Jaringan Buku di Pesantren

Saya punya sedikit angan-angan melakukan penelitian kecil-kecilan tentang bagaimana penggunaan buku ajar (kitab kuning klasik maupun kitab “putih” modern) di Pesantren memengaruhi pergerakan dinamika Islam di Indonesia. Penelitian ini, seandainya jadi, menjadi menarik karena beberapa hal. Pertama, sejauh ini tidak ada yang pernah mengumpulkan buku apa saja yang diajarkan secara kolektif untuk banyak sekolah islam. Kesulitan lainnya muncul karena setiap pesantren memiliki kurikulum mandiri termasuk memilih referensi yang diajarkan kepada santri. Terlebih jika dihubungkan dengan garis kebijakan organisasi keislaman seperti Nahdatul Ulama, Muhammadiyah, Persatuan Islam (Persis) maupun organisasi lainnya yang tidak berafiliasi dengan ormas manapun yang memiliki orientasi berbeda-beda. Kedua, alasan pemilihan buku-buku itu tentu akan menarik seandainya dikaji dengan strategi output yang diinginkan oleh lembaga pendidikan. Apakah lebih ideologis, bersifat praktis pada wilayah fiqih, ataupun diskursif pada hal-hal yang berhubungan dengan syariah secara umum. Ketiga, akan menarik menguji relevansi sebagian besar kitab klasik yang ditulis beberapa abad lampau itu dengan kemajuan zaman baik dari sisi teknologi maupun didaktika.

Bagi saya penting melihat jaringan buku di dunia Islam ini, khususnya dalam lingkup pesantren di Indonesia, untuk melihat bagaimana buku-buku itu menjadi fondasi gagasan individual maupun kolektif dalam merumuskan gagasan Islam tempatan. Sebagai contoh untuk masyarakat muslim Indonesia yang mayoritas berpegang kepada gagasan fiqih Syafii, adalah hal yang lumrah mendapati bahwa banyak kitab yang diajarkan tentulah diturunkan dari karya Imam Syafii seperti Al-Umm dan atau kitab lainnya yang menjadi syarah atau menjelaskan gagasan-gagasan Imam Syafii. Fiqih sendiri sering diartikan sebagai landasan hukum formal (yurisprudensi) yang mengatur hampir semua hal yang mencakup hajat hidup seorang muslim sejak lahir ke dunia sampai kembali ke liang lahat. Menariknya, meskipun secara kolektif berfaham syafii, terdapat variasi dalam aspek-aspek ritual yang spesifik. Salah satu contoh klasik tetapi kolosal adalah bagaimana perbedaan minor dalam qunut subuh maupun penggunaan lafaz niat secara eksplisit (ushalli) telah menjadi topik utama perdebatan tak berkesudahan di masa lalu.

Dari hasil penelusuran singkat dan terbatas saya menemukan beberapa tema penting lain yang mungkin umum didapati dan diajarkan di dunia pesantren, selain fiqih, adalah buku-buku tentang kaidah dan tata bahasa dan susastra Arab (termasuk ilmu alat dan balaghah), tasawuf, tafsir Alquran, kitab-kitab hadis seperti kodifikasi hadis karya Imam Bukhari dan Imam Muslim, ilmu tauhid yang sering diturunkan dari ulama-ulama ahli kalam terutama Imam Asy’ari, dan logika Aristotelian yaitu Mantiq. Tema-tema di atas adalah hasil telusur penulis pada beberapa pondok pesantren yang secara eksplisit menampilkan kajian kitab-kitab yang dipelajari sejak usia sekolah dasar sampai menengah atas. Banyak pesantren yang mungkin menambahkurangi tema-tema pokok kajian, termasuk memilih buku dari karya ulama berbeda. Contoh, tidak semua pesantren meminati kajian tasawuf dan dengan demikian memilihkan kitab yang sesuai untuk santri. Kitab seperti Ihya Ulum Ad-Diin karya Imam Al-Ghazali mungkin jauh lebih populer dibandingkan kitab futuuhaat Al-Makkiyah karya Syaikh Akbar Muhyiddin Ibn Arabi. Apalagi jika dikaitkan dengan sosok Ibn Arabi yang kontroversial serta larangan mayoritas ulama (umumnya ulama fiqih) mempelajari gagasan mistiknya.

Sejarah Islam Nusantara depanSenarai tema pokok di atas memberikan informasi awal betapa banyak wilayah intelektual yang coba dijamah dan diperkenalkan kepada santri sebagai bekal pengetahuan keislaman. Masalahnya, dan ini yang paling penting, bagaimana pengenalan kajian ilmiah itu berperan penting dalam dinamika Islam di Indonesia. Adakah buku-buku yang secara spesifik menggerakkan semangat jihad antikolonial pada masa jajahan dulu misalnya. Apakah mempelajari tasawuf mendorong orang tidak peduli dengan isu-isu sosial kemasyarakatan yang strategis, atau apakah pendalaman materi tentang fiqih bahkan membuat orang lebih terkutubkan antara modernis dan tradisionalis, atau bahkan ultramodern seperti yang dicerminkan oleh gagasan Islam Liberal misalnya. Dan, jika mau diurai ke dalam tema yang sedang “hot” sekarang ini adalah menelisik gagasan jihad, sebagai bahan yang nyaris tiada habisnya diulas, dalam kitab-kitab kajian yang lebih spesifik dan serius, serta bercorak ideologis, dibandingkan fiqih pada umumnya.

Yang menarik, pada akhirnya, penulis merasa angan-angan penelitian ini berkembang menjadi sesuatu yang sangat besar. Melakukan upaya koleksi rujukan yang tersedia di pesantren dapat dilakukan dengan kesulitan yang tidak terlalu besar, tetapi mengukur sejauh mana buku-buku itu berpengaruh dalam wacana dan dinamika Islam di Indonesia tentu bukan hal mudah. Akan tetapi sebagai angan-angan, penelitian ini mungkin tetap penting mengingat begitu banyaknya intelektual muslim indonesia yang tumbuh dan berkembang dalam asuhan pondok pesantren. Terlebih meletakkan gagasan keIndonesiaan dalam banyak literatur yang ditulis oleh ulama yang secara geografis berasal dari Timur Tengah tentu sangatlah menantang.

Dengan dinamika pesantren yang luar biasa menarik, benar adanya kampanye ayo masuk pesantren beberapa waktu lalu yang pernah ramai di media sosial menunjukkan betapa pesantren punya cukup kapasitas untuk membekali siswa menjadi sosok intelektual yang mumpuni. Mereka yang bikin gaduh, jika bukan ilmunya nanggung, besar kemungkinan lulusan pesantren kilat.

@salmanfaridi