Tasaro GKPria yang menggunakan tempat asalnya, Gunung Kidul, sebagai nama belakangnya ini naik daun dengan karya novelnya yang berjudul Muhammad. Katanya, novel Muhammad ini adalah cara ia mencintai Rasulullah, dan menurutnya, harus ada cara untuk menceritakan kisah Rasulullah ini. Kemudian tercetuslah dalam idenya akan membuat novel Muhammad.

Awal Tasaro ini menyentuh pengerjaan novel Muhammad adalah karena sebuah tawaran yang datang dari Bentang Pustaka. Saat itu tahun 2005, ia ditawari Bentang Pustaka untuk membuat novel yang mengisahkan Rasulullah dengan sudut pandangnya sendiri. Dan tentunya dengan banyak referensi. Referensi-referensi itu yang utama ia ambil dari karya Martin Lings, data kritisnya dari karya Karen Amstrong, dan pastinya Al-Qur’an dan Hadits.

“Satu poin yang menjadi alasan saya yakin harus menulis novel Muhammad adalah ketika Rasulullah dalam persitiwa Thaif. Waktu itu Rasulullah diserang oleh para budak dengan melemparkan batu, dan malaikat jibril berkata, “Biarkan aku mengambil gunung itu dan menumpahkan kepada mereka.” Dan Rasulullah menjawabnya, “Mereka orang-orang yang tidak tahu.”” (1)

Perkataan itu mengandung arti bahwa orang-orang yang melakukan hal itu adalah orang-orang yang “tidak tahu” dan harus diberi tahu dengan caranya masing-masing. Dari sinilah mengapa Tasaro merasa yakin mengapa harus menulis novel Muhammad.

“Engkau pernah begitu khawatir ketika aku memulai proyek ini. “Bahaya, Le. Bagaimana kalau kamu nanti dicerca orang-orang?” tanyamu. Kujawab begini hari ini, “Ibu, jika kelak ada orang yang salah paham dengan terbitnya buku ini, aku yakin itu terjadi karena mereka mencintai Kanjeng Rasul. Dan, percayalah Ibu, aku menulis buku ini disebabkan alasan yang sama.”” (2)

Pengalaman Spiritual

Sebagai seseorang yang menorehkan tintanya dalam penceritaan kisah Rasulullah, seorang Tasaro GK pernah merasa bahwa dirinya sudah berada pada titik bawah. Ia berpikir bahwa ia merasa kotor, bukan seorang santri, dan merasa tidak memiliki latar belakang yang kuat untuk menuliskannya. Saat itu ia berpikir, sebenarnya ada benteng apa antara saya (Tasaro) dengan Rasulullah? Hal itu membuat ia kembali menemukan tiga buku yang ia beli dalam waktu berdekatan: Muhammad Sang Pembebas, Muhammad Sang Nabi, dan Dialah Muhammad.

Kebingungan itu terjawab ketika sebuah pesan dari Fahd Djibran (editornya) memintanya untuk membuka Al-Qur’an surat 20 Muhammad ayat sekian dan disesuaikan dengan tanggal pembelian buku-buku yang telah dibelinya itu. Rupanya ayat itu berbicara tentang Musa yang menjelaskan: Sungguh, Aku adalah Tuhanmu, maka lepaskan kedua terompahmu. Kemudian ayat yang satunya lagi menjelaskan: Laksanakan Shalat untuk mengingatku.

Dari ayat-ayat itu, Tasaro kemudian menyadari bahwa Allah telah memeritahkannya katakan pada dunia Rasulullah seperti ini.

(L. Augusteen)

—–

(1) http://yogiramenulis.blogspot.co.id/2010/05/wawancara-dengan-tasaro-gk.html.

(2) Muhammad #1: Lelaki Penggenggam Hujan.