Sale!
wboa

When Breath Becomes Air

Rp59.000 Rp50.150

Apa yang membuat hidup layak dijalani di hadapan kematian? Apa yang Anda lakukan saat masa depan tak lagi menuntun pada cita-cita yang diidamkan, melainkan pada masa kini yang tanpa akhir? Apa artinya memiliki anak, merawat kehidupan baru saat kehidupan lain meredup? Inilah beberapa pertanyaan yang Kalanithi hadapi dalam memoar yang menyentuh dan indah ini.

Di usia tiga puluh enam tahun, di akhir masa pelatihannya selama sepuluh tahun sebagai seorang ahli bedah saraf, Paul Kalanithi didiagnosis mengidap kanker paru-paru stadium IV. Di satu hari ia adalah seorang dokter yang menangani orang-orang yang sekarat, dan hari berikutnya, ia adalah pasien yang mencoba bertahan hidup. Dengan kondisi ini, masa depan yang diidamkannya dan istrinya tiba-tiba menguap.

When Breath Becomes Air menggambarkan transformasi Kalanithi dari seorang mahasiswa kedokteran yang kesurupan oleh “pertanyaan tentang apa yang membuat hidup berharga dan bermakna, mengingat semua akan sirna pada akhirnya” menjadi seorang ahli bedah saraf di Stanford yang bergulat dengan otak, organ paling penting bagi identitas manusia, hingga akhirnya menjadi seorang pasien dan ayah baru yang menghadapi kematiannya.

Beli Sekarang

Product Description

Penulis:  Paul Kalanithi
Target terbit:  Agustus 2016
Kover:   13 x 20,5 cm
Penerbit:  Bentang Pustaka
Format:  13 x20,5 cm
ISBN:  978-602-291-246-0
Jumlah halaman:   248 hlm
Penerjemah:  Inggrid Dwijani
Penyunting:  Ika Yuliana Kurniasih
Jenis Kertas Isi: bookpaper 55 gr
Harga: Rp. 59.000,-
Jenis Kertas Sampul: AC 230 gr

Kata Mereka

“Saya jamin, tak mudah melupakan buku ini begitu Anda menyelesaikannya …. Pengaruh luar biasa buku ini sebagian datang dari fakta nyata bahwa penulisnya adalah seorang polimatik. Sedang sebagian lainnya datang dari caranya bercerita tentang apa yang terjadi padanya—dengan penuh semangat, bekerja dan berjuang, menolak kemudahan, menanti untuk hidup, dan belajar untuk mati—dengan begitu baik. Tak satu pun di antaranya yang cengeng. Tak ada yang dilebih-lebihkan. Seperti tulisannya kepada seorang teman, ‘Ini cukup tragis dan cukup bisa dibayangkan.’ Serta cukup penting untuk bisa dilewatkan begitu saja.” —Janet Maslin, The New York Times

“Memoar Paul Kalanithi, When Breath Becomes Air, yang ditulis saat ia menghadapi diagnosis kanker mematikan, benar-benar menyentuh. Namun, buku ini merupakan investasi emosional yang tak sia-sia: memoar yang mendalam dan menggugah tentang keluarga, kedokteran, dan sastra. Secara tak terduga buku ini sangat inspiratif meski berlatar menyedihkan.” —The Washington Post

“Memoar anumerta Paul Kalanithi, When Breath Becomes Air, memiliki daya tarik dan kebijakan tragedi kuno Yunani … [Kalanithi] menyampaikan kisahnya dalam sebuah prosa lugas yang indah. Buku ini penuh dengan refleksi sarat makna sekaligus sangat pedih mengenai kematian, yang lahir dari seorang dokter terlatih yang familier dengan apa yang ada di depan sana …. Narasinya begitu meyakinkan dan kuat hingga Anda akan berharap dia bisa selamat dari kematiannya dan menceritakan bagaimana keluarga dan teman-temannya selepas kepergiannya.” —The Boston Globe

“Memilukan sekaligus spektakuler … [Kalanithi] begitu menyenangkan, dekat, dan rendah hati sehingga Anda akan tersedot ke dalam dunianya dan lupa ke mana kisah ini menuju.” —USA Today

“Pendekatan [Kalanithi] yang tidak sentimental itulah yang membuat When Breath Becomes Air sangat orisinal—sekaligus memilukan …. Satu-satunya kelemahan buku ini, sebagaimana hidup penulisnya, adalah berakhir terlalu cepat.” —Entertainment Weekly

“[When Breath Becomes Air] membuka kepala saya dengan keindahannya.” —Cheryl Strayed

“Memesona, memilukan, dan sangat indah. Memoar Dr. Kalanithi yang terlalu muda ini merupakan sebuah bukti bahwa mereka yang sekaratlah yang paling bisa mengajari kita tentang kehidupan.” —Atul Gawande

“Berkat When Breath Becomes Air, kita yang belum pernah bertemu langsung dengan Paul Kalanithi akan berduka atas kematiannya, sekaligus mengambil pelajaran dari hidupnya. Buku ini merupakan salah satu dari sedikit buku yang saya anggap sebagai sebuah berkah—Saya akan merekomendasikannya kepada semua orang, siapa saja.” —Ann Patchett

“Inspiratif … perjuangan Kalanithi untuk mendefinisikan peran gandanya sebagai dokter dan pasien, serta pendapatnya dalam topik mengenai apa makna kehidupan dan bagaimana seseorang menentukan apa yang paling penting saat hanya ada sedikit waktu …. Memoar yang sangat menggugah ini mengungkapkan betapa banyak hal yang bisa diraih dengan pengabdian dan rasa syukur, saat kehidupan dijalani dengan keberanian dan ketabahan.” —Publishers Weekly

“Sebuah perenungan mengenai kematian yang menggugah dari seorang penulis berbakat dengan dua sudut pandang dari seorang dokter dan pasien yang menjelaskan satu hal … menulis bukanlah bedah otak. Namun, jarang sekali ada seseorang yang begitu baik dalam menulis sekaligus sangat terampil sebagai seorang dokter bedah saraf.” —Kirkus Reviews (resensi berbintang)

“Memoar yang mengggugah dan menghunjam. Perenungan yang begitu mengesankan dan menyentuh mengenai pilihan-pilihan yang membuat hidup layak dijalani, bahkan saat kematian di depan mata. Buku ini akan mendorong pembacanya merenungi nilai dan kematian mereka sendiri.” —Booklist

“Dr. Kalanithi menggambarkan dengan begitu jelas sekaligus sederhana, secara mendalam tanpa sedikit pun rasa iba kepada diri sendiri. Perjalanannya dari seorang mahasiswa kedokteran yang lugu, menjadi seorang ahli bedah saraf yang objektif dan tangguh, hingga kemudian menjadi seorang pasien tak berdaya yang sekarat karena kanker. Tiap dokter harus membaca buku ini—yang ditulis oleh sejawatnya sendiri, untuk bisa memahami dan mengatasi penghalang yang kita bangun antara kita dan pasien begitu lulus dari sekolah kedokteran.” —Henry Marsh, penulis Do No Harm: Stories of Life, Death, and Brain Surgery

“Sebuah buku mengagumkan, yang sarat dengan kehidupan, digerakkan oleh kekaguman dan pertanyaan bagaimana seharusnya kita hidup. Paul Kalanithi hidup dan meninggal dalam pencarian akan kesempurnaan, dan dengan testimoninya ini, ia mendapatkannya.” —Gavin Francis, penulis Adventures in Human Being

Reviews

There are no reviews yet.

Be the first to review “When Breath Becomes Air”

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *