Siapa Pewaris Kho Ping Hoo?

Suatu waktu seorang kawan yang sekarang pindah ke negeri tirai bambu bercerita betapa bahagianya mendapatkan kesempatan membaca karya lengkap cerita silat Bu Kek Siansu karangan Kho Ping Hoo yang terkenal itu. Terlebih, belasan judul lengkap dengan ratusan jilid itu dapat dinikmati lewat sabak digital. Praktis, hemat tempat, dan cocok untuk membunuh waktu di antara jam-jam bosan menunggu pesawat, atau di sela-sela jam istirahat kantor. Nama besar Kho Ping Hoo memang tidak pernah gagal memikat pembacanya, termasuk saya.

Penulis asal Sragen kelahiran 17 Agustus 1926 ini bernama lengkap Asmaraman Sukowati Kho Ping Hoo. Di tangannya, kelebatan memori tentang dunia para jagoan dan pendekar sakti dengan ginkang yang tinggi memenuhi dunia imaji pembaca akan satu masa yang dipenuhi oleh orang-orang sakti mandraguna. Siapa berilmu tinggi hampir dipastikan akan terkenal, sementara si lemah pastilah kecundang. Akan tetapi, setinggi apapun ilmu seseorang, selama langit masih tegak, masih ada langit di atas langit. Sikap pongah dan jumawa di bawah langit akhirnya akan musnah juga.

Bagi pembaca muda kiwari, tentu akan susah mengingat kisah-kisah silat mandarin yang rata-rata meledak medio 1960-1970-an. Hanya “anak lama” yang mengenal tradisi klangenan membaca karya-karya Kho Ping Hoo, di antaranya serial paling laris Bu Kek Siansu yang terbit paling panjang sampai 17 judul.  Dari sudut penerbitan Kho Ping Hoo adalah fenomena moncernya penulis lokal bertema silat di tengah derasnya saduran cerita silat mandarin karangan Chin Yung dan Khu Lung. Kedua penulis dari daratan Tiongkok ini sangat terkenal dengan judul-judul seperti Pendekar Pemanah Rajawali, Pendekar Rajawali, Pedang Pembunuh Naga, Pendekar Harum, Pendekar Binal dan puluhan judul lainnya yang telah berkali-kali diangkat ke layar kaca dalam berbagai versi.

Setelah masa keemasan Kho Ping Hoo surut, peminat cerita silat digemparkan oleh kehadiran pendekar Wiro Sableng yang memiliki nomor punggung 212. Seakan belum cukup hebat, kedigdayaannya ditambah dengan sebilah kapak sakti berkepala kembar dan ajian pamungkas pukulan matahari. Adalah Bastian Tito yang lahir 20 tahun sesudah Kho Ping Hoo yang melanjutkan tradisi cerita penuh laga tanding dan bertukar ilmu pukulan maupun tenaga dalam. Ratusan judul Wiro Sableng, Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 pernah lahir dan memanjakan pembaca. Bahkan, Wiro Sableng pernah diangkat ke layar lebar pada 1988 dengan judul Neraka Lembah Tengkorak, serta dibuatkan produksi sinetronnya di layar kaca.

Setelah Bastian Tito, praktis penerbitan buku-buku bertema silat surut. Bagi penggemar silat target buruan bacaan sekarang biasanya berpindah ke ranah digital, mencoba mencari peruntungan dari sesama penggemar lainnya yang berusaha mengumpulkan naskah-naskah yang berserak melalui file pdf, di antaranya situs beralamat www.kangzusi.com . Ini pun biasanya pelaku utamanya adalah pembaca lama. Sementara itu, pembaca baru melanjutkan tradisi silat dalam medium yang berbeda yaitu komik. Tengok misalnya komik Kungfu Boy, Chinmi, si pendekar tangguh dari kuil Dairinji, serta komik Naruto yang sampai saat ini telah mencapai tujuh puluhan jilid.

Gelagat kecenderungan pembaca terhadap genre silat atau genre laga yang tidak pernah surut ini adalah fenomena menarik dalam industri buku dan industri kreatif lainnya seperti film yang saling berkelindan. Seperti halnya horror, dunia imaji di Asia, termasuk Asia tenggara juga disesaki genre berbasis ilmu bela diri. Karena itulah legenda seperti Bruce Lee muncul. Tengok pula bagaimana film laga dan serial TV produksi Hong Kong pernah melahirkan bintang-bintang laga seperti Jacky Chan, Andy Lau, Chow Yun Fat, Jet Lee dan tokoh lebih muda lainnya. Legenda-legenda baru tidak pernah habis diproduksi. Termasuk kemunculan dua film laga Indonesia bertemakan silat, The Raid, yang menuai sukses luar biasa bahkan menembus Hollywood. Melalui buku, komik dan film, silat seakan menjadi nyawa masyarakat pembaca kita. Sejatinya, generasi pembaca dan peminat silat tetap eksis dan mengalami regenerasi dalam format dan medium yang berbeda. Mungkin ini sebabnya rumah produksi Mira Lesmana dan Riri Reza dalam waktu dekat akan segera merilis film laga Pendekar Tongkat Emas.

Sayangnya, dalam kerinduan membaca tema bela diri ini, tidak banyak penulis muda sekarang yang menekuni kisah bergenre silat. Hanya ada beberapa nama yang bisa dihitung dengan jari yang terus menulis. Sedikit di antaranya adalah Langit Kresna Hariadi, penulis laris buku Gajah Mada dan Majapahit serta judul lainnya yang berbasis babad tanah jawa. Jika digarap serius, pembaca komik Naruto, kungfu Boy, dan komik laga lainnya yang basis pembacanya sangat besar itu bisa dibelokkan membaca naskah laga lokal. Tentu ada syaratnya, bahwa kualitas konten harus nomor satu, dan kemasan buku tidak boleh nomor dua. Andakah pewaris Kho Ping Hoo berikutnya?

@salmanfaridi


Artikel ini sebelumnya telah diumumkan di Harian Bernas, 23 November 2014

Siapa pewaris kho ping hoo

 

Kiamat Buku Belum Lagi Tiba?

Buku cetak adalah teknologi yang paling kompetitif: mudah dibawa, tidak gampang pecah, memiliki resolusi tinggi, dan daya tahan baterai yang lama ~ Russell Grandinetti

Industri cetak telah Mati! Beginilah ramalan yang akhirnya digenapi setelah lahirnya era digital. Industri yang semula gempita dengan jutaan pelanggan dan pendapatan yang stabil dari pemasang iklan harus menghadapi teknologi digital yang bengis: tanpa kertas, konten selalu aktual, dan terutama berbiaya murah. Genderang kematian yang paling kolosal barangkali ditabuh menjelang edisi terakhir majalah Newsweek pada 31 Desember 2012.  Setelah bertahan selama 80 tahun, dua kali berpindah kepemilikan, terpelantingnya pendapatan iklan dan jumlah pelanggan yang terpangkas setengahnya menyisakan 1,5 juta pelanggan dari semula 3 juta, Newsweek akhirnya bertekuk pasrah di depan teknologi digital. Apakah buku akan menemui ajal yang sama?

Sebuah film dokumenter berjudul Out of Print besutan sutradara sekaligus mantan pustakawan, Vivienne Roumani, menawarkan perspektif menarik bagaimana buku cetak perlahan dikangkangi. Dalam sebuah survey yang dilakukan Roumani di beberapa universitas terkemuka di Amerika kepada para pengajar tentang praktik membaca anak didik mereka, muncul tiga jawaban mencengangkan. Siswa mengaku bahwa mereka tidak terbiasa membaca, terlalu banyak distraksi ketika harus membaca dan terlalu sulit. Hasil ini diamini Jeff Bezos, bos sekaligus pendiri Amazon, bahwa dalam 20 tahun terakhir mode membaca tampaknya beralih dari bacaan yang panjang dan intens ke dalam bentuk bacaan pendek.

Jeff Bezos benar bahwa tren membaca sedang berubah. Bahkan Amazon pulalah yang sebagian besar mengubah peta pertarungan buku digital dan buku cetak semakin sengit, termasuk menerbitkan Kindle Singles dan Novellas untuk menampung cerita yang lebih pendek. Kindle Singles adalah penemuan ajaib Amazon yang mengejutkan industri penerbitan di United States (US). Judul-judul buku Kindle Singles yang dalam anggapan semula banyak praktisi penerbitan semata diterbitkan agar dapat dijual lebih murah, ternyata sukses luar biasa. Bahkan penulis besar seperti Stephen King, Amy Tan, Lee Child dan Susan Orlean menikmati menulis dalam format pendek. Buntutnya, hanya dalam kurun dua tahun saja, sejak rilis Januari 2011, menurut the Times, Amazon telah menjual 5 juta Kindle Singles dari total 345 judul buku dengan rata-rata terjual per judul sebesar 14.500 kopi elektronik.

Lebih lanjut, menurut The Economist, data total penjualan ebook di Amerika yang dirilis oleh lembaga analis PricewaterhouseCoopers, menunjukkan bahwa sejak 2009 jumlah buku elektronik yang terjual terus meningkat signifikan. Pada 2009 total terjual buku cetak sebanyak 15,09 miliar dolar, sementara ebook sebesar 820  juta dolar. Empat tahun berikutnya, penjualan buku terus tergerus semakin dalam sehingga menjadi 10,84  miliar dolar pada 2013 sedangkan ebook merangkak naik menjadi  USD 4,52 miliar. Data ini juga memproyeksikan bahwa buku elektronik akan mengambil alih pasar buku di Amerika sepenuhnya pada 2018.

Akan tetapi kiamat buku cetak belum lagi tiba. Bahkan dengan data-data yang menakutkan tentang tumbuh terusnya buku elektronik, buku cetak masih akan bertahan cukup lama. The Economist menurunkan essai cukup ambisius sepanjang lima bab bertajuk The Future of Books yang menjawab mengapa buku cetak masih tetap seksi dan diminati dalam waktu lama. Pertama, teknologi “sederhana” buku cetak ternyata sangat canggih sehingga tidak pernah fakir colokan. Buku cetak mudah dibawa kemana saja dan dapat dibaca kapan saja tanpa butuh baterai. Kedua, penjualan Kindle dan alat pembaca buku elektronik lainnya menurun signifikan. Telepon pintar berbasis android seharga ratusan ribu rupiah kini secara brutal menghabisi pembaca buku elektronik semacam Kindle, Nook, Kobo dan perangkat lainnya. Ketiga, orangtua yang merasa anaknya terlalu banyak menghabiskan waktu di depan layar, memberikan buku cetak sebagai alternatif, terlebih masih banyak orangtua yang merasa perlu menempatkan rakbuku di rumah untuk menumbuhkan minat baca anak.

Teknologi digital sepertinya lahir bukan untuk menggantikan buku cetak melainkan melengkapi. Hal ini misalnya tecermin dari sehatnya industri penerbit cetak di manapun yang masih mencetak keuntungan lebih tinggi dibandingkan penjualan ebook. Bahkan di US yang merupakan early adapter buku elektronik masih menurut The Economist, mengutip data Bloomberg, The Bookseller dan Publishersweekly, hampir semua penerbit besar seperti Penguin, Harper Collins, Random House, Simon & Schuster melaporkan margin keuntungan yang stabil cenderung tumbuh dari buku cetak sepanjang tahun 2010-2013. Seperti halnya pada Maret 2014 setelah memutuskan hanya terbit dalam versi digital saja, edisi cetak Newsweek kembali bangkit dari kematian.

Buku cetak belum mati, ia hanya berevolusi. Pergeseran pembaca yang lebih banyak dikecohkan oleh gadget mungkin menyalakan sinyal hadirnya kebutuhan jenis bacaan baru yang bisa dilahap sekejap, seperti novel sepanjang 40 halaman. Tren ini, stamina 40-an halaman, bukan tidak mungkin melahirkan kebutuhan bacaan yang lebih panjang dan kemudian melahirkan generasi berikutnya yang rakus membaca buku ratusan halaman. Equilibrium baru pun lahir kembali.