Diskusi Komik ala Angkringan Komik

Mesin waktu.

Ingat Sailormoon atau Doraemon? Hampir semua generasi 90-an, seperti saya tentunya, dibesarkan dengan sederetan judul komik Jepang yang memang pada masa itu budaya pop Jepang sedang berjaya di Indonesia melalui komik dan anime-nya. Kemudian, saat era 90-an berakhir dan berganti menjadi era millenium, budaya pop dari negara lain pun semakin giat memasuki Indonesia, misalnya saja Korea. Tidak hanya drama, pada masa itu pun kita sudah bisa melihat komik-komik dengan nama komikus asal Korea meski jumlahnya belum banyak dan masih berada di rak yang sama dengan komik Jepang. Tentu saja fenomena masuknya budaya asing ke Indonesia tersebut, khususnya komik, membuat perjalanan komik-komik Indonesia semakin tertatih-tatih di negara sendiri.

Back to … 2014.

Tapi menurut saya pribadi, yang namanya fenomena pasti mengalami perubahan. Begitu pula dengan tren, yang sebenarnya dibuat oleh orang dari kalangan industri itu sendiri. Dan pada 2014, perubahan terjadi di peta perkomikkan Indonesia. Dan, sebagai pemain baru di dunia perkomikkan Indonesia, Bentang Komik tentu saja tidak ingin menutup mata juga telinga tentang wacana tersebut. Karena itu di penghujung tahun ini, Bentang Komik – salah satu sub lini Bentang Pustaka – mengadakan diskusi ringan tentang komik dengan para komikus lokal wilayah Jogjakarta dan sekitarnya.

Pada Jumat lalu (19/12/14) bertempat di kantor Bentang Pustaka (Patung Kuda Park), diskusi ringan yang dinamakan Angkringan Komik tersebut berhasil mengumpulkan sekitar 35 orang komikus. Angkringan Komik edisi perdana kali ini mengangkat tema “Geliat Komik Indonesia di Tahun Kambing Kayu” dengan dua pembicara, yaitu Ahmad ‘Kickers’ Arsyad dan Ismail ‘Sukribo’. Di bawah guyuran hujan dan sempat molor sekitar 20 menitan (yah, seperti biasa … sangat jarang saya bisa menemui acara yang tepat waktu) diskusi yang dimoderatori oleh admin Ngomik.com awalnya berlangsung satu arah. Saat itu, ‘Kickers’ Arsyad dan Ismail ‘Sukribo’ secara bergantian menceritakan perjalanan mereka dari nol hingga menjadi seperti sekarang ini. Menurut saya, mereka berdua adalah salah dua dari sekian banyak contoh nyata komikus yang berangkat dari komik media massa atau medsos/portal komik online dan sukses dengan maskotnya masing-masing.

Pada sesi kedua, diskusi menjadi lebih seru karena terjadi komunikasi dua arah. Para peserta yang datang akhirnya diberi kesempatan untuk tanya jawab langsung dengan kedua pembicara. Selama kurang lebih satu jam berbagai macam pertanyaan diajukan oleh para peserta. Mulai dari pertanyaan tentang kapan sukribo dijadikan buku hingga berbagi tips bagi komikus yang ingin menembus penerbit. Diskusi semakin hangat dan kekeluargaan ketika satu gerobak angkringan datang di tengah sesi kedua.

Dari Komik Online Menjadi Komik Cetak.

Saat mengikuti jalannya acara Angkringan Komik, saya berpikir bahwa kebangkitan komik Indonesia semakin terasa di semester awal 2014 (mohon koreksi kalau saya salah), seiring dengan jaringan internet yang meluas serta penggunaan facebook yang juga semakin familiar. Ditambah lagi portal-portal komik online yang kini menjadi salah satu wadah baru para komikus untuk menunjukkan karyanya ke publik hingga akhirnya mendapat pengakuan dan apresiasi seperti yang diharapkan. Menurut saya, dengan munculnya facebook atau portal komik online justru membangun sistem baru yang tentu saja bisa dipilih oleh para komikus pemula untuk mengembangkan karya. Tidak melulu harus melalui sistem lama, yaitu membuat karya dan dikirimkan ke penerbit lalu menunggu jawaban sampai lumutan.

Sebut saja komik Tuti and Friends, Grey and Jingga, dan Arigato Macaroni!. Mereka adalah bukti nyata bahwa sistem baru sudah berlaku. Mereka besar dari komik online, lalu sekarang berubah menjadi komik cetak dan semakin dikenal luas. Begitu pula dengan komik The Last Kickers karya Ahmad ‘Kickers’ Arsyad. Berawal dari komik yang terbit berkala di portal komik online, Harian Jogja, serta Solo Pos dan sekarang sudah diterbitkan versi cetaknya oleh Bentang Komik.

Yaaah … bagi saya, facebook atau portal komik online itu agak mirip survival game. Niat, konsistensi, dan karya bagus-lah yang bisa bertahan di sana, sedangkan sisanya akan tenggelam.

2015.

Menutup sesi kedua sekaligus acara diskusi Angkringan Komik (dan juga tulisan saya kali ini), ada satu pertanyaan yang diajukan oleh salah satu peserta acara Angkringan Komik Jumat lalu dan masih saya ingat. Kira-kira seperti ini pertanyaannya:

“Seperti apa tren komik di 2015?”

“Kemungkinan tahun depan komik-komik bertema silat seperti pendekar tongkat emas akan berjaya, meski tidak menutup kemungkinan genre lain akan tetap dilirik,” ujar Ahmad ‘Kickers’ Arsyad.

Sedangkan menurut Ulil, salah satu editor komik di Bentang Pustaka, “Tahun depan akan ada banyak komik bertema silat dan superhero seiring dengan munculnya film-film bertema sejenis. Selain itu, akan ada juga komik-komik yang berasal dari film atau games.”

Oke. Bagi para komikus yang sedang dan akan membuat komik untuk 2015 … sudah ada bocoran nih tentang tren komik untuk tahun depan. Tapi, ingat! Sebenarnya, tren itu dibuat oleh kalangan industri itu sendiri. Selain itu, kini para komikus Indonesia tidak perlu lagi mengubah namanya menjadi kejepangan atau merasa terancam di tanah sendiri karena gempuran komik asing. Mari kita sukseskan dunia komik Indonesia! Dan, secara keseluruhan acara Angkringan Komik terbilang sangat menarik. Apalagi, Bentang Pustaka memang menyediakan makanan khas angkringan secara gratis, sesuai dengan nama acaranya.

Ditunggu acara menarik selanjutnya dari Bentang Pustaka dan Bentang Komik 🙂

Penulis: –Olipayoe

Masa Depan Media Sosial di Tahun 2015

SLEMAN – Keberadaan Facebook, Twitter, Path, Pinterest, Instagram, LinkedIn, Google+, Filckr, tumblr, dan sebagainya, semakin populer di tahun 2014 ini. Satu orang bisa memiliki lebih dari 1 akun media sosial. Para pengguna pun memanfaatkan media sosial dengan berbagai alasan. Ada yang menggunakan media sosial sebagai wadah untuk mencari referensi, update informasi, menjaga eksistensi, menjalin hubungan kerjasama, promosi, on line shop, mencari pasangan, dan lain sebagainya. Bahkan pernah ada pengguna media sosial Path sebagai wadah untuk menyampaikan kritik terhadap sebuah kota. Padahal sifat pengguna media sosial di jaman sekarang ini sudah lebih reaktif, dan bila ada yang mengunggah gambar atau tulisan yang sensitif, pasti akan segera menyebar secara masif. Trend instagram yang semakin melesat di tahun 2014 ini pun, juga dimanfaatkan sebagai media untuk sharing foto modeling, landscape, lokasi yang dikunjungi, kreasi do it yourself, online shop, dan sebagainya.

“Hal yang lebih menarik lagi adalah, pemanfaatan media sosial sebagai sebuah gerakan. Hastag yang bertebaran di twitter tidak lagi hanya dimeriahkan oleh ulang tahun selebritis atau slogan-slogan lucu, tetapi juga sebuah misi perubahan. Mulai dari kritik terhadap presiden, penggalangan gerakan antikorupsi, menolak reklamasi pantai, penyelamatan hutan lindung, hingga penolakan diskriminasi agama. Media sosial yang semula hanya arena hiburan berubah menjadi sebuah aksi penyelamatan,” ungkap Sekar Atika Driyaastiti promosi Bentang Pustaka.

“Bagaimanakah nasib media sosial di tahun 2015? Apakah akan semakin banyak pengguna yang memanfaatkannya? Dan media sosial yang ada ini akan dimanfaatkan seperti apa di tahun mendatang? Berangkat dari isu ini, Bentang Pustaka mengadakan acara dengan konsep sharing and gathering, ngobrol santai dengan para pengguna sosmed. Acara ini diberi nama Wedangan Inspirasi, yang bertajuk Masa Depan Media Sosial di Tahun 2015,” kata Sekar.

Dijelaskan Sekar, Wedangan Inspirasi kali ini menghadirkan Pakdhe @SenggOL, founder @JogjaUpdate & brothers. Pakdhe @SenggOL, sebagai seorang praktisi, akan membongkar twitter dari segi pemanfaatan bisnis. Juga akan hadir narasumber kedua Iwan Awaludin Yusuf, pemerhati media sekaligus Dosen Komunikasi UII. Iwan akan merangkum rekam jejak pengguna media sosial sepanjang 2014 dan pola pemanfaatannya.

Wedangan Inspirasi ini akan dilaksanakan pada jumat, 19 Desember 2014 mulai pukul 18.30– 20.30 WIB, bertempat di Patung Kuda Park (Bentang Pustaka) Jl. Plemburan No.1, Pogung Lor, RT.11, RW.48 SIA XV, Sleman, Yogyakarta.

Ahmad MAR

Sumber: suarapemuda.com

Nge-Wedangan Inspirasi #1

Kadang saya mikir, kenapa saya setahun belakangan ini saya sudah jenuh sama Twitter? Tiap ada sesuatu yang ingin saya bagi, biasanya akan melewati “penyaring dalam” yang menjadikan suatu post bakal melalui pemikiran yang nggak sebentar. Deuh, padahal ujung-ujungnya ngetweet hal-hal absurd gitu doang. Hehehe, yayaya. Bukannya mau sok-sokan, tapi nggak tau sejak kapan, Twitter dan Facebook jadi biasa aja buat saya. Akun-akun personal saya seakan menjelma jadi akun “korporat” yang isinya cuma nge-retweet dan nge-share acara kantor. Kayaknya, udah lewat lah, masanya saya gentayangan ngegalau segalanya di sana.

Lantaran udah mulai bosan sama keruwetan di Twitter, jadilah saya juga coba main-main ke Path, Instagram, dan sedikit aktif lagi di facebook (cuma buat nge-like foto bayi-bayi temen tapi). Hehe, tapi tetap aja ada titik bosannya. Suka main path di enam bulan pertama pakai aja, selanjutnya, ya, jadi Path “soto bening” lagi lah akun saya, alias sepi.

Hmmm… selain saya, ada nggak sih orang yang berpikiran sama? Apa mungkin orang-orang bakal jenuh sampai akhirnya si Twitter dan Facebook ini bakal gulung tikar macam Friendster dan MySpace?

Ternyata jawabannya ada di sini, di hajatan perdana Wedangan Inspirasi (19/12) yang diadakan Bentang Pustaka, di markas mereka di Jalan Plemburan, Sleman. Temanya mengenai masa depan media sosial di tahun 2015. Pas banget, kan, sama kegelisahan saya?

Sejak sore, saya udah ikut gabung di acara Angkringan Komik yang seru dan membuka mata kita kalau ngomik bisa membuatmu “sesubur” perut mas Mail Sukribo, salah satu pembicara sore itu. Hujan deras yang mengguyur sampai lewat Maghrib makin membuat kami betah duduk, ngobrol, jamming (yes yes, ada musik akustiknya juga lho!), sambil menyantap hidangan gratis dari angkringan yang sudah disediakan.

Di acara ini saya ketemu sama para biang, pelaku, dan para pemerhati medsos. Ada Pakdhe Senggol, pemilik akun Twitter pribadi @senggOL dan akun informasi @JogjaUpdate, yang cerita perjalanan akun informasi yang digagasnya, JogjaUpdate, sampai bisa jadi sebesar sekarang. Bukan badan Pakdhenya lhooo *ampun Pakdhe!* Beruntung karena acara ini juga kedatangan banyak wajah-wajah penasaran yang terus membombardir pembicara dengan pertanyaan. Salah satu dengan pertanyaan paling lugu yang saya dengar di hari itu, “Bagaimana cara menghasilkan uang dengan Twitter?” Sederhana, tapi ini adalah esensi dari segalanya . Ouwooo!Uang! Ouwo, lagi-lagi uang! Pertanyaan ini dihajar-bleh aja sama si Pakdhe, “Ya, berusaha bikin akun yang berkarakter dong.”

Seorang pembicara lainnya, Mas Iwan Awaluddin, pemerhati media dan dosen Komunikasi UII, ikut urun jawab di sini. Punya karakter, unik, itu pasti. Juga tentang bagaimana kita membangun interaksi dengan followers dan ngasih yang mereka butuhkan. Mas Iwan juga nambahin pemahamannya tentang 3 tipe pengguna medsos: 1). Pengguna produktif yang mengisi waktunya untuk berjualan, promosi, dan lainnya; 2). Mereka yang selo; dan, 3). Mereka yang kesepian, yang menjadikan medsos sebagai pelarian. See? Hayooo, kamu termasuk yang mana?

Mba Intan, editor Nonfiksi Bentang, selaku moderator untuk diskusi ini menjaga flow agar tiap pembicara dan penanya dapat porsi yang seimbang. Nah, giliran Mas Salman Faridi, CEO Bentang Pustaka alias tuan rumah acara ini menjawab pertanyaan tentang perlunya profesi khusus untuk menangani sebuah akun medsos. Menurut Mas Salman, akun medsos memang harus ditangani secara khusus. Makanya, meski sampai sekarang masih ada kekurangan, pemeliharaan akun ternyata sudah menjadi prioritas Bentang. Nggak bisa lagi dianggap urusan sepele, yang bisa disambi-sambi sama orang redaksi atau hrd. Bentang yang sekarang telah memiliki tim khusus untuk menangani medsos, dengan jadwal dan acara khusus setiap harinya. Followers bisa mengetahui buku apa yang akan diluncurkan, ngobrol dan membaca kultwit penulis dan editor, sampai ada lelang buku untuk seru-seruan.

Mengenai pertanyaan tentang tren medsos di tahun 2015, saya jadi ikut deg-degan ngedengernya. Twitter, masih akan bertahan, hal ini disepakati oleh Pakdhe dan Mas Iwan. Namun, mengenai penurunan aktivitas di sana, sepertinya akan menjadi tantangan para mereka yang mengais rejeki sebagai selebtweet. Pakdhe bilang juga sih, keluhan mengenai jumlah followers baru yang didapat setiap bulannya, ternyata dialami hampir semua admin Twitter termasuk JogjaUpdate. Penyebabnya? Bisa jadi, karena masih terasanya efek jenuh semrawutnya timeline kala Pemilihan Presiden 2014 lalu. Atau mungkin, karena sudah ada medsos baru yang menawarkan pengalaman berbeda, pengguna Twitter pelan-pelan pindah ke Path atau Instagram. Pakdhe Senggol juga mengakui kalau tarif menjadi buzzer di Instagram lebih tinggi dari di Twitter. “Makanya JogjaUpdate kini mulai membesarkan Instagram, kita harus peka sama perubahan.” Peka, karena tren kadang nggak bisa diprediksi. Mereka yang berkarir dengan sebuah platform harus bisa berpindah jika nanti platform itu sudah nggak lagi diminati.

“Ikutin semua itu seru, tapi nggak perlu terlalu fanatik sama satu jenis tertentu, karena semua pasti ada saat tren naik dan turunnya,” Mas Iwan menyimpulkan.

Setuju deh sama Mas Iwan, yang juga memprediksi kalau website berisi tulisan kontributor seperti Kompas.com hingga Mojok.co akan makin berjaya di tahun depan. Wih, nggak sabar panen penulis nonfiksi cihuy dari sana. Benar-benar pengalaman berkesan, menghabiskan sore dan petang di Bentang, kumpul dan ngobrol tentang banyak hal.

Well, sampai jumpa di wedangan selanjutnya. Denger-denger temanya “What HRD Wants from Fresh Graduates”. And I already got the chills! Wuahahahaa see you!

*Desain poster dan foto-foto #WedanganInspirasi oleh Tofa Wardoyo

😉

Sumber: baiqnadia.tumblr.com

Jadikan Sosmed Alat Pencetak Uang

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA – Sosial media (sosmed) ternyata tak melulu sebagai media untuk berjejaring atau berteman. Tapi juga memiliki potensi besar untuk dijadikan ‘alat’ pencetak uang.
Hal ini diungkapkan Founder akun Twitter @jogjaupdate yang akrab disapa pakde Senggol dalam diskusi ‘Wedangan Inspirasi’ di kantor Bentang Pustaka Jalan Plemburan Pogung Lor Sleman, Jumat (19/12/2014) malam.

Pria yang mengelola akun @jogjaupdate dari sekedar iseng kini mampu meraup penghasilan sampai nominal 8 digit tiap bulannya. Tapi ia enggan mengungkap angka pastinya.

Hal ini diamini Iwan Awaludin Yusuf, Dosen komunikasi UII yang turut hadir di acara ini. Dia mengatakan sekarang sosmed sudah tidak bisa dianggap main-main.

Apalagi banyak sebuah pergerakan sosial yang berawal dari isu yang dihembuskan melalui sosmed. Contohnya adalah kasus Prita, Cicak vs Buaya dan Florence di Yogya beberapa waktu lalu.

Termasuk di dalamnya adalah potensi dijadikan media untuk berbisnis. Sehingga mampu menghasilkan uang berlimpah kepada pelakunya.

Meski begitu, Iwan mengingatkan jika tren sosmed sangat cepat dan dinamis. Sehingga para pelaku bisnis online melalui media online harus peka dengan keadaan. (*)

Sumber: Tribun Jogja

Komik Cetak dan Online Ternyata Bersinergi

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN – Industri komik di nusantara kini semakin berkembang. Adanya komik online ternyata tidak mematikan komik cetak namun justru dapat maju bersama.
Perkembangan komik lokal di tahun 2014 memang makin baik dengan membludaknya komik lokal baik cetak maupun online di pasaran.

Hal ini terungkap dalam acara Angkringan Komik yang diadakan Jumat (19/12/2014) di kantor penerbit Bentang Pustaka Jalan Plemburan Pogung Lor, Sleman.

Menurut komikus asal Yogya Ahmad Arsyad, membludaknya komik saat ini karena penerbitan sekarang lebih terbuka untuk berbagai genre komik.

Arsyad yang sudah menerbitkan beberapa komik seperti The Last Kickers ini menambahkan, dirinya juga terbantu oleh tren komik online yang berkembang di indonesia.

“Komik online justru sangat membantu. Karena yang lihat komik online kita juga sering menanyakan edisi cetaknya,” tambahnya.

Acara ini juga diisi oleh Ismail seorang komikus yang menciptakan karakter ‘Sukribo’ yang sudah terbit di media massa nasional. Diisi pula oleh Ulil, editor komik di penerbit Bentang Pustaka. (*)

Tribun Jogja

Melacak Jejak Monoteisme Firaun

Mungkin agak membingungkan mencoba menghubungkan gagasan monoteisme yang berarti keyakinan kepada satu Tuhan, tanpa kehadiran tuhan lainnya dalam artefak keyakinan raja-raja Mesir yang bertabur dewa-dewi. Seperti lazim diketahui salah satu “figur” dewa paling digdaya selama masa peradaban mesir adalah Re atau Ra, sang dewa matahari. Namun, dari semua dinasti raja mesir tercatat Amenhotep IV hidup pada 1364 sebelum masehi (generasi rajamesir dinasti ke-18 pendahulu Ramesses II sang Firaun legendaris yangditenggelamkan di laut merah) yang disebut-sebut terpengaruh ajaran monoteistik. Amenhotep IV mendirikan sebuah keyakinan baru bernama Aten, bahkan pada akhirnya mengganti namanya menjadi Akhenaten yang berarti hamba Aten atau pengikut Aten.

Graham Phillips, penulis The End of Eden: The Comet That Changed The Civilization(2007) menuliskan sebuah temuan arkeologis penting Pada 1989 oleh seorang arkeolog Prancis bernama Alain Zivie terkait kepercayaan Aten. Di sebuah tempat dekat Kairo bernama Sakkara, Alain menggali sebuah kuburanperdana menteri dan pemuka agama tertinggi kepercayaan Aten bernama Aper-El.Yang mengejutkan setelah tes DNA sang perdana menteri dan wazir Aten inibukanlah suku asli Mesir, melainkan berasal dari Kanaan, yang bermuasal kepada Yakub atau Jacob, dan melahirkan keturunan Israil.

Nama Aten menjadi menarik dalam wilayah diskusi kepercayaanMesir kuno karena Aten sendiri bukanlah figur kepercayaan yang manifest dalam bentuk patung dan atau representasi lainnya yang berwujud seperti sekhmet, dewi berkepala singa dan banyak bentuk lainnya. Aten, bukan saja tidak ada wujud fisiknya bahkan melarang penyembahan kepada bentuk dan atau nama tuhan-tuhan atau dewa-dewi lainnya. Jika penamaan “tuhan” cukup relevan dan tidak mengundang perbedatan yang tidak perlu, Aten pada masa itu adalah satu-satunya Tuhan, Sementara tuhan lainnya yang dipercaya oleh banyak orang mesir adalah tuhan yang palsu dan semu. Sebagai representasi, aten hanya muncul dalam simbol berbentuk piringan atau cakram (disk).

Temuan Arkeologis Alain Zivie perihal pendeta utama bergelar Aper-El ini memastikan gagasan monoteistik kepercayaan Aten. El sendiri adalah bahasa Ibrani kuno untuk menyebut Tuhan yang satu (TheGod), sedangkan Aper-El berarti pelayan tuhan (servitor of El). Sebagai perbandingan, nama lain nabi Yakub (Jacob) a.s. yang disebut Israil mengandung kata El yang sama yang berarti Tuhan.  Israil artinya yang diperjalankan oleh Tuhan di waktu malam (mungkin menghindari kemarahan saudaranya Esau yang ingin membunuh Yakub).

Kisah Aper-El ini sedikit memberikan gambaran tentang keberlanjutan gagasan keesaan tuhan (tauhid) yang diajarkan melalui garis keturunan agama-agama Abraham atau Ibrahim dan pengaruhnya terhadap dinasti Firaun. Dalam tradisi Islam maupun Kristen jumlah rasul yang populer bertemu dengan raja-raja mesirini kurang lebih sama yaitu Ibrahim (Abraham), Yusuf (Joseph) dan Musa (Moses) beserta saudara laki-lakinya Harun. Akan tetapi ada sedikit perbedaan dalam menyebut raja Mesirmana yang bergelar Firaun. Bibble menyebutkan bahwa semua raja Mesir bergelar Firaun, sementara dalam tradisi Islam, gelar Firaun hanya disematkan padaraja-raja mesir periode kerajaan baru kurun 1500 SM. Ibrahim menurunkan Ishakatau Isaac dan dari garis ini lahirlah Yakub, Yusuf (dan keturunan Israel lainnya. Kemungkinan besar juga karena didahului oleh kepemimpinan Yusuf, penduduk suku Kanaan, yang memiliki wewenang besar dalam pemerintahan kerajaan mesir waktu itu, memberikan kemungkinan yang sama tentang peran luar biasa Aper-El, pemuka agama saat itu. Berdasarkan penanggalan Mesir saat itu, periode Yusuf (juga Musa) berada pada masa permulaan kerajaan baru sekitar tahun1552-1069 sebelum masehi (SM). Menurut catatan sejarah yang valid kerajaan mesir terbagi kepada 3 periode yaitu, kerajaan lama (2700-2200 SM), kerajaan pertengahan (2040-1674 SM), dan kerajaan baru (1552-1069 SM).

Sigmund Freud, pendiri psikoanalisis, pada 1939, menjelang akhir hayatnya, menulis sebuah karya tentang agama berjudul Moses and Monotheism yang konon sedikit mengubah pandangannya tentang agama yang dulu disebutnya secara lantang sebagai sebuah penyakit mental (neurosis) kolektif. Dalam sebuah artikel menarik, Mark Edmundson, seorang profesor sastra Inggris di Universitas Virginia menulis catatan pendek nan menggelitik yang berasal dari bukunya The Death of Sigmund Freud: The Legacy of His Last Days (2007). Menurut Edmundson, Freud dalam sikapnya yang tetap ateistik, menemukan perspektif baru terhadap agama, dan kepercayaan kepada tuhan yang tak terlihat. Menggunakan basis Judaisme, keyakinan yang sedari kecil ia dibesarkan dalam keluarganya, Freud menjelaskan bahwa keyakinan terhadap adanya tuhan membantu menemukan titik balik terhadap kehidupan batiniah, dan melahirkan kemungkinan menjalani hidup yang penuh mawas diri. Terkait Atenisme, Freud berpendapat bahwa ada kemungkinan gagasan tuhan yang satu seperti tampak pada Atenism adalah tuhan yang sama yang dipercaya olehbangsa ibrani pada masa itu (Phillips: 2007). Sebab, seperti Judaism, Atenisme mengajarkan konseptuhan yang abstrak, tuhan yang melepaskan dirinya dari cerapan indera—bahkan menolak semua citraan atas nama Tuhan. Atas hal ini Freud menyebut bahwa gagasan tuhan yang abstrak ini adalah kemenangan intelektualitas atas sensualitas. Lebih jauh, karena kepercayaan terhadap tuhan yang tak terlihat ini pula, yang membuat manusia dapat memahami dengan baik konsep abstrak seperti ditemukan dalam matematika, ilmu hukum, sains, dan seni literer.

Sayangnya, seperti direkam oleh sejarah, masa kepercayaan Aten ini hidup juga berakhir dengan masa jatuhnya Akhenaten. Bahkan oleh penerusnya Tutankhamun, semua yang berhubungan dengan Aten dirusak dan dikembalikan kepada inti ajaran raja-raja mesir sebelumnya; kembali kepada sang dewa matahari Ra dan dewa-dewi lainnya. Beberapa generasi sesudahnya bahkan keturunan israil yang semula menempati tempat terhormat di kerajaan mesir,diperbudak dan diberikan cobaan luar biasa, sampai masa ketika semua anak-anaklaki-laki yang baru lahir harus disembelih. Masa yang kemudian melahirkan Musa dan membimbing Israil keluar dari mesir dan menyeru pada akar spiritual yanglama hilang: Tuhan yang sama yang dikenalkan Ibrahim, nenek moyang bangsaIsrail, dan Bapak tiga agama besar.

@salmanfaridi


Artikel ini diumumkan di Harian Bernas, 15 Desember 2014

Melacak jejak Monoteisme Firaun