Ayo Terbitkan Naskah Komikmu

Komik

 

Bentang Komik Membuka kesempatan kepada para komikus Indonesia untuk menerbitkan karyanya di Penerbit Bentang Pustaka. Berikut syaratnya.

  • Kirim komik minimal 1 chapter (20-30 halaman). Komik lengkap lebih disuka.
  • Tema bebas, boleh fiksi atau nonfiksi
  • Boleh karya perorangan atau kompilasi
  • Tidak vulgar atau mengandung pornografi dan tidak memicu konflik SARA.
  • Sinopsis cerita (sinopsis lengkap sampai ending)
  • Cerita dan karakter komik harus orisinal, bukan hasil menjiplak atau melanggar hak cipta.
  • Sertakan biodata atau portfolio
  • Bidang cetak komik adalah 13.5 cm X 20 cm (portrait, western binding)
  • Kirim preview komik dalam format PDF ke alamat email:
    bentang.pustaka@mizan.com dengan subject Naskah Komik.

Mendidik Ikan Terbang

Beberapa hari lalu saya, dan banyak orangtua lainnya, menerima undangan pengumuman hasil belajar ujian tengah semester yang diolah berdasarkan kurikulum 2006. Undangan ini tentu dimaksudkan sebagai sistem evaluasi sekolah terhadap anak didik yang perlu diketahui orangtua. Semua nilai disusun, dan setiap anak diurutkan berdasarkan jumlah total yang diperoleh siswa dari semua mata pelajaran dimulai dari nilai paling besar. Yang paling buncit, meskipun tidak disebutkan paling bodoh, dimaklumi bersama sebagai anak yang kurang kompetitif dibandingkan puluhan teman lainnya.

Selama menunggu hasil evaluasi anak-anak, pihak sekolah berinisiatif menghadirkan profesional pelaku pendidikan yang memberikan perspektif belajar. Sayangnya, karena pemateri berafiliasi dengan lembaga pendidikan tertentu, metode pendidikan pun dikustomisasi berdasarkan teknik dan trik tertentu dalam menyelesaikan soal. Fokus yang berlebihan pada cara menjawab soal ini konon ditengarai menjadi penyakit pendidikan anak-anak kita sejak tingkat dasar. Mereka hanya perlu menjawab soal dengan benar, bukan memahami soal dengan benar.

Paulo Freire, tokoh pendidik yang membebaskan, melakukan kritik tajam bahwa dalam situasi di mana guru mengajar dan murid menerima pengetahuan, guru mengajar dan murid mendengarkan, mencatat dan mengingat, tak ubahnya sistem perbankan. Guru yang melakukan deposit, menyimpan sejumlah barang berharga, materi pengetahuan dan murid yang menerimanya. Atau, yang lebih buruk murid hanya semacam kontainer atau wadah yang melulu menerima apa pun yang diajarkan oleh gurunya. Apakah narasi ini keliru?

Orang Jujur Tidak SekolahKritik Freire sesungguhnya ditujukan pada tidak adanya interaksi yang komunikatif antara guru dan murid. Sebab, pembelajaran yang sesungguhnya adalah mengeluarkan potensi terbaik anak didik yang sayangnya tidak semua nyaman dan berbakat dalam pelajaran eksakta saja. Matematika itu hanya satu kemampuan di antara banyak kemampuan lainnya. Siswa yang senang menulis dan meracik puisi, yang pandai dalam olah tubuh, berbakat dalam bermain musik dan banyak kemampuan lainnya seringkali agak terabaikan. Maka tidak heran jika olimpiade sains sering kali lebih bergaung dan lebih memiliki pamor dibandingkan kemampuan lainnya yang dikompetisikan, misalnya.

Dalam metode pendidikan modern, Howard Gardner, penulis yang mencetuskan gagasan kecerdasan majemuk itu sejatinya menunjukkan jalan keluar memecahkan kebuntuan pendidikan yang lebih mengapresiasi wilayah otak kiri. Gardner memberikan harapan bahwa anak-anak kita terlahir spesial dan dalam diri mereka mengandung kecerdasan-kecerdasan spesifik yang berbeda dengan anak-anak lainnya. Contoh yang jamak kita baca adalah seekor ikan yang diajarkan kemampuan terbang seperti burung akan mengutuki sisa hidupnya sebagai makhluk yang bodoh!

Melalui kecerdasan majemuk, sebagai orangtua, kita dituntut untuk melihat kemampuan special setiap anak. Perlahan domain kecerdasan beranjak dari Intellectual Quotient (kecerdasan kognisi/intelektual) kepada Emotional Quotient (kecerdasan emosi). Perpindahan paradigma ini sekaligus menandai pentingnya kecerdasan yang berada dalam domain otak kanan setelah sekian lama didominasi oleh otak kiri. Meskipun sayangnya, Ibarat atlet, matematika tetap dilombakan sebagai salah satu dari 3 mata pelajaran utama untuk semua anak sekolah dasar di seluruh Indonesia. Maka siklus ikan belajar terbang pun setiap tahun berulang. Dan di banyak sekolah di mana para pendidiknya merasa siswa banyak yang tidak berbakat dalam matematika, mereka mengizinkan siswa mencontek atau lebih parahnya membagikan kunci jawaban sebelum ujian.

Maka, sedari dulu saya takjub dengan cerita Gadis Kecil di Pinggir Jendela. Kisah tentang seorang murid bernama Toto Chan yang menginspirasi metode belajar yang menarik. Di dalam kelas itu siswa belajar sambil bermain dan setiap anak memenangkan hal-hal istimewa sesuai kemampuan masing-masing. Sebagai orangtua tentu kita berharap sekolah memberikan yang terbaik untuk menarik keluar seluruh kemampuan terbaik anak-anak kita. Akan tetapi, sikap kita sebagai orangtua juga perlu dikoreksi, apalagi ketika kita merasa mampu membayar semua biaya pendidikan dan menyerahkan hasilnya semata pada sekolah dan atau lembaga pendidikan di luar sekolah. Perspektif yang benar, mula-mula, orangtua ikut bertanggung jawab dan terlibat agar anak-anak kita merasa nyaman dan gembira ketika sekolah, dan bukan diseret dari satu kursus ke kursus lainnya.

@salmanfaridi

Gajah dan Dendam Si Batu

Perempuan Patah HatiEka Kurniawan, seorang sastrawan muda Indonesia yang produktif. Bulan Maret ini, satu kumpulan cerita pendeknya terbit di Bentang Pustaka, berjudul “Perempuan Patah Hati Yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi”.

Eka Kurniawan mengambil kata-kata yang indah dan merangkainya. Tokoh yang ia gunakan pun tak dapat ditebak. Hampir setiap tokoh yang digunakan mengandung makna dan filosofi tersendiri. Seperti Gajah dan Si Batu. Siapa sangka, Eka Kurniawan mengambil sudut pandang yang jarang sekali manusia memikirkannya. Jangankan memikirkan, terlintas saja pun tidak.

Mulai dari cerita Gajah. Jika hanya membacanya sepintas tanpa mendalami maksud dan makna didalamnya, mungkin cerita ini terkesan sadis. Bagaimana tidak? Bayangkan saja, ada dua orang kakak beradik yang dengan polosnya memotong-motong tubuh Gajah hingga bisa dimuat ke dalam kulkas.

Begitu pula dengan cerita Dendam Si Batu. Dalam cerita ini terlihat sekali kepandaian Eka Kurniawan dalam mengambil sudut pandang. Si Batu, yang menyimpan dendamnya hingga puluhan tahun, menyimpan banyak sejarah manusia. Satu hal yang perlu disyukuri oleh manusia terhadap si batu adalah manusia bisa bergerak dan bisa meluapkan emosinya kapan saja.

Sungguh, saya tersindir ketika membaca cerita si batu yang menyimpan dendamnya, bahwa sejatinya, rasa dendam tak akan ada habisnya jika terus disimpan dan dibalas. Tapi itulah batu, ia pendendam yang tabah.

Alfina Rahmatia, @alfinrahmatia