Selamat siang, sahabat Bentang!

Masih ingat event #TanyaPenulisBWM yang berlangsung Februari lalu? Para authors sudah memilih dan memilah pertanyaan kalian, guys! Karena pertanyaan yang masuk cukup banyak, authors sampai kelimpungan.Hehehe. Awalnya, jawaban para penulis akan kami posting di akun Official Line Bentang Pustaka. Tetapi, karena cukup panjang, kami pindahkan kemari yaa!

Dan ini dia #BWMAuthorsMenjawab hari ini: Just be Mine karya Pit Sansi

Q: Author bangga nggak ceritanya terpilih dipost oleh Bentang Pustaka?

A: Jawaban yang tepat adalah lebih dari sekedar bangga. Terharu, senang, excited, speechless, unexpeted, semua bercampur jadi satu.Jadi salah satu penulis di akun @beliawritingmarathon ini benar-benar penuh tantangan dan pelajaran. Belajar untuk disiplin dan konsisten dengan deadline, jadi kenal karakter-karakter pembaca yang beraneka ragam, juga termotivasi untuk terus mengembangkan tulisan.Thanks a lot buat tim Bentang Pustaka yang udah kasih kesempatan buatku gabung di project sekeren BWM.

Q: Gimana si cara buat cerita yang setiap partnya bisa ngena banget? Tiap part yang dibaca feelnya dapet. Dan yang aku tahu, ceritanya diupdate dua kali seminggu itu butuh kerja ekstra kan buat alur gitu bagus, belum lagi proses edit kalau ada typonya. (Namanya pakai huruf Jepang)

A: Syukurlah kalo readers bisa merasakan feel di setiap part cerita JBM ini. Menurutku pribadi, untuk menciptakan cerita yang hidup, salah satunya adalah dengan tidak mematikan konflik. Jangan biarkan satu konfik terselesaikan sebelum muncul konflik yang baru. Konflik tidak harus berat, tapi umum dirasakan orang banyak. Dengan tatanan diksi yang mengalir dan apa adanya, bisa buat readers ikut merasakan apa yang dialami si tokoh dalam cerita.

Untuk ketepatan waktu update, memang butuh kerja extra dalam membagi waktu dengan kesibukan lain. Aku rasa, semua penulis punya cara masing-masing untuk tetap konsisten menulis. Dan buatku pribadi, deadline adalah teman terbaikku dalammenulis. Rasanya ada tanggung jawab yang harus dipenuhi dalam setiap deadline, bukan hanya dalam hal menulis, tapi juga pekerjaan yang lain. Selain itu, antusias dan tanggapan para pembaca juga faktor penting untuk melanjutkan cerita ini. Big thanks to all JBM’s readers.

Q:  Menurut Kakak apa sih kelebihan dan kekurangan menulis antara mengunakan outline dan let it flow? JBM sendiri menggunakan yang mana? (Aminatuzzahra)

A: Menurutku, menulis menggunakan outline banyak untungnya. Tulisan jadi lebih tertata, dari pengenalan tokoh, konflik, klimaks sampai penyelesaian masalah. Dan, menulis dengan sistem let it flow juga banyak serunya. Banyak kejutan yang mungkin saja bisa kita munculkan dengan seiring pengembangan ide sambil menulis.

JBM ini mungkin termasuk cerita yang mengalir begitu saja, alias let it flow seperti bahasamu itu. Sebelum mulai menulis cerita ini, aku sudah punya draft kasar isi cerita hingga ending. Tapi belum bisa disebut outline karena belum berurutan dan belum jelas konflik-konflik yang mau ditonjolkan dalam cerita. Dan serunya lagi, baca komentar-komentar pembaca di cerita ini bisa bantu mengembangkan imajinasi. Kita jadi tahu apa yang bisa buat pembaca greget, baper, kesel, dan lain sebagainya. Dan walaupun aku sudah punya gambaran mengenai ending JBM nanti, semua masih bisa berubah seiring pengembangan ide dan imajinasi, yang mungkin saja baru terpikirkan di saat-saat terakhir menuju akhir cerita.

Oke, itu dia jawaban dari Kakak Pit Sansi atas tiga pertanyaan tentang Just be Mine! Kira-kira, nanti #BWMAuthorsMenjawab giliran siapa ya?