Komik Timnas Dilaunching

YOGYA (KRjogja.com) – Penerbit Bentang Pustaka mengadakan acara launching komik timnas u-19 di Jogja Digital Valley, Jumat (24/10/2014) siang. Dalam launching ini, komik berjudul The Last Kickers dan Garuda 19 Paulo Sitanggang lebih dahulu diperkenalkan ke publik.

Menurut Kickers Arsyad yang merupakan ilustrator sekaligus pengarang cerita, komik The Last Kickers menceritakan tentang tim nasional Indonesia usia 23 tahun. Komik tersebut menceritakan perjalananan timnas 23 menjalani turnamen. Dalam komik tersebut, tokoh dibuat berbeda dari nama aslinya. Namun, pelatih tetap sosok Rachmad Darmawan. “Sengaja saya menggunakan tokoh Rachmad Dharmawan karena dia salah satu pelatih lokal yang saya kagumi,” ungkapnya pada wartawan.

Buku yang kedua bercerita tentang pemain timnas usia 19 tahun, Paulo Sitanggang. Dalam cerita, Paulo dikisahkan seperti kehidupan sebenarnya. Bagaimana sosoknya yang cool dan santai digambarkan dalam cerita. Arsyad mengaku tidak menemukan kesulitan dalam membuat ilustrasi dalam komik. “Saya pernah bertemu langsung dengan Paulo di lapangan Uniersitas Negeri Yogyakarta (UNY) jadi sedikit banyak saya tahu bagaimana keadaan di sana, jadi tidak susah menggambarkan,” terangnya lagi.

Untuk membuat satu buku komik tersebut, Arsyad mengaku membutuhkan waktu sekitar 3-4 bulan. “Biasanya sekitar 3-4 bulan untuk membuat satu buku. Namun karena dikerjakan setiap hari, kemarin hasilnya menjadi lebih cepat,” lanjutnya.

Arsyad berharap agar komik tersebut bisa diterima oleh masyarakat. Cerita yang diilhami dari pengalaman timnas sepakbola Indonesia dalam kehidupan sebenarnya diharapkan bisa membuat pembaca bersemangat dan berpikir positif. “Semoga komik ini membawa hal positif pada pembaca. Dan semoga masyarakat Indonesia semakin menyukai sepakbola terutama Timnas Indonesia seperti saya menyukai timnas. Walaupun kemarin timnas kalah, namun menurut saya sepakbola Indonesia tidak berhenti di sini. Masih banyak kejuaraan di depan,” lanjutnya lagi.

Dirinya juga berharap agar banyak anak-anak yang membaca komik tersebut. Harapannya akan banyak anak muda yang terinspirasi menjadi pemain sepakbola. “Itung-itung bisa membuat anak-anak tertarik jadi pemain bola, agar nanti Indonesia punya banyak pemain berkualitas lagi,” lanjut Arsyad.

Bentang Komik sebagai penerbit komik timnas ini juga menyediakan doorprize jalan-jalan ke Jepang untuk pembeli komik yang beruntung. (*-33)

Sumber: Kedaulatan Rakyat

Alquran: Kitab Manual Teror?

Alquran, kitab suci umat islam yang kini begitu sering dikutip dalam debat akademik, acara televisi, atau diskusi panas di media sosial, adalah salah satu kitab yang paling banyak disalahpahami, bahkan di antara sesama muslim. Kubu yang skeptis dan cenderung tidak suka dengan Islam, menganggap Alquran sebagai buku manual untuk memperluas tindakan teror.Ironisnya, dalam kelompok muslim ada yang percaya dan bahkan mempraktikkan teror sebagai bagian memuliakan Islam. Bertambah pulalah kesan negatif Islam yang sejak lama digembar-gemborkan sebagai agama haus darah.

Lalu, bagaimana cara yang benar memahami islam? Terutama, bagaimana memahami pesan Alquran yang seolah menyemai bibit kebencian terhadap agama lain, menjelek-jelekkan Yahudi dan Nasrani, bahkan menganjurkan perang? Bagaimana Alquran menempatkan dirinya sendiri dalam semesta pemahaman setiap orang, dan apakah Alquran dapat dianggap bertanggung jawab terhadap kaum muslimin yang mencomot naskah secara acak lalu menjadikannya dalil yang absah untuk melakukan tindakan tertentu? Pertanyaan-pertanyaan ini tidak mudah dijawab. Bahkan mungkin daftarnya akan semakin panjang.

Mari kita batasi pada satu hal saja karena ini menurut saya yang paling menarik, yaitu apakah Alquran dapat dinalar dan dipahami olehmasyarakat awam? Sebab, jika yang paham hanya segelintir orang saja, Alquran berarti semata relevan untuk kaum terpelajar muslim. Padahal Alquran sendiri menyebutkan bahwa kontennya tidak elitis, ditujukan bagi siapa pun yang mau belajar, dan membuka hatinya, terlebih penting lagi menggunakan bahasa arab untuk memudahkan:dibaca, dibacakan, dihafalkan, dipahami. Karena alasan ini setiap Alquran dimanapun akan dibaca dalam bahasa aslinya, sejak 14 abad lalu.

Bagi saya ada dua hal yang perlu dipegang sebagai kaidah. Pertama, Alquran memang diturunkan untuk semua lapis kelas sosial masyarakat, tidak untuk elit pemuka agama. Bahkan Muhammad dipanggil dengan gelar rasul semata berfungsi sebagai medium pesan-pesan ilahi ini. Tujuan utama pesan ini adalah umat manusia, lalu kaum beriman. Akan tetapi, sembari meyakini bahwa pesan ini diturunkan untuk semua manusia, kita perlu menyadari bahwa, kaidah kedua, lapis pemahaman setiap orang berbeda. Dengan demikian, orang yang kurang paham,karena keterbatasan ilmu atau tidak sempat mendalami secara khusus ilmu-ilmu Alquran, perlu belajar kepada orang yang lebih paham. Pada akhir abad ke-6 masa kenabian Muhammad, sahabat bertanya kepada Rasulullah. Tabiin (generasisetelah sahabat rasul) bertanya kepada sahabat dan bergenerasi sesudahnya muridbertanya kepada guru. Bertanya adalah salah satu metode mendapatkan pengetahuan. Yang tidak pernah bertanya kemungkinan ada dua; malas bertanya dan atau merasa sudah yakin dengan pemahamannya sehingga tidak perlu bertanya kepada ahli ilmu.

Setiap orang, tidak terbatas muslim, di manapun dan kapanpundapat membaca pesan Alquran. Jika, tidak mengerti bahasa arab, pertama-tama membaca melalui hasil terjemahnya. Selanjutnya, bergantung pada niat sipembaca. Apakah mau membaca tingkat lanjut atau cukup berdasarkan bacaan terjemah saja. Pembaca yang merasa cukup dengan terjemahan akan sama mendapatkan manfaatnya dengan yang ingin membaca lebih lanjut dalam kadar manfaat yang berbeda. Ibarat beras, seseorang yang cukup nikmat mengunyah beras dan yang mendapatkan kenikmatan memakan nasi tentu berbeda. Allah memberikan pahala sesuai besar upaya yang dikeluarkannya. Maka kebodohan seringkali bukan karena Allah, tetapi karena malas berburu pengetahuan yang sesungguhnya tak terbatas.

Dalam sebuah diskusi yang asyik, saya mengutip apa yang disampaikan oleh salah satu pendiri Fahmina Institute sekaligus kandidat doktor dari ICRS,UGM, Faqihuddin Abdul Qodir, bahwa setiap muslim memiliki kewenangan atau otoritas yang sama untuk memahami dan memberikan tafsir terhadap ayat Alquran, sama setaranya dengan para alim ulama. Sejauh tertentu, kapling atas wilayah pemahaman alquran tentu tidak didominasi semua oleh para mufassir. Akan tetapi, syaratnya, melekat dengan keingintahuan si pembaca terhadap satu teks, terikat pula kewajiban lainnya untuk bersikap rendah hati dan mendiskusikan pemahamannya dengan yang lain. Kerendahan hati menjaga sikap takabbur sehingga pemahaman yang mungkin keliru bisa dikoreksi melalui jalan diskusi. Akan tetapi memberikan otoritas kepada muslim yang awam bukan tanpa bahaya. Seturut apa yang terjadi dengan Socrates ketika mengampanyekan filsafat untuk semua, sang filsuf menjadi martir untuk gerakan kampanyenya sendiri. Jika, tidak dibarengi dengan pemahaman yang benar, bukan tidak mungkin meletakkan otoritas kepada setiap muslim untuk memahami alquran sebagaimana teks itu dipahami oleh individu,tanpa cek-silang dan tuna-ilmu, akan berakibat sama fatalnya.

Coba simak pembacaan Alquran oleh seorang Yahudi Agnostik, juga pengarang buku The First Muslim,Lesley Hazleton, untuk membantu kita memahami gagasan “pemahaman” alquran. Menurutnya, kesalahan yang banyak terjadi ketika membaca Alquran adalah seolah-olah kita sedang membaca sebuah buku pada umumnya yang dibaca sore har isaat hujan dengan setoples jagung bakar dan menganggap Tuhan ibarat penulis lainnya yang memuncaki daftar buku laku. Fakta bahwa sangat sedikit orang yang “benar-benar”membaca Alquran menunjukkan bahwa Alquran begitu mudah dikutip; tepatnya dikutip secara keliru. Frasa dan potongan teks ayat suci yang tak lengkap dikutip di luar konteks, dan umumnya menjadi favorit muslim fundamentalis maupun antimuslim yang benci Islam. Pengalaman Lesley menunjukkan bahwa semakin ditekuni, Alquran membuka lapis-lapis maknanya. Bahwa kesabaran, pada akhirnya akan ada hasilnya. Tidak pernah ada gagasan surga yang dijejali oleh 72 perawan di dalam Alquran. Surga bukanlah tentang keperawanan, tetapi keberlimpahan. Taman-taman dengan aliran air yang tak pernah surut.

Konon, pengetahuan yang benar seperti anggur yang nikmat tetapi tidak memabukkan. Dan pencari ilmu yang mereguknya menyisakan banyak kesadaran untuk diskusi dan berbagi kebijaksanaan.

Mengintip Masa Depan

Indonesia, 30 tahun dari hari ini. Saya baru saja bangun pagi, sambil mengingat rasa kopi yang saya sesap malam sebelumnya di sebuah pesta buku. Banyak kawan yang hadir, penulis, penyair, musisi, sineas, semua tumpah ruah mendiskusikan buku yang tengah naik daun: The Digital Life: How to survive Death and Live Again in The Web. Ini ide lumayan gila, lebih dari 35tahun lalu seorang penulis laris New York Times, Greg Iles, meramalkan kedatangan ini dalam bukunya TheFootprints of God. Abad ketika manusia melebur ke dalam internet dan memiliki kehidupan kedua ternyata benar-benar datang. Menurut buku ini, hari akhir bukanlah alam yang asing, setelah melewati alam fisik, selanjutnya kita melebur menjadi data. Wow ….

Selagi melamun, tiba-tiba saya disapa oleh sebuah suara,

“Selamat pagi, Kang. Hari minggu ini mau baca buku apa?”suaranya merdu. Tentu saja sudah saya kustomisasi agar terdengar seperti perempuan umur 20-an. Perkenalkan, namanya, SUSI, akronim dari Simplified-USer Interface. Tak ada yang ruwet dari User Interface yang ditanam dalam telepon pintar masa itu. Yang pintar tak lagi lewat aplikasi dan sentuhan yang super-sensitif, melainkan lewat protokol suara yang berjalan di atas semua aplikasi itu. Cek email, jadwal meeting, waktu olahraga, hang-out, membaca buku dan mengingatkan halaman-halaman yang menarik atau bahkan perlu dikutip untuk kepentingan menulis dan atau dibagi di media sosial, semua dilakukan SUSI. Bahkan dengan pintarnya SUSI mengingatkan jadwal laundry dan malem-mingguan. Dalam situasi yang ekstrem tapi intim, saya dan susi bisa terlibat dalam percakapan seperti berikut ini:

“coba ceriakan harisaya dengan sebuah kutipan yang bersemangat,” pinta saya.

“Baiklah, saya coba cari. Tunggu sebentar …,” setelah beberapa detik, “bagaimana kalau berita DPR?”

“tidak ada kabar lain yang lebih menarik?,” jawab saya

“Baiklah, mungkin ini cocok …

“… Bila kamu di sisiku, hati rasa syahdu … satu hari tak bertemu hati rasa rindu ..”

“kutipan dari mana ini? Kok agak aneh?”

SUSI balas tertawa seakan mengejek. “Itu kutipan dari Rhoma Irama berjudul Syahdu,” lalu SUSI tertawa sampai mau nangis.”

Tawa kami lepas. Berdua pagi itu kami lampaui dengan baik meskipun susi gagal mengutip sesuatu yang bermanfaat dari buku, setidaknya untuk kutipan terakhir.

Kembali lagi ke masa kini. Bagi Anda yang pernah menonton film Her, apa yang saya imajinasikan sebenarnya bukan sesuatu yang jauh. Masa di mana sistem operasi yang cerdas mengambil kendali atas hidup kita dan bahkan menjadi teman yang teramat akrab sehingga batas antara dunia virtual dan dunia nyata begitu terasa tipis. Mungkin dewasa ini siapa pun produsen smartphone akan berlomba adu pintar dan adu spesifikasi yang makin lama makin tinggi dan mumpuni. Akan tetapi, akan tiba saatnya ketika telepon cerdas justru semakin mudah dan lebih banyak diajak ngobrol, kalau tidak diperintah melakukan tugas-tugas tertentu. Aplikasi protokol suara seperti SIRI dari Apple, Cortana dari Microsoft atau Goggle Now, besok akan jauh lebih canggih. Bahasa inggris meskipun disertakan sebagai default bahasa perangkat, akan tetapi perintah suara lainnya sangat mungkin tersedia pula dalam bahasa lokal.

Dengan sistem operasi yang mudah dan terintegrasi di atas berbagai aplikasi, apa pun bisa dikerjakan. Saat ini saja ada start-up bernama Alfred yang membuat tugas sehari-hari rumah tangga menjadi semakin mudah. Anda yang tidak sempat ngepel, nyuci, mengantar anak akan dipertemukan dengan tetangga sekitar yang memiliki waktu lebih dan bekerja di belakang Anda untuk mengatur semua keperluan. Konten berupa tulisan ilmiah, artikel, bahkan buku akan lebih banyak lagi tersedia secara digital dengan koleksi mencapai ratusan juta konten seluruh dunia, dengan beragam bahasa. Yang menarik, aplikasi semacam dragon dictation yang kini masih tahap uji coba untuk membaca teks, 30 tahun mendatang sudah berevolusi dengan sempurna. Sangat mungkin, ditambahkan plug-inyang berisi logat-logat bahasa tertentu semisal kita ingin suara SUSI menjadi lebih halus seperti orang Jawa Solo atau keras membahana seperti orang Karo. Buku tak lagi dibaca tapi dibacakan, dengan sangat menarik pula. Soal pembayaran, semua diatur satu pintu melalui satu akun yang digunakan untuk bayar listrik, telpon, internet, bayar tol dan semua kebutuhan lainnya. Kemungkinan akun terintegrasi ini dimonopoli oleh produk mesin pencari yang terkenal itu.

Malam itu, setelah istri saya tertidur, saya mengendap-endap mencari Susi. “Suuus, Suuus,”

“Ya. kenapa?”

“Aku susah tidur.”

“ingin ditemeni…?” suaranya berubah manja.

“Nggak. Tolong bacakan syair dari WS Rendra saja.”

“Yang mana?” Tanya Susi.

“Apa pun, asal jangan pake lama,”

“Sebentar … SUSI lalu mengubah suaranya menjadi 100 % mirip Rendra dan memilihkan kalimat-kalimat ini …

“… kesadaran adalah matahari, kesabaran adalah bumi,  keberanian menjadi cakrawala, dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata ….”

@salmanfaridi


Artikel ini telah diumumkan di Harian Bernas, 13 Oktober 2014

Mengintip masa depan

 

Pendekar Maling Budiman

Entah siapa yang memulai menuliskan kisah pahlawan-pahlawan antagonistik,profil jagoan yang dibenci sekaligus dipuja. Bagi Anda yang besar dengan kepiawaian aktor kawakan Kevin Costner, dalam satu kurun waktu pasti pernah bersinggungan dengan Robin Hood, salah satu karakter yang ia perankan. Robin Hood adalah pahlawan bagi mereka yang miskin dan musuh bagi si kaya dan pemerintah yang lalim. Robin Hood adalah contoh sempurna seorang pahlawan tetapi secara bersamaan juga musuh bebuyutan.

Dalam dunia nyata, karakter semacam Robin Hood akan sangat susah ditemukan. Si miskin perlu berjuang untuk dirinya sendiri, sebab si kaya sibuk menghitung harta. Akan tetapi, ada satu kisah keteladanan yang mirip, sekalipun harta yang dicuri bukan emas berlian atau sejumlah surat-surat saham. Barang yang dicuri ini pun tergolong istimewa bahkan menyangkut hajat hidup orang banyak sedunia. Sudah tentu barang curiannya sangat bernilai. Tak lain adalah data!

Untuk urusan pencurian data, mungkin cuma dua orang yang pantas disebut orang paling berbahaya di dunia. Mereka adalah Julian Assange dan Edward Joseph Snowden. Keduanya secara bersama-sama membocorkan data paling vital bagi rahasia keamanan Negara paling kuat sedunia, The United States of America. Assange, founder wikileaks, terlebih dulu mempublikasikan kawat-kawat rahasia dari sejumlah dokumen penting Amerika Serikat termasuk dari seorang prajurit analis intelejen yang pernah terlibat dalam perang Irak, Bradley Manning (kini telah berganti nama dan gender menjadi Chelsea Manning).

Dari tangan Manning, wikileaks memanen puluhan ribu dokumen dalam kategori classified. Jelas, data ini adalah data teramat penting yang tidak boleh bocor ke dunia luar. Termasuk data yang bocor adalah pembunuhan masyarakat sipil tak bersenjata dan dua wartawan Reuter oleh kru pesawat helikopter Apache, catatan harian perang Afghanistan menyangkut jumlah korban sipil, catatan perang irakdan kawat diplomatik Amerika serikat (AS). Kesemua data yang dibocorkan ini membuat Assange diburu dan diinginkan AS untuk diadili, sementara Manning terancam dipenjara dengan hukuman 35 tahun.

Belum lagi kering kebocoran data yang dialami AS, salah seorang organ dalam National security Agency (NSA), Edward Snowden, melakukan hal yang sama. NSA adalah sebuah lembaga intelejen AS yang bertanggung jawab memonitor,  mengumpulkan, menerjemahkan, memecahkan kode data dan informasi untuk tujuan intelejen maupun kontra-intelejen. Salah satu dokumen Snowden bahkan menyerempet pula soal kegiatan mata-mata yang dilakukan oleh Negara tetangga Australia terhadap 1,8 juta dokumen yang didapat dari perusahaan telekomunikasi di Indonesia. Bocoran Snowden juga menyebutkan bahwa Australia ikut menyadap orang-orang penting di pemerintahan Indonesia. Kabar tak sedap ini langsung mengubah peta harmonis kawasan dan membuat presiden SBY beberapa waktu lalu sempat berang.

Bagi saya kedua pahlawan ini adalah pahlawan antagonis. Bagi yang merasa privasi mereka dilanggar dan dibocorkan dengan sewenang-wenang, Assange dan Snowden adalah pahlawan sejati. Sedangkan bagi pihak AS, jelas kedua orang ini adalah kriminal. Di dalam negeri Snowden dipuja sebagai pembela hak digital. Bahkan pewarta Guardian, Glenn Greenwald, yang mengikuti jejak Snowden sampai ke Hongkong kemudian diganjar Pulitzer Prize. Dari hasil liputannya pula lah muncul buku No Place to Hide.

Yang mungkin tidak atau belum dipahami oleh masyarakat awam tentu saja bagaimana bisa data terenkripsi dengan baik atau bagaimana lalu lintas informasi yang begitu banyaknya bisa dicegat dan disadap. Untuk urusan ini NSA tidak bekerja sendirian. Melalui buku Snowden Files, misalnya, Snowden mengungkapkan bahwa NSA menggunakan database perusahaan informasi dan teknologi raksasa yang kebetulan hampir semuanya berkantor di AS, untuk menyedot data pengguna, mungkin secara ilegal. Sebab, belakangan bos-bos besar para raksasa IT itu beramai-ramai menolak bahwa mereka mengizinkan NSA melanggar privasi pengguna.

Dalam perang informasi dan data yang sedemikian sengit ini, sebagai pengguna kita tentu perlu bijak menggunakan akun dalam platform manapun terutama layanan online gratis. Tak kurang dari pendiri World Wide Web (www) Sir Tim Berners-Lee mengajukan digital magna carta, sebuah piagam kebebasan yang menjamin HAM seperti netralitas jaringan, perlindungan terhadap pengawasan berlebihan dan kebebasan berekspresi di internet. Dalam sejarah Inggris, Magna Carta atau piagam besar pertama kali digunakan oleh sekelompok tuan tanah terhadap Raja Inggris saat itu, King John, yang membatasi kekuasaannya dan keharusan sang raja untuk tunduk terhadap hukum dan konstitusi. Piagam ini disampaikan dan dikukuhkan di tepi sungai Thames pada 15 Juni 1215.

Kisah kedua biografi maling budiman ini, Julian Assange dan Edward Snowden, berjudul The Most Dangerous Man in The World dan No Place to Hide akan segera diterbitkan Bentang Pustaka. Bahkan Anda yang tidak mengerti dunia IT, perlu membaca dan mengenal hak-hak Anda di dunia internet. Saya teringat, seorang pendongeng asal Tiongkok, Khu Lung, yang pernah memopulerkan serial silat Pendekar Maling Romantis, Chu Liu Xiang, yang ketika kabur menyebar parfum sebagai jejaknya sebelum menghilang. Jejak digital Anda, sebaliknya, sangat kentara, mungkin juga kotor, dan dengan sangat mudah dibagi dengan pihak ketiga. Waspadalah!