Buku

Buku

anggukan ritmis kaki pak kiai, anggukan, emha ainun nadjib, cak nun, maiyah, gamelan kiai kanjeng, mbah nun, republish
anggukan ritmis kaki pak kiai, anggukan, emha ainun nadjib, cak nun, maiyah, gamelan kiai kanjeng, mbah nun, republish

Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai (Republish)

Penulis: Emha Ainun Nadjib



Judul Buku: Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai



Penerbit: Bentang Pustaka



ISBN:  978-602-291-457-0



Penyunting:  Nurjannah Intan



Tebal Punggung: 2.35 cm



Kover: 13x20.5 cm



Format: 13x20.5 cm



Jumlah halaman: 428 hlm



Jenis Kertas Isi: bookpaper 55 gr



Jenis Kertas Sampul: AC 230 gr



Kode:  BS-524

 


IDR 79.000 IDR 63.200
Beli Buku
EBOOK

Di sebuah pesantren, ada dua orang kiai yang berdebat tentang hukum kesenian. Salah seorang dari mereka bersikeras bahwa kesenian itu syirik, bahkan haram. Para santri menyaksikan perdebatan itu dengan hati berdebar. Dari kejauhan, terdengar suara musik dari loudspeaker. Kiai tersebut mulai meledak-ledak dan menyebut seni itu haram, tetapi kedua kakinya bergerak-gerak mengikuti irama musik dari kejauhan.



Para santri melihat bahwa kaki beliau itu bukan bergerak menggeleng-geleng, melainkan mengangguk-angguk. Maka, kami tiru anggukan ritmis kaki Pak Kiai itu sebab gerak kaki beliau lebih merupakan ungkapan batinnya dibanding lisannya.



Melalui buku ini, Emha Ainun Nadjib, menguliti dalam-dalam perkara kemusliman “birokrasi”. Ketaatan yang penuh rasa “takut kepada atasan”, bukan kecintaan dan pengabdian kepada Tuhan. Semua kemudian berputar pada surga dan neraka, halal dan haram, pahala dan dosa. Detail-detail ritual yang malah memicu perbedaan pendapat antar-umat, serta dengan gampang mengafirkan orang lain. Dalam kegelisahannya, Emha seolah berbicara pada naluri kita dan berkata, “Apa tidak malu kita kepada-Nya, pada akal dan perasaan kita sendiri?”


EMHA AINUN NADJIB, lahir pada 27 Mei 1953 di Jombang, Jawa Timur. Pernah meguru di Pondok Pesantren Gontor, dan “singgah” di Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada. Emha Ainun Nadjib merupakan cendekiawan sekaligus budayawan, yang piawai dalam menggagas dan menoreh kata-kata. Tulisan-tulisannya, baik esai, kolom, cerpen, dan puisi-puisinya banyak menghiasi pelbagai media cetak terkemuka. Pada 1980-an aktif mengikuti kegiatan kesenian internasional, seperti Lokakarya Teater di Filipina (1980); International Writing Program di Universitas Iowa, Iowa City, AS (1984); Festival Penyair Internasional di Rotterdam, Belanda (1984); serta Festival Horizonte III di Berlin Barat, Jerman Barat (1985). Cukup banyak dari karya-karyanya, baik sajak maupun esai, yang telah dibukukan. Di antara sajak yang telah terbit, antara lain “M” Frustasi (1976), Sajak Sepanjang Jalan (1978), 99 untuk Tuhanku (1983), Syair Lautan Jilbab (1989), Seribu Masjid Satu Jumlahnya (1990), dan Cahaya Maha Cahaya (1991). Adapun kumpulan esainya yang telah terbit, antara lain Daur I: Anak Asuh Bernama Indonesia (2017), Daur II: Iblis Tidak Butuh Pengikut (2017), Daur III: Mencari Buah Simalakama (2017), Daur IV: Kapal Nuh Abad 21 (2017), Tidak. Jibril Tidak Pensiun! (2017), dan lain-lain.

    Related Book

    Ayah

    IDR 74.000 IDR 62.900

    Endensor

    IDR 59.000 IDR 50.150