Menakjubkan! Perjalanan Lain Menuju Bulan Akhirnya Terwujud

Menakjubkan! Perjalanan Lain Menuju Bulan Akhirnya Terwujud

“Masa ketika Another Trip to the Moon digagas adalah masa pada saat kolaborasi lintas disiplin seni kembali terjadi.” – Charlie Meliala, Direktur Utama Bosan Berisik Lab.

Aan Mansyur, dikenal sebagai seorang penyair muda tanah air yang sukses menggaet hati para pembacanya melalui kata-kata di dalam puisinya. Lahir di Bone, pada 18 Januari 1982, M. Aan Mansyur, yang memiliki nama pena Huruf Kecil, selain aktif menulis, ia juga merupakan seorang penggagas acara tahunan Makasar International Writer Festival (MIWF) dan juga pustakawan di perpustakaan Kata Kerja yang terletak di Makasar.

Perjalanan Lain Menuju Bulan, adalah kumpulan puisi terbaru dari Aan Mansyur yang berkolaborasi dengan Ismail Basbeth dan juga para musisi. Puisi-puisi yang tercantum dalam buku ini terinspirasi dari sebuah film karya Ismail Basbeth berjudul, Another Trip to the Moon, yang rilis pada tahun 2015. Film yang dibintangi oleh Tara Basro ini memiliki konsep lain dari pada yang lain. Selama 80 menit, penonton disuguhi sebuah film surealis yang sangat jarang diangkat oleh para sineas Indonesia. Sejak awal, Another Trip to the Moon memang dicanangkan akan menjadi sebuah karya lintas disiplin yang dapat menggaet para penikmat sastra, musik, dan film. Buku setebal 112 halaman ini, selain memuat puisi-puisi indah dari Aan Mansyur, dan foto-foto surealis, juga akan disertai dengan CD Original Soundtrack dari film Another Trip to the Moon.

Perjalanan Lain Menuju Bulan: Satu Kisah Tiga Babak atau Tiga Puluh Sajak

Perjalanan Lain Menuju Bulan: Tiga Dimensi dalam Satu Karya

Perjalanan Lain Menuju Bulan: Tiga Dimensi dalam Satu Karya

“Masa ketika Another Trip to The Moon digagas adalah masa pada saat kolaborasi lintas disiplin seni kembali terjadi dengan sangat meriah.” – Direktur Utama Bosan Berisik Lab.

Sebuah karya seni tidak akan lepas dari sebuah ide kreatif dari sang pencipta. Meramu, meracik, dan merangkai sebuah ide tersebut untuk menjadi sebuah karya yang dapat dinikmati. Maka tak heran bila sering kali intepretasi seseorang dapat berbeda-beda. Sebuah karya seni, tidak hanya berhenti ketika sudah menjadi sebuah karya, ia dapat berkembang dan berkolaborasi bersama dengan karya-karya lainnya. Integrasi itu kemudian menciptakan sebuah keharmonisan yang baru, seperti dalam harmonisasi antara musik, puisi, dan film. Siapa sangka, perbedaan mereka dapat menjadi sebuah harmonisasi yang baru.

Perjalanan Lain Menuju Bulan, adalah sebuah kolaborasi ekstrim nan apik dari tiga lintas disiplin seni; musik, puisi, dan film. Keseruan kolaborasi ini menggabungkan mereka-mereka yang ahli di bidangnya untuk menciptakan sebuah keharmonisan baru di dalam jagat seni. Ide yang semula ditulis oleh Ismail Basbeth itu kemudian ditanggapi oleh Aan Mansyur dan terlahirlah sebuah rangkaian kata bermakna ganda. Tak hanya Aan, ide itu juga ditanggapi oleh Elda Suryani (penyanyi Stars and Rabbit), Frau, Icarie, Monica Hapsari, Zorrya, Sungai, Topan Daru, dan Zeke Khaseli yang dari tangan-tangan mereka terlahirlah sebuah alunan musik yang pas didengarkan sembari membaca untaian kata dari Aan Mansyur. Tak berhenti di situ, ide dari Ismail Basbeth tersebut kemudian ditetaskan menjadi sebuah film panjang berjudul Another Trip to The Moon yang rilis lebih dahulu pada tahun 2015 yang dibintangi oleh Tara Basro, dan telah mendapatkan berbagai penghargaan dari dalam maupun luar negri.

Jangan-jangan Kita Sendiri yang Intoleran?

SESUNGGUHNYA apa yang terjadi dengan masyarakat kita? Golongan liberal mengolok-olok golongan literal sebagai kelompok yang melulu tekstual namun kehilangan konteks, bahkan tidak berpikir dengan akal sehat. Sebaliknya, golongan literal pun mengumpat-umpat golongan liberal sebagai kelompok yang kelewat batas menabrak teks dengan berlindung di balik konteks, yang oleh karena itulah dinilai tidak lagi mengimani wahyu Allah dan sabda Rasulullah sepenuh hati.

Kaum moderat menunjukkan dalil yang bejibun untuk menegaskan betapa ilmu dan pembelajar menempati kedudukan sangat tinggi di mata Allah. Sebaliknya, kaum fanatik punya setumpuk ayat dan hadits yang menandaskan maqam paling tinggi ditempati oleh ia yang menjalankan kepatuhan dan ketaatan tanpa pandang bulu. Entah mengapa keduanya mudah mempertunjukkan teori akhlak dan adab tapi susah menunjukkan akhlak dan adab sesuai suri teladan dari Muhammad SAW.

Kalangan ilmuwan menggerutu karena merasa diperlakukan secara tidak patut, terutama di dunia maya, namun meladeni olok-olok kalangan yang mereka sebut awam, tidak berilmu cukup, tidak berguru mumpuni, bahkan tidak setara kapasitas, dengan olok-olok yang juga tidak bagus. Yang distempel awam berkelit bahwa ketakwaan seseorang tak ada kaitannya dengan gelar akademis. Namun, ia toh tetap tidak menunjukkan perilaku sesuai dengan tanda-tanda orang bertakwa.

Kubu konservatif merasa menjaga dan melestarikan tradisi adalah perwujudan dari ketangguhan dan keteguhan dalam menghadapi arus zaman. Sedangkan kubu progresif merasa kejumudan harus dipecahkan. Atas nama pembaharuan, pergolakan adalah suatu kewajaran bagi perubahan–bahkan, jika perlu, lawan arus! Pada akhirnya, dua kelompok besar ini akan terjebak pada dikotomi puritan dan sekuler, serta absolutisme klaim kebenaran dan vonis kesalahan.

Padahal, yang ideal belum tentu realistis dan yang realistis pun belum tentu ideal. Yang kuno tak selalu ketinggalan zaman, bahkan siapa tahu telah teruji zaman dan tetap mampu bertahan. Yang kini tidak selalu cocok dengan zaman, bahkan siapa tahu tak bertahan lama.

Pendek kata, tak ada yang benar-benar benar karena kita sama tahu kebenaran di dunia ini relatif. Kemutlakan tak perlu dipaksakan karena ia niscaya mutlak dengan sendirinya. Jika sesuatu dipaksakan, lahirlah intoleransi.

Kaum takfiri menuduh sesama Muslim sebagai kafir. Namun, yang dituduh kafir pun berdalih yang menunjuk seseorang kafir sesungguhnya ia sendiri yang kafir, lalu menunjuk-nunjukkan keimanannya seolah yang paling lurus. Meski tak suka mengkafirkan orang lain, bukankah sama saja jika memojokkan takfiri itu bengkok imannya? Kaum putih menuding kaum abangan tidak mengalami kemajuan, tapi kaum abangan melihat kaum putih terus bertengkar dan mengalami kemunduran.

Kata orang-orang pintar, hal-hal rumit bahkan bisa dipikir dengan logika dasar, tanpa perlu menggunakan cara-cara kekerasan. Padahal, pengertian radikal dalam filsafat– yang diyakini sebagai induk ilmu pengetahuan–ialah proses berpikir secara kompleks sampai ke akar-akarnya. Radikal, yang berakar kata radix, didefinisikan dalam kamus sebagai hal yang mendasar sampai pada prinsipnya. Entah mengapa makna paling mutakhir dari radikalisme adalah kekerasan.

Benturan terus menerus antara dua kutub ini mungkin, jika bukan niscaya, tak akan pernah ada hentinya. Tak ubahnya kaum Qadariyah dan kaum Jabariyah yang tidak menemukan titik tengah. Jika gesekan ini terus menguat, maka kian panaslah suhu kehidupan kita.

Kehadiran kaum tengah, yang bukan kiri dan bukan kanan, yang tidak condong ke kiri dan tidak condong pula ke kanan, diharapkan bisa menjadi penengah. Tapi, tentu, yang di tengah ini jangan lantas justru setengah-setengah.

Perkawinan klaim kebenaran dan vonis kesalahan melahirkan sikap intoleransi di tengah kehidupan kita. Bukan terhadap keberagamaan saja, namun lebih dari itu juga terhadap keberagaman. Merasa diri benar, lebih benar, bahkan paling benar, dengan menganggap yang selain dirinya salah, lebih salah, bahkan paling salah, adalah akar perkara intoleransi. Padahal, kita sama tahu solusi untuk mengatasi sikap intoleran adalah bersikap toleran. Sesederhana itu. Kitalah yang rumit.

Yang membalas olok-olok dengan olok-olok pula; sekali lagi: kita sama tahu; sama buruknya dengan yang mengolok-olok. Mengutuk intoleransi dengan sikap yang intoleran pula? Lalu, mau sampai kapan kita begini?

Meski terdengar klise, petuah yang berumur paling panjang dan selalu disampaikan sejak dari leluhur kita hingga anak cucu kelak adalah, “Mari kita saling menghormati pikiran dan perasaan setiap orang, serta agama dan keyakinan masing-masing,”–dan seterusnya.

Mengambil batas yang jelas antara yang privat dan yang publik juga menjadi amat perlu. Mana yang konsumsi individual dan/atau internal, mana yang konsumsi sosial dan/atau eksternal, harus kentara betul pembedanya.

Jangan sampai kita sendiri yang mengunggah persoalan di wilayah pribadi ke ranah media sosial, lalu kita sendiri yang rempong menanggapi respons bebas akun-akun di linimasa dan masih pula menuntut privasi dihormati. Lalu, kita mengumpat: dasar intoleran!

By: Candra Malik

Source: Geotimes

Budi Darma dan Takdir Seorang Penulis

Budi Darma dan Takdir Seorang Penulis

Bagi seorang penikmat, penggiat, atau penikmat awam, nama Budi Darma sudah tidak asing lagi terdengar di telinga kita. Selain sebagai seorang penulis, Budi Darma, juga dikenal sebagai seorang akademisi. Ia adalah guru besar di FPBS Universitas Negri Surabaya. Lahir di Rembang, 25 April, 80 tahun lalu. Masa kecil Budi Darma yang sering berpindah-pindah membuat hampir semua karyanya mengenai perjalanan.

“Masing-masing pengarang mempunyai kepribadian sendiri-sendiri…. Konsep masing-masing pengarang tentunya tumbuh dengan sendirinya, tanpa bisa dipaksakan, karena pada hakikatnya, masing-masing pengarang menulis berdasarkan kepribadiannya sendiri.”

 

Sebagai seorang sastrawan revolusioner, Budi Darma membawa sebuah nafas baru bagi khasanah sastra Indonesia. Budi Darma dengan berani mengangkat kisah-kisah yang kelam, pekat, pilu, sinting, tetapi merdeka dan liar. Penulis angkatan 70an ini mengaku, bakat menulisnya adalah sebuah takdir.

“Apa yang ditentukan oleh takdir, termasuk menjadi pengarang atau tidak, tidak bisa dielakkan. Syarat-syarat lain juga akan ditentukan oleh takdir.”

 

Bagi Budi Darma, obsesi adalah  modal utama yang sangat penting. Obsesi inilah yang secara langsung atau tidak langsung akan mewarnai karya setiap pengarang. Baginya, obsesi seorang pengarang adalah menanyakan berbagai pertanyaan yang kemudian diimajinasikan. Karena itulah bahan bakar seorang pengarang untuk terus berkarya.

 

Kritikus Adinan, merupakan salah satu kumpulan cerpen paling monumental dari Budi Darma. Buku setebal 274 halaman ini, di dalamnya terdapat 15 kisah tentang manusia yang ganjil, naif, keji, dan cenderung memiliki sifat penyendiri. Budi Darma dengan mahir, meramu konflik antar manusia yang sering kita jumpai tetapi sering pula kita abaikan.

Politik Kata Dalam Ramuan Musik Jazz dan Parfum: Refleksi Atas Buku

Politik Kata Dalam Ramuan Musik Jazz dan Parfum: Refleksi Atas Buku

Tulisan wartawan akan membawa sebuah informasi ke seantero dunia. Begitu wartawan  menulis dan dimuat di media massa maka informasi itu akan menyebar kemana-mana tanpa bisa dihentikan. Wartawan adalah agency yang merespon strukrur yang melakukan abuse of power. Wartawan akan mempunyai cara untuk mengemukakan fakta itu. Pilihan kata, pilihan diksi itulah senjata wartawan dalam merespon struktur.

Bagi wartawan mengkritik penguasa, membeberkan fakta yang kelam tentang abuse of power tidak mesti dengan bahasa yang vulgar yang berisi caci maki seperti yang kita tonton dalam panggung perpolitikan saat ini. Pilihan kata yang akan disampaikan perlu perenungan tentang makna yang tersembunyi di balik kata tersebut. Kata bisa dimainkan ibarat musik Jazz dan dimaknai dengan beragam prespektif. Barangkali itulah simpulan utama ketika kita membaca buku “Jazz, Parfum dan Insiden” yang ditulis Seno Gumira Ajidarma yang diterbitkan oleh Bentang.

Awalnya struktur tidak merespon sebuah tulisan wartawan yang dimuat di media tempatnya bekerja. Namun ketika tulisan itu secara berulang dimuat saat itulah struktur akan gerah dan merespon. Dengan alat kekuasaan yang dimiliki, maka ia akan mencari-cari sebuah kesalahan, mencari-cari alasan untuk membungkam. Ini adalah sebuah fakta tentang bagaimana sebuah tulisan wartawan bisa memunculkan ketegangan dengan struktur penguasa.

Penulis buku ini pada dasarnya mencoba mengungkap penggalan-penggalan insiden di Timtim yang oleh dunia sebagai pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM). Namun siapa yang berani menulis fakta itu di eranya jangan harap bisa lolos dari tangan-tangan penguasa. Fakta tentang kesewenang-wenang penguasa harus ada taktik dan cara. Fakta perlu dibalut dengan sebuah fenomena lain yang akan menggiring orang untuk membaca dan terus membaca sampai akhir, kemudian mencoba mencari benang merah atas berbagai fakta itu.

Buku ini merupakan novel yang tidak ditulis berdasarkan sebuah angan yang kosong tapi menyandarkan pada sebuah peristiwa yang tertulis dalam sejarah kelam perpolitikan di negeri ini. Jejak-jejak bagaimana wartawan merekam fakta itu berdasarkan keterangan orangkedua yang melihat kejadian sebenarnya akan pembaca temui dalam setiap bab buku ini. Penulis buku yang yang juga jurnalis ini mampu mengelabaui penguasa  tentang pesan yang ingin disampaikan melalui buku ini.

 Kekuatan utama buku ini adalah kemampuan penulis dalam merepresentasikan peristiwa yang meninggalkan luka dari banyak kalangan lewat pemahaman musik jazz dan parfum. Bagaimana jazz digambarkan oleh penulis tidak hanya sekedar pendapat atau pemikirannya tetapi dengan dukungan pendpat orang yang terbalut indah. Melalui tulisannya, masyarakat tidak hanya mendapatkan single track information tapi multi track information. Tulisan wartawan atau penulis adalah senjata mereka melawan struktur yang mereka nilai melanggar HAM atau abuse of power.

Itulah yang dilakukan Sena Gumira Ajidharma dalam bukunya ini. Insiden-insiden di Timtim  yang oleh dunia dianggap sebagai pelanggaran Hak Azazi Manusia (HAM) tidak mudah untuk dilaporkan kepada masyarakat. Hal itu disebabkan masih kuatnya kekuasaan pemerintah Orde Baru. Namun fakta kelam di Timtim waktu itu mampu dikemas dan bisa dibaca masyarakat secara luas.

Buku ini dimulai dengan  penggambaran tentang musik jazz. Musik jazz digambarkan sebagai musik yang penuh improvisasi serta untuk menyatakan satu sikap. Penulis menganggap jazz sebagai sebuah hiburan yang pahit, sendu mengungkit-ungkit rasa duka. Selalu ada luka dalam jazz, selalu ada keperihan dan rintihan. Inilah yang mencoba digambarkan penulis tentang insiden-insiden yang terjadi di Timtim. Rintihan, lolongan, jerit kesakitan ketika alat-alat kekuasaan mencabik-cabik tubuhnya.

Pembaca kemudian akan dibawa pada laporan-laporan wartawan yang mewawancarai orang-orang yang melihat kejadian berdarah di Timtim. Orang-orang yang diwawancarai memaparkan fakta insiden berdarah secara gamblang. Yang menarik adalah prolog sebelum insiden tersebut dipaparkan sehingga kita diminta tidak hanya sekedar membaca tulisan tersebut, tetapi mencoba memahami makna dibaliknya. Sebuah peristiwa tidak mungkin bisa ditutup-tutupi baunya tetap akan tercium oleh orang lain. Bau yang keluar akan mencerminkan karakter orang yang memakai. Insiden Dilli mengeluarkan bau amis darah dan tercium dimana-mana, dan kita akan bisa membayangkan seperti apa karakter rezim waktu itu.

Loncatan-loncatan yang ada dalam buku ini, sebenarnya merupakan sebuah cara penulis untuk berkelit agar bisa memuluskan tulisannya ini kepada pembaca. Otomatis dalam membaca buku ini tidak hanya berhenti membaca bab perbab tapi memerlukan waktu khusus sehingga benang merah tentang pesan yang ingin disampaikan bisa dipahami. Rugi tidak membaca buku ini. Jazz dan parfum akan memberikan makna bagi yang memainkan dan memakainya, Karakter terbangun melalui imaji tentang musik dan parfum. Selamat membaca.

(Susilastuti, DN, Dosen Komunikasi UPN)

Halaman 1 dari 812345...Terakhir »