Ketika Tuhan Berhenti Menghitung

Pemenang SUAKisah ini terinspirasi oleh pemenang utama #SuratUntukAyah, Andiena Shanty.

Siapa yang pernah berpikir bahwa keinginan kita akan menjumpai kita di masa depan dengan menggantungkan kita di masa kini?

Lalu, apakah kita akan terpengaruh oleh masa kini dan berdiam dalam durja?

Sedari tahun 2014, Andiena, sangat ingin ke Belitung. Ia bahkan menggambarkannya dalam SHPKB (Skala Hasrat Pengen Ke Belitung) dari jangkauan 1-10, dia berada di angka 11.

Hingga akhirnya menurutnya apa yang dikatakan Amiru kepada Sabari benar terbukti:

Tuhan selalu menghitung, dan suatu ketika Tuhan akan berhenti menghitung 

Nah, mau tahu kan bagaimana inginnya Andiena untuk ke Belitung? Untuk lebih lengkapnya yuk mampir ke blognya: http://andienashanty.blogspot.co.id/2015/09/apakah-tuhan-akan-berhenti-menghitung.html

Indonesia Mampir ke Frankfurt Book Fair 2015 loh!

FrankfurtFrankfurt Book Fair 2015 merupakan pameran buku terbesar di dunia. Ini sudah menjadi tradisi yang berlangsung selama puluhan tahun. Menariknya, setiap tahun, sebuah negara atau wilayah akan diundang ke Frankfurt, Jerman. Hal ini diselenggarakan untuk lebih memperkenalkan budaya, tradisi literatur, serta industri buku ke masyarakat internasional.

Di tahun 2015, Indonesia mendapatkan kehormatan untuk menjadi Guest of Honour (tamu kehormatan). Dalam rangka menyambut Indonesia Goes to Frankfurt Book Far 2015, maka diluncurkanlah sebuah blog Indonesia Goes to Frankfurt yang mana melibatkan Kementerian-kementerian RI, Goethe Institut, Frankfurt Book Fair, Komite Penyelenggara Nasional (yang akan dibentuk), PerpusNas, IKAPI (Ikatan Penerbit Indonesia), Yayasan Lontar,penulisdanpenerbit (dariberbagai genre: fiksi, non-fiksi, komik, bukufoto, dll), editor, penerjemah, dan pihak-pihak lainnya.

Jika Indonesia saja sudah mengglobal dalam halnya kecintaan akan dunia literatur, apakah cinta kamu juga akan mengglobal?

Inilah Awal Kelahiran #TenagaKerjaIstimewa

cover tki

Berawal dari obrolan iseng bersama teman-teman masa kuliah di chat room Facebook, Naiqueen akhirnya menemukan ide untuk menulis sebuah cerita tentang Pangeran Arab Saudi. Obrolannya iseng, seputar wajah-wajah pria eksostis dari India dan Timur Tengah, hingga seorang pangeran Arab Saudi yang diklaim sebagai Pangeran tertampan. Keisengan ini akhirnya mendorong Nai segera membuat plot cerita tentang gadis Indonesia dan Pangeran Arab Saudi yang tampan, yang kemudian kisah ini ia beri judul Tenaga Kerja Istimewa (TKI).

Ditulis pertama kali sejak Juli 2009, Nai mengaku, 3 bulan setelahnya saat sampai ke part 6, ia berhenti menulis karena imajinasinya yang terlampau liar. Titik fokus Nai sendiri memang pada Pangeran Arab Saudi, yang kemudian diberi nama Pangeran Yousoef. “Dalam imajinasi saya, pangeran tersebut harus super super super W-O-W,” katanya dengan antusias. Nai juga mengibaratkan Pangeran Yousoef seperti gunung es dan Rapunzel, dingin dan seperti terpenjara dalam menara gading. Tak menjejak realitas hingga Annisa, si Tenaga Kerja Indonesia, menarik paksa Pangeran Yousoef dari dunianya. “Itulah kenapa saya membuat adegan Annisa pertama kali melihat Ucup (sapaan akrab Pangeran Yousoef) ketika sang pangeran sedang melamun di balkoni kamarnya,” lanjutnya sambil terkekeh. Pada karakter Annisa sendiri, Nai mengaku tidak menggalinya terlalu dalam. Ia hanya ingin menampilkan sosok yang berusaha bertahan dalam keterpaksaan, ketakutan, namun memutuskan untuk menghadapinya.

Ketika dibagikan ke Wattpad, Naiqueen mengaku TKI masih dalam wujud yang berantakan. Ia berharap mendapat kritik dan saran dari pembaca agar karyanya dapat disukai dan memuaskan pembacanya. “Karena saya selalu merasa, TKI bukan milik saya saja. TKI adalah milik semua orang yang memberikan kontribusi di dalamnya,” tuturnya.

@fitriafarisa

Sejumlah Komikus Ramaikan Indonesia Tanpa Asap

IMG-20150918-WA0000IMG-20150921-WA0001

Kabut asap kembali menyelimuti langit Indonesia. Sejak awal September 2015 lalu, kabut asap mengepung sejumlah daerah di Jambi, Riau, dan Pekanbaru, Batam, Aceh, Palembang, hingga Medan. Bulan September ini menjadi kali kedua Indonesia diserang kabut asap setelah pada Februari 2015, lalu negeri ini mengalami peristiwa serupa. Tak hanya tahun 2015, 2014 juga tercatat sebagai tahun bumi Indonesia dilanda kabut asap berbahaya. Bahkan, di Riau, kabut asap telah berlangsung sejak 17 tahun lalu.

Persitiwa ini seakan sudah akrab di telinga masyarakat Indonesia. Bahwa negeri ini memang sangat aktif memproduksi kabut asap berbahaya akibat amukan kebakaran hutan. Dan seantero warga, menjadi langganan setia menghirup udara yang jelas sangat berbahaya.

Akibatnya, Indonesia melahirkan generasi-generasi tak sehat yang terkena ISPA. Tak hanya itu, sejumlah kerugian terus bermunculan, seperti kerugian material, gangguan jam penerbangan, gangguan jaringan komunikasi, dan masih banyak lagi.

Peristiwa ini mengundang keprihatinan dari sejumlah pihak, termasuk para komikus Indonesia. Komikus Indonesia beramai-ramai membuat ilustrasi yang mengkampanyekan Indonesia sehat tanpa asap. Dhany Pratama, Digidoy, Sandy P. U, Rizki Goni, dll, berbondong-bondong meramaikan sosial media mengkampanyekan Indonesia tanpa asap.

“Kami membuat ilustrasi ini sebagai bentuk empati bagi sejumlah daerah yang terkena kabut asap, khususnya di Sumatera. Harapannya, dengan kampanye seperti ini, pihak-pihak terkait dapat segera menuntaskan permasalahan krusial ini,” terang Sandy P. U, kreator Komik Tomo dan Tama.

@fitriafarisa

Sejumlah Penulis Bentang Pustaka Lolos ke FBF 2015 Mendatang

Indo goes to FBF 2015

Kabar gembira bahwa Indonesia menjadi tamu kehormatan di Frankfurt Book Fair 14-18 Oktober 2015 mendatang bukan lagi kabar burung. Prestasi yang dicapai Indonesia ini merupakan buah dari gemilangnya tulisan-tulisan karya putra-putri bangsa. Tak mudah bagi seorang penulis atau badan penerbitan meloloskan karyanya untuk dipamerkan di FBF.

Seleksi karya dimulai sejak tahun 2014 lalu. Pada tahap awal, Komite Nasional Indonesia meminta para penerbit dan penulis mengirim karya mereka yang dianggap layak dan patut diterjemahkan ke dalam bahasa asing. Hingga awal tahun 2015, para penulis dan penerbit terus bersaing meloloskan karya masing-masing.

Karya-karya yang terkumpul lantas dikelompokkan sesuai dengan kategori, kemudian dinilai oleh tim independen yang ahli dalam bidang tersebut. Tak hanya dinilai dari kualitas isi, untuk dapat lolos dari seleksi ini, tim penilai menetapkan sejumlah syarat dan ketentuan.  Syarat utamanya, karya penulis telah atau sedang diterjemahkan dalam bahasa asing. Selain itu, karya yang dipilih harus mewakili keragaman tema, jenis karya dan kategori karya. Di samping itu, masih ada sejumlah pokok yang menjadi bahan pertimbangan tim penliai, di antaranya:

1. Karya diciptakan oleh warga negara Indonesia dan hak ciptanya berada di tangan pengarang atau penerbit Indonesia;

2. Karya merupakan karya asli, bukan terjemahan ataupun saduran;

3. Karya tidak mengandung hasutan dan kebencian suku, agama, ras, dan antar golongan;

4. Karya tidak dalam status persengketaan hak cipta dan hak penerbitan;

5. Karya sudah terbit dalam bentuk buku (cetak atau digital) atau pernah terbit di media (koran, jurnal, dsb.);

6. Diutamakan adalah karya yang mencerminkan keindonesiaan.

Dari proses seleksi yang panjang dan ketat tadi, terkumpul 2000 judul buku yang dinilai, dan Komite Nasional pada akhirnya meloloskan 200 judul buku untuk dibawa ke FBF 2015. Tak mau ketinggalan, sejumlah nama penulis Bentang Pustaka lolos ke FBF 2015 mendatang, di antaranya, Abidah El Khalieqy, Andrea Hirata, Dewi Lestari, Eka Kurniawan, Seno Gumira Ajidarma, Sapardi Djoko Damono (kategori buku sastra dan fiksi), dan Wahyu Aditya serta Trinity (buku non fiksi).

 @fitriafarisa

Pesona Tenaga Kerja Istimewa di Mata Editor

Novel Tenaga Kerja Istimewa (TKI) telah menjadi fenomena baru di tanah air. Setelah memikat lebih dari 1,6 juta pembacanya di Wattpad.com, Bentang akhirnya memenuhi permintaan para pembaca untuk menerbitkan naskah yang ditulis oleh Naiqueen dalam bentuk buku.

Meskipun di dunia maya sudah mendulang banyak pembaca, proses penerbitan buku ini tetap melalui proses editing yang ketat. Seperti apa pengalaman editor Bentang mengedit Tenaga Kerja Istimewa, simak penuturan Dila Maretihaqsari, editor fiksi Bentang Pustaka, berikut ini.

Apa menariknya cerita TKI hingga dibaca sampai 1,6 juta pembaca?
Cerita cinta tentang perbedaan yang besar pada karakternya selalu menarik perhatian.  Diceritakannya juga dengan bahasa yang puitis khas Naiqueen. Yang bikin menarik lagi, ini settingnya di Arab Saudi, tokohnya seorang TKI (Tenaga Kerja Indonesia) pula. Hampir nggak ada cerita roman populer yang seperti ini. Karakter utamanya juga kuat dan memikat, Annisa dan tentu aja Pangeran Yousoef, atau panggilan sayang para pembaca ((Pangeran Ucup)) :)))).

TKI itu bercerita tentang apa sih?

Bercerita tentang Annisa, seorang TKI yang menikah secara paksa dengan pangeran dari keluarga bangsawan Arab. Ceritanya menarik banget, tentang perbedaan latar belakang, budaya, ekonomi, juga karakter. Semuanya itu akan bikin pembaca sulit berhenti baca sebelum halaman terakhir 😀

Mengapa Bentang menerbitkan TKI?

Selain karena ceritanya unik dan menarik, tentu saja. Juga karena permintaan yang besar dari para pembaca setia Naiqueen di akun Wattpadnya. Permintaan untuk diterbitkan, biar bisa dibaca lebih banyak orang.

Ceritakan dong proses sampai ketemu TKI

TKI udah jadi obrolan hangat di setiap rapat redaksi. Kabarnya novel itu memang booming banget di Wattpad. Para editor pun akhirnya ngikutin ceritanya. Sama kayak para pembaca militan yang membanjiri kolom komen di Wattpad, editor setuju ceritanya emang menarik dan nagih banget. Saat mau menghubungi Naiqueen, ternyata doi udah kirim email ke Bentang mengajukan naskahnya. Nah, jodoh kan ya! :). Lalu, saya hubungi Naiqueen bahwa naskahnya kami terima dan nawarin kontrak penerbitan. ibanget dengan responsnya Naiqueen, doi juga excited banget! 🙂

Ceritakan juga dong proses edit buku ini

Proses editing TKI cukup “njelimet” juga. Ada beberapa bagian yang harus disesuaikan, diriset ulang, dan diperjelas agar logika cerita makin mantap. Misalnya, tentang studi Pangeran Yousoef di London. Dia jadi…*ah sudah deh, pasti lebih asyik baca sendiri, hehe*. Naskah ini dipegang oleh dua editor, saya dan Ika Yuliana Kurniasih. Proses editing, meski bolak-balik penulis editor, tetap berjalan lancar. Ini karena Naiqueen sangat kooperatif dalam proses revisi, tepat deadline, fast response dalam diskusi, dll. Kami melakukan semua proses itu via surel :). Overall, pengalaman mengedit TKI sangat seru dan menyenangkan :). Semoga buku ini bisa sampai ke tangan banyak pembaca 🙂

Cak Nun dalam Seri Ilmu Hidup

istriku seribuPernahkah kau temukan manusia yang menjadi muara bagi begitu banyak penderitaan, keluhan dan kemarahan dalam hidup? Manusia yang dengan rela menjadi kubangan dimana segala derita tertumpah? Manusia yang dengan ikhlas menjadi tempat sampah bagi seisi bumi?

Jika belum, maka kukenalkan padamu laki-laki ini, laki-laki yang menjadikan semesta sebagai istrinya. Namanya adalah Cak Nun. Ia adalah laki-laki sederhana yang mengisi hari-harinya dengan berkeliling dari tempat ke tempat, menghibur mereka yang susah. Membela mereka yang tertindas. Menjadi teman bagi semua manusia, apapun jabatannya, profesinya, maupun keadaan jiwanya.

Seribu istrinya yang berada di seluruh dunia, di seantero pelosok bumi, menjadi kecintaannya. Maka Cak Nun rela, menjadi tempat sampah bagi keseluruhan istrinya itu. Semata bagi cintanya pada Yang Satu. Hanya Ia Yang Satu lah kemana cinta sejatinya berlabuh.

Bentang Pustaka kini menghadirkan kembali kepadamu karya dan buah pikir dari Cak Nun, yaitu Istriku Seribu, yang mengungkap fenomena poligami, monopoligami, ataupun polimonogami. Fenomena ini diungkap melalui perdebatan menarik antara Yai Sudrun dan Cak Nun. Istriku Seribu ini termasuk dalam paket seri ilmu hidup yang akan diterbitkan oleh Bentang Pustaka. Paket Seri Ilmu Hidup ini dapat menjadi dayung bagi perahumu yang sedang mengarungi lautan kehidupan yang pelik dan penuh gelombang. Agar tidak ada lagi, perahu-perahu yang tenggelam dan karam terlalu cepat.

Talitha Fredlina Azalia

Hadi Susanto: Putra Lumajang Mengajar di Inggris

Hadi SusantoPria dengan tampilan sederhana dan senyum yang menyenangkan itu bernama Hadi Susanto. Seorang putra daerah Lumajang yang berhasil memutar balik hidupnya hingga kini ia berhasil menjadi salah satu pengajar di universitas essex, di Inggris.

Hadi Susanto terlahir di Desa Kunir Kidul, Lumajang. Ia tidak berasal dari keluarga yang berada. Akan tetapi Hadi Susanto memiliki semangat untuk menuntut ilmu yang lebih daripada kawan-kawan sebayanya. Ia dikaruniai kejernihan berpikir dan semangat yang membara. Dua modal inilah yang membawanya terus menerus menuntut ilmu hingga kini. Dalam berbagai keterbatasannya, Hadi Susanto justru termotivasi untuk semakin giat menuntut ilmu dan membalikkan kondisi hidupnya. Hal ini ia buktikan dengan usaha kerasnya untuk bertahan hidup ketika ia melanjutkan studinya di ITB. Mengalahkan rasa malu dan gengsi, Hadi Susanto berjalan-jalan di sekitar hotel dengan pakaian rapi setiap hari minggu dan sabtu demi mendapatkan makanan gratis di acara nikahan yang sedang diselenggarakan, meski ia tidak mengenal siapa si pemilik hajatan tersebut. Selain itu, Hadi Susanto juga mengisi waktu kuliahnya dengan kerja sambilan demi memenuhi kebutuhan hidupnya, orangtuanya di Lumajang, dan menutup biaya kuliah adiknya.

Kerja keras Hadi Susanto tidak hanya dalam persoalan bertahan hidup, Ia juga bekerja keras dalam menuntut ilmu. Ia percaya bahwa hak pelajar dan mahasiswa adalah untuk mendapatkan ilmu sebanyak-banyaknya dari tenaga pengajar kapanpun dan dimanapun. Hak itu ia manfaatkan semaksimal mungkin dengan sering-sering nongkrong di ruang guru maupun ruang baca dosen. Hadi Susanto adalah pelajar yang sadar penuh bahwa belajar bukanlah kewajibannya melainkan haknya. Dan belajar akan terasa lebih menyenangkan ketika kita tidak menganggapnya sebagai beban kewajiban yang harus dipenuhi.

Kisah-kisah menarik dan inspiratif mengenai hidup Hadi Susanto dan cintanya terhadap Tuhan dan Matematika kini telah tertuang dalam sebuah buku kumpulan esainya yang berjudul Tuhan Pasti Ahli Matematika.

 

Talitha Fredlina Azalia