Apakah Islam Kita Kearab-araban?

1-Markas-CahayaSuatu ketika saya diminta istri saya untuk menjemput mahasiswa pertukaran asal Hongaria yang bernama Gustaff. Kali ini istri saya menyiapkan sebuah acara makan kecil-kecilan demi mengenalkan sang tamu kepada jenis kuliner nusantara dengan menu khas jogja. Acara ini sengaja dirancang untuk menghormati Gustaff sebagai mahasiswa asing pertama dalam kelas istri saya. Selain bertukar cerita kami pun lalu terlibat dalam suasana diskusi yang cukup serius.

Bagi Gustaff yang baru saja pulang dari liburan bersama mahasiswa lainnya dari Bali, suasana kota dewata berkesan sangat dalam dibandingkan dengan suasana di Jogja yang menurutnya cukup seragam. Yang dimaksud dengan seragam versi gustaff adalah ketika dia melihat busana muslim perempuan yang terlihat begitu-begitu saja. Di hampir setiap kesempatan, aku Gustaff, dia hanya melihat bahwa busana muslim identik dengan penutup kepala. Apa pun pakaiannya! Sementara di Bali, Gustaff akan dengan mudah melihat banyak pakaian tradisional dan atau pakaian adat Bali yang unik. Pendapat Gustaff tentu tidak bisa disalahkan. Hanya, Gustaff tentu tidak tahu bahwa bagi sebagian muslimah yang ingin mengamalkan Islam dengan kaffah dengan menggunakan penutup kepala atau kerudung, menutup aurat hingga kepala adalah keharusan yang tak bisa ditawar.

Saya jelaskan dengan sabar bahwa kalau Gustaff punya waktu berlebih saya bisa tunjukkan bahwa pakaian adat daerah lainnya juga tidak kalah menariknya dengan pakaian tradisional bali. Bahkan mode busana muslimah juga mengalami perkembangan sesuai perkembangan fashion. Aplikasi batik dan atau motif tradisional pada busana muslim belakangan merupakan satu hal yang biasa. Tak heran busana muslim asal Indonesia relatif disukai oleh perempuan muslimah di luar Indonesia karena kemampuannya beradaptasi dan menyerap budaya lokal dengan sangat baik. Saya juga menjelaskan kalau Burqa atau penutup muka yang sangat biasa digunakan oleh perempuan muslim di benua afrika, anak benua india, Pakistan dan atau timur tengah, bukanlah mode yang lazim diikuti oleh perempuan muslim Indonesia.

Baru-baru ini dalam sebuah peluncuran buku traveling ke Rusia yang ditulis oleh salah seorang staf diplomat departemen luar negeri Indonesia di Rusia, saya berkenalan dengan seorang desainer busana yang mulanya seorang karyawan sebuah bank swasta di Jakarta. Menariknya, Pak Yuko, desainer asal Makassar yang memiliki ciri khas batik tulis dengan motif ikan ini menceritakan bahwa baju-baju buatannya ternyata diminati oleh kaum muslimah Rusia. Satu bukti lagi betapa budaya lokal yang dikawinkan dengan nilai Islam tidak mesti berujung bidah bahkan malah populer.

Namun, Gustaff yang kritis tidak berhenti begitu saja. Salah satu pertanyaan yang membuat saya cukup tertantang adalah ketika dia bertanya, “kalau kalian tidak mengidentikkan diri dalam praktik keislaman seperti halnya orang Arab, mengapa shalat masih menggunakan bahasa arab?”

Ada jawaban yang panjang untuk menjawab pertanyaan Gustaff ini namun saya memilih jawaban singkat saja meskipun jadinya bernada apologetik. Saya bilang, dalam praktik ibadah tertentu seperti shalat, misalnya, ketentuannya sudah diatur sedemikian rupa sehingga menihilkan kemungkinan menggunakan bahasa selain bahasa Arab. Tidak bahasa Indonesia, urdu, hindi, tagalog atau bahasa lainnya. Semua bacaan dalam shalat mulai takbir sampai tahiyyat akhir seperti dicontohkan nabi menggunakan bahasa Arab. Saya sungguh berharap jawaban saya tidak memuaskan dan dengan demikian, memancing lebih banyak pertanyaan.

@salmanfaridi