Bulan Juni ini beberapa hari berselang tepat diperingati sebagai hari lahir Bung Karno yang jatuh pada tanggal 6. Konon hari kelahirannya disambut oleh fajar merekah di sudut Timur bumi diimbuhi letusan Gunung Kelud. Orangtua Soekarno percaya anak yang lahir pada waktu fajar ini akan menjadi seseorang yang luar biasa. Terlahir dari hubungan yang tidak biasa antara orangtua yang bersuku jawa dan Bali ditambah perbedaan agama, tak menyurutkan  niat bapaknya, waktu itu seorang guru, untuk mempersunting seorang gadis Bali. Anak yang terlahir di Surabaya di gang Peneleh itu kemudian dinamai Kusno.

Rupanya Kusno kecil yang lahir dan besar di sebuah rumah di dekat sungai yang tiap kali banjir airnya meluap ke dalam rumah itu sering sakit-sakitan. Apa daya, rumah di pinggir kali itu memang satu-satunya tempat yang masuk akal untuk ditinggali karena biaya sewa yang paling murah untuk ukuran gaji guru yang kecil. Namun, rumah yang lembap itu lambat laun mengoyak kesehatan Kusno dan menjangkitkan penyakit typus. Dalam usia belia inilah orangtua Kusno mengganti namanya menjadi Karno. Nama Karno diambil dari Karna, yang juga berarti telinga. Dalam epos pewayangan Karna adalah seorang Ksatria yang lahir dari Rahim dewi Kunti dan Dewa Surya. Namanya mungkin dipilih oleh ayah Soekarno secara mistik mewakili kesaktian Sang Surya, terlebih Kusno lahir saat fajar menyingsing.

Maka inilah kisah seorang anak guru yang bertransformasi puluhan tahun kemudian menjadi Presiden pertama Indonesia, Soekarno. Masa belianya dilewatkan dalam asuhan banyak pemikir yang ia sesapi lewat buku bacaan ketika indekost, popular kala itu disebut dengan istilah “bayar makan”,  di rumah Hadji Omar Said Tjokroaminoto, pendiri Syarekat Islam. Soekarno mendiami kamar di lorong paling gelap, hanya diterangi pelita, bukan listrik, dan sekalipun siang, saking gelapnya, pelita itu harus dinyalakan sepanjang hari.

Beranjak ke masa kini , setelah lewat beberapa presiden mengelola Negara yang menjunjung tinggi kebhinekaan, tetapi mulai koyak oleh semangat sektarian ini, tak kurang sudah hampir 70 tahun Indonesia merdeka. Namun, dalam wujud kebebasan yang luar biasa dari penjajahan Belanda yang menyengsarakan itu, tidak semua janji kemerdekaan telah berhasil dipenuhi. Tidak semua tanah air dan seisinya dimiliki secara berdaulat oleh Negara dan untuk kepentingan rakyat banyak. Dalam perjalanannya Negara seolah tunduk kepada pemilik modal. Konflik agraria, konflik warga dengan developer properti di Jogjakarta dan kota lainnya, konflik Samin VS Semen di Pati, dan konflik horizontal lainnya masih saja menghiasi berita nasional. Ironisnya dalam beberapa kasus, universitas tempat banyak warga terdidik tidak juga tergerak memihak rakyat banyak.

Pada suatu waktu Soekarno pernah mengingatkan generasi sesudahnya, generasi kita dan yang akan datang kemudian, bahwa perjuangan akan semakin berat karena musuh yang harus dilawan adalah bangsa sendiri. Penjajahan itu sedemikan pilu dan menyesakkan dada. Kusno kecil dan banyak orangtua yang lahir dalam masa kolonial pernah merasakan perihnya menjadi inlander. Kelas paling paria dan hanya sedikit lebih baik dari binatang. Saking rendahnya tempat paling beradab yang bias diperoleh Kusno sewaktu menonton bioskop adalah menonton dari balik layar dengan huruf terjemahan Bahasa belanda yang terbalik. Namun, tak ada yang lebih menyakitkan daripada harus menghunus pedang dan mengarahkan moncong senjata kepada saudara sendiri. Bertarung dengan saudara setanah air adalah sebuah tragedi.

Apa yang dialami Kusno banyak dalam masa kolonial ini sedikit banyaknya menempa Soekarno dewasa dalam menegakkan kehormatan bangsa dan Negara di hadapan Negara dan bangsa asing lainnya. Soekarno menjunjung tinggi kesetaraan dan untuk membuat bangsa-bangsa setara terlebih dulu Negara-bangsa harus mempreteli semua atribut dan saling berhadapan sebagai sesama manusia. Maka lahirlah Konferensi Asia Afrika sebagai upaya Indonesia menggalang dukungan kekuatan baru Negara-negara yang lahir dari pengalaman penjajahan yang sama. Bahkan semangat kebangkitan ini muncul dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, bukan kosmetika karena menang perang, melainkan semangat kolektif meniadakan segala bentuk penindasan terhadap manusia merdeka lainnya yang tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.

Ironisnya,  setelah ratusan tahun dan jutaan jiwa  tertumpah darah demi kemerdekaan, kini atas dasar apa sebagian kelompok merasa bahwa Indonesia perlu dimerdekakan dengan alasan tidak tunduk terhadap hukum agama tertentu? Pancasila yang digali dari keragaman Indonesia yang terdiri dari belasan ribu pulau dengan sejumlah etnis yang bertaburan sepanjung zamrud khatulistiwa adalah berkah yang membuat kita semua bersaudara dalam payung sebuah bangsa yang besar. Mari kita jaga Negara ini, tanah air tumpah darah kita. Selamat ulang tahun, Bung!

@salmanfaridi


Artikel telah diumumkan di Harian Bernas.

Share This