memerankan karakter Ben dalam Filosofi Kopi The Movie. Bersama Rio Dewanto sebagai Jodi, dan Julie Estelle sebagai El, film yang rilis pertama kali pada 9 April 2015 lalu ini berhasil mengambil hati penikmat film Indonesia, bahkan luar negeri.

Terbukti, setelah satu tahun lebih penayangan perdananya, Filosofi Kopi The Movie berhasil menyabet gelar movie of the year di ajang Indonesian Choice Award yang digelar 29 Mei kemarin. Film besutan sutradara Angga Sasongko, dengan diproduseri oleh Anggia Kharisma, Handoko Hendroyono, Glenn Fredly, serta penulis skenario Jenny Jusuf ini keluar sebagai pemenang, setelah menyingkirkan empat nomine movie of the year lainnya, yaitu Comic Casino King Part ISurga yang tak DirindukanLondon Love Story, dan Comic Casino King Part II.

“Senang sekali, nggak nyangka, kejutan yang manis. Setelah lebih dari setahun sejak filmnya rilis, Filosofi Kopi masih mendapatkan kehormatan terpilih sebagai movie of the year,” kesan Jenny Jusuf.

Terpilihnya Filosofi Kopi The Movie sebagai movie of the year bukan hanya hasil dari keberhasilan aktor, aktris, dan tim kreatif film saja, tetapi juga buah dari kerja keras Dee Lestari menulis cerita yang ciamik. Pasalnya, Filosofi Kopi The Movie diangkat dari kumpulan cerita dan prosa manis Dee berjudul Filosofi KopiMeski buku Dee ini sendiri terbit kali pertama tahun 2006, namun hingga kini, Filosofi Kopi masih banyak diburu penikmat sastra Indonesia.

Fitria Farisa

Revival, Perjuangan Seorang Wanita

Poster LaunchingSelasa lalu, Wenny Artha Lugina menyempatkan hadir dalam #TwitTalkPenuli #Revival yang diadakan di twitter @bentangpustaka. Program maya yang diadakan pada pukul 19:00 s/d 20:00 ini diikuti secara antusias oleh banyak pembaca dan netizen.

Pada 30 menit pertama, Wenny menjelaskan mengenai kisah apa yang dijelaskan dalam Revival. Novel Revival merupakan sekuel The Blackside yang menceritakan tentang perjuangan seorang wanita. Dalam sequel pertama menceritakan kisah Farrah Alicia, tokoh utama, yang menjadi simpanan dari seorang bernama Chandra yang diakui sebagai Menteri Sosial RI. Hal ini lah yang menarik Farrah ke dalam konspirasi. Kemudian dalam sekuel keduanya, Revival, menceritakan perjuangan Farrah Alicia yang bangkit dari keterpurukan akibat konspirasi dan penyakit yang diidapnya.

Ada hal yang menarik ketika program dilanjutkan dengan tanya jawab. Sesi yang dilakukan pada 30 menit terakhir ini memuat pertanyaan yang menarik, seperti pertanyaan salah seorang peserta: ‘Kenapa selalu mengangkat tema perempuan, Kak?’.

“Menurut saya, wanita itu makhluk yang sangat kuat dan dalam kisah ini [Revival] adalah salah satu contohnya.”

– Wenny Artha Lugina

Novel Revival memang sangat menarik untuk dibaca. Selain karena genre yang menarik, yakni thriller, Revival juga mengangkat nilai seperti perjuangan wanita. Untuk selengkapnya, baca novel Revival karya Wenny Artha Lugina.

(Leovita Augusteen)

Suka Nulis? Yuk, Terbitkan Naskahmu!

IMG_20160530_152236

Halo! Kamu senang menulis? Ingin naskahmu diterbitkan oleh Bentang Pustaka? Ini dia saatnya! Mimpimu akan segera terwujud, dan kamu bisa jadi penulis ternama!

Lini fiksi digital Bentang Pustaka, NOVELA, mencari kamu, penulis berbakat. Yuk, pahami ketentuannya!
1.Tema: CERITA JADIAN.
2.Waktu menulis: 30 Mei-30 Juni 2016.
3.Naskah berupa fiksi remaja dengan tokoh remaja yang mengisahkan dunia sekolah (SMP dan SMA).
4.Tidak boleh memuat unsur kekerasan, kata dan adegan vulgar.
5.Diutamakan yang memiliki plot unik, penuh kejutan, dan kekinian.
6.Naskah diketik dengan jenis huruf Times New Roman 12, spasi 2, margin default sepanjang 70-100 halaman.
7.Sertakan ringkasan cerita sepanjang maksimal 1 halaman, memuat ringkasan dari awal hingga akhir cerita.
8.Sertakan biodata penulis yang meliputi nama, alamat, nomor ponsel, alamat surel, dan pengalaman menulis jika ada.
9.Boleh diikuti oleh siapa saja. Satu peserta hanya boleh mengirimkan satu naskah terbaik.
10.10 naskah terpilih akan menerima kontrak penerbitan e-book yang diterbitkan oleh NOVELA dan dipasarkan di Google Play Book.
11.Kirimkan naskah, ringkasan, dan biodata dalam bentuk lampiran (bukan di badan surel maupun dalam format zip) ke alamat surel novelabentang@gmail.com paling lambat 30 Juni pukul 24.00 WIB.
12.Pengumuman pemenang: 20 Juli 2016 di www.bentangpustaka.com

Jadi, tunggu apa lagi? Impianmu tinggal satu langkah saja! Kami tunggu ya! ^^

Kembali Pada Kewajiban Manusia yang Utama

Pendidikan adalah alat yang mampu memberantas kebodohan sekaligus kemiskinan. Namun, dengan berbagai keterbatasan yang ada, pendidikan malah menyebabkan hal yang sebaliknya. Pada kenyataannya, orang-orang yang bisa mengenyam pendidikan dan menempuh pendidikan tinggi adalah mereka yang mapan secara finansial. Melihat hal itu, Surya Burhanuddin tergerak hatinya untuk mendorong anak-anak bangsa agar mampu mengecap indahnya pendidikan. Ia tidak ingin membiarkan anak-anak yang cerdas terbelenggu oleh keterbatasan karena tak mampu mengenyam pendidikan. Oleh karena itu, ia menjadi fasilitator bagi banyak anak tidak mampu untuk melanjutkan pendidikan.

Ia mendorong banyak orang untuk bersekolah setinggi-tingginya. Bahkan, ia memotivasi banyak orang untuk untuk berani mengambil langkah untuk berkuliah di luar negeri. Surya dengan semangatnya mencerdaskan anak bangsa, menjadi fasilitator bagi para anak-anak yang ingin melanjutkan kuliah negeri secara gratis. Ia tidak mengharapkan imbalan apapun dari anak-anak itu kecuali kesuksesan mereka dalam mengenyam pendidikan.

 

Marini, salah seorang yang difasilitasi Surya kini mendapatkan gelar Bachelor of Islamic Finance and Banking (Hons), Master of Science (Finance) Universiti Utara Malaysia, Senior Digital Specialist di Intelligent Money Sdn Bhd, Malaysia. Bagi Marini, Surya adalah sosok yang masih peduli dengan dunia pendidikan di Indonesia. Dengan sukarela, Surya mau bersusah payah memfasilitasi dirinya dan anak-anak lain untuk berangkat ke luar negeri. Padahal, Surya bukanlah keluarga mereka, teman dekat, bahkan kenalan.

Perjuangan Surya Burhanuddin ini kemudian dikisahkan dalam buku Para Pemburu Masa Depan. Tidak hanya menceritakan jerih payah Surya dalam meyakinkan orang-orang untuk meneruskan pendidikannya, konten utama dalam buku ini adalah enam kisah kesuksesan para pemburu masa depan yang memberanikan diri merantau ke luar negeri.

Keberhasilan mereka kuliah keluar negeri adalah berkat kegigihan Surya memfasilitasi serta memotivasi mereka agar mampu meraih mimpi. Bagi Surya sendiri, apa yang dilakukannya adalah kewajiban. Masih banyak anak bangsa yang begitu cerdas tetapi terbelenggu keterbatasan sehingga tidak memperoleh kesempatan pendidikan tinggi. Melalui buku ini, Surya seolah mengingatkan kita semua agar kembali pada kewajiban manusia yang paling hakiki: yaitu membantu sesamanya. Dan Surya sendiri telah melakukannya dengan membantu orang-orang yang ingin mengenyam pendidikan tinggi.

Lamia Putri D.

Bakhtiar Rakhman: Jangan Takut Pergi Sendiri

musafirbikelala

Minggu Pagi (22/01) halaman kantor surat kabar Kedaulatan Rakyat (KR) terlihat berbeda. Hari itu, terdapat panggung kecil dan kursi-kursi yang berjejer di depannya. Seorang pria berkaos hitam tampak sedang berbicara di dekat panggung kecil tersebut. Bakhtiar Rakhman, nama pria yang tengah berbicara itu tengah membagikan pengalamannya berkeliling dunia dengan mengendarai motor gede (moge) saat peluncuran bukunya yaitu Musafir Biker.

Penampakan yang berbeda dari halaman kantor KR saat itu terjadi karena adanya peluncuran buku Musafir Biker. Bentang Pustaka bekerjasama dengan Kedaulatan Rakyat meluncurkan buku bertema traveling yang ditulis oleh Bakhtiar Rakhman. Walaupun buku bertema traveling sudah sangat banyak, namun kita perlu mengapresiasi Bakhtiar. Sebab, ia melakukan perjalanan dengan mengendarai motor gede. Tentu dalam perjalanan dengan moge ada banyak hal yang harus diantisipasi. “Mulai dari kemungkinan ban bocor, mesin mogok, dan lain sebagainya,” tutur Bakhtiar yang juga merupakan pebisnis sukses itu.

B akhtiar sendiri dari dulu bercita-cita ingin cepat lulus dan bekerja. Ia juga ingin pensiun dini sehingga bisa menikmati masa tua dengan pergi ke berbagai tempat. Hingga saat ini Bakhtiar telah mengunjungi berbagai wilayah di Indonesia. Mulai dari Cilacap, Baluran, hingga berbagai dearah di Sulawesi. Tidak hanya menjelajahi nusantara, Bakhtiar juga telah mencicipi rasanya berkendara di luar negeri seperti di India. Tentu saja Bakhtiar tidak dapat memungkiri bahwa banyak tantangan yang harus dilalui.

Apalagi Bakhtiar sendiri kerap mengajak istrinya, Nadia, untuk ikut serta touring. Touring dengan moge memang bukan hal yang mudah. Bahkan tidak dapat dikatakan sebagai traveling yang nyaman. Namun, Nadia sendiri yakin bahwa suaminya dapat mengatasi berbagai hal. “Saya yakin bahwa suami saya bisa menghadapi berbagai tantangan di jalan. Jadi, saya tidak pernah merasa takut ketika mengikuti beliau touring,” tuturnya.

Sebelum acara berakhir, Bakhtiar mengingatkan bahwa Indonesia itu unik. Ada banyak tempat yang harus dikunjungi sebagai medium untuk mengucapk rasa syukur. Bagi Bakhtiar, menjelajahi nusantara dan negara lain adalah bentuk kontemplasi diri dengan Tuhan YME. “Pergi sendiri? Kenapa tidak,” ujarnya.

Menurut Bakhtiar, melakukan perjalanan sendiri adalah salah satu cara untuk berdialog dengan diri sendiri. Pada saat itulah, kita akan mulai memahami diri sendiri dan mengenali diri dengan lebih baik. Tidak hanya itu, melakukan perjalanan sendiri juga membuat kita merasa terasing sehingga bisa lebih mendekatkan diri kepada Tuhan. Tidak ada rasa superior dan pongah ketika traveling sendiri. Namun, yang paling penting adalah kita mampu berdialog dengan diri sendiri. “Siapa kita, apa yang ingin kita lakukan, kemana tujuan kita, dan semua pertanyaan yang diajukan ketika melakukan perjalanan sendirian adalah cara untuk memahami diri sendiri,” ujarnya. “Oleh karena itu, jangan pernah takut pergi sendiri,” pungkasnya.
Lamia Putri D.

Tampil di “Kick Andai”, Gathak dan Gathuk Bikin Termehek-mehek

IMG_20160526_122828

“Anda tak pernah patah arang mencari idola Anda, putra Sunan Giri? Apa betul, kabarnya Anda sampai ketemu Susantala dari zaman Mpu Kanwa. Bukan itu saja. Anda juga sampai ketemu tapak kuda tunggangan Arya Penangsang waktu akan melawan Pajang pimpinan Jaka Tingkir?” pembawa acara gundul berkumis tebal, Andi Oyeee, memulai talk show-nya.

Pertanyaan itu Andi lontarkan pada dua orang jadul di hadapannya, Gathak dan Gathuk. Pencarian Gathak dan Gathuk pada junjungan mereka, Raden Jayengresmi, tak kunjung berakhir. Sampai-sampai, talk show TV terkenal se-Nusantara, “Kick Andai”, mengundang mereka sebagai bintang tamu. Dalam talk show itu, kembar Gathak Gathuk menceritakan kedungsang-dungsang-nya mereka mencari Jayengresmi yang kabarnya lari ke arah barat, setelah Tanah Giri tumpas diganyang Mataram. Gara-garanya, seluruh warga ikut termehek-mehek menyaksikan si kembar yang frustasi mencari tuannya. Wahai, jika Anda kelak menyalakan televisi dan menonton tayangan talk show ini, jangan kaget jika ujug-ujug ada dua orang jadul yang ngomong tentang Raden Jayengresmi.

Itulah sepenggal kengawuran Sujiwo Tejo, dalam salah satu bab di buku terbarunya, Balada Gathak Gathuk. Ngawur karena benar, Sujiwo lagi-lagi mengkritik pedas kehidupan sosial dan politik bangsa ini lewat sindiran-sindiran tajamnya. Ia menggunakan landasan Serat Centhini, Kama Sutra-nya orang Jawa itu, sebagai penyambung lidah.

“Demi tatanan masyarakat yang perlahan bobrok akibat korupsi ini, saya akan bicara dengan meminjam Serat Centhini,” kata Sujiwo.

Sama seperti tatanan masyarakat yang sudah bobrok, Gathak dan Gathuk lama-lama juga merasa bobrok lantaran tak bertemu junjungan mereka, Raden Jayengresmi. Di malam ketika Gathak dan Gathuk jadi bintang tamu di talk show “Kick Andai” itu, Andi Oyeee kabarnya juga akan mengundang bintang tamu seorang calon pemimpin yang ceplas-ceplos, yang ramai dipuji sekaligus dimaki sana sini, bernama Ruhut. Namun, di luar dugaan, “Kick Andai” malah menampilkan video ketika Rahwana terbang ke Gunung Jamus.

Demikian sambung Sujiwo dalam penggalan bab “Kick Andai” Meng-Gathuk. Lalu, apakah kembar Gathak Gathuk mampu menemukan junjungan mereka, Raden Jayengresmi? Semua tergantung pada ngawur-nya Sujiwo Tejo.

Fitria Farisa

[CERMIN] Perempuan Pembawa Bakul

SemangatPagi buta Juminten bersiap melawan sial, merangkak turun gunung nan terjal menuju ke pasar. Peluh bercucuran dan napasnya tersengal, sesekali ia berhenti untuk mengatur letak bakul di punggungnya yang berisi penuh sayuran.

“Kebahagiaan itu pilihan!” jeritnya dalam hati. Pikirannya tidak mau lepas dari sosok bocah kecil yang tergeletak lemas siap dijemput ajal oleh kemelaratan.

“Cinta jarang, hidup itu aneh, penguasa berubah!” Juminten geram, muak dengan wajah-wajah para elit yang sibuk memoles diri. Tidak ada yang lebih laris yang dijual di negeri ini selain politik! Politik berbungkus uang, politik dalam surban, tawarkan surga hingga berbusa dan kita dibuat kenyang makan janji.

Serorang ahli surga datang padanya turun dari mobil mewah, bercerita tentang azab dan neraka sembari memilin tasbih terbuat dari mutiara.

“Jangan tawarkan aku surga. Aku bukan pemburu surga, aku pecinta Ilahi,” timpal juminten kala itu.

“Tanpa-Nya aku hanya gurun kosong tak bertepi.”

Jiwa Juminten sudah lelah terpuruk dalam rapuhnya raga menanti jawaban dari kedalaman tak terselami, dan ‘sugesti’ hanya nama lain dari kekuatan pikiran, selama terbukti mujarab dari keyakinan dan tidakan. Bagi Juminten hidup itu berjuang, jangan merasa berjasa pada negeri ini selama masih ada ratap tangis di gubuk-gubuk, di kolong-kolong jembatan, di tempat pelacuran, pekerjaan kita belum selesai!

*****

Oleh Murniati Budiono

Sumber Gambar: http://www.gregetan.com/wp-content/uploads/2016/01/semangat-554×330.jpg

Il Tiramisu, Buatnya Susah Makannya Mudah

Pada Mei lalu, Dy Lunaly meluncurkan novel terbarunya yang berjudul Il Tiramisu. Il Tiramisu ini sendiri merupakan bagian dari serial YummyLit. Masih sama seperti seri sebelumnya, dalam Il Tiramisu ini juga diangkat tema makanan dengan balutan kisah cinta yang manis pahit seperti Tiramisu. Namun ternyata dibalik setiap manis pahitnya kata-kata dalam novel tersebut, ada 15 kali perombakan. Semuanya dirombak total. Bagi DyLunlay daripada harus merombak lebih baik mengajukan ide baru.

“Naskah yang berhasil selesai dan yang akan kalian baca itu merupakan naskah ke lima belas. Yak! Aku menulis ulang sebanyak lima belas kali bahkan lebih sebelum benar-benar merasa sreg dan bisa menyelesaikannya.”4-Il-Tiramisu

Dalam prosesnya, menurut Dylunaly naskah Il Tiramisu ini merupakan naskah yang paling menyusahkan banyak orang. Tak dipungkiri, setiap penulis pasti pernah merasakan di mana dalam tulisannya seperti mati rasa, dan itu yang terjadi dalam diri Dylunaly sehingga ia banyak merepotkan kawan-kawannya untuk membantunya mengembalikan ‘rasa’ dalam naskahnya. Seperti yang dikutip dalam blog pribadinya; “Aku menyusahkan banyak orang dalam proses kreatifnya. Sebagian penulis bisa menulis bahkan ketika mereka belum menemukan akhir untuk cerita yang sedang mereka kerjakan, tapi aku nggak bisa. Nah, prosesku menjalin kisah Il Tiramisu dari awal sampai akhir ini yang menyusahkan beberapa sahabat.”

Penasaran kan seperti apa sih ceritanya sampai harus 15 kali pengulangan? Dan seperti apa sih ‘rasa’ dalam naskah itu hingga bisa merepotkan banyak orang? Semua ada di dalam serial YummyLit, Il Tiramisu.

Vivekananda Gitandjali TD

Cinta dan Makan, Dua Hal yang Tak Terpisahkan

“Setiap manusia membutuhkan makanan.

Setiap manusia membutuhkan cinta.”

Mau dipungkiri atau tidak cinta-lah yang melatari setiap hembusan nafas kita. Cinta bagaikan dua mata pisau, menyakitkan namun juga menenangkan. Banyak dari kita yang patah hati kemudian melarikan diri dengan makanan atau malah tidak mau makan. Untuk itu, Bentang Pustaka mencoba memadukan kisah cinta dengan sebuah makanan.

Dalam serial #YummyLit, para penulis ditantang untuk membuat sebuah ramuan rahasia di mana Cinta dan Makanan yang menjadi hal utama dalam kehidupan dapat diangkat menjadi sebuah cerita. Tantangan itu kemudian diterima dengan baik oleh Dy Lunaly, Elsa Puspita dan Ayu Widya. Deessert, karya Elsa Puspita, sesuai dengan judulnya yang kemudian menjadi pembuka serial #Yummylit, yang kemudian disusul oleh si manis asin, #StrawberryCheesecake, kelembutan dalam setiap lembar membuat kalian jatuh hati, dan yang ketiga adalah #IlTiramisu manis pahitnya membuat kita sadar bahwa cinta itu juga menyimpan rasa manis dan membuat ketagihan seperti Tiramisu.

Jadi, sudah mencicipi yang mana?

yummylit

Vivekananda Gitandjali