Proof of Heaven

Apakah Surga Benar-Benar Ada?

Bagi kaum modernis, gagasan tentang yang suci, surga, dan bahkan tuhan sendiri telah lama dikubur beberapa abad lamanya. Setelah gagasan agama dianggap racun, dan dicurigai berlaku bak parasit menular yang menjijikkan, orang-orang modern menyandarkan diri pada rasionalisme dan empirisisme yang lebih terukur dan bisa dipertanggungjawabkan. Inilah fundamental modernisme yang dibangun di atas lapisan nalar rasional dan pengalaman empiris.

Karena itu pertanyaan apakah surga benar-benar ada akan tampak menggelikan dalam kaca mata modern. Pertanyaan itu mestinya dirumuskan ulang dengan, apakah pertanyaan surga itu ada sedemikian penting dibandingkan penemuan dan gagasan ilmiah yang lebih bermanfaat bagi masyarakat banyak? Sampai di sini, kita melihat bahwa argumentasi rasional jauh lebih relevan dibandingkan sibuk mengurus ada dan tiadanya alam akhir.

akan tetapi, semaju apa pun manusia berpikir tentang gagasan saintifik, hakikatnya manusia modern menyimpan rongga kosong yang dibawanya sampai mati. pemisahan gagasan spiritual dengan yang rasional itu ternyata menempatkan manusia modern pada situasi kepribadian yang terbelah. melulu mengejar dan tenggelam dalam pencapaian yang materialistik, manusia modern banyak yang memiliki luka dalam. maju dalam gagasan tetapi kering secara spiritual.

Inilah pengalaman yang dikeluhkan dokter Eben, seorang ahli saraf asal Amerika yang mengalami pengalaman hampir mati atau dalam istilah medis disebut NDE (Near Death Experience). Sebagai dokter yang terlatih dalam paradigma medis modern, gagasan yang sama tentang pemisahan manusia lebih sebagai makhluk material dibandingkan makhluk spiritual adalah hal jamak. serangkaian penyakit dipandang sebagai simptom yang berpusat pada malfungsi organ biologis belaka. sampai akhirnya sebuah virus meningitis menggerogoti hidupnya.

Dalam pengalaman selama hampir satu bulan di ambang hidup dan mati, dokter Eben mengalami serangkaian gagasan tentang alam real yang sama nyatanya dengan mencubit lengan sendiri. Ia mengalami (atau melihat?) pemandangan yang indah tak terlukiskan dengan didampingi sesosok makhluk yang menampakkan diri dalam wujud perempuan dengan bahasa yang tidak ditemukan dalam bahasa di dunia, namun anehnya dimengerti dengan baik. Salah satu hal yang dia ingat dengan jelas adalah setiap saat dia mendengar kalimat bahwa dia dicintai. Kesulitan mendefinisikan adanya kenyataan di luar kenyataan itu, ia definisikan sebagai ultra-real. Dalam kondisi medis biasa, Eben akan dengan mudah menyebut peristiwa itu sebagai halusinasi. Masalahnya, catatan medis yang ditelitinya selagi koma menjelaskan bahwa otaknya secara praktis mati sehingga tidak dapat berkomunikasi maupun merespons terhadap rangsang apa pun.

Dalam keadaan normal, bahkan dalam kondisi tidur lelap, otak secara aktif berfungsi terhadap rangsangan, termasuk menerima sinyal-sinyal mimpi yang dicirikan dalam gerakan mata yang cepat atau REM (rapid eye movement). Namun, Jika yang dialaminya bukan mimpi, karena otaknya praktis mati sehingga tidak menerima rangsang apa pun, lalu darimana ia memperoleh pengalaman ultra real-nya itu?

Pertanyaan inilah yang mengguncangkan nalar rasionalnya dan membuatnya memburu kebenaran dari pengalaman ultra indrawinya. Inilah pengalaman yang muncul ketika dria secara praktis idle atau tidak berfungsi sementara waktu. Sederhananya, semesta yang kita kenali termasuk kenyataan di dalamnya kita terima melalui indera. Kita bisa mengenal bau toilet yang busuk karena memiliki indera penciuman, mengagumi keindahan paras jelita dan gagah menawan karena penglihatan dan cahaya yang sampai ke mata. Meraba tekstur bulu domba yang berbeda dengan tekstur bebatuan karena kita memiliki indera meraba serta mendengarkan gemericik air yang jatuh berkecipratan yang menimbulkan ketenangan karena indera pendengaran. Semua pengalaman dan semesta kenyataan itu hadir melalui bantuan indera. Sekarang pikirkanlah bagaimana dunia menjadi tempat yang gelap gulita bagi si buta, dan sebuah tempat yang sunyi bagi yang tuli.

Setelah jawaban medis dan ilmiah tak juga memuaskan dokter Eben. Akhirnya ia berpaling pada satu-satunya jawaban yang tidak rasional: tuhan. Langkah ini termasuk sangat berisiko bagi seorang dokter, juga banyak dokter lainnya, yang terdidik dengan nalar rasional dan empirik ini.

Perlahan, gagasan yang semula tidak rasional itu justru teramat mencerahkan. Alih-alih mendapati kekonyolan keputusannya berpaling pada gagasan yang suci, dokter Eben bisa dengan jernih melihat bahwa ide sekuler yang memisahkan dimensi lahir-batin, jasmani-ruhani manusia itulah sesungguhnya takhayul dunia modern! Barangkali benar kata Rumi, setiap manusia itu ibarat seruling yang terpisah dari pokok bambunya. Setiap saat kita mendendangkan rintihan untuk kembali pulang kepada pokok bambu itu–kepada tuhan.

Beruntung Eben bertahan dari virus mematikan itu dan kembali untuk menceritakan pengalamannya dalam buku Proof of Heaven yang akan terbit melalui penerbit Bentang Pustaka.