Ketika Raksasa Menyapa Jakarta

Jakarta, Kamis 31/3. Gramedia Daan Mogot Jakarta dikagetkan oleh kedatangan seorang Raksasa dari Jogja. Kedatangannya sekaligus membawa kabar gembira bagi para penikmat film tanah air. Karena ia membawa serta para anteknya ke dalam toko itu, yang terdiri atas Abrar Adrian, Karina Salim, Stella Cornellia, Dwitasari dan masih banyak lainnya. Meskipun acara ini diadakan pada hari kerja, namun, ternyata tidak menyurutkan antusiasme masyarakat terutama para penggemarnya. Ya, film yang diangkat dari buku berjudul Raksasa dari Jogja karangan Dwitasari ini telah diterbitkan pada 2012 lalu oleh Plotpoin dan Bentang Pustaka. Meski sudah empat tahun berlalu, buku itu tetap mendapatkan sambutan positif dari para insan muda Tanah Air.

IMG-20160331-WA0008Buku yang diangkat berdasarkan kisah nyata dari Dwitasari itu ternyata mampu membius para pembaca dengan kata-katanya yang membuat hati ini gundah gulana. Dwitasari, sudah menyukai dunia tulis menulis sejak dibangku Sekolah, kemampuannya itu kemudian Ia salurkan kedalam twitter dan blog. Meski terbatasi 140 kata tetap saja keindahan kata-kata galaunya Dwitasari mampu membuat hati para pembacanya seakan luluh lantak. Kini, Dwitasari telah menerbitkan 8 buku dan Raksasa dari Jogja, merupakan buku pertama yang diangkat ke layar lebar.

Nah, bagi kalian yang berada di Bekasi dan Bandung, bersiaplah menyambut kedatangan si Raksasa ini pada 1 dan 2 April ya!

Baca bukunya, tonton filmnya!

RDJ EPOSTER bekasi

RDJ EPOSTER bandung

Vivekananda Gitandjali

Raksasa dari Jogja Siap Menyapa Para Pemirsa

Raksasa dari Jogja, begitulah judulnya. Buku karangan Dwitasari yang diterbitkan oleh Plotpoin dan Bentang Pustaka pada 2012 lalu ini akan segera naik ke layar lebar pada, Kamis 31 Maret 2016, serentak di seluruh Indonesia.  Untuk merayakannya, Bentang Pustaka bekerjasama dengan Starvision mengadakan jumpa fans sekaligus book signing di beberapa kota. Beberapa artis ibu kota yang memerankan Raksasa dari Jogja juga akan turut hadir untuk merayakannya bersama para penikmati film dan buku di tanah air; diantaranya si Raksasa, Abrar Adrian, Karina Salim, Stella Cornelia, dan masih banyak lainnya. Tak hanya para artis saja, penulis Raksasa dari Jogja pun akan turut hadir menyapa para pemirsanya. Yuk catat tempat dan harinya, siapa tahu kotamu menjadi sasaran empuk si Raksasa penuh kasih sayang ini.

RDJ EPOSTER jakarta RDJ EPOSTER bekasi RDJ EPOSTER bandung

Jangan lupa bawa bukumu!

Vivekananda Gitandjali

Selamat Hari Perfilman Indonesia!

Negeri van Oranje -Film
Sejarah perfilman Indonesia diawali pada tahun 1900 ketika dibangun bioskop pertama di daerah Tanah Abang, Batavia dengan nama Gambar Idoep. Bioskop yang didirikan pada 5 Desember ini menampilkan film-fim bisu, dengan film pertama yang dibuat pada tahun 1926 adalah Loetoeng Kasaroeng yang dibuat oleh G. Kruger dan L. Heuveldrop, sutradara asal Belanda.

Sejak saat itu, perfilman Indonesia berkembang. Pada periode 1942-1949, perfilman Indonesia dijadikan propaganda politik oleh Jepang. Terlihat dari tahun 1942, Nippon Eigha Sha, perusahaan film Jepang yang beroperasi di Indonesia, hanya dapat memproduksi 3 film pada saat itu. Oleh karena itu, pada periode ini perfilman Indonesia mengalami penurunan.

Pefilman Indonesia dirayakan pada tanggal 30 Maret karena pada tanggal 30 Maret 1950 merupakan hari pertama pengambilan  gambar film Darah & Doa atau Long March of Siliwangi yang disutradarai Usmar Ismail. Film ini dianggap sangat momentum karena merupakan film pertama yang bercirikan Indonesia, disutradarai oleh orang Indonesia, dan diproduksi oleh perusahaan film yang dimiliki oleh orang Indonesia.

Cover Film Laskar PelangiPada era sekarang, kondisi perfilman di Indonesia dianggap mengalami kebangkitan. Hal ini karena kondisi perfilman Indonesia yang mengalami pertumbuhan jumlah produksi yang menggembirakan. Cerita yang disajikan pun kian menarik dan beragam. Bahkan tak jarang film Indonesia mengadopsi cerita dari novel Indonesia. Sebut saja film Laskar Pelangi yang sempat melejit di tahun 2008 yang diadopsi dari novel karya Andrea Hirata.

Sebagai institusi yang bergerak di industri buku, novel-novel yang diterbitkan di Bentang Pustaka juga turut mewarnai perfilman Indonesia. Novel-novel tersebut adalah Supernova (Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh), Sang Pemimpi, Negeri van Oranje, Catatan Akhir Kuliah, dan lain-lain.

Semoga perfilman Indonesia semakin maju dan semakin banyak novel-novel dengan cerita yang menarik untuk ikut mewarnai kemajuan perfilman Indonesia.

(L. Augusteen)

10 Alasan Mengapa Kamu Harus Belajar Mengelola Start-Up dari Eric Ries

Seiring dengan meningkatnya populasi masyarakat yang belum dibarengi dengan kesediaan lapangan kerja, banyak yang kemudian memilih untuk berbisnis. Tren rintisan bisnis baru yang biasa disebut start up pun mulai menjamur di berbagai wilayah. Di negara India misalnya, semua orang dididik untuk mejadi entrepreneur. Tentu saja mereka dididik menjadi enterpreneut melalui pengelolaan start up.

Di Indonesia sendiri mulai bertebaran berbagai start up, mulai dari usaha makanan unik sampai berbagai bisnis berplatform digital. Di tengah-tengah ketidakpastian dunia pekerjaan, berbisnis memang menjadi salah satu alternatif. Tetapi, bukankah bisnis itu penuh dengan risiko? Lagipula membangun start up tentu tidak mudah, harus ada banyak hal yang harus dipelajari.

Salah satu tokoh yang giat dalam dunia start-up adalah Eric Ries. Ia pionir gerakan start up dan menciptakan metode The Lean Start Up. Kamu harus belajar banyak dari Eric Ries karena dia sangat fasih terhadap tetek-bengek start up. Selain, itu ada banyak hal yang bisa kamu contoh dari kinerja Eric Ries. Apa saja sih yang bisa kita pelejari dari Eric Ries? Ini dia sepuluh alasan mengapa kita harus belajar start-up dari Eric Ries

 

  1. Tidak Hanya Seorang Insinyur, Eric Ries Juga Seorang Entrepreneur

 

via igadgetworld.com
via igadgetworld.com

Eric ries membuktikan bahwa tidak semua enterpreneur harus berasal dari orang-orang ekonomi atau mereka yang memang belajar bisnis. Awalnya Eric Ries adalah seorang programmer.Ia berkutat dengan komputer dan menyusun rekayasa teknologi. Ia juga terbiasa mengevaluasi rekayasa tersebut agar bisa diperbaiki dan dikembangkan dengan baik.

Tidak dapat dipungkiri bahwa kita seringkali memberikan stigma kepada mereka yang berada pada wilayah sains-eksata masih minim terhadap bisnis. Eric Ries membuktikan bahwa hal tersebut salah. Sekalipun ia mesti menempuh jalan yang begitu berliku sebelum menekuni bisnis dan manajemen. Namun, sekalipun harus menghadapi berbagai persoalan kegagalan, Eric Ries nyatanya berhasil menjadi seorang entreprenur.

 

  1. Penggerak Pionir Startup
via isigood.com
via isigood.com

Menyimak latar belakang Eric Ries yang begitu dekat dengan dunia komputer, siapa sangka bahwa ialah pionir gerakan StartUp. Berawal dari kesuksesan IMVU, Eric Ries kemudian mencoba menganalisis berbagai startup lainnya. Ia seringkali dimintai oleh perusahaan-perusahaan besar untuk memberikan saran bagi start up mereka. Alhasil, kesuksesan beberapa perusahaan besar tidak terlepas dari ketajaman berpikir Eric Ries yang piawai dalam mengkonsepkan manajemen dan kewirausahaan.

 

  1. Eric Ries Mengajarkan Kita Bahwa Manajemen dan Kewirausahaan adalah Satu Tubuh

[ File # csp3244435, License # 1195932 ] Licensed through http://www.canstockphoto.com in accordance with the End User License Agreement (http://www.canstockphoto.com/legal.php) (c) Can Stock Photo Inc. / AlexMax
via www.canstockphoto.com
                Masih banyak orang yang berpikir bahwa startup adalah institusi yang dinamis. Pengelolaan yang serius dan terstruktur tidak terlalu diperlukan. Namun, Eric Ries mengatakan hal yang sebaliknya. Manajemen dan Kewirausahaan adalah satu tubuh. Keduanya berjalan dengan organ yang sama. Oleh karena itu, mereka harus berjalan beriringan agar harmonis.

 

  1. Eric Ries, Tidak Mudah Menyerah dan Sangat Teliti
eric4
via joshua-graham.com

                Sebagai seorang programmer, ia terbiasa menghabiskan waktu delapan jam untuk membuat rekayasa teknologi. Ia lebih akrab dengan sistem pemrograman, membuat aplikasi baru, dan menciptakan inovasi-inovasi teknologi lainnya. Namun, ia harus melangkah lebih jauh dengan menjadi seorang enterpreneur. Pola pikirnya sudah bukan lagi seorang insinyur yang harus membuat produk sempurna. Lebih dari itu, ia harus berpikir bagaimana sebuah produk dapat diminat dan bermanfaat bagi orang lain.

Menjadi enterprenur tentu bukan hal yang mudah bagi Eric Ries. Banyak kegagalan yang harus dihadapi. Namun, Eric Ries tidak lantas menyerah. Ia mengobservasi setiap produknya dengan teliti. Ia menimbang banyak dalam pembuatan produk.  Dan kegigihannya, juga ketelitiannya, mengantarkan ia dan IMVU pada kesuksesan.

 

  1. Bagi Eric Ries, Tujuan Startup adalah Mengubah Dunia

 

eric5
via http://www.julianrees.com

                Eric Ries menyebutnya sebagai visi startup. Menurutnya, kehadiran Startup adalah untuk mengubah dunia menjadi lebih baik lagi. Untuk meraih visi itum startup mesti menjalankan strategi, yang terdiri atas model bisnis, pemetaan produk, sudut pandang mitra dan pesaing, dan wacana mengenai calon konsumen.

 

  1. Bagi Eric Ries, StartUp adalah Ikhtiar Manusiawi
Success in business-group of excited people
via http://www.kyivpost.com

 

Apa yang diucapkan oleh Eric Ries ini tentu menggelitik dunia, bahkan menggoncangkannya. Eric Ries memandang bisnis startup sebagai upaya kemanusiaan. Menurutnya startup adalah institusi manusia yang dirancang untuk menciptakan produk atau jasa di tengah ketidapstian yang ekstrem.

 

  1. Eric Ries Berhasil Menyukseskan Produk yang “Jelek”
Discarding paper rubbish into a dedicated bin for recycling which is overflowing onto the floor
via http://www.freeimageslive.co.uk

                IMVU adalah produk yang “jelek”, menurut sebagian orang. Melalui perspektif “insinyurnya”, IMVU adalah produk yang tidak sempurna. Tetapi ketidaksempurnaan itulah yang ditawarkan dalam bisnis startup. Sebab, Eric Ries mengatakan bahwa startup adalah sebuah usaha yang berkelanjutan – start up akan terus menciptakan inovasi baru bagi konsumennya.

 

  1. Eric Ries Menggunakan Pendekatan Ilmiah untuk Menguji Sebuah Produk
Crazy scientist. Young boy performing experiments
via dailyalchemy.com

                Inilah yang paling unggul dari pola berpikir Eric Ries! Sebagai orang yang berkutat dengan banyak eksperimen ilmiah ia mencoba memindahkan itu pada strategi bisnis – khususnya dalam pengujian produk. Siapa sangka pendekatan ilmiah inilah yang mengantarkannya pada kesuksesan. Melalui metode ini Eric Ries berhasil menguak misteri  kewirausahaan dan mengungkap bahwa keajaiban  dan kegeniusan bukanlah bahan baku wajib untuk mencapai kesuksesan, melainkan menyuguhkan proses ilmiah yang bisa dipelajari dan ditiru.

 

  1. Eric Ries Menciptakan Metode Lean Startup

                Dengan kecerdasanna itu, Eric Ries kemudian menciptakan metode Lean Startup. Lean startup adalah cara bar untuk mengembangkan produk anyar inovatif dengan tekanan pada proses coba-coba yang cepat, minat konsumen, visi besar, dan ambisi selangit. Terdapat lima metode lean startup yang bisa dipelajari sebelum membangun suatu bisnis startup. Gerakan Lean Startup ini diharapkan dapat mengubah dunia melalui orang-orang yang mendambakan terobosan-terobosan besar.

 

  1. Eric Ries Membuat Buku The Lean Startup
1-The-Lean-Startup-depan
via bentangpustaka.com

Ada banyak sekali gagasan yang dirangkum oleh Eric Ries tentang bisnis dan startup. Ia menjelaskan secara detail bagaimana proses sebuah startup berkembang melalui manajemen kewirausahaan yang baik. Belajar bisnis dengan Eric Ries tentunya akan sangat menyenangkan, tetapi bagi kita masyarakat Indonesia, apakah bisa bertemu dengannya? Eric Ries beberapa kali menuliskannya di blog pribadi. Tetapi, tentu cukup sulit bagi kita yang awam ini untuk memahami tulisan yang diunggah secara random.

Nah, untuk mempermudah siapa saja yang ingin membangun startup, Eric Ries telah menulis buku berjudul The Lean Startup. Tentunya,  kita bisa belajar melalui buku yang ditulis oleh Eric Ries. Jangan khawatir, buku ini sudah diterjemahkan oleh Bentang Pustaka dan dapat dipahami lebih mudah juga! Buku ini adalah pijakan kokoh untuk kewirausahaan dan inovasi.

 

Jadi, tunggu apalagi? Mari belajar dari Eric Ries melalui The Lean Startup… dan Selamat Berbisnis!

Lamia Putri D.

 

Raksasa dari Jogja Ganti Baju

 Siapa yang tidak kenal Dwitasari. Di zaman yang serba modern saat ini pastilah pernah mendengar namanya di beberapa sosial media. Dwitasari merupakan seorang selebtwitt (Selebriti Twitter) yang cukup terkenal dan fenomenal di Dunia Maya melalui tulisan dan kata-katanya yang selalu menyentil di hati kaum anak muda zaman sekarang. Berangkat dari kemampuannya merangkai 140 kata, Dwitasari kemudian melahirkan buku pertamanya yang berjudul Raksasa dari Jogja pada tahun 2012. Buku pertamanya ini mendapatkan respon yang sangat positif dari para netizen hingga akhirnya menjadi Trending Topic di Indonesia selama beberapa waktu.

 Menurut Dwita yang juga memiliki darah Yogyakarta dari papanya ini, kota Jogja menyimpan berbagai kenangan manis, dan di dalam buku ini Ia mencoba mengangkat sisi manis dari Yogyakarta. Buku ini mengangkat kisah seorang remaja bernama Bianca yang memutuskan untuk melanjutkan studinya di Yogyakarta. Karena di tempat asalnya, Jakarta, Bianca tidak pernah menemukan cinta. Ia merupakan anak yang tumbuh di dalam keluarga yang penuh dengan kekerasan. KDRT yang dilakukan oleh ayahnya seperti sudah menjadi makanan sehari-harinya. Bagi Bianca, cinta itu hanya omong kosong. Lebih baik ia ke Yogyakarta, karena setidaknya ia tidak perlu menjadi bulan-bulanan ayahnya, dan siapa tahu Jogja akan mengajarinya arti dari cinta. Di kota pelajar itu, Bianca bertemu dengan seorang raksasa berhati lembut, bernama Gabriel. Namun, dinding yang dibuat oleh Bianca masih saja kokoh tak terkalahkan. Cinta Gabriel malah membuatnya ragu.

 Di dalam Raksasa dari Jogja ini, Dwitasari tidak hanya mengangkat kisah cinta unyu-unyu ala remaja saja, namun juga cinta di dalam sebuah keluarga. Empat tahun berselang semenjak buku ini terbit, kini bersama Starvision, Raksasa dari Jogja siap menyapa para penggemarnya melalui layar lebar pada 31 maret nanti diseluruh bioskop di Indonesia. Dan dengan begitu, bergantilah pula baju dari buku Raksasa dari Jogja menjadi kover film.

1458127899931

Vivekananda Gitandjali

Ini Alasan Sujiwo Tejo Frustasi Menulis Buku Terbarunya

simbah

Sujiwo Tejo tak butuh waktu lama untuk mengerjakan buku terbarunya, Serat Tripama: Gugur Cinta di Maespati. Padahal, dalam buku terbarunya yang terbit tepat pada hari ini, Sujiwo tak hanya menuliskan cerita, tetapi juga mengusung lukisan karyanya. Itulah mengapa buku ini disebut sebagai novel grafis; mengusung gambar, tetapi tetap menekankan tulisan.

Ada sekitar 600 gambar yang dikerjakan Sujiwo hanya dalam waktu dua bulan. Artinya, kurang lebih 20 gambar berhasil Sujiwo selesaikan setiap harinya. “No problem, karena aku ini orangnya jarang tidur. Heuheuheu,” kekeh Sujiwo.

Bagi Sujiwo, yang membutuhkan waktu lama adalah memikirkan bagaimana menggambarnya. Selama kurang lebih dua tahun, Sujiwo pergi ke India, Eropa, Timur Tengah, Bangkok, dan lain-lain, untuk mencari inspirasi dan menemukan gaya menggambarnya sendiri. “Apa pakai gaya Tintin, Manga, atau Manhwa gaya komik Korea, bingung aku. Atau ya pakai model-model komik Jan Mintaraga, Hans Jaladara, Kosasih,” tutur Sujiwo. Dirinya mengaku, bahkan sempat frustasi memikirkan hal ini.

Sampai pencarian Sujiwo di Paris, ia melihat semuanya serbaindah. “Kalau semua indah, terus yang nggak indah apa nggak boleh ada? Analoginya, di antara model Tintin, Manga, Manhwa, dan lain-lain, boleh dong ada komik yang gambarnya ngawur. Tepatnya Ngawur Karena Benar,” seloroh Sujiwo. Akhirnya, Sujiwo menegaskan gaya menggambarnya ngawur saja. Ia tidak peduli apakah nanti disebut lukisan, disebut sketsa, disebut novel grafis, atau apa.

Kesulitan selanjutnya yang Sujiwo temukan adalah, bagaimana menuangkan ide Ngawur Karena Benar itu, apakah akan digambar manual atau menggunakan aplikasi komputer. “Kalau manual kayaknya akan lama, kalau pakai program komputer, wah aku ini gaptek. Akhirnya aku putuskan untuk belajar photoshop,” aku Sujiwo.

Fitria Farisa

Novelnya Terbit, Sujiwo Tejo Berterimakasih pada Bangsa Indonesia

cover 3d tripama

Hari ini (24/3), rakyat Republik Jancukers patut berbahagia. Pasalnya, Presiden mereka yang juga dalang, penulis, sekaligus seniman edan, Sujiwo Tejo, merilis buku terbarunya, Serat Tripama: Gugur Cinta di Maespati. Momen ini menjadi spesial karena untuk pertama kalinya, Sujiwo menerbitkan novel grafis bermusik pertamanya. Disebut novel grafis lantaran bukunya berisi ratusan lukisan Sujiwo. Esensinya, mengusung ilustrasi, namun tetap menekankan kepada kata-kata. Lagi, disebut bermusik, sebab buku ini disertai sembilan lagu yang khusus diciptakan dan diproduksi Sujiwo bersama timnya untuk menjadi pengiring saat dibaca.

“Terima kasih pada bangsa Indonesia yang telah menyambut hangat terbitnya novel-grafis-bermusik pertamaku,” kata Sujiwo.

Novel grafis bermusik ini sendiri merupakan sebuah awal dari trilogi cerita pewayangan modern. Bercerita tentang perjalanan Sumantri yang mengabdi kepada rajanya, dan di setiap langkahnya selalu diiringi kecintaan adiknya yang raksasa, Sukasrana. Sumantri diutus rajanya, Arjuna Sasrabahu, untuk merebut Dewi Citrawati dari Magada, dan membawanya ke Maespati. Namun, setelah berhasil mengalahkan Prabu Darma Wisesa dan memboyong Citrawati, Sumantri justru berbalik mencintai Citrawati, pun sebaliknya. Terjadi peperangan yang hebat antara Suamantri dan rajanya sendiri. Di sinilah Sumantri menunjukkan dilematikanya atas persoalan cinta dan pengabdian. Semua itu Sujiwo rangkum dengan gaya berceritanya yang romantis, dalam, tapi juga nakal.

“Di timeline twitter saya, ada yang bangganya setengah mati bisa menunjukkan sebagai orang pertama yang membeli Serat Tripama: Gugur Cinta di Maespati, dan langsung mentoknya saya. Di bio, dia bilang tinggal di Bandung. Padahal hari ini menurut penerbit Bentang Pustaka, buku saya baru ada di toko-toko buku di Jogja, Jateng dan Jakarta. Oh mungkin dia ke Jakarta naik kereta Supercepat,” cerita Sujiwo. “Di toko buku Gramedia Tamara malah ada yang main petak umpet dengan polisi melewati jalan tikus karena takut kehabisan buku di hari pertama. Ketakutannya patut dicontoh. Tapi soal keberaniannya pada polisi, jangan. Nanti nasibnya jadi kayak Sumantri di Serat Tripama ini. Dia berani ke rajanya demi cintanya terhadap perempuan titisan bidadari tercantik semesta raya: Dewi Citrawati,” katanya lagi.

“Akhirnya, demi bangsa dan negara saya ucapkan sekali lagi terima kasih atas hangatnya sambutan hari pertama terbitnya Serat Tripama: Gugur Cinta di Maespati,” pungkas Sujiwo.

Fitria Farisa

Melintasi Empat Benua demi Menemukan Indonesia

c3753999-f6ca-477a-93a6-0978c85057f2

“Kita selalu bertanya-tanya bagaimana Indonesia dibandingkan negara lain?” begitu kira-kira pertanyaan Pandji Pragiwaksono dan jutaan masyarakat Indonesia lainnya. Dengan berbagai persoalan dan karut-marutnya negara ini, banyak orang yang berandai-andai hidup dengan lebih nyaman di negara lain. Sebagian orang mencoba membandingkan Indonesia, mengkontekstualisasikan beberapa persoalan di Indonesia dengan negara lain. Ada berbagai faktor yang kemudian membuat kita sempat berpikir untuk meninggalkan negara ini dan tinggal di negara lain yang lebih maju. Tentu, negara yang lebih menjamin kesejahteraan warganya.

Dari segi infrastruktur, Indonesia memang masih berjuang. Baik dari segi transportasi, telekomunikasi, dan taraf pembangunan lainnya, Indonesia masih mencoba melampaui banyak ketertinggalan. Memang dibutuhkan waktu karena Indonesia adalah negara kepulauan. Lantas, apakah negara lain memang lebih baik dari Indonesia? Memangnya, bagaimana Indonesia dibandingkan negara lain.

Pertanyaan ini yang juga pertanyaan jutaan masyarakat Indonesia, dibawa oleh Pandji melintasi empat benua sekaligus. Dibawa ke duapuluh kota sekaligus, Pandji menyoroti berbagai hal dan menjawab satu per satu pertanyaan tentang Indonesia. Dalam penjelajahannya selama satu tahun itu, ia pun berusaha Menemukan Indonesia.

Menemukan Indonesia adalah buku travelogue pertama Pandji. Seperti buku travelogue pada umumnya, Pandji berkisah tentang perjalannya selama 365 hari ke duapuluh kota. Kota-kota tersebut adalah Singapura, Melbourne, Adeilade, Brisbane, Sydney, Gold Coast, Hong Kong, Macau, London, Manchester Liverpool, Amsterdam, Leiden, Berlin, Guangzhou, Beijing, Los Angeles, San Fransisco, Tokyo, dan Kyoto.

Seperti buku travelogue lain, Pandji bercerita banyak seputar kota-kota tersebut. Mulai dari corak arsitektur, budaya, kuliner, infrastruktur, pertokoan, transportasi dan lain sebagainya. Namun, ada yang berbeda dari kisah Pandji. Sebab, ia juga bercerita tentang negara-negara yang ia singgahi melalui perspektif “bagaimana Indonesia dibandingkan negara lain?”

Dalam perjalanannya, baik saat world tour maupun liburan pribadi bersama keluarga, Pandji meresapi tiap hal yang ia temui. Ia memaknai perjalannya dengan membaca kacamatannya tentang Indonesia. Seperti yang diresahkan banyak orang tentang Indonesia yang lamban untuk maju, Pandji pun mendedahnya melalui buku Menemukan Indonesia. Pandji menuangkan perspektif sosial politik untuk memindai negara lain demi Menemukan Indonesia.

Misalnya saja ketika berkunjung ke Singapura yang selalu disebut-sebut modern dan kemajuannya melebihi Indonesia. Sekalipun Singapura negara kecil, namun pendapatannya dibanding Indonesia jauh lebih banyak. Masyarakatnya  sejahtera dan disiplin. Namun, kondisi kewilayahan Singapura yang kecil itulah yang tidak bisa disamaratakan dengan Indonesia. Indonesia adalah negara besar, kepulauan pula. Pembangunan infrastruktur tidak bisa dilakukan semudah di Singapura. Oleh karena itu, ketika kita ingin membandingkan Indonesia dengan negara lain, kita harus melihat konteks-konteks tertentu.

Dalam buku Menemukan Indonesia ini, dengan melampaui  365 hari, melintasi empat benua, menjelajahi delapan negara, Pandji berusaha menemukan apa itu Indonesia. Dan pada akhirnya, tidak ada yang bisa mengalahkan Indonesia dari hati masyarakatnya. Selalu ada Indonesia di tiap perjalanan Pandji Pragiwaksono.

Lamia Putri D.

Raksasa dari Jogja Menyimpan Banyak Pesan Moral

“Lihat ke atas temukan cinta”

Raksasa dari Jogja, film yang diadaptasi dari novel karya Dwitasari yang berjudul sama ini akhirnya diangkat ke layar lebar oleh Starvision bersama Monty Tiwa. Film ini rencananya akan segera tayang di bioskop di seluruh Indonesia pada 31 maret mendatang.

Starvision bekerja sama dengan Epicentrum XXI, pada hari Selasa (22/03/16) menyelenggarakan gala premier “Raksasa dari Jogja”. Pada premier film tersebut, para penonton seakan larut dalam romantisme para tokoh dalam Raksasa dari Jogja. Film karya Monty Tiwa ini menyuguhkan kisah cinta yang berbeda tidak hanya kisah cinta yang biasa yang sekedar unyu-unyu, ada permasalahan dan konflik mendalam. Dimana seorang remaja bernama Bian. Ia merupakan putri tunggal dari seorang Politisi sukses kaya raya. Dari luar Bian nampak seperti seorang putri, padahal ia menyimpan kepedihan setiap kali melihat ayahnya melakukan tindak kekerasan terhadap ibunya. Semenjak itu Bian tidak percaya lagi akan cinta. Untungnya Bian bertemu Letisha sahabatnya yang mengajak Bian belajar untuk kuat. Namun semua berubah semenjak Letisha merebut pacarnya. Karena tekanan dari banyak arah, Bian memutuskan untuk ke Jogja dan tinggal dengan Bude dan putranya Kevin. Kisah Bian berubah ketika dia bertemu dengan Gabriel si Raksasa penyelamatnya.

IMG-20160322-WA0000Raksasa dari Jogja, dibintangi oleh para artis muda berbakat seperti Karina Salim, Abrar Adrian, Ridwan Ghany, Sahila Hisyam dan Stella Cornelia. Tak hanya itu, para artis senior seperti Ray Sahetapi juga turut membintangi dalam film ini.

Seusai pemutaran film, acara kemudian dilanjutkan dengan bincang-bincang para artis dan tim kreatif. Selain itu, para pengisi soundtrack film ini juga turut menyumbangkan suara emasnya disela-selabincang-bincang.

Film ini memiliki banyak pesan moral dalam kehidupan. Bahwa cinta juga kadang bisa menyakiti.

Selengkapnya simak trailer film Raksasa dari Jogja berikut

 

Vivekananda Gitandjali

Sujiwo Tejo Bocorkan Buku Terbarunya Lewat Book Teaser

Terbitnya novel grafis bermusik pertama Sujiwo Tejo, Serat Tripama: Gugur Cinta di Maespati, tinggal menghitung hari. Rencananya, buku pertama dari trilogi Serat Tripama ini mulai tersedia di toko buku-toko buku di Jakarta, DIY, dan Jawa Tengah pada 24 Maret mendatang. Lewat penerbitnya, Bentang Pustaka, Sujiwo tak pelit membocorkan cuplikan buku terbarunya, dengan merilis video book teaser Serat Tripama: Gugur Cinta di Maespati.

Tak hanya menampilkan cuplikan lukisan Sujiwo dalam Serat Tripama: Gugur Cinta di Maespati, video book teaser juga mengusung latar belakang suara berupa lagu Triwikrama. Tembang ini merupakan satu dari sembilan lagu yang ada di album Serat Tripama: Gugur Cinta di Maespati, garapan Sujiwo bersama tim, khusus untuk buku terbarunya. Tak ingin setengah-setengah, Sujiwo juga menarasikan video book teaser dengan suaranya sendiri.

Novel grafis bermusik Serat Tripama: Gugur Cinta di Maespati sendiri, bercerita tentang wayang modern, yaitu Sumantri, Arjuna Sasrabahu, Dewi Citrawati, dan Sukasrana. Selama perjalanannya mengabdi kepada raja Arjuna Sasrabahu, Sumantri selalu disertai kekuatan dan kasih sayang adiknya yang raksasa, Sukasrana. Di samping itu, juga dikisahkan cerita cinta yang dilematis antara Sumantri, Dewi Citrawati, dan Arjuna Sasrabahu. “Semua.. semua dilakukan Sumantri demi cinta.. cinta,” pungkas Sujiwo dalam narasi video book teasernya, Serat Tripama: Gugur Cinta di Maespati.

Fitria Farisa