BPhotoGrid_1449827895570erbicara tentang pernikahan, akan menjadi sesuatu yang panjang dan nyaris tak berkesudahan. Perihal menemukan cinta, menyatukan dua keluarga, hidup bersama dengan segala lika-liku jalan di depannya, adalah keping-keping cerita cinta yang takkan ada habisnya.

Di sinilah cinta sampai pada titik yang tak hanya melulu tentang romansa, tetapi juga ujian, sekaligus pembuktian akan kasih sayang. Di sini pula, cinta tak lagi bicara lewat diksi yang tersusun dalam larik goresan tangan manusia, tetapi bersuara melalui kekuatan terbesarnya. Seberapa jauh cinta akan bertahan pada keindahannya? Dan, seberapa mampu manusia bertahan pada kepelikan cinta?

Memandang cinta dan pernikahan sebagai tanda tanya yang tak ada ujungnya, Bentang Pustaka mencoba merumuskan sebuah jawaban. Maka, dibuatlah label Weddinglit, cerita fiksi yang mengisahkan seputar pernikahan.

“Pertama kali dibuat lini Weddinglit ini pada awal tahun 2014. Selama ini kan banyak cerita yang sebenarnya mengisahkan tentang pernikahan, tapi belum ada label khusus. Nah, biar lebih rapi, Bentang melabeli cerita-cerita pernikahan sebagai Weddinglit,” jelas Dila Maretihaqsari, editor fiksi Bentang Pustaka.

Dila menambahkan, dibuatnya label Weddinglit juga sebagai gambaran tentang cerita-cerita persiapan pernikahan, serta sneakpeak newly wedding. Menyasar pembaca usia dewasa muda, Weddinglit dirasa tepat menjawab rasa penasaran dan pertanyaan tentang kehidupan seputar pernikahan.

Hingga saat ini, telah terbit enam buku berlaber Weddinglit, di antaranya Yummy Tummy Marriage oleh Nurrila Iryani, Pre Wedding in Chaos karya Elsa Puspita, Bride Wannabe milik Christina Juzwar, Menikahlah Denganku tulisan Annisa Andrie, My Wedding Dress karya Dy Lunaly, dan baru-baru ini Married in Trouble oleh Aiu Ahra.

“Ceritanya romantis-romantis banget. Jadi pengen nikah,” celetuk Dila ̶ yang sebenarnya sudah menikah ini, sambil tertawa.

Weddinglit memang syarat akan romansa. Hadir sebagai akumulasi dari berbagai muara rasa. Kecewa, bahagia, terkejut, tegang, haru biru, hingga tangis, bahkan suka cita, menjadi wajah utama dalam cerita pernikahan yang dikemas Weddinglit. Bukan gombal dan rayuan, melainkan potret bermacam sudut pandang tentang hitam, putih, dan kelabu pernikahan.
“Demi sempurna aku telah menafikan banyak hal. Namun, demi sebentuk cinta yang sempurna, aku mengerti bahwa hati yang tulus mencintaiku tanpa ragu adalah hati yang selayaknya akan kupercayakan seluruh cinta kepadanya,” tulis Annisa Andrie dalam Menikahlah Denganku.

“After getting married, most of us realises that we have so many differences with our spouse. And to make our marriage work, we have to adopt. We have no other choice,” kata Nurrila Iryani dalam Yummy Tummy Mariage.

“Hidup ini tentang mengeja ikhlas. Bagaimana kita belajar untuk ikhlas menerima kondisi apa pun dalam hidup kita dan menjalaninya dengan sebaik-baiknya,” ujar Dy Lunaly dalam My Wedding Dress.
Maka, tak berlebihan jika Weddinglit menjadi satu yang tak boleh terlewatkan dalam pernikahan, bukan? Would you?

@fitriafarisa