Buku

Buku

gelandangan di kampung sendiri, gelandangan, politik, emha ainun nadjib, cak nun, mbah nun, maiyah, maiyah badar, gamelan kiai kanjeng
gelandangan di kampung sendiri, gelandangan, politik, emha ainun nadjib, cak nun, mbah nun, maiyah, maiyah badar, gamelan kiai kanjeng

Gelandangan di Kampung Sendiri (Republish)

Penulis: Emha Ainun Nadjib



Judul Buku: Gelandangan di Kampung Sendiri



Penerbit: Bentang Pustaka



ISBN:  978-602-291-472-3 



Penyunting: Arif Koes Hernawan, Nurjannah Intan



Tebal Punggung: 1.7 cm



Kover: 13x20.5 cm



Format: 13x20.5 cm



Jumlah halaman: 304 hlm



Jenis Kertas Isi: bookpaper 55 gr



Jenis Kertas Sampul: AC 230 gr



Kode:  BS-526

 


IDR 69.000 IDR 55.200
Beli Buku
EBOOK

Rasa-rasanya, para pejabat sering salah sangka terhadap rakyat dan dirinya sendiri. Mereka menyangka bahwa mereka adalah atasan rakyat, sementara rakyat mereka kira bawahan. Mereka merasa tinggi dan rakyat itu rendah. Maka, mereka merasa sah dan tidak berdosa kalau memaksakan kehendak mereka atas rakyat. Mereka membuat peraturan untuk mengatur rakyat karena merasa merekalah yang berhak membuat peraturan. Rakyat hanya punya kewajiban untuk menaatinya.

Inilah tatanan dunia yang dibolak-balik. Bukankah hak atas segala aturan berada di tangan rakyat? Kalau rakyat tidak setuju, itu berarti bos tidak setuju. Hamba sahaya harus punya telinga selebar mungkin untuk mendengarkan apa kata juragannya. Maka menjadi aneh jika rakyat terus menerus diwajibkan berpartisipasi dalam pembangunan.

Karena rakyatlah pemilik pembangunan.


EMHA AINUN NADJIB, lahir pada 27 Mei 1953 di Jombang, Jawa Timur. Pernah meguru di Pondok Pesantren Gontor, dan “singgah” di Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada. Emha Ainun Nadjib merupakan cendekiawan sekaligus budayawan, yang piawai dalam menggagas dan menoreh kata-kata. Tulisan-tulisannya, baik esai, kolom, cerpen, dan puisi-puisinya banyak menghiasi pelbagai media cetak terkemuka. Pada 1980-an aktif mengikuti kegiatan kesenian internasional, seperti Lokakarya Teater di Filipina (1980); International Writing Program di Universitas Iowa, Iowa City, AS (1984); Festival Penyair Internasional di Rotterdam, Belanda (1984); serta Festival Horizonte III di Berlin Barat, Jerman Barat (1985). Cukup banyak dari karya-karyanya, baik sajak maupun esai, yang telah dibukukan. Di antara sajak yang telah terbit, antara lain “M” Frustasi (1976), Sajak Sepanjang Jalan (1978), 99 untuk Tuhanku (1983), Syair Lautan Jilbab (1989), Seribu Masjid Satu Jumlahnya (1990), dan Cahaya Maha Cahaya (1991). Adapun kumpulan esainya yang telah terbit, antara lain Daur I: Anak Asuh Bernama Indonesia (2017), Daur II: Iblis Tidak Butuh Pengikut (2017), Daur III: Mencari Buah Simalakama (2017), Daur IV: Kapal Nuh Abad 21 (2017), Tidak. Jibril Tidak Pensiun! (2017), dan lain-lain.

    Related Book

    Ayah

    IDR 74.000 IDR 62.900

    Endensor

    IDR 59.000 IDR 50.150