Sayembara Pre-Order Gubahan Terbaru Sujiwo Tejo Akan Segera Dibuka!

oleh | Mar 21, 2017 | Blog

“Apakah ada yang berhasil membangunkan Kumbakarna? Tidak, pembangunan ini gagal! Gagal? Gagal itukan cuma cara kita menamai hasil yang sesuai dengan kehendak Tuhan, tapi tak sesuai dengan kehendak kita…” – Sujiwo Tejo ( Serat Tripama 2 : Seruling Jiwa)

Dan jangan sampai gagal kedua kalinya! Apalagi gagal untuk mendapatkan gubahan terbaru dalang termahsyur satu ini, Sujiwo Tejo, yang berjudul Serat Tripama 2 : Seruling Jiwa (intip sinopsinya : Persembahan Cinta Lagi Oleh Sujiwo Tejo Dengan Seruling Jiwa) . Gubahan terbarunya ini adalah seri kedua dari trilogi Serat Tripama.

Alkisah, kisah karya gubahan Sujiwo Tejo yang berjudul Serat Tripama ini terus berkumandang kemahsyurannya sampai se-seantero Bangsa Indonesia. Terbukti dari suksesnya dengan awal dari trilogi Serat Tripama : Gugur Cinta di Maespati pada tahun 2016 kemarin yang berkisah tentang romansa cinta antara Sumantri dan Citrawati. Kisahnya hadir lagi tapi berbeda dan lebih seru, Serat Tripama 2 : Seruling Jiwa pun berkisah tentang si Kumbakarna, adik kandungnya Rahwana yang hobinya tidur.

Para penggemar dan pengikut aliran Sujiwo Tejo pastinya sudah merindu dan mendambakan sabda-sabda si mbah yang memang sarat akan nilai moral dan kearifan lokal. Gubahannya pun tak luput dengan bumbu-bumbu romansa yang terkadang sedikit nakal ini.

AKHIR MARET akan menjadi momentumnya, sayembara Pre-Order Serat Tripama 2 : Seruling Jiwa akan dibuka! Sabarlah untuk menanti walaupun memang terasa merindu. Yang jelas, tidak akan gagal lagi pokoknya untuk mendapatkan gubahan terbaru Sujiwo Tejo ini!

Sayembaranya, bisa dapat gubahan si mbah sama tanda dari tangannya, serta yang paling berbeda dan spesial, hanya akan ada 17 buku Pre-Order Serat Tripama 2 : Seruling Jiwa hanya untuk 17 orang yang beruntung !

Pantengin dan melek terus ke sosial media Bentang Pustaka dan Sujiwo Tejo untuk kabar selanjutnya !

Trilogi Serat Tripama ini merupakan ungkapan spesial Sujiwo tentang cerita pewayangan. Sujiwo ingin, pembaca tidak hanya menyimak ceritanya melulu dari kata-kata, tetapi juga dari gambar-gambar yang, sebenarnya, tanpa kata-kata pun sudah bisa berbicara sendiri. Katanya, “Banyak yang tidak bisa aku ungkapkan melalui kata-kata, tapi mungkin ekspresi dan setting para tokoh di dalamnya sudah bisa berbicara sendiri.”