Buku

Buku

remah bahasa, eko endarmoko, bahasa, kbbi, beritagar, bahasa indonesia, tesaurus, tesamoko
remah bahasa, eko endarmoko, bahasa, kbbi, beritagar, bahasa indonesia, tesaurus, tesamoko

Remah-Remah Bahasa (Perbincangan dari Luar Pagar)





































Penulis: Eko Endarmoko



Terbit: Januari 2018



Judul buku : Remah-Remah Bahasa



(Perbincangan dari Luar Pagar)



Kover:



Penerbit: Bentang



Format kover: 13 x 20,5 cm



ISBN:  978-602-291-445-7



Jumlah halaman: 180 hlm



Penyunting:  Noni Rosliyani



Jenis Kertas Isi:



Bookpaper 55gr



Harga: RP. 49.000,-



Jenis Kertas Sampul:



Art Cartoon 230 gram



Tebal Punggung: 1,026



Kategori versi Penerbit:



Bahasa



Lini: B First



Kode: BB-017



IDR 49.000 IDR 41.650
Beli Buku
EBOOK

Tanpa kita sadari, sejumlah kata “baru” datang lewat berbagai cara, sementara itu banyak kata “lama” yang sudah jarang atau bahkan tak lagi pernah dipakai, kecuali jadi penghias kelengkapan kamus. Di antara itu, sekeliling kita disesaki kata dan istilah yang semakin tidak terasa asing. Artikulasi, ekspektasi, formulasi, identifikasi, interpretasi, kapasitas, karakter, opsi, signifikan, ....



 



Dalam buku inilah remah-remah catatan karya Eko Endarmoko ditulis. Berbagai perbincangan mengusik tentang bahasa Indonesia, pengguna, dan penggunaannya dewasa ini.



 



Eko menawarkan pandangan dari luar pagar tentang masa depan bahasa kita. Sebab, nasib bahasa Indonesia sepenuhnya berada di tangan kita, bukan di tangan para pekamus atau perencana bahasa.



 



Eko Endarmoko—penyunting, pemerhati bahasa, dan penyusun Tesaurus Bahasa Indonesia. Aktif menulis esai dan kritik kebahasaan dan sastra di pelbagai media, Basis, Horison, Kalam, Kompas, Tempo, Berita Nasional, Suara Karya, serta portal Beritagar.


Eko Endarmoko, kelahiran Tarempa, Kepulauan Riau, 6 Oktober 1959. Ia pernah belajar bahasa dan sastra di Jurusan Sastra Indonesia FSUI (sekarang FIB UI, 1980-1986), bekerja sebagai wartawan di majalah perbukuan Optimis (1984-1985) sebelum ikut membidani dan kemudian menjabat redaktur pelaksana Berita Buku terbitan Ikapi Pusat (1987-1989). Pernah pula ia bekerja sebagai penyunting—yang masih dilakoninya sampai sekarang—di penerbit Pustaka Utama Grafiti (1989-1997). Sejak pertengahan 1997 ia bergabung dengan Komunitas Utan Kayu, yang kemudian menjelma Komunitas Salihara pada 2008, hingga nonaktif terhitung sejak 2013. Menulis esai dan kritik kebahasaan dan sastra di pelbagai media cetak, seperti Basis, Horison, Kalam, Kompas, Tempo, Berita Nasional, Suara Karya. Belakangan perhatiannya lebih memfokus pada bahasa Indonesia dan menuangkan pemikirannya mengenai soal itu ke dalam sejumlah tulisan untuk, antara lain, majalah Tempo, harian Kompas dan di portal Beritagar. Sejak Oktober 2017 ia mengasuh rubrik “Tabik” di https://Beritagar.id//.

    Related Book