Akademisi asal Indonesia yang sekarang mengajar di Monash University di Melbourne Dr Nadirsyah Hosen baru saja menerbitkan sebuah buku berjudul Tafsir Al-Quran di Medsos, berisikan 56 artikel yang sebelumnya pernah ditulisnya di media sosial.

Nadirsyah berharap buku yang diterbiitkan oleh Bentang Pustaka Yogyakarta dengan tebal 276 halaman tersebut, bisa memberikan informasi mengenai tafsir ayat-ayat Al-Quran yang sudah ada di kitab-kitab klasik dalam bahasa Arab namun disajikan dengan ringkas untuk generasi milenial.

“Buku ini merujuk kepada kitab klasik namun disampaikan dalam cara yang modern untuk generasi milenial.”

Dalam perbincangan dengan wartawan ABC Sastra Wijaya di Melbourne, Nadirsyah Hosen mengatakan bahwa keputusannya menerbitkan buku mengenai tafsir Al Quran di medsos tersebut karena keprihatinannya adalah banyaknya postingan di medsos yang hanya mengandalkan terjemahan Al Quran dalam Bahasa Indonesia, tanpa penjelasan mengenai latar-belakang dan konteks ayat tersebut.

“Belakangan ini lewat media sosial, terjemahan ayat-ayat itu kemudian di-screenshot, atau digunakan sebagai meme, diviralkan, dan sudah bisa digunakan untuk menghakimi kepercayaan orang lain atau sudah bisa digunakan seperti semacam fatwa.”

“Dan ini menjadi persoalan,” kata dosen Fakultas Hukum Monash University tersebut.

Oleh karena itu, Nadirsyah yang memiliki dua gelar doktor dalam Ilmu Kajian Islam tersebut mengatakan bahwa dia harus terlibat guna memberikan penjelasan mengenai tafsir Al-Quran tersebut.

“Saya merasa saya harus – dalam tanda kutip – turun gunung masuk ke dunia medsos menjelaskan bahwa menggunakan hanya terjemahan ayat suci Al Quran itu tidak cukup untuk merangkum semua makna yang terkandung dalam ayat Quran,” katanya.

Sebelumnya lewat akun media soal di FB dan Twitter, Nadirsyah sudah menuliskan berbagai tafsir tersebut dalam tulisan-tulisan yang pendek yang cocok dengan karakter media sosial.

 

“Tantangannya sekarang ini adalah dunia medsos adalah dunia yang sangat singkat. Bagaimana menjelaskan kandungan makna Al Quran dengan merujuk pada kitab kitab tafsir yang diakui secara keilmuan tapi juga singkat padat, dan bergizi,” kata Nadirsyah lagi.

 

Dalam buku terbaru yang diterbitkan bulan Oktober 2017 tersebut, berisi 56 tulisan yang sebelumnya pernah dimuat di media sosial, namun sekarang dimasukkan ke dalam pengelompokkan tema sehingga lebih mudah diikuti.

Untuk cetakan pertama, buku sudah dicetak sebanyak 5 ribu, dan Nadirsyah baru saja kembali dari Indonesia setelah mendiskusikan buku tersebut di beberapa tempat seperti Jakarta, Makassar, Riau dan Canberra.

Mengapa memilih format buku, sementara lebih banyak orang mendapat atau mencari informasi lewat media sosial?

Menurut Nadirsyah yang juga pernah menjadi dosen di Universitas Wollongong (NSW), buku masih merupakan sarana yang bagus untuk penyebaran informasi.

“Walau banyak yang sudah punya akses ke medsos, banyak juga yang masih ingin buku yang bisa dijadikan rujukan ketika dibaca, atau di perkuliahan, atau dibaca sambil tiduran atau sambil antri.”

“Dunia buku tetap penting meski orang sekarang juga sibuk dengan medsos.”

Juga menurutnya, walau artikel dalam buku tersebut sebelumnya dimuat di media sosial, namun karena keterbatasan platform tersebut, sehingga para pembacanya tidak bisa mengikuti uraian pembahasan dengan teratur.

Tidak tahan dibully

Nadirsyah Hosen mengatakan bahwa tulisan-tulisan yang dibuatnya bukanlah tafsir yang dilakukannya sendiri terhadap ayat kitab suci.

“Saya tidak menafsirkan sendiri, saya merujuk karena saya dosen, saya merujuk bahwa kalau ingin menafsirkan Al Quran gunakanlah kaidah-kaidah penafsiran yang sudah dilakukan oleh para ulama yang sudah diakui otoritasnya dalam keilmuan keislaman,” katanya lagi.

“Rujuklah sumber-sumber yang sudah diakui dalam dunia Islam. Ini sama saja seperti dunia akademis.”

“Seperti misalnya di ekonomi, ada rujukan-rujukan standar yang tidak bisa dibantah begitu saja, hanya karena ada kepentingan politik atau hanya karena kebencian pada suatu kaum dan kita kemudian seenaknya menafsirkan ayat Al Quran,” kata Nadirsyah yang juga adalah Ra’is Syuriah, pengurus cabang istimewa NU di Australia dan Selandia Baru tersebut.

Ketika ditanya mengapa sebagai akademisi yang sekarang tinggal di Australia harus melibatkan diri untuk menerbitkan buku dalam Bahasa Indonesia, Nadirsyah Hosen mengatakan bahwa itu dilakukan karena tidak banyak tersedia bahan bacaan mengenai Islam untuk kalangan yang disebutnya ‘silent majority’.

“Di Indonesia saya melihat ada yang namanya silent majority, mereka yang moderat, yang ingin mendapatkan bacaan-bacaan lain, selain opini dari pihak garis keras yang terlalu mendominasi.”

“Kelompok garis keras itu sebenarnya sedikit, namun mereka banyak melakukan protes, dan cepat sekali membagikan hal-hal yang mereka percayai,” tambahnya lagi.

Oleh karena itu, menurut Nadirsyah Hosen sebagai seorang akademisi dia merasa terpanggil untuk membantu memberikan penjelasan mengenai ajaran Islam.

Apakah ini karena tidak banyak yang melakukan hal yang sama di Indonesia?

 

“Sebenarnya di Indonesia banyak teman akademisi, ulama atau penceramah yang lebih mumpuni dari saya. Namun kebanyakan tidak mau turun gunung. ”

 

“Mereka tidak tahan dibully. Status mereka sebagai akademisi atau ulama akan dibully habis kalau ikut berkotor-kotor berdebat di medsos.”

“Karena saya di Australia saya menikmati kebebasan berpendapat, sehingga kemudian saya merasa kalau semua tidak mau turun gunung, tidak mau berkotor-kotor tangannya.”

“Saya khawatir generasi ke depan akan menjadi generasi yang saling curiga satu sama lain, mudah menghakimi keyakinan orang lain, dan hal ini berbahaya buat masyarakat Indonesia,” demikian Nadirsyah Hosen mengenai buku terbarunya Tafsir Al-Quran di Medsos.


Artikel ini telah diterbitkan sebelumnya di Tempo.co dan Australiaplus.