Buku

Buku

sedang tuhan pun cemburu, sedang tuhan, emha ainun nadjib, cak nun, maiyah, gamelan kiai kanjeng, mbah nun, republish
sedang tuhan pun cemburu, sedang tuhan, emha ainun nadjib, cak nun, maiyah, gamelan kiai kanjeng, mbah nun, republish

Sedang Tuhan pun Cemburu (Republish)








































Penulis:  Emha Ainun Nadjib



Target terbit: Mei 2018



Judul buku:  Sedang Tuhan pun Cemburu



Kover:   13x20.5 cm



Penerbit:  Bentang Pustaka



Format:  13x20.5 cm



ISBN:  978-602-291-474-7



Jumlah halaman:   464  hlm



Penyunting: Nurjannah Intan



Jenis Kertas Isi: bookpaper 55 gr



Harga: Rp. 89.000,-



Jenis Kertas Sampul: AC 230 gr



Tebal Punggung: 2.44  cm



Kategori versi Penerbit: Sosial-Budaya



Lini:  Bentang Pustaka



Kode:  BS-527



 


IDR 89.000 IDR 75.650
Beli Buku
EBOOK

Salah satu bakat paling besar dalam diri manusia memang menjadi binatang: makhluk tingkat ketiga sesudah benda dan tetumbuhan. Binatang plus akal adalah kita. Binatang plus akal plus tataran-tataran lain dari spiritualisme adalah kesempurnaan yang seyogyanya diperjuangkan oleh manusia.



Akan tetapi, binatang nampaknya lebih beruntung dibanding manusia. Dunia dan nilai mereka sudah niscaya dari awal sampai akhir. Sedang dunia manusia, suka menjebak diri dengan kebebasan yang dimilikinya atau yang ia peroleh dari Tuhannya. Manusia merasa bebas untuk memilih, termasuk memilih bunuh diri atau melenyapkan standar-standarnya terhadap nilai kemanusiaan.



Esai-esai yang ditulis oleh Emha Ainun Nadjib dalam buku ini, merefleksikan betapa panjang pertanyaannya atas hidup. Emha tak hanya melihat pola interaksi antara manusia dengan Tuhan yang semakin mengabur, tetapi juga semakin tersingkirnya manusia dari strata-strata sosial yang mereka bentuk sendiri.


EMHA AINUN NADJIB, lahir pada 27 Mei 1953 di Jombang, Jawa Timur. Pernah meguru di Pondok Pesantren Gontor, dan “singgah” di Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada. Emha Ainun Nadjib merupakan cendekiawan sekaligus budayawan, yang piawai dalam menggagas dan menoreh kata-kata. Tulisan-tulisannya, baik esai, kolom, cerpen, dan puisi-puisinya banyak menghiasi pelbagai media cetak terkemuka. Pada 1980-an aktif mengikuti kegiatan kesenian internasional, seperti Lokakarya Teater di Filipina (1980); International Writing Program di Universitas Iowa, Iowa City, AS (1984); Festival Penyair Internasional di Rotterdam, Belanda (1984); serta Festival Horizonte III di Berlin Barat, Jerman Barat (1985). Cukup banyak dari karya-karyanya, baik sajak maupun esai, yang telah dibukukan. Di antara sajak yang telah terbit, antara lain “M” Frustasi (1976), Sajak Sepanjang Jalan (1978), 99 untuk Tuhanku (1983), Syair Lautan Jilbab (1989), Seribu Masjid Satu Jumlahnya (1990), dan Cahaya Maha Cahaya (1991). Adapun kumpulan esainya yang telah terbit, antara lain Daur I: Anak Asuh Bernama Indonesia (2017), Daur II: Iblis Tidak Butuh Pengikut (2017), Daur III: Mencari Buah Simalakama (2017), Daur IV: Kapal Nuh Abad 21 (2017), Tidak. Jibril Tidak Pensiun! (2017), dan lain-lain.

    Related Book

    Ayah

    IDR 74.000 IDR 62.900

    Endensor

    IDR 59.000 IDR 50.150