Solid, Penggemar Sujiwo Tejo Tampil dalam Video Klip Sumantri Soliloquy Kumau Hidupku Panjang

Kumau hidupku panjang
S’panjang kaki langit
Kumau s’lalu melenggang
Lenggang nan tak henti
S’panjang kaki langit
Langkah kaki
Langitku tengadah
Di langit senyummu

Suara penyanyi, Joel Kriwil, mendayu penuh perasaan, menyanyikan sepenggal lagu Sumantri Soliloquy. Lagu ini adalah satu dari sembilan lagu yang dicipta, diproduseri, dan di-compose Sujiwo Tejo untuk album terbarunya, Serat Tripama: Gugur Cinta di Maespati. Tak sendiri, Sujiwo menggandeng sejumlah musisi ternama lainnya seperti Putri Ayu, Fakira Yusuf, Bintang Indrianto, dan masih banyak lagi. Album ini Sujiwo ciptakan sebagai lagu pengiring dari buku terbarunya berupa novel-grafis-bermusik, Serat Tripama: Gugur Cinta di Maespati.
25 April lalu, Sujiwo merilis video klip Sumantri Soliloquy di channel Youtubenya. Di bagian awal video, nampak Sujiwo membacakan bagian dari novel grafis bermusiknya, Serat Tripama: Gugur Cinta di Maespati. Kemudian, dilanjutkan dengan kompilasi foto-foto beserta quote kiriman Jancukers, sebutan untuk penggemar Sujiwo. “Awalnya saya cuma bikin kuis #TaliJiwo #DiMaespati, mengkolaborasikan foto dan #TaliJiwo Mbah Sujiwo Tejo, berhadiah novel-grafis-bermusik Serat Tripama: Gugur Cinta di Maespati bertandatangan. Melihat antusiasme yang tinggi, jadi kepikiran untuk dibuat video klip, karena sayang kalau cuma dibuang, tidak bermanfaat,” terang Anggoro, sekaligus penggagas video klip Sumantri Soliloquy.
Lagu Sumantri Soliloquy sendiri bercerita mengenai suara hati Sumantri, lakon utama dalam novel-grafis-bermusik Sujiwo, Serat Tripama: Gugur Cinta di Maespati. Sumantri yang sangat patuh terhadap rajanya. Sumantri mengalami dilema cinta karena jatuh cinta pada pasangan rajanya sendiri. “Sebenarnya Sumantri Soliloquy lagunya sederhana, tetapi maknanya sangat dalam, dan sesuai dengan foto-foto kiriman Jancukers,” jelas Anggoro.
Dengan dirilisnya video klip Sumantri Soliloquy ini, Anggoro berharap, masyarakat semakin mengenal dan ingin membaca novel-grafis-bermusik gubahan Sujiwo Tejo, Serat Tripama: Gugur Cinta di Maespati. “Syukur-syukur bukunya bisa best seller,” kekehnya.

Blogtour Muhammad #2: Para Pengeja Hujan

Muhammad Para Pengeja Hujan 1Setelah seminggu melakukan Blogtour Muhammad bersama Nisa Rahmah, berikut resensi Muhammad #2: Para Pengeja Hujan yang ada dalam blog Nisa Rahmah.

Saat menuliskan review tentang buku ini, mulanya saya terdiam lama. Semacam tidak tahu harus menulis apa dan harus merangkai kata yang bagaimana untuk menggambarkan keindahan buku ini. Namun akhirnya, setelah tarik napas yang panjaaaaang, saya mulai juga untuk menuliskannya, dari awal sekali.

Begitu ada tawaran blog review tentang buku Muhammad karya Tasaro GK, tanpa pikir panjang saya langsung ikut mendaftarkan diri, dan alhamdulillah, terpilih juga menjadi salah satu yang akan memberikan ulasannya tentang buku ini. Sudah lama sekali saya ingin membaca buku ini, dari sejak zaman masih mengalay di facebook, sampai alay-nya pindah ke twitter hehehe. Bercanda. Yang jelas, buku ini sudah lama sekali saya nantikan, dan baru berjodoh kembali dengan saya sekarang.

Di seri kedua buku Muhammad karya Tasaro GK ini, kita akan mengikuti jejak perjalanan Rasulullah saw dari sebelum Beliau lahir hingga Beliau wafat dan tampuk kekhalifahan berpindah tangan. Meskipun kisah yang dituturkan dalam novel ini adalah kisah yang begitu familiar (saya yakin ummat Islam pasti mengenal dan mengetahui bagaimana kisah hidup Rasulullah saw, tapi bagaimana bagi yang belum tahu? Maka membaca buku ini adalah salah satu pengenalan awal yang tepat untuk mengenal Rasulullah saw), namun cerita yang disuguhkan dalam pendekatan bahasa novel akan berbeda rasanya dengan kita membaca dari literatur nonfiksi.
Blogtour Muhammad 2 NisaTasaro GK menempatkan sosok Rasulullah saw dengan posisi yang begitu mulia sehingga siapa pun akan terbuai dengan bahasa keindahannya dan mampu membuat sosok Rasulullah saw begitu dekat dengan pembaca, begitu agung, sehingga membuat hubungan secara personal maupun emosional dengan Rasulullah yang berjarak ribuan tahun dengan kita menjadi dekat. Pilihan cerdas bagi penulis untuk menggunakan sudut pandang orang kedua saat menceritakan sisi kehidupan Rasulullah saw.

Engkau tak menyangsikan, zakat bagi mereka yang dibujuk hatinya adalah jalan indah untuk memberantas penyakit yang menggerogoti kesungguhan itu. Kesungguhan orang-orang yang baru mengimani ajaranmu dengan melihat seperti apa akhlakmu dan bagaimana ajaranmu bermanfaat bagi mereka. — halaman 132

Pembaca akan dimanjakan oleh keindahan diksi penulisnya, yang menurut saya pas, tidak kurang dan tidak berlebihan meskipun, saya rasa, setiap yang membaca akan mengakui bahwa Tasaro GK seolah tidak pernah kehabisan kata-kata indah baik dalam bentuk diksi maupun kalimat yang dirangkainya.

Duhai Kekasih Pencipta, mengapakah begitu sering engkau berbicara mengenai dunia setelah dunia? Bukankah engkau masih begitu bugar? Usiamu baru enam puluh tahun lebih sedikit. Namun, lihatlah! Bahkan, hanya beberapa lembar uban di antara rambutmu. Pancaran matamu pun cemerlang. Engkau tampak jauh lebih muda daripada usia sebenarnya.

Duhai manusia yang kebaikanmu tiada tertandingi, benarkah ayat kemenangan terus mendengung di telingamu: apabila telah datang pertolongan Allah serta kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihah dengan memuji Tuhan-Mu, lalu mohon ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima Tobat. — halaman 314

Lalu, bagaimana dengan ketebalannya yang terkadang membuat ciut hati duluan dalam melahapnya? Jangan khawatir, karena buku setebal ini tidak hanya akan membahas tentang Muhammad saw saja. Selain menyuguhkan biografi yang dibungkus oleh novel, kita akan ditemani dengan perjalanan Kashva di sini. Siapa itu Kashva? Bagi yang mengikuti serial Muhammad #1 Lelaki Penggenggam Hujan, ini merupakan kelanjutan kisah Kashva dan perjalanannya untuk mencari jawaban yang belum ditemukan jawabannya. Lalu bagaimana jika belum membaca seri pertamanya? Apakah bisa mengikuti cerita ini tanpa harus bingung? Menurut saya, tidak masalah jika kita menikmati buku ini terpisah. Di dalam perjalanan, penulis tetap memberikan secuplik informasi yang membuat pembacanya tidak akan ketinggalan jauh dengan kisah ini. Tidak hanya bercerita tentang Kashva, di sini kita akan mengenal cerita tentang Atusha dan pasukan immortal Athanatoi, yaitu pasukan khusus pengawal Raja Persia.

Penulis mengenalkan kita pada kisah fiksi sebagai teman untuk membaca biografi Muhammad saw, yang mana, kisah fiksi tersebut tidak hanya banyak mendulang makna, namun juga memiliki benang merah dengan kisah Rasulullah yang dikemukakan penulisnya.

Sumber: http://resensibukunisa.blogspot.co.id/2016/04/blogtour-muhammad-2-para-pengeja-hujan.html
Gambar: Leovita Augusteen dan Nisa Rahmah

Semarakkan Hari Pendidikan, Andri Rizki Putra Selenggarakan Talkshow

Mendirikan lembaga nirlaba yang berbasis kolektif maupun komunitas memang tidak mudah.  Hal ini ditenggarai masalah finansial yang terus mendera sehingga satu per satu lembaga nirlaba yang sesungguhnya memiliki tujuan mulia rubuh satu per satu. Padahal, banyak sekali lembaga nirlaba berbasis pendidikan yang didirikan untuk tujuan memberantas kebodohan. Pendirian lembaga-lembaga tersebut dimaksudkan untuk membantu sesama  dengan tulus tanpa mengharapkan profit sedikit pun.

 

Sayangnya, lembaga-lembaga nirlaba pendidikan itu harus menghadapi persoalan finansial sehingga kehidupannya pun mengalami pasang surut. Dengan tidak adanya pemasukan, tentu lembaga nirlaba mengalami beberapa kesulitan dalam menjalankan programnya. Sementara itu, kehidupan lembaga tetap harus berjalan guna membantu mencerdaskan bangsa.

fundraising

Menyikapi hal ini, Bentang Pustaka bekerjasama dengan Forum Taman Baca Masyarakat (FTBM) DIY serta  jurusan Pendidikan Luar Sekolah (PLS) UNY  mengadakan talkshow bertajuk “Fundrising Kreatif untuk Lembaga Nirlaba”. Menghadirkan pembicara Andri Rizki Putra (penulis buku Orang Jujur Tidak Sekolah), talkshow akan digelar  Senin, 02 Mei 2016 bertempat di Ruang Abdullah Sigit FIP UNY. Acara yang juga diselenggarakan dalam rangka memperingati hari pendidikan ini akan dimulai pukul 08:00-10:30.

 

Dalam talkshow tersebut, Andri yang juga merupakan pendirian Yayasan Pemimpin Anak Bangsa (YPAB) akan membagikan pengalamannya dalam mendirikan usaha nirlaba pendidikannya. Andri yang memang sudah mengalami sepak terjang mendirikan lembaga nirlaba akan membagikan informasi bagaimana menciptakan fundrising yang kreatif untuk lembaga nirlaba.

 

YPAB sendiri merupakan sebuah organisasi non-profit yang menyelenggarakan pendidikan kesetaraan program Paket A (Setara SD), Paket B (Setara SMP), dan Paket C (Setara SMA) sejak 10 September 2012 khusus diperuntukkan masyarakat putus sekolah diberbagai jenjang tanpa dikenakakan biaya pendidikan apapun atau gratis. Andri mendirikan YPAB karena sebagai anak putus yang sekolah, ia merasa bahwa sistem pendidikan formal yang sekarang berjalan perlu dikritisi.

 

 

Dengan adanya talkshow ini, diharapkan lembaga-lembaga nirlaba berbasis pendidikan lain mampu menghidupi komunitasnya dan terus membantu sesama. Jika Anda seseorang yang memiliki lembaga nirlaba dan tengah mengalami kesulitan dalam menghidupi lembaga Anda, datanglah ke talkshow “Fundrising Kreatif untuk Lembaga Nirlaba”. Atau jika Anda adalah seorang yang peduli terhadap pendidikan anak  bangsa dan berkeinginan membangun lembaga nirlaba serupa, Anda bisa datang ke acara ini.  Mulailah untuk memajukan bangsa dengan pendidikan alternatif bagi mereka yang tidak mampu masuk ke pendidikan formal. Pendaftaran dapat dilakukan dengan mengirimkan SMS/WA ke nomor 085712444745 dengan format OJTS_Nama_Kampus/Sekolah/Instansi.

 

Mari memulai untuk mencerdaskan bangsa! Selamat Hari Pendidikan!

Lamia Putri D.

Ransel Mini Keliling Jogja

Peluncuran buku Ransel Mini Keliling dunia yang ditulis oleh Olenka Priyadarsani, Ade Kumalasari, Tesya Sophianti, Dina Virgianti, dan Lala Amiroeddin telah dihelat pada Sabtu, (23/04). Pada peluncuran yang diselenggarakan di Toko Buku Gramedia Sudirman Yogyakarta ini membahas mengenai pengalaman para penulis saat traveling khususnya ketika  traveling bersama anak. Sayangnya,  Olenka tidak dapat hadir karena suatu alasan.

Sebelum meluncurkan bukunya di Gramedia Sudirman, ketiga penulis yang terdiri dari Tesya, Dina, dan Lala ini berkeliling Jogja terlebih dahulu. Sembari menunggu Ade yang baru terbang ke Yogyakarta pukul tiga sore, para Mama Keren ini mengunjungi beberapa tempat di Yogyakarta.

Sekalipun bertandang ke Yogyakarta untuk meluncurkan buku, ketiga Mama Keren ini sepertinya tetap melangsungkan hobi mereka untuk traveling dan eksplorasi berbagai macam tempat. Seolah menjadi sebuah keharusan, tidak lengkap rasanya jika tidak mengeksplorasi Yogyakarta. Awalnya mereka berkunjug ke Radio Buku, Bakpia Kurnia Sari, kemudian Pak Pong dan selanjutnya menuju rumah makan Lele Mangut. Setelah mengeksplorasi kota Yogyakarta, ketiganya pun meluncur ke bandara untuk menjemput Ade yang baru saja sampai.

Para penulis Ransel Mini bersama editor dan para kru Radio Buku.
Para penulis Ransel Mini bersama editor dan para kru Radio Buku.

Pukul delapan, keempat Mama Keren ini pun telah siap untuk berbagi informasi dan pengalaman seputar traveling. Walaupun baru saja menempuh perjalanan jauh dan berkeliling Jogja, keempat perempuan itu tampak ceria dan semangat. Tidak terlihat rasa lelah sedikit pun di wajah mereka. Sementara itu, suasana Gramedia Sudirman saat itu ramai karena merupakan akhir pekan. Orang-orang yang penasaran dengan peluncuran buku yang dihelat di lantai bawah itu pun tergerak untuk ikut menonton.

Pada peluncuran buku tersebut, keempat Mama keren ini berbagai tips seputar traveling. Mereka bercerita bahwa traveling yang mereka lakukan bukan sekadar bersenang-senang dan hura-hura semata. Bahkan Ade mengaku bahwa setiap traveling yang dilakukan bersama keluarganya, selalu menekan budget seminimal mungkin. “Salah satunya dengan traveling sendirian dan bukan menggunakan travel agen. Sebab, jatuhnya pasti lebih mahal,” tuturnya. Dina berbeda lagi, ia menyiapkan tabungan khusus yang memang diperuntukkan untuk traveling. Jadi dana yang dipergunakan untuk traveling tidak mengganggu biaya kebutuhan yang lain.

 

ransel minij 1

 

Tesya pun juga melakukan hal serupa yaitu menyediakan dana khusus untuk traveling. Tidak hanya itu, Tesya sendiri seringkali mendapatkan profit dari traveling yang dilakukannya. “Awalnya saya memang suka menulis dan sering menuliskan pengalaman traveling di blog. Lalu, kemudian, bermunculan berbagai travel agen, hotel, dan lain sebagainya yang meminta saya untuk mereview. Dari situlah, hobi saya jadi pekerjaan sampingan,” tuturnya.

Banyak pertanyaan yang terlontar untuk keempat mama ini, termasuk mengenai repotnya mengajak anak-anak pergi traveling. Beberapa pengunjung menyangsikan bahwa membawa anak-anak pergi traveling akan merepotkan dan membuat anak cepat lelah. Namun, keempat Mama ini optimis bahwa traveling bisa menjadi sarana pembelajaran yang mendidik. Tidak hanya itu, traveling juga membuka wawasan yang lebih luas.

Dina misalnya, ia bercerita bahwa traveling membuat anak-anaknya menjadi berwawasan lebih luas. Ia menjelaskan bahwa anak-anaknya mejadi peka terhadap lingkungan karena menyaksikan sendiri secara nyata fenomena alam yang terjadi. “Misalnya saja ketika anak-anak saya ajak ke kebun binatang. Mereka bisa melihat secara langsung hewan-hewan yang ada di sana. Tidak hanya sekadar melihat dari buku saja. “Selain itu, dengan traveling, saya ingin membuat mereka menjadi lebih mandiri,” ujarnya.

Menyetujui Dina, Ade pun juga memiliki pandangan yang sama. Baginya traveling adalah investasi bagi anak-anak. Traveling membuka wawasan yang luas dan membuat anak-anak belajarb anyak hal. Karena, pada saat traveling itulah, keberanian, keuletan, sekaligus kekuatan seseorang muncul tanpa disadari.

Lala Amiroeddin pun juga berpendapat demikian. Ia merasa bahwa traveling dapat mengajarkan anak-anaknya untuk keluar zona nyaman. Menyikapi hobi traveling para mama keren, para pengunjung pun bertanya-tanya: lalu apakah mereka juga bisa traveling bersama keluarga dan anak-anak mereka?

Jawaban Ade cukup singkat ketika menanggapinya. Namun, hal tersebut langsung mengena di benak semua pengunjung. “Kita pasti bisa pergi ke mana pun. Selalu ada jalan untuk pergi ke suatu tempat,” pungkasnya.

Lamia Putri D.

sumber foto: @baiqnadia

[CERMIN] Kunci Makna

BukuPasukan paragraf berbaris rapi mengatur strategi, menghadang musuh. Kotak hitam putih jadi arena pertempuran memberantas kebodohan, membuka cakrawala pengetahuan.

Para huruf berjaga di baris terdepan, menumbangkan lawan secara diagonal. Kata memata-matai dan mendorong lawan. Kalimat mematikan formasi, tanda baca meluncur. Kalimat penjelas bersanding menapaki terjalnya hidup bersama sang kalimat pokok.

Semua bersatu, menjaga inti makna yang tertulis dalam lembaran-lembaran tak abadi. Namun, kekal dalam jiwa dan hati.

Ribuan, ratusan, jutaan karakter dalam sejarah. Lukiskan berbagai tempat yang belum pernah kujumpai. Mengajak berkeliling ke berbagai suasana.
Dari dunia nyata sampai ke alam pesona fiksi.

Amat beruntung diriku dapat menggali pengetahuan darimu. Berkeliling dunia hanya bersamamu. Merasakan suka dan duka dengan menatapmu. Kuharap, budaya dekat denganmu tak pudar, tetaplah abadi.

Semuanya, siapapun harus merasakanmu. Baik yang di pelosok, di hutan, dan dimanapun. Mereka berhak atasmu. Entah kapan ‘kan terjadi, pasti, suatu saat nanti.

Demi makna yang kau simpan rapat dan ingin kami membuka kunci itu. Izinkanlah kami.

*****

Oleh: Putri Idhaini

Sumber Gambar: Leovita Augusteen

Muhammad 4, Kashva: Maukah Engkau Menemaniku Berjuang?

MUHAMMAD 4 (Tandatangan Penulis) by Tasaro Gk“Pada setiap titik hujan tumbuh darinya tunas kehidupan. Maka menggamakannya berulang kali, adalah upaya menumbuhkan kasih Tuhan di muka bumi,” ucap Tasaro GK. Akhirnya, di bulan keempat secara kalendar masehi ini lahir Muhammad #4: Generasi Penggema Hujan.

Novel seri Muhammad karya Tasaro GK ini menceritakan kelanjutan serta tercapainya tujuan pencarian Elyas selama ini. Selain menceritakan tentang Elyas, novel keempat ini juga menceritakan tentang Vakhshur yang mendapati dirinya terjebak di tengah-tengah kemelut kekhalifahan kaum Muslim. Sejak ‘Umar wafat, umat Islam seakan terbelah menjadi dua, yakni pendukung ‘Utsman bin Affan dan pendukung Ali bin Abi Thalib. ‘Utsman, sebagai khalifah terpilih, menyadari bibit-bibit perpecahan mulai tumbuh. Dan demi mencegah kobaran api konflik, ‘Utsman dan Ali berusaha untuk menyatukan dan mendamaikan kembali hati umat Islam.

Sementara itu, perjalanan Vakhshur berlanjut kendati yang dia temukan lagi-lagi hanya jalan buntu. Namun, di sebuah desa di pinggir sungai Nil, Vakhshur akhirnya mendapati kembali jalan menuju Elyas lewat seseorang biarawati bernama Maria. Dari seorang biarawati pula, Vakhshur mengetahui fakta mengejutkan perihal Elyas dan Kashva, sekaligus menguak tabir tentang apa yang tengah dicari keduanya.

“Maria, jadi maksudmu… Tuan Elyas kemungkinan sedang belajar Islam?” – Vakhshur.

Romansa Kashva dan Astu

Novel keempat seri Muhammad ini juga tidak terlepas dengan kisah roman antara Kashva dengan Astu. Sebagaimana rasa cintanya Kashva terhadap Astu, Kashva mengatakan bahwa apabila dia mati, dia ingin mati dalam usaha membela kebenaran. Namun, apakah Astu hanya akan berdiam diri melihat sosok yang ia cintai dengan tulus berjuang sendirian? Bukankah, berjuang untuk membela kebenaran akan lebih indah apabila dilakukan bersama dengan orang yang dicintai?

Kemudian, apakah yang akan Astu utarakan ketika Kashva mengatakannya, mengatakan hal yang sebenarnya ingin ia katakan sejak lama?

“Maukah engkau menemaniku berjuang… sebagai seseorang yang halal bagiku?” – Kashva.

(Leovita Augusteen)

Merancang Bisnis Buku Berkelanjutan

It is not enough to publish a good and marketable book, or even a number of them; I feel that one of the best advertisements for a publishing firm is for that firm to develop a distinct character which shall become recognised by the trade and the public.
~Memo from T. S. Eliot to his fellow directors at Faber, 9 December 1931.

Saya selalu penasaran mengetahui respons banyak orang terkait buku, terutama penerbit buku. Berdasarkan tes informal biasanya pembaca sering tidak terlalu tahu dengan penerbit. Di antara variabel penulis, judul buku dan penerbit misalnya, nama penulis dan judul buku jauh lebih mudah diingat dan dikenali dibandingkan nama penerbit. Bagi saya, hal ini cukup mengganggu. Merek yang dipersepsi secara baik oleh pelanggan, semestinya berkorelasi langsung dengan pendapatan. Sehingga hidup matinya sebuah unit bisnis betul-betul bergantung pada inovasi dan kreativitas internal organisasi, bukan semata dilambungkan oleh profil para bintang yang menghuni portofolio sebuah rumah penerbitan.

Hal serupa barangkali cukup menarik didapati pada model bisnis musik yang mirip dengan penerbitan. Istilah Diva atau bintang sering kali disematkan pada mereka yang berhasil meniti tangga nada menuju popularitas. Label yang menjadi rumah para diva sudah pasti kurva pendapatannya akan melambung secara impresif. Namun, sebaliknya, mereka yang tidak berhasil menemukan musisi baru yang menghentak audiens pastilah akan datar dan cenderung turun penjualannya. Pada penerbit, penulis dengan talenta luar biasa, seperti halnya musisi, dapat mendongkrak tiras penerbitan hingga ke angka ratusan ribu atau bahkan jutaan eksemplar. Sebaliknya, ada juga buku yang hanya dicetak 2000 eksemplar namun butuh waktu bertahun-tahun menghabiskan stoknya.

Pada era digital, situasi ini mendorong tumbuhnya cara-cara baru kreatif menghasilkan produk. Salah satu yang paling fenomenal adalah munculnya Myspace sebagai sebuah lini bisnis yang beroperasi dengan cara terbalik, yaitu dengan menjual track-track lagu musisi baru yang bahkan profilnya tidak diketahui dengan baik oleh pendengar. Myspace adalah antitesis dari bisnis arus utama label musik yang haus meroketkan bintang-bintang baru spektakuler. Model bisnis MySpace ini kemudian melahirkan sebuah mode alternatif berbisnis yang dinamakan long tail. Artinya, perusahaan menghasilkan revenue dari sedikit pembelian track lagu akan tetapi dari daftar luar biasa banyak dari banyak artis atau musisi yang dinaunginya. Peluang ini kemudian dilihat secara sangat jeli oleh Apple ketika meluncurkan iTunes, yang memungkinkan pendengar membeli track-track tertentu yang disukai saja, tidak harus membeli full album.

Bagaimana dengan penerbit? Secara prinsip, penerbit buku jauh lebih banyak mempertaruhkan investasinya pada banyak penulis. Terutama pada skala penerbitan menengah yang memungkinkan sebuah rumah penerbitan menghasilkan belasan sampai puluhan judul buku setiap bulannya. Kondisi ini mungkin terlihat cukup ideal untuk berlakunya sebuah model long tail: banyak penulis, banyak pilihan judul buku yang membebaskan pembaca untuk memilih secara mana suka. Akan tetapi, jangan keliru, di sini justru terletak jebakan sangat rapi yang bisa secara serta merta menjungkalkan penerbit dari bisnis intinya: perangkap stok. Terlebih, ketika kebijakan produksi yang diambil menggunakan falsafah pareto, mencetak sebanyak-banyaknya untuk mengejar 20% produk yang menopang pendapatan perusahaan. Menerapkan model long tail untuk produk cetak adalah neraka!

Satu-satunya alasan mengapa MySpace tumbuh dan meroket adalah ekosistem digital. Ini pulalah alasan mendasar mengapa pada kategori produk fisik-cetak, model bisnis long tail akan berhadapan langsung dengan nilai stok serta kebutuhan gudang yang luar biasa besar. Bahkan ketika penerbit memiliki mitra distribusi paling andal pun, derasnya produk yang mengalir dari rumah kreatif penerbit lalu tersendat di retail. Pilihan paling menyakitkan sering kali diantar kembali dengan hormat ke gudang-gudang penerbit, atau sebagian besar penerbit menyiasatinya dengan cara menjual mendekati harga pokok asalkan masih bisa bertahan di display toko. Margin tipis, rabat besar, kewajiban membayar jasa percetakan, royalti, pajak, adalah risiko nyata yang harus dihadapi dengan berani.

Menariknya, memindahkan secara drastis produk buku ke dalam ekosistem digital juga bukanlah obat mujarab. Dengan tingkat serapan buku elektronik yang masih sangat kecil dibandingkan cetak, apalagi dengan watak pengguna yang berani gratisan tapi emoh upgrade ke versi premium, serta pilihan pembayaran yang lebih nyaman bagi para pengguna kartu kredit, pembeli buku digital terlihat seperti kerlip kecil di antara jernihnya taburan gemintang lainnya di angkasa. Untuk berhasil, pelaku bisnis buku memiliki sedikit pilihan; menerbitkan sebanyak mungkin judul, atau kembali ke mode konvensional dengan melahirkan penulis bintang yang diharapkan dapat menjual ratusan ribu unduhan. Bukan pilihan mudah!

Saat ini tidak saja bisnis buku yang berada dalam perlintasan maut. Terlambat bergerak, melakukan inovasi, membuat bisnis terus menerus relevan adalah tanda mendekatnya malaikat maut. Hanya butuh kurang dari satu dekade saja untuk meruntuhkan kerajaan bisnis telepon seluler Nokia yang semula begitu digdaya. Pada pasar yang semulai dikuasai sistem operasi Symbian buatan Nokia, mendadak menjadi terlihat kuno di hadapan begitu saja runtuh iOs besutan Apple dan android dari Google. Menjelang akuisisi Nokia oleh Microsoft, Stephen Elop, sang CEO, menuliskan sebuah catatan menyedihkan, “Kami tidak melakukan hal yang keliru, tetapi tampaknya kami telah kalah,”. Sebuah peringatan bagi yang merasa besar.

@salmanfaridi

* Artikel ini tayang di Harian Bernas, 25 April 2016.

The Fabulous Udin Difilmkan, Rons Imawan: Mimpi Saya Jadi Kenyataan

IMG-20160413-WA0005Nama Rons Imawan atau akrab disapa Onyol, kian melambung di dunia hiburan. Setelah sukses mencetak empat buku karangannya; Truth or Dare, The Fabulous Udin, Wow Konyol, dan Perfect Mistakes, kini Onyol mulai dikenal di industri film tanah air. The Fabulous Udin, karya Onyol yang diterbitkan Bentang Pustaka awal tahun 2013 lalu, membawa langkahnya hingga ke layar lebar. Buku best seller ini sukses dilirik beberapa rumah produksi film untuk dipinang dan kisahnya difilmkan. Continue reading “The Fabulous Udin Difilmkan, Rons Imawan: Mimpi Saya Jadi Kenyataan”

Kartinian, Ini Kata Kartini Bentang

Women Tree

Wahai ibu kita Kartini

Putri yang mulia

Sungguh besar cita-citanya

Bagi Indonesia

Siapa yang tak ingat lagu berjudul Ibu Kita Kartini ini? Dan, siapa pula yang tak mengenal sosok emansipasi perempuan Indonesia, Raden Ajeng Kartini? Setelah berpuluh tahun perjuangan Kartini, perempuan Indonesia mampu berdiri di atas kaki sendiri. Tegak berdiri menghadang dunia, melangkah sejajar dengan kaum pria.

Emansipasi bukan tentang kemolekan perempuan yang pandai berdandan, bukan tentang lekuk tubuh yang sedap dipandang, bukan juga tentang keindahan yang hanya mampu menjadi pajangan, tapi adalah kekuatan. Bahwa sejatinya, wanita dan pria punya kekuatan yang sama, dan hak-hak keduanya pun tak ada beda. Inilah keselarasan yang berhasil diwujudkan Raden Ajeng Kartini kita.

“Saya memaknai emansipasi sebagai kesetaraan dan pengakuan. Bahwa dengan adanya emansipasi perempuan, maka perempuan diberi hak yang sama, diberi kesempatan berbicara, dan diakui keberadaanya,” kata Dhewi Berta, editor Bentang Pustaka. “Bagi saya, tidak ada emansipasi berarti tidak ada profesi ini (editor –red). Saya tidak bisa ke luar kota, ke luar negeri, dan tidak bisa banyak belajar,” tambahnya.

Jika dahulu perempuan hanya menjadi kanca wingking kaum  pria, dan hak serta kekuatannya dianggap tidak setara dengan mereka, kini, perempuan telah mampu menunjukkan kekuatannya. Semakin banyak perempuan cerdas, semakin marak perempuan tangguh multitalenta.

“Sebagai editor, saya banyak memberi saran, anjuran, inside, serta revisi untuk proses penyempurnaan naskah dari penulis. Dan di sini, suara saya sebagai editor perempuan, yang menangani naskah penulis baik perempuan maupun laki-laki, memang diakui dan didengarkan. Tapi yang tidak kalah penting, sebagai perempuan, bagaimana agar suara editor bisa sampai dengan baik dan lembut ke si pemilik naskah,” tutur Ulil Maulida, editor komik Bentang.

“Tapi, pun emansipasi jangan kebablasan. Emansipasi bukan tentang siapa mendominasi siapa, tetapi setara,” kata Dhewi lagi.

Hakikatnya, emansipasi juga tidak selalu status pekerjaan. Bukankah mereka, para perempuan yang dengan sepenuh hati mendedikasikan waktu, tenaga, dan kekuatannya untuk merawat dan membesarkan buah hatinya juga Kartini Indonesia? Selamat Hari Kartini!

Citrawati, Sosok Kartini dari Negeri Magada

Sosok Dewi Citrawati dalam buku Serat Tripama: Gugur Cinta di Maespati
Sosok Dewi Citrawati dalam buku Serat Tripama: Gugur Cinta di Maespati

 

Jika Raden Ajeng Kartini diberi gelar kehormatan atas perjuangannya memuliakan perempuan, maka Indonesia juga patut berbangga karena memiliki tokoh pewayangan bernama Dewi Citrawati. Dalam cerita pewayangan tanah air, aneh rasanya jika tak membincang sosok yang dikenal akan kecantikan luar dan dalamnya ini. Citrawati adalah putri sulung dari Prabu Citradarma yang berpermaisurikan Dewi Citraresmi. Keluarga ini hidup bahagia hingga Citrawati tumbuh dewasa dan dicintai banyak wayang lainnya. Mengapa? Ini lima alasan Dewi Citrawati memang patut dicintai layaknya R.A Kartini:

  1. Cantik luar dalam

Tak hanya parasnya yang cantik, Dewi Citrawati pun memiliki kelembutan hati yang luar biasa. Ia mudah bergaul dengan siapa saja, bahkan dengan tokoh pewayangan lain yang notabene tidak berasal dari kalangan kerajaan. Terbukti, Citrawati sangat dekat dengan dua abdi pribadinya, bernama Limbuk dan Cangik.

2. Penyabar

Selain lembut, Dewi Citrawati digambarkan sebagai sosok perempuan yang sabar. Ia bukan sosok yang emosinya meledak-ledak, dan senantiasa berkepala dingin dalam menghadai kehidupan.

3. Setia

Bersuamikan Prabu Arjuna Sasrabahu, Dewi Citrawati bisa dibilang sebagai perempuan yang setia pada pasangannya. Pasalnya, meskipun ia sebenarnya mengalami dilema cinta pada patih suaminya, Sumantri, namun Citrawati tak pernah meninggalkan Arjuna Sasrabahu. Bahkan Citrawati rela mengorbankan perasaannya demi kesetiaan dan kebahagiaan suaminya.

4. Penuh perjuangan

Citrawati memang mengalami dilema cinta, karena sosok Sumantri yang sebenarnya telah lebih dulu merebut hatinya. Tak ingin meninggalkan sang suami, Arjuna Sasrabahu, pun Citrawati tak tinggal diam demi bisa bertemu dengan Sumantri. Berbagai cara Citrawati perjuangkan, agar ia juga tak melukai perasaan siapa saja. Termasuk meminta Taman Sriwedari dipindahkan ke Maespati, hingga sengaja untuk mengusik Rahwana. Semua itu ia lakukan demi cinta.

5. Perempuan idaman

Atas kecantikan paras dan hatinya, pantaslah Citrawati menjadi idaman seribu pria. Dikisahkan, sejak Citrawati remaja, ia sudah diperebutkan beribu pria yang datang ke Magada untuk melamarnya. Sampai pada suatu waktu Prabu Darmawisesa hampir memenangkan perebutan, Sumantri, utusan Arjuna Sasrabahu datang. Sumantri berhasil merebut mengalahkan Darmawisesa dan memboyong Citrawati ke Maespati, kerajaan rajanya, Arjuna Sasrabahu. Namun, di tengah perjalanan, keduanya justru jatuh cinta. Tak ada pilihan lain, perang pun sudah Sumantri lakukan dengan rajanya sendiri, demi Citrawati. Namun sang pujaan hati tetap jatuh ke pelukan Sang Arjuna Sasrabahu.

Itulah lima alasan mengapa Citrawati patut untuk dicintai. Tak hanya itu, sosok Citrawati juga bisa dijadikan teladan para perempuan Indonesia. Cerita inspiratif Citrawati, Sumantri, dan Arjuna Sasrabahu ini telah dituangkan Sujiwo Tejo dalam novel-grafis-bermusik, Serat Tripama: Gugur Cinta di Maespati.

Selamat Hari Kartini!