Saatnya Menyambut 365 Hari di Tahun 2016

Tidak terasa tahun 2015 akan segera berlalu. Ada banyak hal yang tentunya perlu kita evaluasi agar dapat lebih memperkaya diri. Dalam hal ini, menyambut tahun baru 2016 tidak hanya dilakukan dengan selebrasi. Namun, menyambut tahun baru 2016 juga dapat dilakukan dengan refleksi. Salah satu hal yang dapat kita lakukan adalah melakukan berbagai macam perencanaan di tahun 2016.

Lalu, sudahkah terlintas di benak kalian dalam menyusun berbagai rencana di tahun 2016? Mungkin kita suah menyusun beberapa target besar di tahun 2016. Misalnya saja kita ingin mendapatkan pekerjaan di perusahaan yang kita inginkan. Beberapa orang menargetkan ingin menulis sebuah buku atau mengadakan pameran solo karya lukisnya.  Sebagian yang lagi menargetkan ingin menikah di tahun 2016.

Apakah kamu salah satu orang yang  telah menulis resolusi tahun 2016? Kalau belum, segeralah untuk menulisnya. Menulis resolusi tidak kemudian mengindikasikan bahwa kamu orang yang sangat berambisi. Tetapi, menulis resolusi akan menjadi “pengingat” bahwa ada hal-hal yang  harus dituntaskan. Jangan malu untuk menuliskannya dan menggapai target-target yang ingin kamu capai.

Tetapi, sadarkah kita bahwa ada pula hal-hal kecil yang mesti mengisi hari-hari kita?  Selama 365 hari mendatang akan ada banyak momen yang akan kita lalui. Dalam perjalanan mengarungi 365 hari itu, ada berbagai kepenatan yang seringkali membuat kita jengah. Terutama dalam usaha untuk menggapai target-target besar kita.

Nah, untuk menghadapi tahun 2016 nanti, kita mungkin bisa belajar untuk menciptakan momen-momen kecil di waktu luang. Selain menghilangkan rasa penat setelah beraktivitas seharian, kita juga bisa mulai menilai diri sendiri. Salah satu hal sederhana yang bisa kamu lakukan adalah pergi ke tempat-tempat yang belum pernah kamu kunjungi. Tidak usah tempat yang jauh. Kamu mungkin pernah berkelana sampai ke Eropa tetapi belum pernah berkunjung di rumah tetanggamu. Kamu juga bisa melakukan hal lain seperti memasak makanan untuk kedua orangtuamu atau membuat masker alami sederhana. Selain itu, kamu juga perlu berbenah diri dengan terus berpikir positif.

Memang ada banyak target besar yang ingin dicapai. Tetapi, jangan lupa juga untuk melakukan hal-hal sederhana. Intinya, sih, jangan lupa untuk bahagia. Jangan lupa untuk menyemarakkan 365 hari di tahun 2016 nanti. Selamat tahun Baru!

Kambing dan Hujan Jadi Karya Sastra Terbaik 2015 versi Jakartabeat

JakartabeatJakartabeat baru saja memilih novel Kambing dan Hujan menjadi karya sastra terbaik dalam artikel berjudul Karya Sastra Terbaik 2015 versi Jakartabeat: Kambing dan Hujan – Mahfud Ikhwan” pada 30 Desember lalu. Mereka mengakui bahwa dalam menentukan sebuah karya sastra menjadi karya yang terbaik tidaklah mudah. Harus ada dasar yang mampu menempatkan sebuah karya lebih baik daripada karya yang lainnya. Apalagi dengan penilaian subjektif pembaca yang memiliki selere membaca yang berbeda-beda. Bagi Jakartabeat, sebuah karya yang dapat dikatakan karya sastra terbaik harus memiliki suatu keunikan. Keunikan tersebut misalnya kebaruan tema, kebaruan cara bercerita, serta kemulusan penggarapan antara tema dan cara bertutur.

Dasar penilaian itu kemudian dijadikan sebagai catatan kecil dalam penentuan karya sastra terbaik 2015 dengan memperkecil kemungkinan bias dan subjektif. Menurut mereka, di tahun 2015 ini dapat dikatakan telah lahir penulis-penulis usia muda yang semangatnya masih meledak-ledak. Hingga akhirnya setelah mereka berdiskusi dengan tim redaksi dan dua tamunya, Fadjriah Nurdiasih dan Teguh Affandi, mereka memutuskan novel Kambing dan Hujan karya Mahfud Ikhwan lah yang pantas menerimanya.

Kambing dan HujanBukan Hanya Cerita Romeo dan Juliet

Menurut mereka, novel yang memenangkan sayembara DKJ (Dewan Kesenian Jakarta) 2014, menyita perhatian pembaca karena membawa konflik horisontal antara dua organisasi  Islam terbesar di Indonesia, Muhammadiyah dan NU. Dengan tema pembungkus kisah cinta antara Fauzia dan Miftah, Mahfud Ikhwan menggambarkan kehidupan sosial masyarakat yang hidup berdampingan dalam sebuah perbedaan.

Novel yang diterbitkan pada Juni 2015 ini rupanya telah diramu Mahfud Ikhwan selama kurang lebih 10 tahun. Mahfud Ikhwan sendiri mengatakan bahwa meski ia hidup dalam lingkungan seperti itu, ia tetap perlu menanyakan beberapa hal pada orang yang lebih paham. Dan dalam hal inilah, novel Kambing dan Hujan ini terlihat dalam pemorisan yang adil, tidak ada keberpihakan di dalamnya. Meskipun Mahfud Ikhwan sendiri mengatakan bahwa apabila dibaca dengan lebih teliti, maka pembaca akan tahu keberpihakan ia di mana.

Penghargaan Khusus

Selain memilih novel Kambing dan Hujan sebagia karya sastra terbaik 2015, Jakartabeat juga memilih Perempuan Patah Hati yang Menemukan Cinta Melalui Mimpi karya Eka Kurniawan sebagai karya sastra dengan penghargaan khusus, berdampingan dengan Tanjung Luka karya Benny Arnas. Menurut Jakartabeat, Eka begitu jeli menceritakan tema yang sederhana dengan sudut pandang penceritaan yang unik. Hal ini juga semakin unik dengan guyonan humor satir dan kritik politik ala sastrawan yang Eka sisipkan dalam ceritanya.

(L. Augusteen)

Lagi, Candra Malik Ramaikan Panggung Sastra

gus can

Penulis, sastrawan sufi, dan pemusik, Candra Malik, akan menggelar sebuah pertunjukan sastra, Unity in Culture bertajuk Festival Tahun Depan. Acara akan dihelat pada 30 Desember 2015, bertempat di Rumah Sanur, Bali. Gus Can, begitu ia akrab disapa, akan menggandeng komunitas seniman di Bali, dan berkolaborasi dengan penyair, Wayan Jengki Sunarta, serta Minladunka Band.

Lewat Festival Tahun Depan, Gus Can mengajak masyarakat menyaksikan sejumlah repertoar world music secara akustik, yang dipadukan dengan musik Bali. Tak hanya masyarakat biasa, para seniman dan sastrawan pun diharapkan dapat ikut menikmati pertunjukkan kolaborasi antara puisi, musik, dan lagu ini.

“Ide dasarnya adalah merangkul para seniman serta budayawan untuk berdialektika dan berproses bersama,” kata penulis yang baru-baru ini menerbitkan buku sastra berjudul Mawar Hitam ini.

“Saya berharap, kantong-kantong seni dan budaya terus bermunculan di berbagai daerah, termasuk Bali. Tentu saja tidak hanya melalui event ini, tapi melalui kesadaran bersama yang terus kita bangun,” tambahnya.

Sebagai penulis, sastrawan, dan pemusik, Gus Can tercatat aktif menggelar acara bertema sastra. Dirinya kerap berkolaborasi dengan seniman dan sastrawan lain, seperti Sujiwo Tejo, Idris Sardi, Dewa Budjana, Pidi Baiq, dll.

@fitriafarisa

Seberapa Dewasa dan Romantis Sih “My Wedding Dress”?

Processed with VSCOcam with c1 preset
Processed with VSCOcam with c1 preset

My Wedding Dress, adalah buku kedelapan Dy Lunaly, sekaligus menjadi novel dewasa pertama yang berhasil Dy selesaikan. Sebelumnya, Dy banyak menulis cerita cinta remaja seperti Psst!, Mantan, Stalking, NY Over Heels, dan beberapa judul lainnya. Dalam My Wedding Dress, Dy masih menuliskan tentang cinta, namun dikemas dengan lebih dewasa.

“Sedewasa apa sih My Wedding Dress? Kalau berharap ada adegan dewasa, jawabannya nggak ada,” kekeh Dy. “Dewasa lebih karena konfliknya. Bukan diputus pacar, tapi ditinggal saat hari pernikahan. Serta cara tokoh dalam menyikapi permasalahannya pun terbilang dewasa,” kata Dy.

Dengan sasaran pembaca yang dewasa pula, Dy harus betul-betul memikirkan adegan dan percakapan yang ia bangun dalam novelnya. Dy mengaku, dirinya harus berkali-kali mengecek obrolan, interaksi, dan reaksi tokoh-tokoh yang ia ciptakan di My Wedding Dress. Ia harus memperhatikan betul kesesuaian beberapa aspek tadi dengan usia para tokoh.

Di samping itu, Dy mengaku kesulitan dalam membangun adegan romantis. Ia mengasumsikan, persepsi romantis yang ia miliki berbeda dengan kebanyakan orang.

“Buatku, melamar di resto yang ramai, berlutut, dan memegang cincin itu nggak romantis. Yang romantis itu dilamar pas lagi ngobrol santai berdua aja,” ujarnya.

Namun, sampai buku kedelapannya, Dy mengaku selalu menggunakan prinsip ‘mengalir saja’ dalam tulisannya.

To be truth, aku nulis nggak memikirkan mau nulis pesan apa atau pengen ngasih kesan apa,” aku penulis yang punya keinginan menulis cerita thriller awal tahun depan ini.

@fitriafarisa

[CERMIN] Wedding Plan

“SCERMIN - Wedding Planudah sampai mana persiapan pernikahan kalian?” tanya Calon Mama Mertua, yang sontak membuatku gugup.

“Belum sampai mana-mana, Ma. Baru juga survey WO…” Jawab Mas Aji.

“Kalian itu gimana, sih? Pernikahan tinggal dua minggu lagi, tapi belum ada persiapan. Tahu gitu dari awal Mama yang urus!”

“Maaf, Ma. Kami terlalu sibuk sehingga persiapan pernikahan jadi sedikit terbengkalai. Tapi, alhamdulillah pekerjaan saya dan Mas Aji sudah agak longgar, jadi sekarang kami bisa mengurus segala sesuatunya.” Ujarku dengan hati-hati. Berharap tak menyinggung perasaan beliau.

Mas Aji menggenggam tanganku yang gemetar. Calon Mama Mertuaku itu mendesah keras. Seolah lelah menghadapi aku dan Mas Aji yang keras kepala.

“Ya, baguslah kalau pekerjaan kalian sudah mulai longgar. Mama ikuti konsep kalian saja. Yang penting, Mama tidak mau melihat ada kesalahan sedikit pun dalam pesta. Mengerti?”

“Mengerti, Ma.” Jawabku dan Mas Aji, kompak.

“Bagus. Oh, iya, lalu apa rencana kalian hari ini untuk persiapan pernikahan?”

Aku dan Mas Aji kembali bersitatap.

“Hari ini aku harus ke Bandung untuk menemui mitra kerjaku dari Jepang, Ma. Sedangkan, Niken harus ke Jogja untuk mempersiapkan sidang disertasinya besok.” Jawab Mas Aji.

Aku hanya menunduk tak berani melihat raut wajah Calon Mama Mertua setelah mendengar jawaban Mas Aji itu.

***

Oleh Ayu Rizki Susilowati (@yurizkisusilo)

3 Januari 2015

 

Supernova: Debut Dee yang Bikin ‘Gila’

DEE pegang partikel

Dewi Lestari, dikenal dengan nama Dee, lahir 20 Januari 1976 di Kota Kembang, Bandung. Berkarir sebagai penulis, merupakan sebuah proses yang panjang bagi Dee. Mengaku hobi menulis sejak kecil, Dee bahkan masih mengingat kali pertama dirinya menulis. Saat umur 9 tahun, Dee menulis cerita di buku tulisnya, tentang gadis cilik bernama Fluegel yang mendamba kuda poni. Lalu, ceritanya ia beri judul, Rumahku Indah Sekali. Dee lantas membayangkan, buku tersebut berhasil diterbitkan dan memenuhi rak-rak toko buku yang sering dirinya kunjungi.

Hobi menulis Dee ia bawa sampai ke bangku SMP. Ia mulai suka menulis cerpen remaja, dan coba-coba mengirimkannya ke beberapa majalah. Tak jarang pula, Dee menjajal peruntungan di berbagai lomba menulis. Namun, antusiasmenya belum membuahkan hasil kala itu. Karena berbagai alasan, tulisannya masih gagal tembus pemuatan. Semangat Dee mengendur, ia lantas hanya menulis untuk ditunjukkan ke orang-orang terdekatnya saja.

Sempat pada tahun 1993, Dee tergerak kembali mengikuti lomba menulis artikel dari salah satu majalah terkenal di Indonesia. Saking tidak percaya diri pada tulisannya sendiri, Dee memakai nama adiknya. Tak disangka, artikelnya keluar sebagai pemenang utama. Saat ituah Dee mendapatkan semangat menulisnya kembali.

Dee terus menulis hingga memasuki masa kuliah. Meski saat kuliah dan selepasnya dari bangku pendidikan formal ia menekuni bidang tarik suara, rupanya Dee tetap produktif menulis. Saat kuliah, dirinya sempat menghasilkan beberapa cerita, seperti Perahu Kertas, Filosofi Kopi, hingga Rico de Coro. Namun, Dee pun urung mengirimkannya ke penerbit. Kurang percaya diri, katanya.

Sebuah gebrakan baru Dee torehkan memasuki tahun 2000. Pada saat itu, ia berhasil menyelesaikan manuskrip yang ia beri judul Supernova: Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh (KPBJ). Namun lagi-lagi, karena merasa kurang percaya diri dan menganggap naskahnya kurang layak terbit, Dee menerbitkan bukunya sendiri di bawah label yang ia buat, Truedee Books. Meskipun memang, pada akhirnya seluruh buku yang ia terbitkan dinaungi oleh Bentang Pustaka.

KPBJ menjadi perwujudan mimpi kecil Dee. Sesuai impiannya, Dee berhasil menerbitkan buku pertamanya pada usia 25 tahun, pada Januari 2001. Tanpa ia sangka, Supervoa KPBJ mendapat atensi yang luar biasa. Novel debut Dee ini masuk dalam jajaran buku terlaris, yang penjualannya mencapai 7000 eksemplar dalam kurun waktu empat belas hari.

Mendapat suntikan semangat yang luar biasa dari keluarga, teman, dan penggemarnya, Dee terus memompa produktivitas menulis. Ide-ide liar ia tuangkan dalam mozaik-mozaik Supernova lainnya. Maka, terbitlah pada tahun 2002, Supernova: Akar. Dua tahun berikutnya, Supernova: Petir berhasil Dee ‘lahirkan’ dengan tak kalah gempar.

Di sela membuminya seri Supernova, Dee juga menuangkan ide gilanya yang lain untuk melanjutkan antologi cerpen dan puisi yang sempat ia buat, Filosofi Kopi. Karya Dee yang satu ini, diracik dari buah pena yang ia tuliskan sejak tahun 1995 hingga 2005. Tak tanggung-tanggung, pada tahun 2006 Filosofi Kopi diterbitkan, pada tahun itu pula buku ini dinobatkan sebagai Karya Sastra Terbaik oleh majalah Tempo, sekaligus menjadi lima besar Khatulistiwa Literary Award.

Menyusul kemudian karya Dee lainnya, Rectoverso. Karya ini mengobati kerinduaan Dee pada musik. Pasalnya, sebelas cerpen yang menghuni Rectoverso dikemas dari pengalaman audio  (musik), visual (ilustrasi), serta sastra itu sendiri.

Tak hanya itu, pada tahun 2008, Dee juga sukses menerbitkan cerita fiksi populer, Perahu Kertas. Kisah yang ia garap ulang sejak kali pertama ditulis tahun 1996 ini, merupakan pembuktian bahwa dirinya mumpuni menjadi penulis yang multigenre.

Candu Perahu Kertas lantas disusul Madre pada tahun 2011. Madre adalah kumpulan cerpen dan sastra yang Dee buat pada tahun 2007-2011, yang sukses menggondol Penghargaan Sastra Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia.

Lama tak mengabarkan Supernova membuat para penggemar Dee sangat rindu pada kisah lanjutannya. Hingga pada tahun 2012, kerinduan itu membeludak dan untunglah menemukan obatnya. Setelah dinantikan selama delapan tahun, Supernova akhirnya lahir dengan serinya berjudul Partikel. Heboh, Supernova Partikel pada saat itu bahkan naik sebagai trending topic dunia.

“Embrio Partikel, diwakili oleh tokoh utamanya, Zarah, selama delapan tahun seolah dibekukan dalam laboratorium cryogenic. Dari laboratorium cryogenic yang beku, Partikel pindah ke sebuah tempat yang saya juduli “batcave”. Semacam gua imajiner, rahim kreasi nan hangat, tempat saya menggodok, menggarap, mematangkan ide, dan mentransformasikannya menjadi kata-kata,” kata Dee.

Euforia Partikel belum juga surut saat kemudian tahun 2014, Dee memperkenalkan seri Supernova kelima, Gelombang. Lewat Supernova, baik Dee maupun penggemarnya, sama-sama tak pernah kehabisan suka cita. Supernova menjadi salah satu ide tergila Dee yang mampu menyihir pembacanya menjadi ‘gila’ pula.

@fitriafarisa

 

Nantikan Muhammad 3: Para Pewaris Hujan Januari 2016

Tasaro GK“Saya datang kemari dalam sebuah misi yang sangat penting. Saya perlu mengetahui sebanyak-banyaknya peninggalan tertulis pendeta Bahira, perihal Nabi yang dijanjikan.

Tolong saya.

Saya dalam keterburu-buruan dan kehati-hatian. Keselamatan saya menjadi taruhan. Bersama permohonan ini, saya tinggalkan cincin pusaka ini sebagai upah yang sepadan.”

Muhammad Para Pewaris Hujan, sebuah buku ketiga dari seri Muhammad karya Tasaro GK. Menurut Tasaro, “Harus ada cara untuk mengisahkan cerita Rasulullah, salah satunya adalah dengan melalui novel.” Novel Muhammad 3 ini menceritakan kisah Rasulullah dari sudut pandang Kashva yang melakukan perjalanan ke seluruh dunia mengenai Nabi Terakhir yang telah diramalkan dalam kitab-kitab. Kitab Weda, adalah salah satu kitab yang menjelaskan bahwa siapa pun nabi terakhir, maka dia adalah seorang lelaki yang akan mengusir orang yang menggenggam hujan.

Muhammad - Para Pengeja HujanSemua Seri Muhammad Memiliki Subjudul “Hujan”

Apabila diperhatikan, semua seri Muhammad karya Tasaro GK ini memiliki kata “Hujan” di setiap subjudulnya: Muhammad 1 – Lelaki Penggenggam Hujan, Muhammad 2 – Para Pengeja Hujan, dan Muhammad 3 – Para Pewaris Hujan. Menurut Tasaro, hal ini karena kata “hujan” merepresentasikan sebuah wahyu yang diberikan pada nabi. Dalam seri pertama Muhammad, Lelaki Penggenggam Hujan, menjelaskan mengenai seorang lelaki, yang menggambarkan Nabi Muhammad, yang menerima wahyu. Kemudian kisah Rasul diteruskan dalam seri kedua Muhammad, Para Pengeja Hujan, yang menjelaskan masa Khulafaurasyidin sebagai penerus perjuangan Rasulullah. Dan seri Muhammad yang ketiga, Para Pewaris Hujan, mengisahkan orang-orang yang melanjutkan perjuangan Nabi Muhammad menyampaikan wahyu yang diterima.

Muhammad 3: Para Pewaris Hujan

Seri ketiga Muhammad ini akan diterbitkan pada Januari akhir 2016. Apa yang akan disampaikan Tasaro GK dalam buku ini? Cek videonya Muhammad 3: Para Pewaris Hujan – Tasaro GK.

(L. Augusteen)

My Wedding Dress Terbuat dari Traveling, Arsitektur, dan Coldplay

Processed with VSCOcam with c1 preset
Processed with VSCOcam with c1 preset

Beberapa kali menerbitkan buku bergenre remaja, Dy Lunaly akhirnya menulis buku lini dewasa. Dy terbukti berhasil keluar dari zona nyaman, dengan ‘melahirkan’ buku terbarunya berjudul My Wedding Dress. Buku ini amat spesial di mata Dy. Sebab, My Wedding Dress tak hanya novel pertamanya yang bergenre dewasa, tetapi juga merupakan novel yang ditulis Dy dari hal-hal yang ia sukai.

Dy yang mengaku hobi traveling, merasa sangat senang menulis My Wedding Dress yang pada dasarnya bercerita tentang perjalanan traveling tokoh utamanya, Abby dan Wira. Dalam novelnya, Dy bisa sepuasnya menuliskan pengalaman pribadi travelingnya di Penang dan Singapura, yang dikemas sebagai cerita traveling dua tokoh utama.

“Sejak pertama kali berkunjung ke Penang, aku jatuh cinta sama kotanya. Disuruh sering-sering ke sana juga mau!” Celetuk Dy.

Dalam My Wedding Dress, Penang menjadi kota yang pertama kali mempertemukan Abby dan Wira. Kota saksi perjalanan Abby dan Wira melukis hari-hari baru mereka. Segala tentang Penang, mulai dari bus Rapid Penang, Bazaar Chowrasta, Penang Hill, bahkan perkampungan Clan Jetties, menyimpan kenangan kebersamaan Abby dan Wira.

Belum lagi dengan kesenangan Dy terhadap arsitektur. Dy secara leluasa mengorek arsitektur berbagai tempat yang dijumpainya, dan didiksikan dalam My Wedding Dress. Tak hanya itu, Dy yang merupakan fans berat Coldplay, puas karena pada akhirnya berhasil menyisipkan lagu Fix You di dalam novel terbarunya.

Perpduan Penang dan Singapura, arsitektur, dan Fix You, menarik bukan?

@fitriafarisa

Semoga Kita Berjodoh di Bandung

jodoh talkshow bandung

Pergi adalah melanjutkan kehidupan lain yang pelan-pelan meniadakan kehadiranku di sini,

di sampingmu.

Tetapi, aku tidak akan sepenuhnya pergi,

hanya tidak lagi menjadi bagian dari peristiwa-peristiwa yang kamu alami dalam hidup milikmu.

Setelah sukses menggelar Launching Jodoh di Plaza Senayan, Jumat (18/12) lalu, Fahd Pahdepie tidak benar-benar pergi. Fahd terus tinggal dan terkenang di hati para pembacanya, lengkap dengan rangkaian kalimat indah yang ditulisnya.

“Man jadda wa jodoh, siapa yang bersungguh-sungguh, ia akan berjodoh,” ulang Fahd untuk yang kesekian kali, mengingatkan pembacanya akan rahasia romantis Tuhan bernama jodoh.

Tak henti-hentinya, Fahd menyatakan harapan untuk bisa berjodoh dengan seluruh pembaca dan penggemarnya di mana pun mereka berada. Dan, tiba pula saatnya Tuhan seiya satu kata dengan harapan.

Berbahagialah penggemar Fahd di Kota Kembang, Bandung. Sebab, pada Minggu, 27 Desember 2015 mendatang, Fahd akan menyapa penggemarnya dalam Talkshow dan Booksigning Jodoh. Bertempat di Gramedia Merdeka, Bandung, Fahd akan berbicara tentang jodoh dan cinta, dua keindahan yang lekat dalam kehidupan manusia. Acara akan dilangsungkan pukul 14.00-16.00, terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya.

Mari, bersua dengan jodohmu! Karena barang siapa yang bersungguh-sungguh, ia akan berjodoh. Man jadda wa jodoh!

@fitriafarisa

Buku Terbaik 2015 Versi Situs Mojok.co

Mojok.co LogoJika kamu pernah mampir atau sedikit nimbrung dalam Mojok.co, pasti tidak asing lagi dengan slogan Sedikit Nakal Banyak Akal yang akan dengan mudah ditemui dalam website-nya. Memang benar, Mojok.co sempat menulis sebuah artikel berjudul Lima Buku Terbaik 2015 yang ditulis oleh Arman Dhani pada 21 Desember 2015 lalu. Menurutnya, kelima buku terbaik versinya adalah Go Set a Watchman – Harper Lee, Melihat Api Bekerja – M. Aan Mansyur, Si Janggut Mengencingi Herucakra: Kumpulan Cerita – AS Laksana, Ekofenomologi: Mengurai Disekuilibrium Relasi Manusia dengan Alam – Saras Dewi, dan yang pertama adalah Kambing dan Hujan – Mahfud Ikhwan.

Jangan kau hanya membaca bacaan seperti kebanyakan orang baca, kau hanya akan mampu berpikir seperti yang mereka pikirkan.” – Dedik Priyanto.

Dengan mengutip kata mutiara dari Dedik Priyanto, rupanya baru sehari artikel Lima Buku Terbaik 2015 yang ditulis Arman Dhani nangkring di Mojok.co, besoknya sudah ada peristiwa berjudul Buku Terbaik 2015: Sebuah Alternatif untuk Arman Dhani yang ditulis oleh Dedik Priyanto. Inti yang tersirat dalam peristiwa itu adalah bahwa menurut Dedik, beberapa tulisan Dhani keliru menilai buku yang pantas dikatakan lima terbaik tahun ini. Karena menurut Dedik, karya Harper Lee yang berjudul Go Set a Watchman perlu ditilik kembali.

The-Innovator-depanMeskipun begitu, rupanya Dedik sepakat dengan pernyataan Dhani bahwa buku bagus adalah buku yang cara menyajikannya juga menarik, selain isinya tentu saja. Oleh karena itu, berikut daftar lima buku terbaik versi Dedik Priyanto:

  1. Startupedia – Annis Uzzaman
  2. Kamu: Cerita yang Tidak Perlu Dipercaya – Sabda Armandio
  3. Identitas dan Kenikmatan – Ariel Heryanto
  4. The Innovators – Walter Isaacson
  5. Tidak Ada.

Walaupun begitu, terima kasih kepada Mojok.co. Karena apa pun artikel yang kawan-kawan Mojok.co buat, kawan-kawan tetap memasukkan buku-buku terbitan Bentang Pustaka menjadi Lima Buku Terbaik 2015. Sukses terus Mojok.co.

(L. Augusteen)