Dilema Rahvana: antara baik-buruk dan kehendak bebas

rahvayana cover bakarDalam beberapa hari ini saya cukup lega menyambut terbitnyaRahvayana, novel fiksi terbaru Sujiwo Tejo yang boleh saya bilang thought provoking. Lega, karena selama menemani proses lahirnya Rahvayana, tanpa sadar saya juga dijangkiti virus atau gelembung-gelembung Rahwana, seperti yang diistilahkan si Mbah.

Virus itu tiada lain adalah permenungan tentang rapuhnya manusia yang selalu mudah terjebak dalam ilusi gagasan baik dan buruk, serta betapa hebatnya perang baratayudha yang selalu dilakoni manusia sepanjang tahun, bulan, minggu, hari, jam, bahkan detik untuk memerangi hawa nafsunya sendiri. Rahvayana berhasil membuat saya kembali membuka lembaran-lembaran gagasan yang sempat saya enyahkan, entah karena kurang iman atau tidak mampu berpikir hebat bak filsuf.

Tetapi mari saya jelaskan satu per satu. Saya berharap pembaca dapat memberikan masukan juga terhadap apa yang sedang saya gundahkan ini. Kegundahan seorang amatir yang mencoba memahami semesta yang ruwet ini.Titik berangkat kita adalah baik dan buruk. Dan titik ini pulalah yang dipilih pengarang untuk memulai diskusi kita.

Dalam Rahvayana, baik dan buruk tidaklah jelas seperti kita menera warna hitam dan putih. Inipun sebenenarnya cukup dilematis, karena memilih warna putih, kita secara sadar paham menghimpun aneka warna yang berlainan yang bersembunyi di balik putih. Hitam pun, dalam aplikasi warna bisa digabung dari empat kode warna Cyan, Magenta, Yellow dan Black (CMYK). Desainer grafis, orang percetakan bahkan sampai tukang sablon, tahu kombinasi warna ini. Tetapi, secara sederhana, marilah kita katakan saja bahwa hitam dan putih itu adalah keserbapastian baik dan buruk. Kalaui baik itu putih, warna hitam, sebaliknya berarti buruk.

Celakanya, baik dan buruk itu tidaklah sepasti hitam dan putih. Saya ulangi lagi kalau baik itu putih dan buruk itu hitam, baik dan buruk bisa bermain di antara keduanya. Bingung? Coba saya ingatkan dengan kisah musa, yang, ketika mengakhiri pertapaannya selama 40 hari di gunung Sinai, murka luar biasa mendapati kaumnya kembali menyembah berhala. Persisnya patung anak sapi ciptaan samiri yang konon dibuat dari pasir yang diinjak malaikat, sehingga membuat patung itu bisa berbicara.

Dalam murka Musa, saudaranya Harun bahkan ditarik janggutnya sedemikian keras mengeluhkan betapa sia-sia kehadiran saudaranya yang tak bisa mencegah kaumnya sendiri berbuat syirik. Tapi, nasi sudah menjadi bubur. Mereka yang durhaka kemudian dihukum pancung. Kurang lebih sebanyak 70 orang laki-laki dipenggal putus nyawanya untuk memurnikan akidah. Semua untuk kebaikan.

Contoh di atas mungkin bisa jadi aplikasi baik dan burukyang ambigu. Betapa tidak?! Pembunuhan dilakukan di atas landasan dasarkebaikan. Penghilangan nyawa dianggap wajar untuk memurnikan syirik, yang jelas-jelas dosa besar itu. Jadi, kita lihat di sini paradoksnya: untuk menegakkan hukum tuhan, yang pastinya baik bagi kaum nabi Musa pada waktu itu, hukum pancung pun harus digelar. Padahal, secara umum kita tahu bahwa menghilangkan selembar nyawa siapa pun secara sengaja hukumnya tetap dosa.

Contoh di atas mungkin terlalu ekstrem (dan bahkan saya sendiri pun cukup mafhum bahwa terkadang ada pengecualian dalam hukum). Tapi cukup telak untuk menunjukkan bahwa baik dan buruk itu tidak setegas bilangan 1 dan 2 yang jelas berbeda dan tidak bisa dianggap sama. Mirip pun tidak. Dengan demikian apakah baik dan buruk menjadi tidak ada? Atau, karena tidak tegas, apakah baik dan buruk itu sesuatu yang sifatnya relatif?

Saya tidak menyebutkan bahwa baik dan buruk itu tidak ada. Sebagai sebuah idea, gagasan baik dan buruk itu ada. Namun, pada alam idea pula kita bisa katakan bahwa baik dan buruk itu belum bisa dihukumi. Gagasan baik dan buruk sebelum ada atribut tindakan adalah sesuatu yang netral. Akan tetapi, sebagai manusia kita bisa mengenalinya? Caranya?

Saya jelaskan lebih lanjut. Begini …, dugaan saya yang paling mendekati adalah ketika Tuhan mengajarkan nama-nama kepada Adam, Tuhan (dan banyak nama lainnya yang mengikuti), mengajarkan semacam kecerdasan untuk melakukan abstraksi, melakukan olah pikir konseptual yang kemudian memberikan kemampuan kepada manusia untuk memberi nama benda-benda. Rasanya butuh waktu untuk menamai kursi, dingklik, jidat dan banyak lagi yang lainnya, yang muncul dari proses berpikir. Di balik nama-nama itu ada sejumlah pemrosesan data yang cukup kompleks sehingga muncul satu nama untuk menyebut konsep tadi. Contoh, jika sekarang saya lemparkan sesuatu yang hijau dengan buntut dan tubuh bergerigi, berkaki empat dan termasuk keluarga vertebrata, apa kira-kira dugaan Anda akan nama makhluk ini?

Bisa kadal, bunglon atau iguana. Jelas tidak mungkin menyebutnya cecak apalagi ayam. Mengapa mustahil menyebut benda yang saya lempar tadi seekor ayam? Karena ciri-ciri yang saya sebutkan tadi jelaslah tidak cukup mendekati untuk disebut ayam. Saya haqqul yakin, bahwa sampaisekarang pastilah tidak ada ayam berkaki empat dan berwarna hijau dengan tubuhbergerigi. Nah, akan tetapi, masih ada isu dari pertanyaan saya ini. Kita bisa tahu bunglon dan sejenisnya karena ada informasi sebelumnya. Bagaimana jika kita tidak pernah melihat rupa, bentuk dan warna bunglon?

Jika kita tidak pernah mengetahui makhluk berwarna hijau, bertubuh gerigi, berekor dan berkaki empat, kemungkinannya kita akan bertanya. Kalau tidak ada yang tahu, kemungkinan kedua kita harus memberi nama. Dan kalau sudah menentukan nama ini maka kemungkinannya tak terbatas berdasarkan banyak pemakai bahasa. Ada puluhan nama dalam puluhan bahasa untuk menyebut bunglon misalnya. Ini soal kesepakatan saja.

Dengan kemampuan kita melakukan pemerian yang cukup kompleks terhadap suatu benda dan konsep, kita juga bisa melakukan hal yang sama pada idea baik dan buruk. Mengapa demikian? Karena hanya manusia yang diberikan fakultas akal. Ini boleh dibilang fitur terbaik kita dibandingkan ras atau spesies lainnya. Jika binatang mengenal konsep baik dan buruk, seekor singa akan berpikir dua kali membunuh mangsanya. mungkin berpikir jika induknya dibunuh, nasib anak mangsanya pastilah kapiran alias terlantar. Nyatanya tidak. Yang berlaku dalam dunia binatang adalah bertahan hidup. Jika untuk hidup harus membunuh, mereka tidak akan ragu apalagi malu melakukannya. Itu sebabnya sebuah drama pengintaian zebra oleh sekawanan singa sebelum kemudian memangsanya beramai-ramai adalah sebuah kisah alamiah untuk meneruskan keberlangsungan, meskipun untuk itu ada pihak lain yang menjadi korban.

Pada manusia, kisah ini tidak selalu tepat terjadi. Bisa lebih buruk bahkan, ketika syahwat kebinatangan manusia muncul dan mendominasi keputusan. Mengutip kitab suci, tindakan manusia jenis ini bahkan lebih rendah daripada kelakuan binatang. Mengapa? Karena kita diberikan kemampuan mengolah dan memproses informasi untuk kemudian menentukan keputusan mana yang baik dan buruk, eee… masih saja ngeyel berbuat jahat dan memilih tindakan buruk itu.

Jadi, baik dan buruk sebagai idea bisa dikenali manusia? Bisa. Apakah baik dan buruk itu ada? Sebagai idea ada. Apalagi jika disematkan atribut tindakan. Ide mengambil barang orang lain tanpa izin tentu merugikan si pemilik. Tetapi jika tidak dilakukan, ide itu tidak bisa dihukumi. Tinggal tarik-tarikan atau dorong-dorongan syahwat saja. Di sinilah lalu, Sujiwo Tejo mengenalkan istilah lawwamah, ammarah dan muthmainnah.

Ketiga tingkatan nafsu yang dimulai dari yang terendahammarah, lalu lawwamah dan terakhir muthmainnah adalah peringkat jebakan nafsu yang senantiasa mengangkangi manusia berbuat dan bertindak benar berdasarkan keputusan akal yang diikutinya. Namun, akal ini, secara abadi, kecuali kita mati, selalu dijegal ammarah dan lawwamah. Ammarah adalah nafsu kotor kita yang sudah mencapai peringkat sempurna. Kita tidak lagi merasa bahwa kejahatan dan perbuatan buruk itu adalah sesuatu yang buruk, bahkan, dengan senang hati kita mengajak orang melakukan tindakan buruk serupa. Ammarah adalah wujud syetan dalam diri manusia yang terbahak gembira merangkul sebanyak mungkin member secara multilevel. Sedangkan lawwamah adalah nafsu yang masih malu-malu. Nafsu yang selalu sukses mendorong manusia berbelok dari akal sehat, tetapi ketika dilakukan, nafsu ini cenderung bersembunyi di balik gelap. Kita tahu bahwa kita telah keliru berbuat, tetapi kita tidak mampu berhenti. Karena itu kita terus melakukannya meskipun sembunyi-sembunyi. Yang terbaik dari itu, tentu saja tingkatan nafsu muthmainnah, yang setelah melalui latihan tertentu, nafsu dapat dikendalikan. Kita tahu nafsu tidak akan bisa dibunuh, tetapi bisikan-bisikannya yang luar biasa menggoda dapat kita kendalikan dengan baik sehingga kita lepas dari perangkap. Menariknya, semua peperangan ini tentu tidak kasatmata, tetapi semua orang mengalaminya setiap hari bahkan setiap detik. Inilah sebenar-benarnya perang baratayudha.

Maka, lagi-lagi, beruntunglah Firaun yang setelah terbuka tirai-tirai kegaiban yang menutupi matanya, dia lantas dijemput tuhan, meskipun secara dipaksa, dengan cara ditenggelamkan di laut merah. Beruntung yang dituliskan Sujiwo Tejo tentu perlu didedah lebih panjang sedikit. Misalkan, keberuntungan Firaun itu adalah dalam konteks peperangan hawa nafsu, perangnya sudah selesai. Yang tersisa tinggal tanggung jawabnya di depan Tuhan. Lha, yang celaka justru kita yang masih hidup, sebab kesadaran dan ketaksadaran berada di keping koin yang sama. Sebab, siapa yang dapat memastikan jika kita berhasil mengelakkan nafsu hari ini, esok kita tidak akan jatuh ke dalam lubang nafsu yang lebih dalam? Dan lalu tenggelam selamanya tanpa beroleh lagi kesempatan untuk mencumbu tuhan yang mahaasyik. Yang keasyikan-Nya mengakibatkan kita lupa bermusuhan, lupa bertengkar, lupa berdusta, lupa berbuat jahat, dan mungkin lupa memilih presiden heuheuheu….

Pada situasi yang sangat asyik ini, representasi manusia menemukan bentuknya yang paling sempurna: cinta. Inilah sebab tuhan teramat murka ketika iblis menolak sujud ke hadapan tanah liat bernama Adam. Sosok adam yang dibentuk penuh cinta bahkan ditiupkannya ruh yang berfungsi sebagai perangkat untuk mengenali penciptanya yang mahaagung. Sayang, Iblis tidak pernah bisa memahami ungkapan cinta ini, tetapi cukup yakin bisa menggerakkan kita ke jalan angkara.

Entah ini berita baik atau buruk, kenyataannya manusia memang tidak selalu condong ke jalan yang benar. Kita jelas bukan malaikat yang pasti patuh tanpa cela. Kita adalah seonggok daging yang dibekali kehendak bebas. Nafsu dan akal sehat bertarung secara kontinual, tanpa henti. Sementara ruh mendambakan kesadaran, kecenderungan tubuh yang mendaging adalah kepuasan dan kenikmatan. Dan rupa-rupa godaan memerangkap ruh yang di dalam dengan indera yang berada di luar sebagai garda depan menangkap sinyal-sinyal indriawi yang diterjemahkan otak menjadi realitas atau kenyataan. Maka pantaslah jika kita mudah tertipu. Apa yang kita lihat, dengar,cium dan rasakan adalah jendela realitas kita yang diproses otak dengan cairan kimiawi yang rumit yang memberikan kita kemampuan membedakan rasa kopi dari teh. Bau rerumputan dan gas buang kenalpot kendaraan bermotor. Membedakan warna dengan baik dan seterusnya. Bukankah telah turun titah agar kita mawas diri dari ilusi nyonya dunia yang melenakan ini?

Ruh suatu waktu akan kembali kepada peniupnya. Pemiliknya yang abadi. Sementara tubuh hancur lebur hanya dalam hitungan hari ketika kita mati. Dalam meniti dunia yang disesaki berbagai ilusi dan fatamorgana kebahagiaan yang diciptakan nafsu, akal menuntun ruh untuk menerangi jalannya yang berliku, berkelok, bahkan berlubang agar selamat kembali ke rumah ruh. Yaitu kepada Tuhan. Indah sekali bukan?

Akhirul hikayah,, dalam keseluruhan naskah Rahvayana ini, Sujiwo Tejo sendiri mengambil jalan cukup berliku untuk “sekadar” menjelaskan baik dan buruk. Pilihannya mengambil Rahvana sebagai tokoh protagonis di luar pakem pewayangan bahwa ia adalah seorang raksasa jahat yang menculik sinta menimbulkan rasa penasaran luar biasa, untuk kemudian menggiring pembaca secara pelan-pelan memahami sastra jendra. Memahami kasunyatan yang tidak hitam-putih. Mungkin juga ini upaya batin penulis sendiri untuk meraih tingkatan tertentu sehingga cukup dekat kepada sang mahaasyik. Untuk tujuan ini Tejo tidak pantang menyebut dirinya sendiri ASU. Bukankah dengan menempatkan diri rendah dan kotor di hadapan yang mahaasyik yang sukar didekati dengan atribut apa pun, kita berharap dapat diangkat dekat dengan ketakterbatasannya? Sedangkan di hadapan manusia? Ah, nanti disangka pencitraan heuheuheu … sampai sini dulu ya. Tutup lawangsigotaka  ….

@salmanfaridi