Rahvayana 1Sebuah cerita yang unik dan autentik. Dengan alur maju-mundur serta gaya bahasa jenaka khas sang penulis, Sujiwo Tejo, Rahvana mampu mengembangkan kisah pewayangan, yang terkesan klasik, menjadi modern dan mudah dinikmati. Menurut Butet Kartaredjasa, aktor alias pengecer jasa akting, kisah yang ditawarkan dalam buku Rahvayana serba tidak terduga, tapi mengandung kebenaran. Mengejutkan sekaligus menyegarkan.

Kisah yang mengandung karakter sang penulis ini, menurut Najwa Shihab, nakal dan jenaka. Bagi Najwa, membaca novel Rahvayana seperti dibawa bertualang di antara dua dunia, ketika tokoh pewayangan hidup di dunia modern.

 

Rahvayana 1: Aku Lala Padamu

“Yang menulis di buku ini belum tentu saya, sebab Rahwana tak mati-mati. Gunung kembar Sondara-Sondaari yang mengimpit Rahwana cuma mematikan tubuhnya semata. Jiwa Rahwana terus hidup. Hidupnya menjadi gelembung-gelembung alias jisim. Siapa pun bisa dihinggapi gelembung itu, tak terkecuali saya.”

 

Rahvayana 2: Ada yang Tiada

“Sebuah nama yang ada bukan karena dinamai. Sebuah nama yang ada juga bukan karena menama dirinya sendiri. Adakah itu? Ada. Rahwana yakin itu ada. Dan ia sangat mencintainya.”

 

Sebuah cuplikan yang mengisahkan besarnya cinta Rahwana akan Sinta, wanita yang selalui ditungguinya.

Kini, cuplikan itu akan menjadi nyata.

Rahwana akan turun ke dunia mayapada dan menjelma dalam bentuk manusia dalam Rahvayana, sebuah Gelar Budaya Komunitas Masyarakat Yogyakarta oleh Dinas Kebudayaan DIY. Turunnya Rahwana ini telah disetujui oleh Dewa Wisnu pada hari Jum’at, 18 Desember 2015 esok. Sebuah maksud yang mulia dari Rahwana untuk mendekatkan para manusia dengan nafas-nafas bela budaya.

Rahvayana ini juga diisi oleh pre-event Drama Teatrikal Rahvayana yang akan dilaksanakan di kuartal pertama tahun 2016.

Akankah dengan turunnya Rahwana dalam acara Rahvayana ini berhasil mempertemukan nafasnya dengan kecantikan Sinta?

(L. Augusteen)